Laman

Jumat, 05 September 2014

PATUH...


Dalam dunia sufi, patuh kepada Guru secara zahir dan bathin merupakan syarat mutlak yang tidak bisa di tawar-tawar, hal yang wajib di penuhi oleh seorang murid agar dia berhasil dan tercapai tujuan dari berguru yaitu makrifat kepada Allah dan mendapat rahmat dan karunia-Nya. Dikalangan sufi, ilmu bukanlah hal yang pokok, amalan juga bukan hal utama, yang terpenting dari semua itu adalah PATUH kepada apa yang diperintahkan atau apa yang dilarang oleh Guru.
Dalam sebuah riwayat, Syekh Abdul Qadir Jailani ketika masih menjadi seorang murid tinggal bersama dengan Gurunya dan pada suatu malam dia terlambat pulang. Ketika mencoba membuka pintu, ternyata pintu itu terkunci. Karena Adab yang tinggi kepada Gurunya, dia tidak berani mengetuk pintu yang tentu saja akan mengganggu tidur Gurunya, kemudian dia tidur di depan pintu rumah sampai subuh. Ketika Gurunya keluar saat subuh, Abdul Qadir masih tidur kemudian terbangun. Gurunya kemudian bertanya, “Kenapa kamu tidur di sini?” Abdul Qadir menjawab, “Saya tidak berani membangunkan Guru”, kemudian Gurunya berkata, “Kamu sekarang menjadi seorang Wali!”.
Kisah Raden Sa’id yang menjaga tongkat Sunan Bonang sangat terkenal di masyarakat jawa dimana Raden Sa’id dengan patuh tanpa bertanya menjaga tongkat Gurunya dalam waktu yang lama. Berkat kepatuhan tersebut, Raden Sa’id kemudian diterima menjadi murid Sunan Bonang dan kemudian mengikuti jejek Gurunya menyebarkan agama Islam, menjadi seorang Wali Allah yang dikenal dengan gelar Sunan Kalijaga.
Kepatuhan kepada Guru bukanlah ajaran yang tiba-tiba muncul atau dibuat-buat, akan tetapi ini merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman Nabi. Para sahabat sangat tinggi kepatuhannya kepada Nabi dan mereka hanya mengenal dua kata, “Sami’na wa Atha’na”, Kami dengar dan kami patuhi. Apapun yang diperintahkan Nabi dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh mereka dan apapun yang dilarang Nabi ditinggalkan oleh mereka. Tradisi ini kemudian secara turun temurun terpelihara di kalangan sufi, dikalangan para Wali Allah sampai saat ini dan sampai akhir zaman.
Guru Sufi mengatakan, “Setinggi apapun ilmu yang dimiliki seseorang dan sebanyak apapun amal yang kerjakannya tanpa ADAB maka hasilnya NOL”. Adab yang dimaksud disini salah satunya adalah kepatuhan kepada Guru. Beliau juga mengatakan bahwa ilmu hakikat itu turun dari Guru kepada murid dengan kasih sayang, dengan demikian kapatuhan merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh murid sehingga kasih sayang Guru akan tercurahkan kepadanya.
Dengan di awali kepatuhan maka akan timbul rasa sayang dan cinta kepada Guru, dengan rasa itu pula akan tercurahkan kasih dan sayang dari Guru kepada kita. Mencintai orang yang dicintai oleh Allah maka Allah akan mencintai kita, menyayangi orang yang di sayangi oleh Allah maka Allah akan sayang kepada kita, inilah hal pokok yang harus dipenuhi oleh murid.
Seorang Wali Allah pasti memberikan perintah kepada muridnya bukan atas kehendak hatinya apalagi atas dasar hawa nafsu, Guru memberikan perintah atau menyuruh muridnya melakukan sesuatu pasti sebelumnya telah meminta persetujuan dari Allah lewat Muraqabah yang dimilikinya.
Setiap tindakan apapun yang dilakukan oleh Wali Allah kesemuanya berdasarkan firman Allah baik yang tertulis maupun yang langsung di ilhamkan Allah kedalam hatinya. Atas dasarnya itu maka seorang murid harus mempunyai keyakinan yang penuh kepada Guru, tidak ada keraguan sedikitpun, dengan demikian maka dalam mematuhi apa yang diperintahkan Guru bukan dalam kondisi terpaksa tapi dengan keikhlasan hati.
Harus diakui kepatuhan kepada Guru ini mendapat kritikan dikalangan orang-orang yang anti tarekat karena mereka tidak memahami hakikat dari kepatuhan itu sendiri. Kepatuhan mutlak ini hanya berlaku kepada Guru yang mempunyai derajat seorang Wali, sedangkan untuk yang tidak mempunyai derajat seperti itu tentu saja hal ini tidak berlaku. Seorang Wali Allah tidak mungkin menyuruh muridnya hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Agama, Hukum Negara dan yang melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat. Guru hanya menyuruh muridnya untuk mengamalkan apa yang telah diajarkan kepadanya, memperbanyak ibadah dan dzikir serta selalu menambah pengetahuan baik tentang syariat agama maupun ilmu-ilmu lain.
Hanya kepatuhan kepada Guru yang menyebabkan hijab akan terbuka sehingga bisa memandang hal yang tidak pernah terlintas dalam pikiran, bisa menyaksikan keagungan-Nya dan dengan kepatuhan itu pula akan melatih kita patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar