Laman

Rabu, 19 Oktober 2016

MANAQIB SYEKH SAMMAN AL- MADANI AL-HASANI


Bismillahir rahmanir rahiim

(Sang Pendiri Tarekat Sammaniyah & Penjaga Makam Rasulullah Saw.)
 Nama beliau adalah Ghauts az-Zaman al-Waliy Quthb al-Akwan asy-Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman
al-Madani keturunan Sayyidina Hasan bin Sayyidina Ali dengan Sayyidah Fatimah az-
Zahra binti Sayyidina Rasulullah Saw
Beliau adalah ulama besar dan wali agung berdarah Ahlul Bait Nabi beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dengan Imam Asy’ari dalam bidang teologi atau aqidah, dan Imam asy- Syafi’i madzab fiqih furu’ ibadatnya, dan Imam Junaid al-Baghdadi dalam tasawufnya.
Beliau Ra. tinggal di Madinah menempati rumah yang  pernah ditinggali Khalifah pertama, yakni Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. (seorang Shiddiq yang paling agung
yang tiada bandingannya, kecuali para Anbiya wal Mursalin).

Guru mursyid beliau diantaranya adalah Sayyidina Syekh Musthafa Bakri, seorang wali agung dari Syiria, keturunan Sayyidina Abu Bakar Shiddiq Ra. dari pihak ayah, sedangkan dari pihak ibu keturunan Sayyidina Husein Sibthi Rasulullah Saw.
Pangkat kewalian beliau adalah seorang Pamungkas para wali, yakni Ghauts Zaman, dan wali Quthb al-Akwan, yakni kewalian yang hanya bisa dicapai oleh para sadah yang dalam tiap periode 200 tahun sekali. Dan beliau adalah Khalifah Rasulullah pada zamannya.
Beliau banyak memiliki karomah yang tidak bisa dihitung jumlahnya, bahkan
sampai saat inipun karamah itu terus ada. Karamah agung beliau adalah pangkat
kewaliannya yang begitu agung. Beliau mendapat haq
memberi syafaat 70.000 umat manusia masuk syurga tanpa
hisab. Diantara murid-murid beliau dari Indonesia yaitu:
1. Quthb az-Zaman Syekh muhammad Arsyad al-Banjari
2. Quthb al-Maktum Syekh Abu Abbas Ahmad at-Tijani (pendiri tarekat Tijani)
3. Al-Quthb Syekh Abdussamad al-Palimbani
4. Al-Quthb Syekh Abdul Wahab Bugis (menantu Syekh Arsyad al-Banjari)
5. Al-Qutb Syekh Abdurrahman al-Batawi (kakek Mufti betawi dari pihak ibu Habib Utsman Betawi)
6. Al-Quthb Syekh Dawud al-Fathani, dan lain-lain.
 Dan diantara keagungan dan kemuliaan beliau yang amat banyak diantaranya adalah;
semua murid beliau yang jumlahnya ribuan menempati maqam Quthb.
Beliau menempati kemuliaan karena beliau berada pada jalan
Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, yakni Ahlussunnah wal Jama’ah.
Demikian lah kesuksesan Syekh Samman dalam mendidik ruhani murid-
muridnya sehingga mereka yang berjumlah ribuan
menempati maqam Quthb,  apatah lagi Rasulullah Saw. dengan para murid-muridnya
yakni para sahabat, tentu maqam kewaliannya sangat
agung, karena mereka mendapat keistimewaan
menyertai kekasihNya (Muhammad Saw.), dan apa-
apa yang menjadi Nubuwat Rasulullah Saw. dalam kitab-
kitab terdahulu, maka pasti menceritakan dan memuji
para Qudus agung yang menyertai kekasihNya, yakni
para sahabat Rasulullah Saw. Al-Quthb al-Habib Ali bin
Muhammad al-Habsyi berkata : “Serendah-rendahnya
martabat sahabat maka tidak akan bisa dicapai walau oleh
70 Imam Junaid al-Baghdadi”. Padahal Imam Junaid hidup
pada zaman salaf dan menempati Sulthon al-Auliya
pada zamannya. Karena para sahabat ini adalah
para wali agung, maka para ahli tasawwuf (Aswaja)
sangat sopan dengan mereka, tidak menceritakan mereka
kecuali kebaikan. Sehingga wajib hukumnya berprasangka
baik dengan para Auliya. Lebih-lebih lagi para sahabat
yang notabene adalah hasil didikan langsung Rasulullah
Saw. yang menempati Shiddiq dalam kewalian.
Maka dari itu, ummat Islam Aswaja tidak akan membicarakan panjang lebar
tentang pertikaian antar  sahabat, baik itu antara Sayyidah Aisyah dengan
Sayyidina Ali Kw, pada  perang Jamal, maupun antara
Sayyidina Ali Kw. pada satu pihak dengan Sayyidina
Muawiyah Ra. pada pihak lain. Kita kaum Aswaja tidak akan
mengotori mulut kita dengan
umpatan dan negatif thinking
kepada mereka. Bahkan
Khalifah Ali Kw. mengatakan
seterunya saat itu bahwa antara beliau dengan
Sayyidina Muawiyah adalah
saudara seiman dan satu
kalimat, hanya saja khilaf
dalam penyelesaian
pembunuhan Khalifah Utsman Ra. Bahkan beliau Kw.
menyolatkan semua korban
perang baik yang di pihak
beliau maupun pihak Gubernur
Damaskus saat itu. Syekh Samman Al-Madani Al-
Hasani (Pendiri Tarekat
Sammaniyah) Kemunculan Tarekat
Sammaniyah bermula dari
kegiatan sang tokoh
pendirinya, yaitu Syekh
Muhammad bin Abdul Karim
as-Sammani al-Hasani ai- Madani al-Qadiri al-Quraisyi. Ia
adalah seorang fakih, ahli
hadits, dan sejarawan pada
masanya. Dilahirkan di Kota
Madinah pada tahun 1132
Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1718 Masehi.
Keluarganya berasal dari suku
Quraisy.
Semula, ia belajar Tarekat
Khalwatiyyah di Damaskus.
Lama-kelamaan, ia mulai membuka pengajian yang
berisi teknik dzikir, wirid, dan
ajaran tasawuf lainnya. Ia
menyusun cara pendekatan
diri dengan Allah Swt. yang
akhirnya disebut sebagai Tarekat Sammaniyah.
Sehingga, ada yang
mengatakan bahwa Tarekat
Sammaniyah adalah cabang
dari Khalwatiyyah.
Demi memperoleh ilmu pengetahuan, ia rela
menghabiskan usianya dengan
melakukan berbagai
perjalanan. Beberapa negeri
yang pernah ia singgahi untuk
menimba ilmu diantaranya adalah Iran, Syam, Hijaz, dan
Transoxiana (wilayah Asia
Tengah saat ini). Diantara
karya-karya tulis beliau
adalah; Mujamu al-Masyayikh,
Tazyil at-Tarikh Baghdad, dan Tarikh Marv.
Kemuliaan Syekh Muhammad
Samman dikenal sebagai tokoh
tarekat yang memiliki banyak
karamah. Baik dari kitab
Manaqib Syaikh al-Waliy asy- Syahir Muhammad Samman
maupun Hikayat Syekh
Muhammad Samman,
keduanya mengungkapkan
sosok Syekh Samman.
Sebagaimana guru-guru besar tasawuf, Syekh Muhammad
Samman terkenal akan
kesalehan, kezuhudan, dan
kekeramatannya. Konon, ia
memiliki karamah yang sangat
luar biasa. “Ketika kaki diikat sewaktu di
penjara, aku melihat Syekh
Muhammad Samman berdiri di
depanku dan marah. Ketika
kupandang wajahnya,
tersungkurlah aku dan pingsan. Setelah siuman, kulihat rantai
yang melilitku telah terputus,"
kata Abdullah al-Basri.
Padahal, kata seorang
muridnya, ketika itu Syekh
Samman berada di kediamannya sendiri.
Adapun perihal awal kegiatan
Syekh Muhammad Samman
dalam tarekat dan hakikat,
menurut Kitab Manaqib,
diperolehnya sejak bertemu dengan Syekh Abdul Qadir al-
Jailani.
Suatu ketika, Syekh
Muhammad Samman
berkhalwat (menyendiri) di
suatu tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah.
Pada waktu itu datanglah
Syekh Abdul Qadir al-Jailani
yang membawakan pakaian
jubah putih dan berkata: "Ini
pakaian yang cocok untukmu." Ia kemudian memerintahkan
Syekh Muhammad Samman
agar melepas pakaiannya dan
mengenakan jubah putih yang
dibawanya itu.
Konon, Syekh Muhammad Samman menutup-nutupi
ilmunya sampai datanglah
perintah dari Rasulullah Saw.
untuk menyebarkannya
kepada penduduk Kota
Madinah. Wasiat Syekh Samman Al-
Madani Al-Hasani (Penjaga
Makam Rasulullah Saw.) Diantara wasiat yang
diberikan Syekh Samman al-
Madani adalah, berkata al-
Imam al-Quthb al-Ghauts az-
Zaman al-Waliy al-Quthb al-
Akwan asy-Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman
al-Madani:
· "Tidaklah aku diangkat Allah
Swt. menjadi al-Waly al-Quthb
al-Ghauts dan Quthb al-Akwan
melainkan aku selalu rutin membaca doa; Allahummaghfir
li-ummati sayyidina
Muhammad. Allahummarham
li-ummati sayyidinina
Muhammad. Allahummastur li-
ummati sayyidina Muhammad. Allahummajbur li-ummati
sayyidina Muhammad Saw. 4X
berturut-turut setelah selesai
sholat Shubuh sebelum
berkata-kata urusan dunia dan
dia istiqamah membacanya maka ia menempati martabat
fadhilah Quthub.”
Maksud beliau memberikan
amalan ini ialah agar kita
selalu bersatu sesama ummat
islam dan sebagai ummatnya Rasulullah Saw. janganlah ada
iri dengki dan buruk sangka
terhadap sesama sekalipun
seseorang itu kelihatannya
hina. Jadi membaca doa ini
setelah sholat Shubuh dengan niatan mudah-mudahan semua
ummat Rasulullah Saw.
diampuni Allah Swt. Atas
segala dosa, dimudahkan Allah
Swt. tuk mengamalkannya dan
dengan harapan semoga hati kita dibersihkan dari segala
penyakit hati seperti riya,
ujub, takabbur, sombong, iri,
dengki, hasud, berperasangka
buruk dan sifat-sifat buruk
lainnya. · “Barangsiapa mengambil
thariqah kepadaku dan
mengamalkannya niscaya
pasti ia akan mendapatkan
rasa majdzub di dalam dunia
(diambil oleh Allah Swt. aqalnya yang Basyariyyah
diganti dengan aqal yang
bersifat Rabbaniyah) yakni
diambil oleh Allah akan rasa
punya wujud dan sifat dan
af’al diganti dengan rasa ‘adam mahdhah adam semata”
yakni tiada punya wujud, sifat
dan af’al melainkan hanya
Allah Swt. yang punya wujud
hakiki, minimal di saat
sakaratul maut.” · “Perkataan aku ini seperti
perkataan Sayyidi Syekh Abdul
Qadir al-Jailani. Barangsiapa
yang menyerukan aku “Ya
Samman” 3 kali ketika
mendapat kesusahan, niscaya aku akan datang
menolongnya.” Syekh Samman al-Madani
meninggal dunia pada hari
Rabu 2 Dzulhijjah tahun 1189
H, dan dimakamkan di
pemakaman Baqi’
bersandingan dengan maqam para Istri Rasulullah. Para
ualam mengatakan bahwa
barangsiapa yang melazimkan
membaca Manaqib Sayyidi
Syekh Samman (Ratib
Samman) berjamaah dengan orang banyak dan membaca
al-Qur’an serta bertahlil
kemudian bersedekah
semampunya dan pahalanya
dihadiahkan kepada Sayyidi
Syekh Samman, niscaya ia akan dimudahkan rizqinya
oleh Allah Swt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar