Laman

Kamis, 23 Maret 2017

Pemalas Atas Nama Tawakal


“ENTAR, kalau urusan saya masih saja kesandung-sandung saya baru tawakal Dul…” ucap Pardi pagi itu.
Dulkamdi tahu Pardi banyak masalah akhir-akhir ini.
“Baguslah kamu masih ingat Allah. Masih bisa tawakal…”
“Tapi tawakal itu harus mendahului niat dan ikhtiar. Jangan setelah mentok baru tawakal. Itu salah”, celetuk Kang Soleh.
“Wah, ini pemahaman baru kang. Selama ini saya usaha dulu baru kalau gagal tawakal…”
“Tawakal itu tempatnya di hati, bukan di akal dan pikiran, bukan di fisik kita. Kalau tawakalmu di fisik, pikiran, dan akalmu, itu bukan orang tawakal tapi orang males mengatasnamakan tawakal. Itu tawakal pada keadaan, bukan pada Allah. Padahal Allah menyebutkan “Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri” (Q.s. Ibrahim: 12). Setelah Allah menyebutkan tawakalnya semua orang yang bertawakal (secara umum), kemudian mengkhususkan tawakalnya orang-orang mukminin,
kemudian berikut ini Allah menyebutkan tawakalnya orang-orang yang sangat khusus:
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya“ (Q.s. ath-Thalaq: 3). Allah tidak mengembalikan mereka pada sesuatu selain Dia sendiri”
“Iya… yah… Kalau saya tahu sejak dulu begitu Kang, wah… saya tak pernah frustasi, tak pernah putus asa, apalagi mengeluh Kang…”
“Ya jelas. Kamu akan menjadi pekerja yang keras, tanpa beban. Kamu akan menghadapi dunia ini dengan jiwa merdeka. Karena hatimu bersama Allah, pikiranmu saja yang melihat dan menganalisa dunia. Jadi tidak boleh dicampur aduk. Allah ya Gusti Allah, manusia ya urusan manusia. Itu wasiat dari beliau Syeikh Abul Hasan asy-Sy-adzily…”
“Untung sampean beri penjelasan begitu. Kalau tidak…?”
“Memang kenapa kamu…?”
“Wah, hampir-hampir aku kejebur jurang Kang…”
“Lha… kok?’
“Saya itu maunya pasrah bongkokan saja, berhenti kerja, diam saja dirumah, tawakal penuh saja pada Allah. Ooenak tenan… karena orang tawakal sudah dijamin semuanya…”
“Lha, itu yang tawakal bukan hatimu. Tapi nafsumu yang bicara. Nafsu hanya ingin bebas dari beban, tanggung jawab, tugas dan kebaikan… Atas nama tawakal, nafsu pengin berselingkuh dengan bebasnya beban. Wah… setan bisa bertempik-sorak itu Di…”
“Bener Kang. Adhuh… untung sampean jelaskan…”
“Saya bukan menjelaskan. Saya hanya mengalihkan bahasa para ulama sufi dulu tentang hakikat tawakal.”
“Ukuran suksesnya tawakal itu apa sih Kang?”
“Jika hatimu sudah tidak menjenguk lagi pada hiruk-pikuk, sebab akibat, ini dan itu dunia… Jika hatimu sudah seperti sajadah yang kau gelar di hadapan Allah. Nah… anda baru tawakal…”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar