Laman

Minggu, 04 Oktober 2015

ABU YAZID


Abu Yazid al Bisthami lahir pada tahun 874 M adalah seorang Persia, berasal dari Bistham, wilayah Qum, di mana dia menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai guru di sana. Dia adalah seorang asketik yang menyendiri dengan satu tujuan, yakni mengejar pengalaman tentang hakikat Ilahi. Dia banyak dikutip oleh penulis-penulis selanjutnya dan memiliki pengaruh yang luas terhadap perkembangan sufisme, khusunya yang mengarah pada doktrin panteistis. Ia disebut-sebut sebagai guru sufi yang pertama kali mengajarkan faham fana' dan baqa. Pengalaman Abu Yazid yang ucapannya (pada saat sukr) kadang-kadang sulit dipahami oleh orang awam, menyebabkan sebagian ulama menentangnya. Berikut ini beberapa ujaran Abu Yazid :
Awalnya aku melakukan empat kesalahan. Aku menyuntukkan diri untuk mengingat Tuhan, untuk mengenal-Nya, untuk mencintai-Nya dan mencari-Nya. Ketika aku telah sampai di ujung perjalanan, aku menyaksikan bahwa Dia telah mengingatku sebelum aku mengingat-Nya. Pengetahuan-Nya tentang aku telah mendahului pengetahuanku tentang Dia. Cinta-Nya terhadapku telah lama ada sebelum cintaku kepada-Nya dan Dia telah mencari aku sebelum aku mencari-Nya.
Ketika aku tertidur, tampak bagiku telah kudaki langit untuk mencari Tuhan, mencari kemanggulan Tuhan Yang Maha Mulia, sehingga aku bisa bersemayam bersama-Nya untuk selamanya, dan aku diuji dengan satu cobaan. Tuhan memperlihatkan semua jenis hadiah dan menawariku penguasaan seluruh semesta langit. Tetapi aku palingkan mataku, karena aku tahu bahwa Dia sedang mengujiku, dan aku sama sekali tidak melihatnya, karena takzimku kepada kesucian Tuhanku.
Kemudian aku mendaki Langit Kedua dan melihat malaikat-malaikat bersayap, yang terbang ratusan ribu kali setiap harinya ke bumi, untuk mengamati wali-wali Tuhan, dan wajah-wajah mereka bersinar laksana matahari. Kuteruskan perjalanan, dan ketika sampai ke Langkit Ketujuh, seseorang menyentakku, "Wahai Abu Yazid, berhenti, karena kau telah sampai pada tujuanmu." Tetapi aku tak menghiraukan kata-katanya dan meneruskan pengembaraanku.
Ketika Tuhan Yang Maha Tinggi merasakan sentuhan ketulusan hasrat jiwaku kepada-Nya, Dia mengubahku menjadi seekor burung, dan aku pun terbang melewati kerajaan demi kerajaan, gurun demi gurun, dan daratan demi daratan, lautan demi lautan, dan selubung demi selubung, sampai akhirnya menyaksikan malaikat di kaki Tuhan menemuiku dengan seberkas cahaya dan berkata kepadaku, "Ambillah," dan aku mengambilnya. Dan demikianlah, langit-langit dan semua yang ada di sana mencari perlindungan dalam teduh bayang ma'rifatku, dan mencari cahaya dalam cahaya kerinduanku.
Aku melanjutkan penerbanganku sampai aku tiba di atas samudera cahaya, lalu kulanjutkan lagi hingga aku meraih samudera terbesar yang di atasnya berdiri Singgasana Yang Maha Pengampun. Dan ketika Tuhan Yang Maha Agung melihat ketulusanku mencarinya, Dia mendekatiku dan berkata, "Wahai manusia pilihan-Ku, mendekatlah ke arah-Ku dan dakilah ketinggian kemuliaan-Ku dan daratan kemegahan-Ku dan duduklah di atas karpet kesucian-Ku, agar kau bisa menyaksikan karya keagungan-Ku.
Kemudian aku mulai meleleh, seperti timah meleleh dalam panasnya bara. Kemudian Dia memberiku minuman dari sumber Keagungan dalam cangkir keintiman dan mengubahku ke dalam keadaan yang tak tergambarkan dan membawaku mendekat kepada-Nya, sedemikian dekatnya sehingga aku menjadi lebih dekat dengan-Nya daripada ruh dalam tubuhku sendiri. Aku terus berlanjut bahkan sampai aku menjadi jiwa-jiwa manusia sebelumnya, sebelum adanya keberadaan dan Tuhan berdiam dalam kesendirian yang sunyi, tanpa makhluk ciptaan atau ruang, Maha Suci Allah lagi Maha Mulia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar