Laman

Rabu, 10 Juni 2015

Ajaran Guru Sufi; Ibnu 'Arabi


Muhiddin Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah Hatimi at-Ta'i (1165-1240) atau lebih dikenal dengan Ibnu Arabi adalah seorang sufi amat terkenal dalam perkembangan tasawuf di dunia Islam. Ibnu Arabi adalah keturunan Arab kuno dan ayahnya Ali ibn al-'Arabi adalah seorang yang berkedudukan tinggi dan berpengaruh. Ibnu Arabi adalah guru sufi yang terkenal dengan konsep Wihdatul Wujud-nya. Ia mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang wujud kecuali Tuhan, segala yang ada selain Tuhan adalah penampakan lahiriah dari-Nya. Menurutnya, keberadaan makhluk tergantung pada keberadaan Tuhan, atau berasal dari wujud ilahiah. Manusia yang paling sempurna adalah perwujudan penampakan diri Tuhan yang paling sempurna.
Awal dari ekstase (keadaan di luar kesadaran diri) adalah diangkatnya selubung, dan hadirnya kesepahaman, serta perenungan pada yang tak kasat mata, dan percakapan rahasia, dan memandang yang tidak ada, dan ini berarti kau telah beranjak dari tempat asalmu.
Ekstase adalah persinggahan pertama bagi kaum pilihan dan ia adalah warisan kepastian dari hasrat, dan bagi mereka yang telah mengalaminya, ketika cahayanya telah tersebar luas ke penjuru kalbu, semua keraguan dan kecurigaan meninggalkan mereka. Siapa yang terselimuti dari ekstase dan dikuasai oleh keakuannya sendiri, terhalang oleh kehidupan dan oleh maksud-maksud duniawi, karena keakuan terselubung oleh maksud-maksud semacam ini. Tetapi jika maksud-maksud duniawi dihilangkan dan pengabdian diri kepada Tuhan disucikan dari kepentingan pribadi dan kalbu kembali dimurnikan dan disucikan serta mengindahkan peringatan, ketika kalbu menyembah Tuhan dan mengutarakan doa-doanya dalam percakapan intim dengan-Nya, semakin dekatlah dia ke arah-Nya. Dia berbicara kepadanya dan ia mendengarkan dengan penuh perhatian.
Ekstase di dunia ini tidak berasal dari penyingkapan, tapi dari penglihatan kalbu dan kesadaran akan kebenaran dan keyakinan, dan siapa yang telah mengejarnya menyaksikan dengan luapan kegembiraan dan dengan pengabdian yang bebas hawa nafsu. Ketika ia terjaga dari penglihatan itu, dia kehilangan apa yang telah dia temukan, tapi pengetahuannya masih bersamanya, dan untuk waktu yang lama, ruhnya menikmatinya.
Jika seseorang meminta penjabaran lebih lanjut tentang ekstase, suruhlah dia berhenti menanyakannya, sebab bagaimana mungkin sesuatu dapat dijabarkan jika ia tidak memiliki penjelasan kecuali dirinya sendiri, dan tiada kesaksian kecuali dirinya. Siapa yang bertanya tentang aroma dan rasasanya berarti bertanya tentang kemustahilan, sebab aroma dan rasa tidak dikenal dengan penjabaran, melainkan dengan mengecap dan mengalaminya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar