Laman

Jumat, 08 April 2016

ORANG ZUHUD

ORANG ZUHUD itu mempunyai 3 Syarat :
1. Sedikit sekali menggemari dunia,
sederhana dalam menggunakan segala
miliknya, menerima apa yang ada, juga
tidak merisaukan segala sesuatu yang
tidak ada, akan tetapi giat dalam bekerja,
kerana bekerja adalah mencari rezeki,
sedangkan mencari rezeki, suatu
kewajiban.
2. Pujian dan celaan adalah hal yang sama,
tidak bergembira bila mendapat pujian,
juga tidak bersedih jika mendapat celaan
atau hinaan.
3. Mengutamakan redha Allah swt dari pada
redha manusia atau merasa tenteram
jiwanya bersama Allah swt dan merasa
bahagia sebab dapat mentaati semua
tuntutannya.
IMAM HASSAN BASRI
"Engkau harus berlaku Zuhud, sesungguhnya zuhudnya orang yang zuhud itu lebih baik dari perhiasan yang ada pada tubuh wanita yang menawan.
IMAM SYAFI'E
“Siapa yang merasa bahawa dalam dirinya terkumpul 2 cinta, cinta dunia dan cinta kepada Penciptanya, maka ia telah berdusta.”
IMAM SYAFI'E
“Ketahuilah bahwa orang yang jujur kepada Allah swt, ia akan selamat. Barangsiapa yang bersemangat dengan Agamanya, ia pun akan selamat dari kerusakan, dan barangsiapa yang berlaku zuhud dengan urusan dunianya, niscaya kelak pahala Allah swt, akan nampak indah di matanya.”
IMAM SYAFI'E
“Berlakulah zuhud dalam menjalani hidup di dunia, dan cintailah kehidupan akhirat dan barangsiapa harum bau (badan)nya, maka kecerdasannya akan semakin bertambah.”
IMAM SYAFI'E
“Sangat jauh jika bermaksud memaknai sehat atau kenyang tanpa mengalami sendiri rasa sehat atau kenyang. Mengalami mabuk lebih jelas daripada hanya mendengar tentang arti mabuk, meskipun yang mengalaminya mungkin belum pernah mendengar teori mabuk. Maka mengetahui arti dan syarat-syarat zuhud tidak sama dengan bersifat zuhud.”
IMAM AL GHAZALI
“Kehidupan seorang Muslim tidak dapat dicapai dengan sempurna, kecuali mengikuti jalan Allah SWT yang dilalui secara bertahap. Tahapan-tahapan itu antara lain : Taubat, Sabar, Faqir, Zuhud, Tawakal, Cinta, Makrifat dan Redha. Kerana itu seseorang yang mempelajari Tasawwuf wajib mendidik jiwa dan akhlaknya. Sementara itu, hati adalah cermin yang sanggup menangkap Makrifat. Dan kesanggupan itu terletak pada hati yang suci dan jernih.
IMAM AL GHAZALI
”Tidaklah keabadian itu melainkan dengan perjumpaan dengan Allah swt, sedangkan perjumpaan dengan Allah swt itu adalah seperti kerdipan mata, atau lebih cepat dari itu. Di antara ciri orang yang akan berjumpa dengan Tuhannya adalah tidak terdapat sesuatu yang bersifat fana pada dirinya sama sekali. Sebab keabadian dan fana adalah dua sifat yang saling bertolak belakang.”
SHEIKH ABDUL QADIR AL JILANI
”Makhluk adalah tabir penghalang bagi dirimu, dan dirimu adalah tabir penghalang bagi Tuhanmu. Selama kamu melihat makhluk, selama itu pula kamu tidak melihat dirimu, selama itu pula kamu tidak melihat Tuhanmu.”
SHEIKH ABDUL QADIR AL JILANI
“Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan kurnia Allah swt. Aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanannya. Aku tidak pernah melihat ada yang benar-benar memberi, selain Allah SWT. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya di sisiku, kerana aku menganggap orang itu hanyalah perantara saja."
IMAM QUTB IRSYAD HABIB ABDULLAH BIN ALWI AL HADDAD
“Cabutlah ketajaman dari sarung pedang tabiatmu yang membelah akar cinta dari asalnya. Taburilah tanah dengan benih pohon-pohon kezuhudan, hingga menghasilkan Qurb (kedekatan) kepada Allah swt, air telaga dari celah Wishal ( Persatuan dengan Allah swt ), dan pengetahuan pada puncak tujuan.”
[ Imam Qutb Al-Arif billah Habib Ali
bin Muhammad Al-Habsyi ]

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar