Laman

Rabu, 15 Oktober 2014

sufi Road : Peran Thoriqoh Dalam Membersihkan Hati


Habib Lutfi bin Yahya
Bila kita mau melihat lebih jauh tentang filosofis atau makna‘ Al Mudghoh’ yang di sebutkan pada bahasan sebelumnya ((ألا إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب) [البخاري ومسلم]). Hati sering digunakan dengan maksud makna jiwa, dan hati yang bermakna liver. Untuk menggambarkan betapa pentingnya menjaga hati yang bermakna jiwa manusia saya akan menguraikan mudhgoh atau hati dalam hadis tersebut dengan makna liver. Ini analog saja untuk memudahkan pemahaman pada tujuan dari pembahasan kita ini.
Mudghoh atau hati letaknya di dalam tubuh manusia. Tubuh manusia membutuhkan perhatian yang serius. Perlu kita ketahui bahwa penyakit-penyakit manusia bersumberkan dari hati . baik dan tidaknya metabolism tubuh seseorang tergantung pada baik dan tidaknya darah darah orang tersebut. Dan darah itu akan menjadi baik dan tidak tergantung dua hal:
Pertama; apa yang dimakan dan yang dan bagaimana cara memperoleh makanan itu. Apa yang dimakan adalah harus sehat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daging-dagingan yang memperkuat stamina. Kemudian darimana yang kita makan atau bagaimana cara mendapatkan makanan itu. Yang jelas makanannya harus halal, halal disini sudak mencakup pengertian makanan itu diperoleh dengan cara yang benar.Kedua darah itu baik dan tidaknya adalah bersumber dari pencernaan. Pencernaan yang berfungsi dengan baik akan membuat darah baik dan begitu juga sebaliknya; jika pencernaannya tidak berfungsi dengan baik maka darah yang dihasilkannya juga tidak baik.
Upaya untuk membantu memperbaiki pencernaan biasa kita lakukan paling tidak satu tahun sekali; yaitu puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan diantara manfaatnya adalah membersihkan semua organ-organ manusia. Panasnya pencernaan orang-orang yang berpuasa akan membakar hal-hal yang negative dalam pencernaan seperti bachsil dan bakteri. Dan lain sebagainya. Dengan demikian pencernaan dapat kita analogikan seperti bejana yang kita gunakan untuk memasakn segala sesuatu.
Kita bayangkan seandainya bejana itu tidak pernah dicuci. Setalah kita gunakan untuk memasak ikan laut, kita gunakan untuk memasak telur, terus demikian silih beganti sehingga menimbulkan kerak pada bejana itu. Demikian pula pencernaan, kerak-kerak, imbas daripada yang kita makan lambat atau cepat mempengaruhi proses kerja perncernaan atas makanan yang kita konsumsi.
Sangat jelas sekali bahwa pencernaan tidak bisa bekerja sendiri. Hasil proses pencernaan dilimpahkan ke ginjal, pancreas sampai pada liver. Dari kerja sama yang kompak menghasilkan beberapa hal, diantaranya darah putih, darah merah, sperma, keringat, air kencing dan kotoran.
Dari hasil kerja sama yang baik antara organ tubuh manusia tersebut akan menghasilkan lima hal di atas yang baik pula. Bila akibat proses kerja pencernaan yang kurang baik sehingga terjadi darah kotor dalam tubuh manusia, maka sangat diperlukan sekali pembersih. Yang pertama untuk membersihkan pencernaan yang menjadi sumber pengelola makanan dalam tubuh. Kedua membersihkan apa yang telah di olah.
Tugas liver adalah menjatah atau menyalurkan darah ke jantung, ke otak kecil. Apakah tidak mungkin apabila darah atau kotoran akan mempengaruhi fisik otak manusia serta sarafnya. Sehingga kurang mampu untuk berfikir baik, membuka wawasan, dan pandangan yang jauh. Apalagi jelas kita tidak menginginkan pola fikir-pola fikir yang kurang baik. Yang tidak menguntungkan bagi pribadi kita, baik dalam urusan dunia dan maupun akhirat kita.
Dengan hasil darah yang baik, sehat, akan sangat membantu dalam kecerdasan; dari kecerdasan hati sampai kecrdasan akal. Sehingga menumbuhkan pola fikir dan wawasan serta pandangan yan jernih. Bisa memilah mana yang menguntungkan dalam dunia dan akhiratnya. Dan mana yang merugikan dalam kedua hal tersebut.
Secara fisik saja sangat memerlukan kesehatan dan kebersihan. Hati adalah bagian tubuh manusia yang sangat berperan dalam memberikan atau dalam mensuport pola fikir, wawasan dan pandangan manusia, karena hati adalah tempatnya iman dan tempatnya nafsu. Lalu apa yang terjadi jika kita tidak mempunyai alat untuk membersihkannya.
Kita harus memberikan makanan hati serta pembersihnya seperti ilmu ma’rifat dan lain sebagainya, yang terkait dengan keimanan serta pertumbuhannya. Paling tidak kita bisa memilih mana yang di dorong oleh imannya dan mana yang didorong oleh nafsunya.
Seperti masalah pencernaah diatas bukan sesuatu hal yang mustahil bilamana kita mendiamkan kotoran-kotoran hati maka akan mempengaruhi pola fikir yang pada dasarnya akan merugikan diri sendiri.

Al Hikam : Kemuliaan Wirid

Kemuliaan Wirid
Sekalian hamba-hamba Allah yang shaleh di mana lahiriah mereka dihiasi dengan syariat dan bathiniah mereka diisi dengan marifat, pastilah sekalian
waktu mereka dalam hidup tidak ada yang sia-sia, tetapi adalah penuh berisi dengan berbagai amal ibadat. Dan bagaimana dengan amal shaleh yang menghiasi waktu-waktu mereka itu, yang mulia Imam Ibnu Athaillah Askandary telah mengungkapkan dalam Kalam Hikmah beliau sebagai berikut:
"Tidaklah menganggap remeh akan wirid melainkan orang-orang yang jahil. Bermula Al-Waarid itu didapat di negeri akhirat. Sedangkan Al-Wirdu itu terlipat ia dengan sebab terlipatnya kampung dunia ini. Dan sepatut-sepatut sesuatu yang mementingkan seseorang dengannya ialah sesuatu yang tidak dapat menggantikan adanya Al-Wirdu yang Allah menuntut wirid bagi anda, sedangkan Al-Waarid anda yang memohonkan dari Allah. Dan dimanakah sesuatu yang Allah menuntutnya dari anda (apabila dibandingkan) dari sesuatu yang bermula dariNya itu tujuan anda pada sesuatu itu."
Dalam ilmu Tasawuf ada istilah Al-Wirdu, di mana dalam bahasa Indonesia
sering disebut dengan perkataan "wirid". Al-Wirdu itu ialah:
"Segala amal shaleh yang mendekatkan seseorang kepada Allah yang Maha Megah dan Maha Pengampun."
Atau dalam definisiyang lain adalah sebagai berikut:
"Segala amal shaleh yang terisilah segala waktu dengannya dan tercegah segala anggota dengan sebabnya pada jatuh ke dalam segala sesuatu yang tidak baik."
Jadi yang dimaksud dengan Al-Wirdu ialah amal shaleh apa saja yang bersifat ibadat atau yang dianggap baik untuk mencari keridhaan Allah dan untuk menghampirkan diri kepada Allah s.w.t.
Apakah amal shaleh itu sifatnya lahiriah atau sifatnya bathiniah. Apabila amal-amal shaleh itu ditetapkan mengerjakannya pada waktu-waktu tertentu, berarti terisilah waktu-waktu itu dengan hal-hal yang baik dan jauh segala anggota kita pada mengerjakan segala sesuatu yang tidak diingini menurutagama.
Misalnya dari Al-Wirdu ialah, seperti menetapkan sembahyang Dhuha pada waktunya, menetapkan membaca Al-Quran sehari semalam sekian banyaknya, mengajar ilmu agama pada waktu-waktu tertentu dengan ikhlas tanpa memungut biaya, sembahyang malam sekian rakaat dan sebagainya.
Maka mengisi waktu dengan amalan shaleh secara kontiniu, tetap tekun dan yakin, sehingga tidak pernah tinggal, dan kalau tinggal diqadha'. Yang begitu itu adalah disebut dengan Al-Wirdu atau wirid.
Contoh yang bersifat bathin, seperti pada waktu khusus apakah di siang hari atau malam hari kita tafakur mengingat segala dosa yang telah kita kerjakan, kita minta ampun kepada Allah s.w.t. dan kita berzikir dalam hati mengingati Allah s.w.t. serta mengharapkan keridhaanNya. II. Istilah Tasawuf yang kedua yang kita lihat dalam Kalam Hikmah ini ialah perkataan "Al-Waarid". Yang dimaksud dengannya ialah :
"Sesuatu yang datang atas bathin si hamba berupa hal-hal yang halus dan nur,
maka dengannya menjadi lapanglah dadanya dan bersinarlah hatinya."
Maksudnya dengan sebab amal-amal shaleh yang kita kerjakan sehingga tidak pernah kita tinggalkan, adalah merupakan jalan di mana Allah s.w.t. akan mendatangkan (melimpahkan) ke dalam hati hambaNya nur-nur yang tak dapat dilihat oleh mata dan dijangkau oleh perasaan, tetapi yang terang, hati kita telah dilimpahkan ilmu ketuhanan sehingga iman kita terbuka melihat hakikat hikmah alam mayapada ini dan hati kita bersinar dengannya. Yang begini ini adalah disebut dengan "Al-Waarid". Jadi apabila Al-Wirdu merupakan amaliah manusia dan 'ubudiyahnya kepada Allah s.w.t., maka Al-Waarid berarti kemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia dengan berkah amal shalehnya itu.
III. Al-Wirdu patut menjadi perhatian kita manusia sebagai hamba Allah.
Sebab hal keadaannya adalah karena dua hal:
(1). Al-Wirdu itu kesempatannya, waktunya dan tempatnya hanya khusus di dunia saja, tidak di akhirat. Sebab itu apabila dunia ini masih ada, maka masih ada kesempatanlah mengerjakan Al-Wirdu atau wirid, yakni masih ada kesempatan membaca Al-Quran, bersalawat, sembahyang, berzikir, berwaqaf, bersedekah dan sebagainya. Tetapi demi dunia ini sudah tidak ada lagi, ataudemi umur kita sudah sampai, atau demi waktu untuk menerima ibadat sudah tidak ada lagi, maka tidak ada artinya segala wirid yang tersebut tadi.
Oleh sebab itu sepantasnya bagi kita memperbanyak ibadat yang bersifat istiqamah di dunia ini selama masih ada kesempatan, karena kita masih hidup. Tetapi apabila waktu-waktu yang diharapkan untuk dapat beribadat di dalamnya telah berlalu dan telah
luput atau umur kita sudah sampai ajalnya, maka pastilah tidak akan mungkin untuk mengejar dan mengganti amal shaleh yang telah luput itu.
III. (2) Hak Tuhan atas kita ialah Al-Wirdu itu. Sedangkan hak kita pada
Allah ialah mendapat pahala dan kurnia dariNya atas amal shaleh yang kita
kerjakan itu. Karena itu yang lebih patut dan layak ialah supaya kita
melaksanakan hak Tuhan atas kita, karena dengan demikian pasti Allah dengan
sifatNya yang Maha Murah akan memperhatikan kita. Dan alangkah tidak patut
dan tidak kena pada tempatnya, kita mendahulukan diri kita memohon kepada
Allah supaya Allah memberikan kurniaNya atas kita sedangkan hak-hakNya tidak
menjadi perhatian kita dan kita tidak serius mengamalkannya.
Apabila demikian pentingnya Al-Wirdu sebagai jalan atas datangnya Al-Waarid, teranglah bagi kita bahwa orang-orang yang meremehkan Al-Wirdu, tidak memperhatikan dengan serius atau meninggalkan sama sekali adalah orang-orang bodoh dan orang-orang jahil, betul-betul jahil. Sebab orang-orang itu tidak sampai ilmunya atau tidak sampai perasaannya pada merasakan dengan keyakinan hikmah yang terkandung di dalam Al-Wirdu itu.
Tetapi apabila perasaannya sampai pada menanggapi bahwa Al-Wirdu itu menimbulkan kesucian bathin dan mendatangkan cahaya iman, yakin dan makrifat, pasti dia tidak akan memandang ringan dan meremehkan Al-Wirdu itu.
Oleh sebab itu cuma rindu semata-mata dan cuma ingin untuk mendapatkan Al-Waarid dari Allah tetapi tidak mau bersama mencari jalan-jalannya adalah jahil dan bodoh.
IV. Inilah sebabnya kita melihat para ulama besar dan hamba-hamba Allah yang shaleh selalu dalam istiqamah, tekun dan kontiniu dalam beramal dan beribadat, sehingga waktu-waktu mereka tidak sunyi dari terisi dangan amal-amal kebajikan.
Sebagai contoh Al-Junaid Al-Baghdady mewiridkan sembahyang sunnah hingga sampai keluar roh beliau dari dua kakinya, barulah sembahyang itu beliau hentikan. Dan banyak bukti bagi kita tentang istiqamahnya para ulama dan ketekunan mereka dalam beramal. Berkata Abu Thalib Al-Makky r.a.:
"Mengekalkan wirid-wirid adalah sebahagian dari akhlak orang-orang yang beriman dan jalan orang-orang yang ahli ibadat, dan mengekalkan wirid itu adalah menambah iman dan tanda yakin."
Dalam satu Hadis, Saiyidah Aisyah r.a. telah ditanyakan, mengenai amal Rasulullah s.a.w. Aisyah menjawab: "Amal Nabi adalah berkekalan!" Dan pada lafaz yang lain Aisyah berkata: "Nabi apabila mengamalkan sesuatu amalan, beliau memperbaguskan amalan beliau, dan beliau tetapkan amalan itu (secara kontiniu)."
Sebab itu dalam Hadis yang masyhur Nabi bersabda:
"Sebaik-baik amal pada Allah Ta'ala ialah amal yang kontiniu meskipun sedikit."
Kesimpulan:
Apabila kita bermaksud supaya hati kita dipimpin oleh Allah dengan
bertambah kuatnya iman, bertambah yakin dan bersinar hati di samping lapang
dada kita menghadapi segala sesuatu di dunia ini, maka jangan lupa berusaha
dengan ibadat dan amal amal-amal shaleh yang sifatnya istiqamah, tetap dan
kontiniu. Apabial demikian keadaannya Insya Allah s.w.t. tanpa kita sadari,
kita telah berjalan sedikit demi sedikit dekat kepada Allah dalam arti iman
dan yakin.
Mudah-mudahan kita semua dapat melaksanakan tuntutan agama ini dengan
izin Allah s.w.t.
Amin, ya Rabbal-'alamin

Rumi: Merdeka Ketika Berserah Diri


Semula ingin kuceritakan padamu
kisah hidupku,tetapi
gelombang kepedihan tenggelamkan suaraku.
Kucoba utarakan sesuatu,
tetapi pikiranku rawan dan remuk,
laksana kaca.
Bahkan kapal paling megah bisa karam
dalam gelombang-badai Laut Cinta
apalagi biduk rapuhku,
remuk berkeping-keping:
tinggalkan ku sendiri, hanyut,
hanya berpegangan ke sepotong papan.
Kecil dan tak berdaya
timbul tenggelam dalam terpaan ombak,
sampai tak kuketahui apakah aku ada atau tiada.
Ketika menurutku aku ada,
kudapati diriku tak berharga.
Saat ku tiada,
kudapati nilai-nilai sejati diriku.
Seturut pasang-surut akalku,
tiap hari mati aku, dan dihidupkan lagi;
karenanya tak kuragukan sedikit pun
adanya Hari Kebangkitan.
Ketika telah lelah,
ku berburu cinta di alam dunia ini,
akhirnya di Lembah Cinta ku berserah-diri:
dan aku merdeka.

Al Hikam : Ma'rifat, Fana, dan Mahabbah

Ma'rifat, Fana, dan Mahabbah
من عرف الحق شهده في كل شيئ, و من فني به غاب عن كل شيئ, ومن أحبه لم يؤثر عليه شيئا
Artinya : " Barang siapa yang ma'rifat kepada Al Haq (Allah), maka ia akan menyaksikanNya disetiap sesuatu, barang siapa yang fana' denganNya maka ia akan merasa hilang dari setiap sesuatu dan barang siapa yang mahabbah (cinta) kepadaNya maka tidak akan mendahulukan sesuatu dariNya (Allah) ".
Setiap hamba yang beriman kepada Allah wajib baginya mempunyai tiga unsur sifat yang meliputi, ma'rifat, fana' dan mahabbah kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Karena, bagaimana mungkin seorang hamba dikatakan beriman kalau ia tidak tahu akan Allah? bagaimana bisa dikatakan beriman kalau ia masih bersama selain Allah (belum bisa fana' denganNya) dan bagaimana mungkin dikatakan beriman kalau semua cintanya hanya kepada selain Allah ? jika ketiga sifat tadi bisa dipraktekkan maka seorang mukmin akan naik kederajat muqorobah sesuai dengan kwalitas ketiga sifat tadi.
Kalau hikmah diatas kita tela'ah, dari dlohirnya memberikan pemahaman bahwa ketiga sifat tadi terkadang satu dengan yang lainnya bisa terpisah, dengan arti kadang seorang mukmin bisa menerapkan sifat ma'rifat yang sempurna tanpa disertai fana', terkadang bisa fana denganNya tanpa dengan ma'rifat yang sempurna dan juga terkadang timbul mahabbah yang tanpa ma'rifat dan fana.
Namun pemahaman ini bukanlah maksud yang termaktub dalam hikmah diatas karena diantara ketiga sifat tersebut mempunyai ketalazuman (saling berkaitan) yang tidak bisa lepas satu dengan lainnya
Dari ketiga sifat tersebut yang menjadi pokok dan yang paling penting adalah ma'rifat. ma'rifatullah tidaklah seperti halnya manusia tahu makhluq lainnya secara kasat mata dan ini sangatlah mustahil karena bagaimana bisa akal makhluq bisa menemukan Dzat al kholiq, oleh karena itu dikatakan :
كل ما خطر ببالك فالله بخلاق ذلك
Artinya : " Apapun yang terlintas dihatimu, maka Allah adalah selainnya "
Ma'rifat kepada Allah bisa diap;ikasikan dengan mengetahui sifat-sifatNya, sifat Wujud, Esa, Qudroh, 'Ilmu, Hikmah, Rohmah, Lembut, Keagungan, memaksa, menciptakan menghidupkan, mematikan dan sifat-sifat lainnya.
Kemudian seorang hamba didalam ma'rifatnya kepada Allah dengan tahu akan sifat-sifatNya berbeda-beda kwalitasnya, ada yang sebatas tahu sifat-sifatNya dengan akalnya dan hafal nama-namaNya. Ada yang bisa ma'rifat sampai meresap pada perasaannya. Dan ada juga yang tahu atau ma'rifat akan sifat-sifatNya, sedang ia dalam keadaan disibukkan/mu'amalah dengan dunia namun hatinya masih teguh memegang prinsip dan menggantungkan semua urusan atas fadlol, sifat murah, dan qhodo qhodarnya Allah. Ia tetap memandang kehendak dan pengaturanNya serta hanya mengharapkan rahmat dan takut akan siksaanNya.
Dan sebagian yang lain ada yang lebih dari itu, ia makrifat/tahu akan sifat-sifatNya dan merasakannya sehingga tidak bisa melihat alam ini di setiap tingkahnya kecuali ia melihat jelasnya sifat-sifat Allah, ketika ia melihat sesuatu yang indah ia tidak melihat kecuali melihat sifat jamalnya Allah, ketika melihat ajaibnya pengaturan Allah pada alam ini ia tidak melihat kecuali hikmah dan pengaturanNya, jika ia dikagetkan dengan musibah dan mara bahaya yang menimpanya ia tidak melihat kecuali sifat tajalli dan sifat memaksaNya serta menganggap ujian itu adalah tarbiyah dari Allah kepada hambaNya.
Ia tidak menoleh, memandang dan tidak menemukan sesuatu didepannya kecuali jelasnya sifat ketuhanan Allah dalam ajaibnya makhluqNya, sekiranya dalil (sesuatu yang menunjukan) menjadi hancur dan hilang karena jelasnya madlulnya (yang ditunjukan), perasaan hadir dan ma'rifatnya sang arif kepada madlulnya dalil lebih dominan, bukan kepada dalil yang tugasnya sudah selesai didalam menunjukkan madlulnya.
قال سيدي الشيخ احمد زروق : والمعرفة تحقق العارف بما يقتضيه جلال معروفه حتى يصير ذلك التحقق كأنه صفة له لا يتحول ولا يتزحزح ولا تجري أحواله الا على مقتضاها
Derajat/maqom makrifat inilah yang dimaksudkan oleh Ibnu ‘Attho Illah :
من عرف الحق شهده في كل شيئ
Kemudian, termasuk suatu keharusan/kelaziman dari makrifat ini adalah tingkah/haliyah yang disebut Fana' Juz'i, karena tidak mungkin seorang ‘arif yang menyaksikan Allah didalam setiap sesuatu kecuali ketika wujudnya mahluk di depannya hancur atau rusak (menurut pandangan mata batin / basirohnya) serta ia masih yakin akan wujudnya makhluk dan masih muamalah/bisa berhubungan dengannya. Inilah yang disebut الفناء الجزئيّ
الفناء الجزئيّ هو أن ترى من المكونات أشباحها أن تغيب عنك ما قد يتوهم من فاعليتها
Akan tetapi ada sebagian orang yang ‘arif billah, yang bisa atau mampu pindah dari haliyah fana' juz'i ke fana' kulli, maka ia merasa hilang dari makhluk atau alam ini secara keseluruhan, dan tidak bisa lagi mu'amalah dengannya. Barang kali Ibnu 'Attoillah menghendaki makna fana' dengan fana' kulli ini, yang mana beliau memberikan devinisi orang yang fana' dengan ‘ibarot :
و من فني به غاب عن كل شيئ
Hanya saja haliyah fana' kulli ini sangatlah langka, karena orang yang sudah merasa hilang dengan ma'rifat billah dari setiap sesuatu, tidak bisa mu'amalah dengan manusia, ia tidak bisa bangkit untuk menuntun/membimbing manusia dan tidak bisa melakukan dakwah, tapi ia tetap dalam keadaan menyaksikan Allah dengan hatinya.
Akan tetapi, haliyah fana' kulli ini, kebanyakan hanyalah dirasakan oleh orang yang ‘arif disebagian haliyahnya saja. Kemudian ia akan kembali pada haliyah baqo' namun masih ma'rifat billah, sebagaimana ta'bir:
من عرف الحق شهده في كل شيئ
Dan inilah yang dimaksud dengan fana' juz'i, haliyah yang sering dijalani oleh sahabat - sahabat Nabi dan orang-orang shiddiqiin atau robbaniyyiin setelah mereka.
Seorang hamba yang sudah masuk pada fana' kulli ia dikatakan seorang yang majdzub (مجذوب) yang tidak bisa lagi mu'amalah dengan makhluk lainnya karena ia sedang terpana musyahadah kepada Allah, bahkan haliyahnya kadang berlawanan arus dengan syari'at, namun pada haliyah ini ia termasuk dalam keadaan 'udzur.
Bagi orang lain yang sedang menyaksikan/melihatnya diharapkan tidak langsung berprasangka buruk (سوء الظن) dan berbuat tidak sopan (سوء الأدب) kepadanya serta tidak segera menghinanya karena ia dalam keadaan udzur.
Beliau Ibnu 'Athoillah rahimahullah dalam hikmah diatas tidaklah membicarakan tentang fana' kulli yang pada sampai tingkah majdzub, namun beliau sedang membahas tentang fana juz'i yang mana hamba yang sudah sampai haliyah ini masih bisa menjalankan syari'at dan mu'amalah dengan lainnya, inilah makna yang tersirat dalam qoulnya : و من فني به غاب عن كل شيئ
Kemudian termasuk kelaziman dari ma'rifat adalah mahabbahnya sang 'arif kepada Allah ta'ala. Karena pokoknya iman tidak bisa istiqomah dan terwujud kecuali dengan mahabbah ini, cinta yang ditimbulkan dari ma'rifat tersebut.
Karena hamba yang 'arif tidak melihat alam ini kecuali ia hanya memandang sifat-sifatNya yang Maha Indah, agung dan ia mampu melihat sifat Ihsannya Allah.
Jika mahabbah ini terwujud dan bisa dilaksanakan, maka sang muhib tidak akan mendahulukan / mementingkan sesuatu kecuali hanya ridhonya orang yang dicintainya yang tidak lain hanyalah ridhonya Allah subhanahu wa ta'ala. Beliau rahimahullah berkata :
ومن أحبه لم يؤثر عليه شيئا Kesenangan-kesenangan nafsu dan tabi'at kemanusiaan menjadi lenyap dan hancur karena wujudnya Mahabbatullah ini.
Akan tetapi adanya tabi'at kemanusiaan, kekuatan hamba yang maha lemah dan terbatas, yang mana Allah menggambarkan dalam firmanNya :
وخلق االإنسان ضعيفا (النساء : ٢٨)
Artinya : "Dan manusia dijadikan bersifat lemah" (al nisa' : 28), dan juga firmanNya yang berbunyi :
لقد خلقنا الإنسان فى كبد ( البلد : ٤)
Artinya : "Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia berada dalam susah payah" (al balad : 4).
apakah dengan keadaaan seorang hamba yang lemah tersebut mampu mewujudkan mahabbah ini ?
Oleh karena itu, seorang yang muhib lillah harus mampu berusaha keras melawan hawa nafsunya walaupun memang diciptakan dalam keadaan yang dhoif. Atas dasar mahabbah seharusnya terus memperlihatkan hina dan lemahnya dirinya dihadapan Allah, dan ketidak mampuannya dalam merealisasikan cintanya serta ia harus selalu bersabar dalam merealisasikan istiqomah dalam jalan 'ubudiyyah.
Jadi, seorang yang 'arif dan muhib lillah, sebagaimana digambarkan oleh Ibnu 'Athoillah, tidak akan mendahulukan dan mementingkan sesuatu urusan kecuali hanya urusan Mahbubnya (Allah Subhanahu wa ta'ala).

Menghadirkan Allah dalam Hati


Langit tak dapat menampung-Ku,
bumipun tidak dapat memuat-Ku,
begitupula ruang di antara keduanya.
Hanya hati orang berimanlah
yang dapat meliputi-Ku.
Hadis Kudsi
Imam al-Ghazali, dalam Ihya' Ulumiddin, menuturkan bahwa suatu hari Imam 'Ali Zain al-'Abidin berwudu hendak salat. Tubuhnya bergetar. Orang-orang bertanya, “Apa yang menimpa Anda?" Imam menjawab, "Engkau tidak tahu di hadapan siapa sebentar lagi aku akan berdiri." Hatinya dipenuhi rasa takut yang luar biasa karena ia akan mene-mui Allah Swt. di dalam salatnya. Wajahnya menjadi pucat pasi dan hatinya berguncang keras.
Dalam kitab Futuhat Makkiyyah, karya Ibn 'Arabi, juga diceritakan pelbagai kisah tentang orang yang khusyuk. Salah satunya adalah kisah tentang seorang pemuda belia yang mempelajari tasawuf pada gurunya.
“Pada suatu pagi, pemuda itu menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi la berkata, "Semalam aku khatamkan Alquran dalam salat malamku." Gurunya berkomentar, "Bagus. Kalau begitu, aku sarankan nanti malam bacalah Alquran dan hadirkan seakan-akan aku berada di hadapanmu dan mendengarkan bacaanmu." Esok harinya, pemuda itu mengeluh, "Ya Ustad, tadi malam aku tidak sanggup menyelesaikan Alquran lebih dari setengahnya." Gurunya menjawab, "Kalau begi¬tu, nanti malam bacalah Alquran dan hadirkan di hadapan¬mu para sahabat Nabi yang mendengarkan Alquran itu langsung dari Rasulullah saw." Keesokan harinya, pemuda itu berkata, "Ya Ustad, semalam aku tak sanggup menye¬lesaikan lebih dari sepertiga Alquran."
"Nanti malam," kata gurunya, "bacalah Alquran dengan menghadirkan Rasu¬lullah saw. di hadapanmu, yang kepadanya Alquran itu diturunkan." Esok paginya pemuda itu bercerita, "Tadi malam aku hanya bisa menyelesaikan satu juz saja. Itu pun dengan susah payah." Sang guru kembali berkata, "Nanti malam, bacalah Alquran itu dengan menghadirkan Jibril a.s., yang diutus Tuhan untuk menyampaikan Al¬quran kepada Rasulullah saw."
Esoknya pemuda itu ber¬cerita bahwa ia tidak sanggup menyelesaikan satu juz pun dari Alquran. Gurunya lalu berkata, "Nanti kalau membaca Alquran, hadirkan Allah Swt. di hadapanmu. Karena se-betulnya yang mendengar bacaan Alquran itu adalah Allah Swt. Dialah yang menurunkan bacaan kepadamu."
Esok harinya, pemuda itu jatuh sakit. Ketika gurunya bertanya, "Apa yang terjadi?" Anak muda itu menjawab, "Aku tidak bisa menyelesaikan bahkan al-Fatihah sekalipun. Ketika hendak kuucapkan iyydka na'budu, wa iyydka nasta'in, lidahku kelu. Bibirku tak sanggup melafalkannya, karena aku tahu hatiku tengah berdusta. Dalam mulut, kuucap¬kan, Tuhan, kepada-Mu aku beribadah,' tapi dalam hatiku aku tahu aku sering memperhatikan selain Dia. Ucapan itu tidak mau keluar dari lidahku. Sampai terbit fajar, aku tak bisa menyelesaikan iyydka na'budu wa iyydka nasta¬'in" Tiga hari kemudian, anak muda itu meninggal dunia.
Sebetulnya yang diceritakan oleh guru tadi kepada muridnya adalah ara memperoleh hati yang khusyuk. Hati yang khusyuk adalah hati yang sanggup menghadirkan Allah SWT dihadapan kita. Hal itu membutuhkan olah rohani (ryadhoh) terlebih dahulu. Maka , dapat dipahami mengapa didalam tarekat, seseorang harus menghadirkan guru didalam doa-doa kita. Hal itu sebenarnya sebuah latihan dan jalan karena sangatlah sulit bagi kita untuk menghadirkan Allah SWT.

Menjernihkan Hati


Syekh Abdul Qadir Jaelani
Pengajian Jum’at pagi, 12 Dzi al Hijjah 545 H, Madinah
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Al Baqarah : 201]
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya hati ini benar-benar berkarat dan sesungguhnya [cara] menjernihkannya adalah [dengan] membaca Al Quran, mengingat mati dan menghadiri majelis-majelis zikir.”
Hati itu berkarat, jika memang si pemiliknya menyadari apa yang telah digambarkan oleh Nabi SAW di atas. Jika tidak, maka ia akan berubah hitam kelam. Ia menghitam karena jauh dari [pancaran] cahaya. Ia menghitam karena kecintaannya pada dunia dan kepemilikannya tanpa sikap wara’. Memang, barang siapa yang di dalam hatinya sudah bercokol kuat kecintaan pada dunia, maka hilanglah rasa wara’ nya. Ia menjadi sembarangan mengumpulkan duniawi dari yang halal dan haram. Kesadaran untuk memilah dalam mengumpulkan harta telah hilang, dan rasa malunya pada Tuhan-nya dan pengawasanNya telah lenyap.
Wahai manusia ! terimalah resep Nabi kalian dan segeralah menjernihkan hati kalian dengan obat yang telah beliau deskripsikan pada kalian. Jikalau salah seorang di antara kalian terserang sakit, lalu dokter memberinya resep obat padanya, tentu saja hidupnya akan berubah dan akan langsung menggunakannya.
Awasilah selalu Allah dalam kesendirian dan keramaianmu. Jadikanlah Ia pusat pandangmu hingga kalian seolah-olah melihatNya, dan jika kalian tidak bisa melihatNya, maka [ingatlah selalu] bahwasanya Dia Melihatmu. Barang siapa yang berzikir menyebut Allah ‘Azza wa Jalla dengan hatinya, maka ia benar-benar seorang pezikir, dan tidaklah disebut pezikir orang yang tidak berzikir menyebutNya dengan hatinya. Lisan [bibir] adalah pemuda hati dan subordinatnya. Senantiasalah menyimak petuah, sebab jika hati absen dari petuah, maka ia menjadi buta.
Hakikat taubat adalah mengagungkan perintah Al Haqq ‘Azza wa Jalla dalam segala kondisi. Sebagian kaum [shaleh] menuturkan “segala kebaikan [terangkum] dalam dua kata : pengagungan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan cinta kasih pada makhlukNya. Setiap orang yang tidak mengagungkan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak menyayangi makhluk Allah, maka ia jauh dari Allah.” Allah mewahyukan pada Musa AS, “sayangilah [makhluk-Ku] hingga Aku menyayangimu, maka ia pun akan Ku sayangi dan akan Ku masukkan ke dalam surga Ku.” Sungguh beruntung orang yang penyayang [tetapi kalian, wahai manusia] umur kalian sia-sia dalam perilaku, “mereka makan, kami juga makan, mereka minum, kami juga minum, mereka berpakaian, kami juga berpakaian …”
Barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan, maka sebarkanlah nafsu dirinya dari [mengkonsumsi] hal-hal yang haram, syubhat dan syahwat. Juga hendaklah ia bersabar menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya, serta menyetujui takdirNya. Kaum shaleh senantiasa bersabar bersama Allah SWT dan tidak bersabar dariNya. Mereka bersabar demi Dia dan didalamNya. Mereka bersabar agar bisa bersamaNya. Mereka hanya memohon agar Dia berkenan menganugerahkan pada mereka kedekatan denganNya. Mereka keluar dari rumah-rumah hawa nafsu dan tabiat mereka serta senantiasa membawa syara’ bersamanya. Mereka berjalan menuju Tuhannya. Meskipun menemui petaka, kesusahan, penderitaan, musibah, mendung, masalah, lapar, dahaga, ketelanjangan, kenistaan dan kehinaan, mereka tetap tidak memperdulikannya dan tidak urung kembali [membatalkan] perjalanan mereka, serta tidak berubah sedikitpun dari lintasan yang mereka lalui. Mereka terus maju ke depan tanpa sedikit pun melambatkan perjalanan mereka. Mereka terus berbuat demikian hingga kekekalan hati dan qalib [fisik] bisa dicapainya.
Wahai manusia ! berusahalah bertemu dengan Al Haqq ‘Azza wa jalla dan malulah denganNya jika belum menemuiNya. Rasa malu orang Mukmin pada Allah SWT, kemudian pada makhluknya hanya terkait dengan masalah agama dan pelanggaran batasan syara’. Ia tidak boleh malu, apalagi minder dalam [menjalankan] agama Allah, menegakkan ketentuan-ketentuanNya dan melaksanakan perintahNya.
“Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk [menjalankan] agama Allah.” [QS An Nur : 2]
Barang siapa yang benar-benar mengikuti Rasulullah SAW, maka beliau akan memakaikannya baju besi dan topi perang, menyerahkan beliau kepadanya, membekali kesantunan perilaku dan akhlak beliau, serta memakaikannya jubah kebesarannya. Beliau juga sangat senang dengannya sebagai sosok umatnya dan bersyukur pada Allah SWT atas hal tersebut. Beliau kemudian mengangkatnya sebagai deputinya dalam komunitas umatnya, serta pembimbing jalan menuju Al Haqq ‘Azza wa Jalla. Maka tatkala Al Haq ‘Azza wa Jalla menjemput ajalnya, maka Diapun mengangkat salah seorang umatnya untuk menggantikan [tugas]nya. Orang-orang inilah yang merupakan manusia-manusia pilihan, jumlahnya hanya 1 berbanding 1 juta jiwa. Mereka membimbing manusia dan bersabar menghadapai siksaan sambil terus memberi nasihat pada mereka. Mereka tersenyum di muka kaum munafik dan durjana, serta memikat mereka dengan segala upaya demi membersihkan kotoran yang ada dalam diri mereka untuk kemudian menggandeng mereka menuju pintu Tuhan mereka ‘Azza wa Jalla.
Diriwayatkan dari beberapa kaum shaleh, “Tidak tertawa di depan muka orang fasik kecuali orang yang arif.” Ia tertawa di depan si fasik dan memperlihatkan kepadanya bahwa ia memang tidak mengenalnya, namun ia mengetahui kebobrokan rumah agamanya dan kehitaman muka hatinya oleh gumpalan daki dan kotoran. Orang yang fasik dan munafik menyangka bahwa keduanya bisa menyembunyikan perkara mereka dari orang arif dan ia pun tidak mengetahui mereka. Sungguh tidak, sekali lagi tidak ada kemuliaan sedikitpun pada mereka. Mereka tidak dapat bersembunyi dari orang arif, karena ia mengetahui mereka hanya dengan lirikan, tatapan, kata dan gerakannya. Ia bisa melihat lahir dan batin mereka. Tidak diragukan lagi, celakalah bagi kalian. Kalian pikir, kalian bisa menyembunyikan kebusukan kalian dari kaum shidiqqin yang arif dan alim ? sampai kapan kalian akan mensia-siakan usia dalam kehampaan ? carilah orang yang dapat membimbingmu menuju jalan akherat, hai orang yang tersesat !
Allah Maha Besar di atas kalian, hai orang-orang yang mati hati dan musyrik dengan sarana-sarana duniawi ! kalian juga, hai para penyembah berhala ! kekuatan dan daya mereka, pekerjaan, modal, penguasa negeri dan arah-arah yang mereka tuju, sesungguhnya mereka terhijab dari Allah SWT. Setiap orang yang memandang kemudaratan dan kemanfaat berasal dari selain Allah SWT, maka ia bukanlah hambaNya, akan tetapi ia adalah hamba yang memandang hal itu [kemudaratan dan kemanfaatan] sebagai berasal darinya. Hari ini [di dunia], mereka telah berada dalam api Neraka Jahanam. Tidak ada orang yang bisa selamat dari Neraka Allah ‘Azza wa Jalla kecuali orang-orang yang bertakwa, mengesakan ikhlas, dan orang-orang yang bertaubat.
Bertaubatlah dengan hatimu, baru kemudian dengan lisanmu. Taubat merupakan inti perubahan, yang merubah kuasa hawa nafsu, setan dan kolega-kolegamu yang buruk. Jika engkau bertaubat, maka ubahlah fungsi pendengaran, penglihatan, lisan, hati dan seluruh anggota tubuhmu. Murnikanlah makanan dan minumanmu dari kotoran haram dan syubhat. Suburkanlah rasa wara’mu dalam pekerjaan, dan jual belimu. Jadikanlah citamu hanya tertuju pada Al Mawla junjunganmu ‘Azza wa Jalla. Hapuslah kebiasaanmu dan gantikan tempatnya dengan beribadah. Hapuskanlah kemaksiatan dan gantikan ia dengan ketaatan. Lalu carilah hakikat dengan tetap memegang keshahihan syariat dan kesaksiannya, sebab setiap hakikat yang tidak dipersaksikan oleh syariat, maka ia adalah ke-zindiq-an.
Jika instruksi ini telah engkau realisasikan, maka akan datang padamu kefanaan dari akhlak yang tercela dan dari memandang seluruh makhluk. Ketika itulah, lahirmu akan terpelihara dan batinmu sibuk dengan Tuhanmu ‘Azza wa Jalla. Jika hal ini telah mewujud sempurna dalam dirimu, maka dunia akan datang di hadapanmu dengan sisi-sisinya, lalu menempatkanmu sebagai bagiannya, dan seluruh makhluk mengikutimu, dari yang pertama hingga yang akhir. Semua itu tidak akan mudarat bagimu serta tidak akan mengubahmu dari pintu Al Mawla Junjunganmu ‘Azza wa Jalla, sebab engkau telah berdiri bersamaNya, menerimaNya, dan asyik tenggelam denganNya, memandang kebesaran dan keindahanNya. Engkau hancur tercerai-berai, ketika memandang kebesaranNya, lalu engkau menyatu kembali, ketika memandang keindahanNya. Engkau takut ketika menatap kebesaranNya, serta berharap ketika menatap keindahanNya. Bergetar ketika menyaksikan kebesaranNya, dan kokoh ketika menyaksikan keindahanNya. Sungguh bahagia orang yang telah mencicipi makanan ini.
Ya Allah berilah kami makan dari makanan kedekatan-Mu dan minumilah kami dengan minuman kemesraan-Mu.
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Al Baqarah : 201]

kedamaian serta kesejukan yang ada mengisi hati kedua pasangan manusia.

RENUNGAN
Bila ada surga di dunia itu adalah rumah tangga yang bahagia, rumah tangga yang penuh dengan rasa sakinah, mawaddah dan rahmah. Dan bila ada neraka di dunia itu adalah rumah tangga yang hancur, suami istri saling menyalahkan, curiga, tidak saling mencintai dan jauh dari rasa sakinah mawaddah dan rahmah.
Hubungan antara seorang suami istri merupakan hubungan yang sangat penuh dengan hal yang mengagumkan. Tidak mudah digambarkan dengan kata-kata, betapa rasa cinta, kasih sayang, keintiman, kedamaian serta kesejukan yang ada mengisi hati kedua pasangan manusia.
Penjelasan rasional adalah bahwa semua inilah anugerah dari Allah, dan semua itulah kehendak Allah. Dengan semua kuasa dan kehendakNya, Dialah yang menciptakan dan membuat perasaan ini hadir di hati pasangan suami istri.
Mungkin gambaran lain bahwa dengan menikah Anda tidak saja mendapatkan seorang istri, tetapi Anda mendapatkan seluruh dunia.
Sebagaimana kita ingat rasul bersabda bahwa sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri sholihah. Yang akan menjadikan rumah kita bak surga, baiti jannati. Sejak pernikahan ini, mulai saat ini sampai akhir hayat Anda insya Allah, istri Anda akan menjadi mitra, patner dan sahabat terbaik. Dengan dialah, Anda berbagi berbagai kejadian, melewatkan hari dan tahun bersama.
Dengannya lah Anda berbagi suka, duka, impian, harapan dan juga kecemasan. Ketika Anda sakit, dialah yang akan merawat, ketika Anda memerlukan pertolongan dia akan mengupayakan semua yang dia bisa lakukan bagimu. Ketika Anda berbagi rahasia padanya, dia akan menjaga rahasia itu dengan amanah; ketika Anda perlu nasehat, dia akan memberikan nasehat yang terbaik. Dan dia akan selalu bersamamu.
Ketika terbangun di pagi hari, yang pertama mata Anda lihat adalah dia. Dia akan selalu bersamamu, dan jika pada suatu waktu dia tidak ada di sisimu, maka secara emosi dia ada bersamamu. Dia memikirkan, berdoa untuk kebaikanmu dengan sepenuh hati, dan Anda ada dalam pikiran, doa dan hatinya. Ketika Anda tidur di malam hari, terakhir yang Anda lihat adalah dia; dan ketika Anda bermimpi, anda akan melihatnya dalam mimpimu. Kamulah dunianya dan dialah duniamu.
Allah mengingatkan kepada manusia yang mencari keberadaanNya bahwa salah satu tanda-tanda kekuasaanNya adalah Dia menjadikan rasa kasih dan sayang.
Allah berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir". (QS. 30:21)