Laman

Senin, 11 Juli 2016

Mulianya Manusia, Ketika Menyadari Siapakah Dirinya?


Ingatlah wahai saudaraku…!!!
Kita sebagai manusia diciptakan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk dan juga ditanami iman dan musyahadah, maka begitu mulianya manusia sebagai makhluk yang lemah tiada daya dan tiada arti diangkat derajatnya menjadi makhluk yang beradab dan tinggi kedudukannya disisi Allah sehingga malaikat pun disuruh sujud kepada Adam (manusia).
Sesuai dengan firman Allah dalam surah Al A’raaf 11:
“Tsumma qulnaa lil malaaikatisjuduu liaadama fasajaduu illaa iblis lamyakun minassaajidiin”
Kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud
Mengapa manusia dimuliakan? karena saat itu manusia berada di genggaman Allah, manusia sadar akan TUHANNYA, dia mengatakan“Qooluu Balaa Syahidnaa - (QS Al A’raaf 172)” ia engkau tuhanku dan kami menyaksikan.
Inilah karunia agung bagi manusia sebagai pandangan rohani, jiwa manusia yang suci hanya tertuju kepada TUHANNYA (senantiasa LILLAH DAN BILLAH) yang disebut dengan “fitrah” karena pandangan manusia hanya satu, hatinya hanya ada SANG PENCIPTA selain DIA tidak ada, tidak wujud, karena semua adalah CIPTAANNYA!
Kesadaran jiwa yang mestinya itu tertanam dan tidak hilang didalam hati, walaupun kita hidup ditengah kehidupan dunia yang merupakan ujian bagi manusia sebelum bertemu kembali kepada TUHANNYA.
Maka ketika manusia dijadikan khalifahdi muka bumi ini
“Wa idz qoola robbuka lilmalaaikati innii jaailun fil ardi kholiifah” (QS. Al baqarah: 30)
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."”
Ayat ini merupakan awal kehidupan manusia di dunia yang fana’ dimana penuh dengan kepentingan dan kebutuhan hidup maka roh turun dalam kehidupan dunia ini dibungkus dengan jasad, sedangkan jasad merupakan rumahnya roh yang ada batasnya karena hanya merupakan kontrak untuk mengiringi roh dalam kehidupan di dunia ini maka kalau habis kontraknya maka roh harus kembali kepada TUHANNYA sedangkan jasad asalnya dari tanah kembali ke tanah dan jasad sendiri adalah bungkus belaka yang harus kita tinggal, bisa jadi jasad akan menjadi musuh manusia di alam keadilan yaitu di alam mahsyar.
Ingatlah wahai saudaraku…!!!
Semuanya akan kita tinggalkan, maka apa arti kemewahan, kedudukan, pangkat, dan kemuliaan di dunia ini bila kita pulang kembali kepadaNYA tidak kembali dalam keadaan “fitrah”, semuanya akan menjadi musuh, jasad ini menjadi tape recorder yang akan membongkar rahasia kehidupan kita di dunia ketika kita melakukan dosa dan maksiat, melanggar larangan Allah dan meninggalkan perintahNYA maka sadarlah wahai saudaraku bahwa semua yang kita miliki dan jasad ini akan menjadi musuh dihadapan Allah YANG MAHA ADIL DAN MAHA MENGHAKIMI.
Sadarlah wahai saudaraku…!!!
Siapakah diri ini? darimana diri ini berasal? untuk apa dihidupkan? dan akhirnya kemana ketika diri ini meninggalkan dunia yang fana’ ini?
Oh… alangkah ketika kita pulang tidak tahu dan tersesat dijalan, padalah saat itu kita harus melanjutkan perjalanan suci kembali kepada TUHAN SANG PENCIPTA YANG MAHA SUCI! dunia akan kita tinggal, anak dan keluarga kita juga kita tinggal bahkan jasad inipun juga akan kita tinggal, padahal hidup hanya sekali dan tidak akan bisa kembali!
Ingat saudaraku…!!!
Kita buta tidak tahu jalan menuju kepadaNYA, sehinga penderitaan agung menimpa diri ini padahal ketika kita di dunia dimana diri ini berbalut dengan kemuliaan, kekayaan, dihormati dan semuanya serba tercukupi, akan tetapi mengapa kita pulang, diri ini miskin, buta, compang-camping, tiada yang menghiraukan lagi, semuanya ditinggal di dunia, ketika pulang semuanya tiada arti, sehingga kita sangat miskin dan menderita dalam perjalanan suci kembali menuju kepada TUHANNYA (Allah SWT).
Firman Allah:
“Yauma laa yanfau malun walabanuun illaaman atalloha bi qolbin salim” (QS Asy-Syu'araa [26] : 88 -89)
(Di hari itu ketika manusia kembali pulang kepada Allah/ mati tiada yang manfaat dunianya dan anak-anaknya kecuali manusia yang sowan kepada Allah dengan hati yang selamat)
Maka selagi ada kesempatan kita harus lari kembali kepada Allah (FAFIRRUU ILALLOOH) karena kehidupan ini adalah permainan dan senda gurau. PASTI AKAN KITA TINGGALKAN!
Maka sebelum kita tinggalkan dunia ini kita harus sadar bahwa semuanya bukan milik kita, kemampuan dan kekuatan yang kita miliki bukan milik kita, jangankan iman, ibadah, hidup, berkedip dan keluar masuknya nafas itupun bukan milik kita tapi semuanya dikehendaki oleh Allah (LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH).
Maka apa jadinya ketika kita pulang belum sadar akan hal itu yang kalau kami sebut dengan NOL!
NOL disini adalah ungkapan kesadaran hanya kepada Allah, karena selain Allah adalah ciptaan (makhluk), maka apapun makhluk adalah NOL karena wujud diwujudkan asalnya tidak ada dan diadakan.
Dengan kesadaran itulah bila tertancap dalam jiwa maka hilanglah sifat ego (ananiyah) dalam jiwa manusia sehingga hancurlah penyakit-penyakit hati yang ditimbulkan oleh sifat ego (keaku-akuan - ananiyah).
Maka mutlak jiwa harus sadar kepada SANG PENCIPTA, jiwa harus dikosongkan dari semua makhluk yang ada hanya kesadaran kepada Allah SANG PENCIPTA.
Dalam dawuh kitab al-hikam :
“Fa ifroduttauhidi ba’da fana’ail aghyar huwa haqqul yaqiin”
Maka disamping tauhid dan pengetrapan LILLAH BILLAH maka hati harus dikosongkan, menghapus semua makhluk sehingga hanya sadar semuanya itu adalah Allah, ketika hidup, mulia, beribadah, bernafas, dan semuanya adalah semata-mata Allah (NOL), itulah HAQQUL YAQIIN!
Bagaimanakah dengan diri kita? sudah demikiankah atau semuanya kita aku sehingga suburlah kerajaan ANANIYAH didalam hati kita, sehingga timbullah dalam diri ini sifat merasa baik, merasa suci, sombong, takabur, bangga dengan diri kita dan suka pamer yang semuanya itu menjadikan manusia jauh daripada TUHANNYA, ketika kita merasa mampu, merasa aku, merasa baik, merasa bisa maka saat itulah manusia mengaku menjadi TUHAN, ini adalah syirik dan Allah tidak mengampuni dosa syirik.
Ingat saudaraku…!!!
Kita akan pulang kembali kepada TUHAN YANG MAHA SUCI, MAHA ESA, DAN TIADA SEKUTU BAGINYA. Apa jadinya ketika kita kembali kepadaNYA belum bisa NOL…???
SEKALI LAGI NOL ADALAH KESADARAN HATI (JIWA) SELAIN ALLAH ADALAH MAKHLUK (CIPTAAN) YANG TIDAK BISA KITA SEKUTUKAN KEPADANYA DAN SEMUA CIPTAAN (SEGALA SESUATU TIDAK BISA DISANDINGKAN DENGAN TUHAN, SEMUANYA AKAN BINASA) YANG KEKAL, YANG ADA HANYA DIA!
“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (QS. Al Qashash : 88)
Bagaimanakah dengan diri kita…???
Maka hilangkan sifat-sifat keaku-akuan, dan menjagakan makhluk (itu didalam hati, ingat hanya kesadaran hati) sedangkan kita masih menjagakan ibadah, usaha, sholat kita, amal kita padahal semuanya itu dari Allah SANG PENCIPTA (kita adalah pelaku sandiwara AGUNG yang hanya melaksanakan SKENARIONYA sedangkan sutradanya adalah DIA YANG ADA, DIALAH PENGUASA SEJATI…… Allah SWT).
Ingat wahai saudaraku…!!!
Dalam sejarah, Iblis yang sudah ada di surga itu terlempar dari surga karena ada sifat “ana khoiru minhu” padahal surga adalah kekal siapa yang masuk tidak akan keluar akan tetapi ketika di surga ada pernyataan aku lebih baik maka tertolak! apalagi kita yang ingin naik ke surga, ingin mulia bersama bidadari ibadah akan tetapi ibadah kita belum bisa baik, belum bisa khusyu’ dan belum bisa ikhlas, masih merasa lebih baik daripada orang lain, sebagai guru merasa lebih baik daripada muridnya, sebagai kyai merasa lebih baik daripada santrinya, sebagai pimpinan merasa lebih baik daripada bawahannya, ingat semua itu adalah bagian dari sifa takabur!
Mari kita renungkan wahai saudaraku? pantaskan kita masuk kedalam surganya Allah ataukah lebih berhak masuk kedalam nerakanya Allah karena ada perasaan aku yang bercokol didalam hati kita?
“Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah"” (QS Al A’raaf: 12)
Ingatkah persitiwa Khudzaifah Al Yamani menghina sahabat Billal salah satu dari kekasih Allah dan sahabat Rasul, saat itu guncanglah arsy karena ucapan Khudzaifah Al Yamani yang menghina sahabat Billal dan menyakiti hati Rasulullah SAW, ingat ketika engkau mengina dan mencaci maki sahabat Billal maka guncanglah arsy karena ucapanmu itu karena kamu memandang Billal hanya dari segi lahirnya tapi Allah memandang dari segi batinnya.
Maka sahabat Khudzaifah Al Yamanimenuju kerumah Billal, dan berkata “injaklah diriku wahai Billal”
Ini adalah sebagai bahan renungan kita, menghina orang satu arsy sudah goncang, bagaimana menghina orang banyak wahai saudara-saudaraku? bagaimanakan dengan diri kita? berapa kali kita merendahkan orang lain? berapa kali kita menghina orang lain? kadang-kadang orang datang minta-minta justru malah kita menghardik, bahkan kita sering menyalahkan dan menghina orang lain, bagaimana dengan keadaan diri kita?
Lalu mengapa manusia dimuliakan oleh Allah? karena manusia kembali kepada fitrah, sehingga dalam keadaan fitrah manusia memandang “Qooluu Balaa Syahidna” dengan keyakinan dan kenyataan bahwa Allah sebagi TUHANNYA, dan menyaksikan bahwa semua adalah ciptaan.
Maka ketika hati fitrah saat itu manusia ketika diberi karunia sebagai pimpinan, diberi kekayaan, pangkat, jabatan dia senantiasa kembali “fitrah” bahwa semua itu miliknya Allah, dan kembalilah manusia itu dengan menelorkan suatu cahaya kesucian didalam jiwa sehingga manusia tetap menjadi manusia, walaupun lahir memandang jabatan, lahir memandang dunia akan tetapi batin menyadari bahwa semua itu adalah milik Allah karena semua itu adalah permainan, senda gurau belaka dan pasti akan kita tinggalkan.
Sebentar lagi kita akan pulang, satu detik yang baru terjadi tidak akan bisa terulang sedangkan satu detik berikutnya tidak menjamin apakah kita masih “Qooluu Balaa Syahidna” atau masih terpenjara dengan kehidupan dan kepentingan dunia? sehingga hati kita masih terikat dengan kedudukan, terikat dengan kekayaan, terikat dengan kepentingan, padahal harus bebas dan harus ditinggal kembali kepada Allah dalam keadaan fitrah.
Bagaimanakah dengan keadaan kita wahai saudaraku…???
Maka jangan pernah bangga dengan apa yang kita dapat sekarang, karena sesungguhnya Allah tidak melihat ibadah kita satu detik yang lalu akan tetapi Allah melihat dan menilai hambaNYA satu detik sekarang, karena tidak ada jaminan satu detik yang akan datang kita mati membawa iman (khusnul khotimah) atau tidak membawa iman (suul khotimah)!
Dan disaat manusia ingin menonjol dan menampakkan "AKU" nya, paksa dan latihlah jiwa kita selalu merasa rendah, merasa hina, dan merasa banyak dosa serta merasa NOL tidak pernah merasa memiliki, sebab kita adalah ciptaaan bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa dan pasti akan kembali kepadaNYA.
Ingat..!!!
Hanya ada dua kekuatan MAHA DAHSYAT di dunia ini yaitu “RENDAH” dan “NOL”, maka latih... latih... dan latih... dalam setiap langkah, setiap berkedipnya mata dan keluar masuknya nafas kita.
Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayahnya kepada kita semua sehingga menyadari tentang siapa hakekat diri ini? darimana berasal? untuk apa dihidupkan? dan akan kembali kemana?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar