Laman

Selasa, 14 Maret 2023

Kualitas Maskulin Feminin dalam Sifat-sifat Tuhan

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah (Q.S.Al-Zariyat/51:49)

Ayat ini mengisyaratkan segala sesuatu selain Tuhan diciptakan berpasang-pasangan (za­ja³n). Bukan hanya manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan mempunyai pasangan, laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina, tetapi juga makhluk-makhluk lain seperti makhluk kosmologis. Di balik konsep berpasang-pasangan (azwaj) ini ada dua kualitas yang bekerja secara aktif dan mekanik, yaitu kualitas kejantanan dan ketegaran (masculinnity/struggeling) dan kualitas kelembutan dan kepengasihan (femininity/nurturing).


Al-Qur'an sering kali menyebutkan fenomena kosmologi yang berpasang-pasangan, seperti langit dan bumi , siang dan malam dan musim dingin dan musim panas, dunia dan akhirat , syurga dan neraka , alam gaib dan alam nyata . Yang lebih istimewa pasangan-pasangan makrokosmos ini mempunyai jumlah yang sama di dalam Al-Qur'an, meskipun masa turunnya Al-Qur'an berlangsung sekitar 23 tahun.

Kemahaesaan Tuhan dapat difahami melalui kenyataan bahwa seluruh makhluk Tuhan diciptakan berpasang-pasangan dan hanya Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya Dia yang tidak butuh pasangan. Dia Yang Esa, baik dalam Esensi maupun dalam sifat. Karena itu, Tuhan tidak dapat diperbandingkan dengan segala sesuatu, "Tiada sesuatu yang menyerupai-Nya" (Q.S.Al-Syura/42:11).

Pada makhluk biologis, setiap pasangan mempunyai hubungan fungsional, laki-laki dan perempuan, jantan dan betina. Masing-masing pasangan mempunyai ketergantungan antara satu dengan yang lain. Demikian pula makhluk-makhluk alam lainnya. Untuk menyatakan adanya siang diperlukan adanya malam, sulit dimengerti adanya sinar terang tanpa adanya kegelapan. Musim dingin baru dapat dimengerti setelah adanya musim panas. Seseorang tidak akan pernah memahami secara mendalam arti sebuah kesehatan jika tidak pernah sakit. Pengecualian terjadi dalam hal Pencipta (Al-Khaliq) dan ciptaan-Nya (al-makhl­q). Makhluk sangat tergantung kepada Khaliqnya, tetapi tidak sebaliknya.

Tuhan tidak masuk dalam konsep azwaj, karena Tuhan adalah Maha Mandiri, sebaliknya seluruh makhluk-Nya tidak ada yang mandiri secara paripurna. Eksistensi setiap makhluk ditentukan oleh hubungan horizontalnya dengan pasangannya dan secara vertikal oleh khaliq-nya. Termasuk manusia dan binatang, keutuhannya terletak pada hubungan interaktifnya dengan pasangannya, laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina.

Dalam dunia tasawuf, konsep azwaj dikaji lebih mendalam. Menurut Nasafi, Tuhan Yang Maha Mandiri di mana segala sesuatu tergantung kepada-Nya , dianggap sebagai Zat Yang Wajib Wujudnya sementara makhluk-Nya disebut zat yang munkin wujudnya , karena keberadaannya sangat tergantung kepada kehendak-Nya dan keutuhan dan kelestariannya sangat tergantung kepada interaksi pasangannya. Dicontohkan langit dan bumi; langit memberi atau melimpahkan (al-faidl) dan bumi menerima atau menampung (istifadlah/. Menurut Jalaluddin Rumi, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan. Hubungan antara keduanya sebagaimana layaknya hubungan antara laki-laki dan perempuan, atau menurut Murata hubungan antara keduanya dapat diterangkan melalui hubungan yang dan ying dalam Taoisme.

Ibn 'Arabi juga memberikan pernyataan yang hampir sama. Langit diumpamakan dengan suami dan bumi diumpamakan dengan isteri dalam kehidupan rumah tangga. Jika langit menurunkan airnya kepada bumi maka akan lahirlah berbagai makhluk biologis seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang. Demikian pula halnya manusia, penurunan air (sperma) kepada perempuan menyebabkan tumbuhnya janin dalam rahim dan selanjutnya lahir sebagai manusia.

Dan Allah menjadikan bumi bagaikan isteri dan langit bagaikan suami.Langit membeikan kepada bumi sebagian dari perintah yang diwahyukan Tuhan, sebagaimana laki-laki memberikan air ke dalam diri perempuan melalui "hubungan suami-isteri". Ketika pemberian itu berlangsung, bumi mengeluarkan seluruh tingkatan benda-benda yang dilahirkan yang disembunyikan Tuhan di dalamnya.

Konsep perkawinan dalam pandangan sufi lebih luas dari pada sekedar apa yang dirumuskan dalam Fikih Perkawinan , yaitu peraturan perkawinan dan akibat-akibat hukum sebuah perkawinan. Kalangan sufi mengenal Perkawinan Makrokosmos (Macrocosmic Marriage), meliputi perkawinan hubungan-hubungan tertentu antara benda atau sifat yang berpasangan, seperti hujan mengawini tanah.

Komposisi ideal kualitas maskulin-feminin tergambar di balik 99 nama-Nya dalam Al-Asma` al-Husna, sebagaimana dapat di lihat sebagai berikut:

Kualitas Maskulin
1. Al-Jabbar (Yang Maha Pemaksa)
2. Al-Qawiy (Yang Maha Kuat)
3. Al-Muntaqim (Y.M. Penyiksa)
4. Al-Qahhar (Y.M.Menguasai)

Kualitas Feminin
1. Al-Rahim (Yang Maha Penyayang)
2. Al-Lathif (Y.M.Lembut)
3. Al-Gaf­r (Y.M.Pengampun)
4. Al-Hakim (Y.M.Bijaksana)

Orang-orang yang mengidentifikasi diri dengan sifat-sifat maskulin Tuhan, akan didominasi rasa: aktif, progresif, kuasa, independen, jauh, dan dominan (struggeling). Sedangkan orang yang mengidentifikasi diri dengan sifat-sifat feminin Than akan didominasi rasa: pasrah, berserah diri, dekat, kasih dan pemelihara (nurturing).

Orang yang lebih menekankan aspek maskulinitas Tuhan, ia seringkali membayangkan Tuhan transenden, jauh, dan lebih memilih untuk menakuti-Nya. Sedangkan orang yang lebih menekankan aspek feminin Tuhan, ia membayangkan Tuhan immanen, dekat, dan lebih memilih untuk mencintai-Nya.

Sikap yang pertama akan memberikan efek seseorang harus hati-hati dalam berbuat, karena Tuhan itu Maha Adil (al-'Adl). Sedangkan yang kedua akan memberikan efek optimisme dalam menjalani kehidupan, karena Tuhan itu Maha Pemaaf (al-'Afuw).

Pendekatan pertama bisa melahirkan sikap formalisme beragama, karena membayangkan Tuhan itu Maha Penuh Perhitungan (al-Hasib). Sedangkan yang kedua bisa melahirkan sikap permissif dan seberono, karena membayangkan Tuhan Maha Penyayang (al-Rahman) dan Maha Pengampun (al-Gafur).

Yang ideal ialah seperti sabda Rasulullah: berakhlaklah sebagaimana akhlak Tuhan, yaitu kombinasi ideal antara kualitas maskulin dan kualitas feminin, seperti yang dicontohkan Rasulullah sebagai uswah al-Hasanah, yang "akhlaknya adalah Al-Qur'an".

Nama-nama indah Tuhan (al-asma` al-Husna) yang berjumlah 99 menurut hitungan ulama sunni, dapat dirangkai secara kronologis begitu indah ibarat seuntai tasbih. Dimulai dengan lafz al-jalalah, Allah, dengan angka 0 (nol), yang biasa dianggap angka kesempurnaan, disusul dengan al-Rahman (Yang Maha Pengasih), al-Rahim (Yang Maha Penyayang), dan seterusnya sampai ke angka 99, al-Shabr (Yang Maha Sabar) dan kembali lagi ke angka nol, Allah (lafz al-jalalah), atau kembali ke pembatas besar dalam untaian tasbih. Simbol angka nol berupa lingkaran atau titik, menggambarkan siklus kehidupan bagaikan sebuah cyrcle, bermula dan berakhir pada satu titik, atau menurut istilah Al-Qur`an: inna li Allah wa inna ilaih raji'un (kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya).

Dalam perspektif tasawuf, nama-nama indah Tuhan bukan hanya menunjukkan sifat-sifat Tuhan, tetapi juga menjadi titik masuk (entry point) untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap orang dapat mengidentifikasikan diri dengan nama-nama tersebut. Seseorang yang pernah berlumuran dosa lalu sadar, dapat menghibur diri dan membangun rasa percaya diri dengan mengidentifikasi diri dengan nama al-Gafur (Maha Pengampun) dan al-Tawwab (Maha Penerima Taubat), sehingga yang bersangkutan tetap bisa eksis kembali dan tidak perlu kehilangan semangat hidup. Bukankah di antara 99 nama itu sifat-sifat kasih Tuhan lebih dominan?

Allah bukan hanya memiliki sifat-sifat maskulin ("The Father God"), tetapi juga memiliki, bahkan lebih dominan dengan sifat-sifat feminin ("The Mother God"). Ada kecenderungan di dalam masyarakat sifat-sifat maskulinitas Tuhan lebih ditonjolkan, seperti Tuhan Maha Besar (al-Kabir), Maha Perkasa (al-'Aziz), dan Maha Pembalas/Pendendam (al-Muntaqim), bukannya menonjolkan sifat-sifat femininitas-Nya, seperti Tuhan Maha Penyayang (al-Rahim), Maha Lembut (al-Lathif), dan Maha Pema'af (al-'Afuw), sehingga Tuhan lebih menonjol untuk ditakuti dari pada dicintai. Efek psikologis yang muncul karenanya, manusia menyembah dan sekaligus mengidealkan identifikasi diri dengan "The Father God", yang mengambil ciri dominan, kuasa, jauh, dan struggeling, bukannya dengan "The Mother God", yang mengabil ciri berserahdiri, kasih, dekat, dan nurturing. Idealnya, komposisi kualitas maskulin dan feminin menyatu di dalam diri manusia, sebagaimana halnya keutuhan kedua kualitas itu menyatu di dalam Diri Tuhan, seperti tercermin di dalam al-asma` al-Husna, dan sebagaimana juga dipraktekkan Rasulullah saw.

Allah swt, adalah Tuhan segala sesuatu, Tuhan makrokosmos dan mikrokosmos. Manusia sebagai makhluk mikrokosmos merupakan bagian yang teramat kecil di antara seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Ia bagaikan setitik air di tengah samudra. Bumi tempat ia hidup bagaikan sebuah titik di antara jutaan planet dalam galaksi bimasakti. Meskipun dipercaya oleh Tuhan sebagai khalifah di bumi (khala`if al-ardl), manusia tidak sepantasnya mengklaim Allah swt, lebih menonjol sebagai Tuhan manusia dari pada Tuhan makrokosmos, karena pemahaman yang demikian dapat memicu egosentrisme manusia untuk menaklukkan, menguasai, dan mengekploitasi alam raya sampai di luar amban daya dukungnya; bukannya bersahabat dan berdamai sebagai sesama makhluk dan hamba Tuhan. Sepantasnya kita menyadari bahwa konsep al-asma` al-Husna adalah konsep alam semesta. Tuhan tidak hanya memperhatikan kepentingan manusia, atau Tuhan tidak hanya kepada manusia, sebagaimana kesan dan pemahaman sebagian orang terhadap konsep penundukan alam raya (taskhir) kepada manusia. Seolah-olah konsep taskhir adalah "SIM" untuk menaklukkan alam semesta. Padahal, konsep taskh³r sebenarnya bertujuan untuk merealisasikan eksistensi asal segala sesuatu itu bersumber dari Tuhan Yang Maha Bijaksana (al-Hakim), yang mengacu kepada keseimbangan kosmis dan ekosistem.

Manusia yang paling berkualitas di mata Allah swt ialah yang paling bertaqwa (Q.S. Al-Hujurat/49:13), yaitu "orang-orang yang menafkahkan (hartanya), naik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) oraang" (Q.S.Ali 'Imran/3:133). Dari ayat ini difahami bahwa kualitas sejati di sisih Allah swt ialah orang-orang yang mengaktifkan komposisi kualitas maskulin dan feminin. Sikap seperti inilah yang akan melahirkan kesejukan, ketenangan, dan kedamaian di dalam masyarakat.

Dalam menyukseskan kedua misi manusia di bumi, yaitu sebagai khalifah dan sebagai hamba ('abid), komposisi kedua sifat ini juga santa penting. Kualitas maskulin sangat membantu manusia dalam menjalankan misinya sebagai khalifah dan kualitas feminin sangat membantu manusia dalam menjalankan misinya sebagai abid. Namun, separasi ini tidak berarti pemisahan secara total, karena misi kekhalifahan hanya dijalankan dengan kualitas maskulin, maka kemungkinan besar yang akan terjadi ialah disrupsi dan kerusakan lingkungan alam dan lingkungan sosial, serta ketimpangan ekologis. Sebaliknya, mengeliminir kualitas maskulin dalam menjalankan misi manusia sebagai 'abid, maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah fatalisme keagamaan, yakni kesalehan individual yang tidak membawa dampak ke dalam kehidupan sosial.

Idealnya, jika komposisi kedua kualitas ini menyatu dalam diri setiap orang, maka yang akan terjadi adalah kedamaian kosmopolit (rahmatan li al-'alam³n) di tingkat makrokosmos dan negeri tenteram di bawah lindungan Tuhan (baldah Thayyibah wa Rab al-Gafur) di tingkat mikrokosmos

Sumber : Ustat Nasaruddin Umar

Habib Abdullah bin ‘Alwi Al-Haddad berkata: Ketahuilah, bahwa wirid mempunyai pengaruh yang amal kuat untuk menerangi kalbu dan mengendalikan anggota tubuh. Akan tetapi, ia tidak akan efektif kecuali setelah diamalkan secara berulang-ulang dan terus menerus di waktu-waktu tertentu. Jika engkau tidak termasuk orang-orang yang melewatkan seluruh siang dan malam dalam tugas-tugas kebaikan dan amal-amal khair. maka paling sedikit engkau harus mengamalkan beberapa wirid secara teratur pada waktu-waktu tertentu, jika pada suatu saat, dan karena suatu alasan, engkau tidak mengerjakannya, maka hendaknya engkau segera mengganti (meng-qadha’) wirid tersebut di waktu lain, agar nafsumu terbiasa dengan berbagai wirid tersebut.

Dalam setiap keadaan, manusia pasti membutuhkan tobat. Tidak ada seorang pun yang terlepas dari kebutuhan untuk bertobat, meskipun ia seorang yang Nabi yang ma’shum (terlindung dari perbuatan dosa), apalagi selainnya. Karena itulah para Malaikat, para Nabi dan Rasul, serta kaum Shiddiqin yang terjaga dari perbuatan dosa, mereka senantiasa memohon ampun (istighfar) dan bertobat kepada Allah. Jika demikian adanya, maka orang-orang yang suka mencampuradukkan kebaikan dan keburukan, yang suka bermaksiat dengan melakukan berbagai perbuatan dosa seperti kita ini, seharusnya lebih membutuhkan dan lebih wajib untuk bertobat. Oleh karena itu, jika memperoleh kemudahan, kita harus segera menyusul manusia-manusia terbaik tersebut. Dan hal ini dapat dilaksanakan jika kita senantiasa mau meneliti niat, perbuatan maupun ucapan kita. Jika kita mampu memperbaiki dan meluruskan ketiga hal tersebut, maka kita akan memperoleh waridat yang indah.

Waridat yang kita peroleh adalah sesuai dengan amal yang kita kerjakan. Karena itulah, orang-orang yang memiliki waridat tersebut menyatakan bahwa waridat yang tiba ke dalam hati adalah sesuai dengan macam wirid yang kita amalkan. Jika kita melakukan hal-hal yang baik, maka kita juga akan memperoleh hal yang baik. Wirid merupakan tubuh waridat. Sebagaimana ruh tidak akan masuk ke dalam jasad janin yang berada di perut ibu, kecuali setelah sempurnanya jasad tersebut, maka waridat juga tidak akan tiba di hati seorang hamba sebelum tubuhnya dihias dengan berbagai wirid. Oleh karena itu, orang-orang yang mengabaikan dan meremehkan wirid, mereka adalah orang-orang yang sangat bodoh, lalai dan sangat lemah pemahamannya.

Orang-orang yang berjalan menuju Allah memiliki perhatian, semangat dan ketekunan dalam membaca berbagai wirid. Mereka menikmati wirid-wirid tersebut. Inilah tanda kesungguhan mereka di dalam berjalan menuju Allah dan kemampuan pemahaman mereka yang besar. Barang siapa memahami kedudukan wirid, maka ia akan menaruh perhatian yang besar terhadap berbagai macam wirid dan dzikir. Sehingga perjalanannya menuju Allah berlangsung dengan baik dan ia akan senantiasa memperoleh limpahan karuria-Nya.

Adapun seseorang yang berada di dalam kebodohan, sedikit pun ia tidak akan menaruh perhatian terhadap berbagai macam wirid tersebut. Dan seandainya ia membaca salah satu wirid itu, maka ringan baginya untuk meninggalkannya. Jika salah satu wirid yang ia baca terlewatkan karena suatu sebab, maka ia tidak akan pernah merasa kehilangan maupun merindukannya. Ini merupakan tanda kebodohannya. Seseorang yang demikian keadaannya, sebenarnya ia tidak berjalan menuju Allah Ta’ala.*

Oleh karena itu, kalian pasti akan melihat keutamaan dan manfaat nyata yang akan diperoleh mereka yang suka membaca wirid, di dunia ini sebelum di Akhirat nanti. Kalian akan melihat perbedaan yang sangat besar antara orang-orang yang mengisi hari-hari mereka di tempat seperti ini dengan membaca, memuliakan dan mengagungkan wirid — ikut membaca wirid sebelum dan setelah subuh, sebelum dan setelah shalat dhuhur, dzikir sebelum shalat ashar, doa ketika berjabat tangan selepas shalat ashar dan wirid setelah ashar dengan hati yang khusyuk — dengan orang-orang yang mengabaikan berbagai macam wirid tersebut. Di antara mereka pasti tampak perbedaan yang sangat besar yang akan tampak dalam perjalanan kehidupan mereka di dunia maupun di Akhirat. Kedua kelompok manusia ini tidak dapat disamakan.

Orang yang memiliki ikatan hati dengan kaum sholihin tidak mungkin dapat disamakan dengan orang yang tidak memiliki ikatan hati dengan mereka.

yang menyandang akhlak mulia tidak mungkin dapat disamakan dengan mereka yang tidak menyandangnya. Orang yang beramal tidak mungkin dapat disamakan dengan orang yang tidak beramal. Bagaimana mungkin keduanya dapat disamakan. Allah Ta’ala mewahyukan:

ام حسب الذين اجترحوا السيئات ان نجعلهم كالذين ءامنوا وعملواالصلحت سواء محياهم ومماتهم ساء ما يحكمون(21

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (Al-Jatsiah, 45:21)

Dapatkah disamakan seseorang yang ketika turun hujan rahmat hatinya khusyuk (ingat kepada Allah) dengan seseorang yang lalai? Apakah keduanya dapat disamakan? Yang satu hatinya selalu berhubungan dengan Allah sedangkan yang lain hatinya putus hubungan dengan-Nya. Yang satu menghadapkan diri kepada Allah sedangkan yang lain berpaling dari-Nya. Keduanya tidak mungkin dapat disamakan. Sudah menjadi ketentuan Allah di alam semesta, kedua jenis manusia ini tidak mungkin dapat disamakan. Tidaklah sama kegelapan dengan cayaha, orang yang normal penglihatannya dengan tuna netra, dan yang hidup dengan yang mati, meskipun semuanya adalah makhluk Allah. Karena itu, jika kalian perhatikan, orang-orang yang bertobat senantiasa menekuni berbagai wirid dan dzikir. Mereka akan banyak beristighfar memohon ampun kepada Allah. Rasulullah saw bersabda:

طوبى لمن وجد في صحيفته استغفارا كثيرا

. (HR Ibnu Majah)
‘Sungguh beruntung seseorang yang mendapati istighfar yang banyak dalam buku catatan amalnya

Setelah Rasulullah saw menyatakan mereka sebagai seorang yang sangat beruntung, maka mereka akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. 

Apa Itu Nur Muhammad?


Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Dalam ilmu tasawuf, Nur Muhammad mempunyai pembahasan mendalam. Nur Muhammad disebut juga hakikat Muhammad.

Sering dihubungkan pula dengan beberapa istilah seperti al-qalam al-a’la (pena tertinggi), al-aql al-awwal (akal utama), amr Allah (urusan Allah), al-ruh, al-malak, al-ruh al-Ilahi, dan al-ruh al-Quddus.

Tentu saja, sebutan lainnya adalah insan kamil. Secara umum istilah-istilah itu berarti makhluk Allah yang paling tinggi, mulia, paling pertama dan utama. Seluruh makhluk berasal dan melalui dirinya. Itulah sebabnya Nur Muhammad pun disebut al-haq al-makhluq bih atau al-syajarah al-baidha' karena seluruh makhluk memancar darinya.

Ia bagaikan pohon yang daripadanya muncul berbagai planet dengan segala kompleksitasnya masing-masing. Nur Muhammad tidak persis identik dengan pribadi Nabi Muhammad SAW. Nur Muhammad sesungguhnya bukanlah persona manusia yang lebih dikenal sebagai nabi dan rasul terakhir.

Namun tak bisa dipisahkan dengan Nabi Muhammad sebagai person, karena representasi Nur Muhammad dan atau insan kamil adalah pribadi Muhammad yang penuh pesona. Manusia sesungguhnya adalah representasi insan kamil. Oleh karena itu, dalam artikel terdahulu, manusia dikenal sebagai makhluk mikrokosmos.

Sebab, manusia merupakan miniatur alam makrokosmos. Posisi Muhammad sebagai nabi dan rasul dapat dikatakan sebagai miniatur makhluk mikrokosmos karena pada diri beliau merupakan tajalli Tuhan paling sempurna. Itu pula sebabnya, mengapa Nabi Muhammad mendapatkan berbagai macam keutamaan dibanding nabi-nabi sebelumnya.

Bahkan hadits-hadits Isra’ Mikraj menyebutkan, Rasulullah pernah mengimami nabi yang pernah hidup sebelumnya. Melalui Nur Muhammad, Tuhan menciptakan segala sesuatu. Dari segi ini, Al-Jilli menganggapnya qadim dan Ibnu ‘Arabi menganggapnya qadim dalam kapasitasnya sebagai ilmu Tuhan dan baharu ketika ia berwujud makhluk.

Namun perlu diingat bahwa konsep keqadiman, menurut Ibnu Arabi, ada dua macam, yaitu qadim dari segi dzat dan qadim dari segi sesuatu itu masuk ke wilayah ilmu Tuhan. Nur Muhammad, menurut Ibnu Arabi, masuk kategori qadim jenis kedua, yaitu bagian dari ilmu Tuhan (qadim al-hukmi) bukan dalam qadim al-dzati.

Dengan demikian, Nur Muhammad dapat dianggap qadim dalam perspektif qadim al-hukmi, namun juga dapat dianggap sebagai baharu dalam perspektif qadim al-dzati. Dalam satu riwayat juga pernah diungkapkan bahwa Nabi Muhammad adalah sebagai nabi pertama dan terakhir.

Ia disebut sebagai nabi pertama dalam arti bapaknya para ruh (abu al-warh al-wahidah), nabi terakhir karena memang ia sebagai khatam an-nubuwwah wa al-mursalin.

Sedangkan, Nabi Adam hanya dikenang sebagai bapak biologis (abu al-jasad). Jika dikatakan Muhammad SAW nabi pertama dan terakhir bagi Allah SWT, tidak ada masalah.

Nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang kelihatannya paradoks, seperti al-awwal wa al-akhir, al-dhahir wa al-bathin, al-jalal wa al-jamal, juga tidak ada masalah bagi-Nya, karena itu semua hanya di level puncak (al-a’yan ats-tsabitah) atau wujud potensial, tidak dalam wujud aktual (wujud al-kharij).

Dasar keberadaan Nur Muhammad dihubungkan dengan sejumlah ayat dan hadits. Di antaranya, "Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Nur) dari Allah dan kitab yang menerangkan." (QS. Al-Maidah 15).

Ayat lainnya, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu), bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab: 21). Ada pula hadits, "Saya adalah penghulu keturunan Adam pada hari kiamat."

Hadits riwayat Bukhari menjadi dasar lainnya, yaitu "Aku telah menjadi nabi, sementara Adam masih berada di antara air dan tanah berlumpur." Ada lagi suatu riwayat panjang yang banyak ditemukan dalam literatur tasawuf dan literatur-literatur Syiah adalah pertanyaan Sayyidina Ali RA kepada Rasulullah.

"Wahai Rasulullah, mohon dijelaskan apa yang diciptakan Allah sebelum semua makhluk diciptakan?"

Rasul menjawab, "Sebelum Allah menciptakan yang lain, terlebih dahulu Ia menciptakan nur nabimu (Nur Muhammad). Waktu itu belum ada lauh al-mahfuz, pena (qalam), neraka, malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, bintang, jin, dan manusia.

Kemudian dengan iradat-Nya, Dia menghendaki adanya ciptaan. Ia membagi Nur itu menjadi empat bagian. Dari bagian pertama, Ia menciptakan qalam, lauh al-mahfuz, dan Arasy. Ketika Ia menciptakan lauh al-mahfuz dan qalam, pada qalam itu terdapat seratus simpul.

Jarak antar simpul sejauh dua tahun perjalanan. Lalu, Allah memerintahkan qalam menulis dan qalam bertanya, 'Ya Allah, apa yang harus saya tulis?' Allah menjawab, 'Tulis La Ilaha illa Allah, Muhammadan Rasul Allah.' Qalam menjawab, 'Alangkah agung dan indahnya nama itu, ia disebut bersama asma-Mu Yang Maha Suci.'

Allah kemudian berkata agar qalam menjaga perilakunya. Menurut Allah, nama tersebut adalah nama kekasih-Nya. Dari nur-Nya, Allah menciptakan Arasy, qalam, dan lauh al-mahfuz. Jika bukan karena dia, ujar Allah, dirinya tak akan menciptakan apa pun. Saat Allah menyatakan hal itu, qalam terbelah dua karena takutnya kepada Allah."


"Sampai hari ini, ujung qalam itu tetap terbelah dua dan tersumbat sehingga dia tidak menulis, sebagai tanda dari rahasia Ilahi."

"Oleh karena itu, jangan ada seorang pun gagal dalam memuliakan dan menghormati nabinya atau menjadi lalai dalam meneladaninya. Selanjutnya, Allah memerintahkan qalam untuk menulis."

"Qalam bertanya, Apa yang harus saya tulis, ya Allah? Dijawab oleh Allah, Tulislah semua yang akan terjadi sampai hari pengadilan. Qalam pun kembali bertanya tentang apa yang harus ia mulia tuliskan. Allah menegaskan, agar qalam memulai dengan kata-kata, Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim."

"Dengan rasa hormat dan takut yang sempurna, kemudian qalam bersiap menulis kata-kata itu pada Lauh Al-Mahfudz dan menyelesaikan tulisan itu dalam kurun waktu 700 tahun. Saat qalam telah menulis kata itu, Allah menyatakan bahwa qalam telah menghabiskan 700 tahun menulis tiga nama-Nya."

Ketiga nama itu adalah nama keagungan-Nya, kasih sayang-Nya, dan empati-Nya. Tiga kata-kata yang penuh barakah ini dibuat sebagai hadiah bagi umat kekasih-Nya, yaitu Muhammad. Di samping ayat dan hadis tersebut di atas juga masih ada nasihat atau perkataan yang menarik untuk dikaji bersama.

Antara lain, ungkapan yang disampaikan Al-Khallaj sebagai berikut, "Maha Suci (dzat) yang nasut-Nya telah melahirkan rahasia cahaya lahut-Nya yang cemerlang; kemudian ia kelihatan bagi makhluk-Nya secara nyata dan dalam bentuk (manusia) yang makan dan minum."

Mungkin inilah sebabnya mengapa Nabi Muhammad memiliki berbagai keutamaan, seperti satu-satunya yang bisa mengakses langsung Sidrah Al-Muntaha, maqam paling puncak, diberi Lailah Al-Qadr, diberi hak memberi syafaat di hari kiamat, umatnya paling pertama dihisab, paling pertama masuk surga, dan paling berhasil misinya.

Dalam kitab Fushush Al-Hikam karya Ibnu Arabi, dibahas lebih mendalam hakikat Nur Muhammad (Haqiqah Al-Muhammadiyyah). Yang menarik di dalam pembahasan itu, kita semua umat manusia mempunyai unsur-unsur kemuhammadan (Muhammadiyyah) seperti halnya di dalam diri manusia terdapat unsur-unsur keadaman (Adamiyyah).

Muhammadiyyah, Adamiyyah, dan sejumlah manusia suci lainnya, ternyata bermakna fisik dan simbolis, atau makna esoteris di samping eksoteris. Uraian tentang Nabi Muhammad, kemuhammadan, dan Nur Muhammad serta relasinya dengan kita sebagai sebagai makhluk mikrokosmos sangat menarik disimak.

Terlepas apakah nanti setuju atau tidak setuju keseluruhannya, itu wilayah otonomi intelektualitas kita masing-masing. Wallahua’lam.

Sumber : Republika

 

Mestikah Manusia Bertasawuf?


Habi

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Barang siapa bertasawuf tanpa berfikih maka dia zindiq Barang siapa berfikih tanpa bertasawuf maka dia fasik Barang siapa menggabung keduanya maka dia akan sampai pada hakikat (Imam Malik)

Fenomena kajian dan pengamalan tasawuf semakin menjadi tren di sejumlah kota besar. Hal ini juga bukan hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global. Tak heran jiwa ilmuwan dan praktisi tasawuf semakin mobile. Jaringan berbagai tarekat semakin mengglobal.

Pertanyaannya adalah mestikah manusia bertasawuf? Kalau itu mesti, mengapa kehidupan tasawuf dalam era permulaan Islam tidak begitu populer? Mengapa kajian tasawuf menjadi fenomena kelas menengah? Apakah fenomena ini hanya tren sesaat?
Apa itu tasawuf?
Tasawuf merupakan bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Imam Al-Junaidi mengartikannya berakhlak mulia dan meninggalkan semua akhlak tercela. Zakaria Al-Anshari berpendapat, tasawuf merupakan ilmu tentang kebersihan jiwa, perbaikan budi pekerti, serta pembangunan lahir dan batin guna memperoleh kebahagiaan abadi.

Jika fikih bertujuan untuk memperbaiki amal, memelihara aturan syar’i, dan menampakkan hikmah dari setiap hukum, maka tasawuf bertujuan memperbaiki hati dan memfokuskannya hanya kepada Allah SWT. Orang yang ahli fikih disebut faqih, jamaknya fiqha'. Sedangkan ahli atau praktisi tasawuf biasa diartikan dengan sufi.

Tasawuf terkadang sulit dijelaskan kepada orang-orang yang selalu mengedepankan logika dan pragmatisme. Tasawuf lebih merupakan ilmu personal. Dalam arti, tasawuf sulit dikenal dan dipahami bagi orang yang tidak mengalaminya. Dengan kata lain, ilmu ini harus dialami sendiri jika ingin memahaminya. Ibarat mengajarkan manisnya gula, tidak mungkin memberikan penjelasan tanpa mencicipinya.

Mengapa tasawuf tidak populer di masa awal Islam?
Pertanyaan ini dijawab oleh Dr Ahmad Al-Wasy. Menurut dia, tak populernya tasawuf pada masa awal Islam yakni di masa sahabat dan tabi'in karena pada kurun waktu itu hampir semua umat Islam ahli takwa, wara, dan ahli ibadah. Jaraknya dengan Rasulullah yang menjalani kehidupan asketis dan sufistik masih relatif dekat.

Sehingga, tidak diperlukan pembahasan secara khusus. Tidak perlu diragukan juga nilai-nilai asketisme di masa Nabi Muhammad SAW dan sahabat sampai tabi'in. Banyak ilmu keislaman dikembangkan justru ketika sudah jauh dari masa kehidupan Rasulullah. Tradisi penulisan Alquran, misalnya, populer setelah Rasulullah wafat.

Pada abad ketiga dan keempat Hijriah, saat Islam mengalami globalisasi dan perluasan wilayah serta mengalami puncak kejayaan, termasuk puncak kekuasaan politik dan kebebasan ekspresi intelektual, tasawuf menjadi alternatif dalam kehidupan kosmologi Islam.

Terutama pula setelah umat Islam mengalami kemunduran sebagai akibat penaklukan pusat-pusat kekuasaan dan peradaban Islam di pengujung abad ketiga dan keempat Hijriah. Pada saat itu, tasawuf mengalami perkembangan pesat. Ditandai dengan lahirnya tokoh-tokoh tasawuf.

Sebut saja Abu Sulaiman Ad-Darimi (w. 215 H), Ahmad ibn Al-Hawari Al-Damisqi (w. 230 H), Dzun Nun Al-Mishri (w. 261 H), Junaid Al-Bagdadi (w. 298 H), Husain ibn Mansur Al-Khallaj (w. 309 H), Abu Bakar Asy-Syibli (w. 334 H), dan Abu Nasr Sarraj At-Tusi (w. 378 H). Pada abad kelima dan keenam, tasawuf kian berkembang.

Pada periode ini, lahir Imam Gazali (w. 505 H/1111 M) yang ajarannya paling banyak berpengaruh di India dan termasuk di kepulauan nusantara. Lalu muncul pertanyaan, apakah ada kaitan antara kemerosotan peradaban dan intelektualitas dunia Islam dengan berkembangnya tasawuf? Masih perlu kajian mendalam.

Hal yang sudah jelas, Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam yang sudah mengalami degradasi politik dan intelektual. Akan tetapi, ini mungkin ada hikmahnya. Islam sufistis yang masuk ke Indonesia lebih mudah beradaptasi dan berpenetrasi, sehingga tak menimbulkan resistensi. Seperti masuknya Islam ke Spanyol dan daratan Eropa lainnya.

Mengapa Tasawuf banyak digemari kelas menengah?
Fenomena kelas menengah baru Indonesia sesungguhnya adalah fenomena kelas menengah santri. Mereka berlatar belakang keagamaan Islam yang relatif taat meskipun sebatas formal. Kelas menengah di sini meliputi kelas menengah dalam dunia bisnis dan perekonomian, akademisi, militer, dan dunia LSM.

Secara ekonomi mereka sudah berada pada post basic-needs. Mereka sudah mempunyai kecukupan untuk melengkapi kehidupannya dengan aksesoris kebutuhan sekunder. Mereka ini kebanyakan berdiam di kota-kota besar. Karena, mereka kebanyakan dari latar belakang santri, maka mereka tahu peta jalan keagamaan.

Mereka sadar, kebahagiaan mempunyai banyak sisi, termasuk kebahagiaan melalui jalur agama. Mereka ini lebih tertarik untuk memahami agama lebih dari sekadar hal formalistis, yang memang sudah tertanam dari dalam lingkungan keluarganya. Mereka ingin memahami sisi-sisi lain dari agama.

Di antara sisi yang mengasyikkan itu adalah kajian spiritual atau tasawuf. Kajian tasawuf menjadi sesuatu yang dibutuhkan mereka yang setiap hari bergelimang dunia materi yang lebih dari cukup. Mereka sangat percaya dunia eskatologis, kehidupan setelah mati.

Namun, mereka tidak lagi cukup memahami agama dari sudut fikih yang dinilainya terlalu dogmatis, normatif, rutin, deduktif, dan terkesan kering. Mereka menginginkan sesuatu yang bersifat mencerahkan, menyejukkan, dan menyentuh aspek paling dalam di dalam batin mereka.

Ternyata, kajian yang seperti ini mereka temukan dalam kajian tasawuf. Maka itu, wajar kalau kajian-kajian spiritual-tasawuf semakin ramai dikunjungi orang. Lihatlah, misalnya, lembaga ESQ yang mempunyai members jutaan orang dari kelas menengah. Lihat pula pengajian rutin tasawuf setiap Senin dan Rabu di Masjid Agung Sunda Kelapa yang menyedot jamaah kelas menengah.

Fenomena yang sama juga terjadi di sejumlah kota besar di Indonesia seperti di Surabaya, Bandung, Makassar, dan Medan. Kajian tasawuf menarik karena dalam substansi dan ajaran tasawuf mereka menemukan sesuatu yang klop dengan kegelisahan dan kegersangan hati mereka.

Mereka juga merasakan rasionalitas dunia tasawuf, yang menekankan aspek humanity seperti mengedepankan persamaan, bukannya perbedaan. Selain itu, tasawuf mengedepankan kesatuan bukannya perpecahan, serta mengedepankan kelembutan dan femininity bukannya kekerasan dan masculinity.

Melalui tasawuf, mereka mendapatkan penjelasan bahwa Tuhan itu imanen bukannya transenden seperti banyak dikesankan dunia fikih.

Haruskan bertasawuf?
Tasawuf dalam arti jalan hidup spiritual secara perorangan, tidak mesti. Namun, tasawuf sebagai ajaran yang mengajarkan kesalehan individual dan sosial, itu mesti karena hal itu merupakan substansi ajaran Islam. Dunia fikih dan tasawuf tidak mesti dipetentangkan.

Kedua hal tersebut ibarat dua sisi dari satu mata uang, sebagaimana disebutkan Imam Malik dalam pernyataan di atas. Tidaklah substansial jika seseorang menjelek-jelekkan tasawuf apalagi menganggap tasawuf itu bid'ah. Sebaliknya, tidak tepat mengatakan tasawuf itu wajib.

Seolah-olah mereka yang tidak menjalani praktik tasawuf , kelasnya masih awam atau di bawah. Yang ideal, pengamalan syariat sebaiknya dikukuhkan dengan nilai spiritual yang menukik ke dalam perasaan. Mungkin yang perlu dicermati adalah tasawuf yang menafikan kehidupan duniawi, rasionalitas intelektual, dan menghindari dunia peradaban modern.

Hal yang tak kalah penting, jangan sampai jatuh di dalam praktik tasawuf yang menyimpang dari pokok ajaran Islam, sebagaimana tertera di dalam Alquran dan hadits.

Sumber: Republika
b Abdullah bin ‘Alwi Al-Haddad berkata: Ketahuilah, bahwa wirid mempunyai pengaruh yang amal kuat untuk menerangi kalbu dan mengendalikan anggota tubuh. Akan tetapi, ia tidak akan efektif kecuali setelah diamalkan secara berulang-ulang dan terus menerus di waktu-waktu tertentu. Jika engkau tidak termasuk orang-orang yang melewatkan seluruh siang dan malam dalam tugas-tugas kebaikan dan amal-amal khair. maka paling sedikit engkau harus mengamalkan beberapa wirid secara teratur pada waktu-waktu tertentu, jika pada suatu saat, dan karena suatu alasan, engkau tidak mengerjakannya, maka hendaknya engkau segera mengganti (meng-qadha’) wirid tersebut di waktu lain, agar nafsumu terbiasa dengan berbagai wirid tersebut.

Dalam setiap keadaan, manusia pasti membutuhkan tobat. Tidak ada seorang pun yang terlepas dari kebutuhan untuk bertobat, meskipun ia seorang yang Nabi yang ma’shum (terlindung dari perbuatan dosa), apalagi selainnya. Karena itulah para Malaikat, para Nabi dan Rasul, serta kaum Shiddiqin yang terjaga dari perbuatan dosa, mereka senantiasa memohon ampun (istighfar) dan bertobat kepada Allah. Jika demikian adanya, maka orang-orang yang suka mencampuradukkan kebaikan dan keburukan, yang suka bermaksiat dengan melakukan berbagai perbuatan dosa seperti kita ini, seharusnya lebih membutuhkan dan lebih wajib untuk bertobat. Oleh karena itu, jika memperoleh kemudahan, kita harus segera menyusul manusia-manusia terbaik tersebut. Dan hal ini dapat dilaksanakan jika kita senantiasa mau meneliti niat, perbuatan maupun ucapan kita. Jika kita mampu memperbaiki dan meluruskan ketiga hal tersebut, maka kita akan memperoleh waridat yang indah.

Waridat yang kita peroleh adalah sesuai dengan amal yang kita kerjakan. Karena itulah, orang-orang yang memiliki waridat tersebut menyatakan bahwa waridat yang tiba ke dalam hati adalah sesuai dengan macam wirid yang kita amalkan. Jika kita melakukan hal-hal yang baik, maka kita juga akan memperoleh hal yang baik. Wirid merupakan tubuh waridat. Sebagaimana ruh tidak akan masuk ke dalam jasad janin yang berada di perut ibu, kecuali setelah sempurnanya jasad tersebut, maka waridat juga tidak akan tiba di hati seorang hamba sebelum tubuhnya dihias dengan berbagai wirid. Oleh karena itu, orang-orang yang mengabaikan dan meremehkan wirid, mereka adalah orang-orang yang sangat bodoh, lalai dan sangat lemah pemahamannya.

Orang-orang yang berjalan menuju Allah memiliki perhatian, semangat dan ketekunan dalam membaca berbagai wirid. Mereka menikmati wirid-wirid tersebut. Inilah tanda kesungguhan mereka di dalam berjalan menuju Allah dan kemampuan pemahaman mereka yang besar. Barang siapa memahami kedudukan wirid, maka ia akan menaruh perhatian yang besar terhadap berbagai macam wirid dan dzikir. Sehingga perjalanannya menuju Allah berlangsung dengan baik dan ia akan senantiasa memperoleh limpahan karuria-Nya.

Adapun seseorang yang berada di dalam kebodohan, sedikit pun ia tidak akan menaruh perhatian terhadap berbagai macam wirid tersebut. Dan seandainya ia membaca salah satu wirid itu, maka ringan baginya untuk meninggalkannya. Jika salah satu wirid yang ia baca terlewatkan karena suatu sebab, maka ia tidak akan pernah merasa kehilangan maupun merindukannya. Ini merupakan tanda kebodohannya. Seseorang yang demikian keadaannya, sebenarnya ia tidak berjalan menuju Allah Ta’ala.*

Oleh karena itu, kalian pasti akan melihat keutamaan dan manfaat nyata yang akan diperoleh mereka yang suka membaca wirid, di dunia ini sebelum di Akhirat nanti. Kalian akan melihat perbedaan yang sangat besar antara orang-orang yang mengisi hari-hari mereka di tempat seperti ini dengan membaca, memuliakan dan mengagungkan wirid — ikut membaca wirid sebelum dan setelah subuh, sebelum dan setelah shalat dhuhur, dzikir sebelum shalat ashar, doa ketika berjabat tangan selepas shalat ashar dan wirid setelah ashar dengan hati yang khusyuk — dengan orang-orang yang mengabaikan berbagai macam wirid tersebut. Di antara mereka pasti tampak perbedaan yang sangat besar yang akan tampak dalam perjalanan kehidupan mereka di dunia maupun di Akhirat. Kedua kelompok manusia ini tidak dapat disamakan.

Orang yang memiliki ikatan hati dengan kaum sholihin tidak mungkin dapat disamakan dengan orang yang tidak memiliki ikatan hati dengan mereka.

yang menyandang akhlak mulia tidak mungkin dapat disamakan dengan mereka yang tidak menyandangnya. Orang yang beramal tidak mungkin dapat disamakan dengan orang yang tidak beramal. Bagaimana mungkin keduanya dapat disamakan. Allah Ta’ala mewahyukan:

ام حسب الذين اجترحوا السيئات ان نجعلهم كالذين ءامنوا وعملواالصلحت سواء محياهم ومماتهم ساء ما يحكمون(21

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? amat buruklah apa yang mereka sangka itu.” (Al-Jatsiah, 45:21)

Dapatkah disamakan seseorang yang ketika turun hujan rahmat hatinya khusyuk (ingat kepada Allah) dengan seseorang yang lalai? Apakah keduanya dapat disamakan? Yang satu hatinya selalu berhubungan dengan Allah sedangkan yang lain hatinya putus hubungan dengan-Nya. Yang satu menghadapkan diri kepada Allah sedangkan yang lain berpaling dari-Nya. Keduanya tidak mungkin dapat disamakan. Sudah menjadi ketentuan Allah di alam semesta, kedua jenis manusia ini tidak mungkin dapat disamakan. Tidaklah sama kegelapan dengan cayaha, orang yang normal penglihatannya dengan tuna netra, dan yang hidup dengan yang mati, meskipun semuanya adalah makhluk Allah. Karena itu, jika kalian perhatikan, orang-orang yang bertobat senantiasa menekuni berbagai wirid dan dzikir. Mereka akan banyak beristighfar memohon ampun kepada Allah. Rasulullah saw bersabda:

طوبى لمن وجد في صحيفته استغفارا كثيرا

. (HR Ibnu Majah)
‘Sungguh beruntung seseorang yang mendapati istighfar yang banyak dalam buku catatan amalnya

Setelah Rasulullah saw menyatakan mereka sebagai seorang yang sangat beruntung, maka mereka akan merasakan kenikmatan yang luar biasa.

 

Akal, Nafs Dan Hawa

Mutiara Hikmah Kitab : Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn

Allah Ta’âlâ berfirman kepada orang-orang yang memiliki hati, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati.” (QS Qaf, 50:37)Dan ketika menyebut nafs Allah Ta’âlâ berfirman, “Sesungguhnya nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan…” (QS Yusuf, 12:53)

Allah berfirman kepada Musa as, “Salahkanlah nafs-mu, karena yang paling layak untuk disalahkan adalah nafs. Ketika bermunajat kepada-Ku, bermunajatlah dengan lisan yang shidq dan hati yang takut.”

Ketahuilah, setiap kali hati memiliki sesuatu yang baik, maka nafs pun memiliki hal serupa yang dapat mengaburkan. Sebagaimana Allah memberi hati keinginan (irâdah), maka Allah juga memberi nafs angan-angan kosong (tamanniy). Sebagaimana Allah memberi hati perasaan cinta (mahabbah), maka Allah memberi nafs hawa nafsu (hawâ). Sebagaimana Allah memberi hati harapan (rojâ`), maka Allah memberi nafs ketamakan (thoma’). Sebagaimana Allah memberi hati perasaan takut (khauf), maka Allah memberi nafs perasaan putus asa (qunûth). Perhatikan dan renungkan kata-kataku ini.

Salah satu contoh yang dapat memberikan gambaran jelas kepadamu adalah keadaan orang yang terlilit hutang. Kamu seringkali melihat orang yang tidak mau melunasi hutangnya. Namun ketika memperoleh harta, ia justru menyedekahkannya, dan tidak berusaha melunasi hutangnya. Itulah contoh perbuatan baik yang timbul dari nafs. Sebab, di antara sekian banyak jenis nafs, ada nafs yang suka melakukan murûah dan merasakan kenikmatan ketika memberi.

Orang yang nafs-nya seperti ini merasakan kenikmatan dalam memberi sebagaimana orang jahat merasakan kenikmatan ketika menolak permohonan pertolongan. Demikian pula halnya dengan mereka yang mengerjakan sunah, tapi meninggalkan yang wajib. Misalnya: orang yang mengerjakan ibadah haji berulang kali dengan uang halal dan haram serta mengabaikan ketakwaan dalam urusan-urusannya yang lain. Di antara mereka ada yang menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki, tapi meremehkan salat. Hasan Al-Bashri rhm berkata, “Ada seseorang berkata,’ Aku telah haji, aku telah haji.’ Kamu telah menunaikan ibadah haji, oleh karena itu sambunglah tali silaturahmi, bantulah orang yang sedang kesusahan, dan berbuat baiklah kepada tetangga.”

Contoh lain adalah orang-orang yang mencari harta haram kemudian membelanjakannya dalam kebaikan. Sebagaimana telah kuberitahukan kepadamu, semua perbuatan ini digerakkan oleh nafs, sama sekali tidak memiliki hubungan dengan hati.

Allah menjadikan “perbuatan yang dilakukan secara berlebih-lebihan” untuk nafs dan “perbuatan yang dikerjakan secara wajar” untuk hati. Jika kamu melihat perilaku, atau pencarian ilmu dan ibadah dikerjakan dengan tenang (thuma’ninah), maka ketahuilah bahwa perbuatan itu muncul dari hati dan pelakunya adalah orang berakal. Tetapi, jika kamu melihat seseorang yang perilaku, cara menuntut ilmu dan ibadahnya tidak dilakukan dengan tenang, pelakunya emosional dan bodoh, maka ketahuilah bahwa kegiatan itu digerakkan oleh nafs dan hawâ. Sebab, hawâ merusak dan menggoncangkan akal. Di mana pun berada, hawâ akan selalu merusak.

Demikianlah sifat hawâ. Jika hawâ berinteraksi dengan akal, hawâ akan merendahkan dan menggoyahkannya. Jika berinteraksi dengan agama, hawâ akan mengotori dan merusaknya. Sehingga kamu dapat melihat bahwa orang yang agamanya dan cara ber-sulûk-nya baik bila dikuasai oleh hawâ, urusannya menjadi kacau, keadaannya menjadi buruk dan dibenci masyarakat. Begitulah sifat kebatilan, ia akan merusak kebenaran, jika keduanya bercampur. Jika hawâ mampu merusak orang yang berakal dan beragama, lalu bagaimana menurutmu jika hawâ merasuki para pecinta dunia yang jiwanya lemah? Bagaimana keadaan mereka nanti?

Segala hal yang dirusak oleh hawâ dapat diperbaiki oleh akal, karena hawâ mempunyai tingkat setaraf dengan akal. Hawâ akan merendahkan dan menjerumuskan manusia, sebaliknya akal akan memuliakan dan meninggikannya. Sungguh besar perbedaan keduanya!

Kamu lihat orang yang dipengaruhi hawâ tampak seperti orang buta, tidak tahu jalan (menuju Allah). Hawâ menghambatnya dari mencari sesuatu yang memiliki hakikat, membuatnya tidak memikirkan akibat perbuatan yang ia lakukan, membuatnya suka bertengkar dan bermusuhan, membuang-buang umur dalam mencintai dan membanding-bandingkan keutamaan para imam.

Lain halnya dengan orang-orang yang berakal, mereka sibuk dengan diri mereka sendiri, menyempurnakan semua amal mereka dengan niat-niat yang baik, memanfaatkan waktu yang mereka miliki dengan sebaik-baiknya, berusaha keras untuk berbuat kebajikan, dan menyesali perbuatan baik yang tidak dapat mereka kerjakan.

(Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)


Catatan:Hawâ adalah makanan nafs. Hal ini membuat nafs sangat bergantung dan sulit melepaskan diri dari cengkeraman hawâ. Oleh karena itu, jauhilah hawâ dan bebaskanlah nafs-mu darinya. Sebab, hawâ akan menodai agama dan murûah-mu. Jika kamu perhatikan dan beda-bedakan semua peristiwa yang terjadi, maka akan kamu dapati bahwa hawâ-lah yang menjadi sumber segala fitnah dan bencana dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena, hawâ merupakan sumber kebatilan dan kesesatan. Hawâ bak minuman memabukkan. Seseorang yang meneguknya akan dikuasai oleh minuman itu dan akan hilang akal sehatnya.

Murûah: usaha seseorang untuk melaksanakan semua hal yang dianggap baik dan menjauhi semua hal yang dianggap buruk oleh masyarakat.

 

ALINSANU SIRRI WA ANA SIRRUHU

 

Tuhan itu bukan dzatnya
Tuhan itu bukan sifatnya
Tuhan itu bukan af'al nya
Tuhan juga bukan Asmanya.
*Esanya dzat,sifat,af'al dan asmanya itulah wujud Tuhan.*
Wujud Tuhan itu bukan tuhan jadi jangan menjadikannya sesembahan/illah.
*karena sesungguhnya tidak ada sesembahan maka berbuat baik lah terhadap seluruh wujud tuhanmu.*
Apakah ada seorang hamba yang boleh bertemu tuhan?...
Tidak ada walau pun para nabi sekalipun.
Karena ketika seorang hamba bertemu tuhannya, maka tidak ada hamba tidak ada Tuhan/sesembahan/illah.
"ALINSANU SIRRI WA ANA SIRRUHU"
Allah SWT berfirman:
"Tiap-tiap sesuatu akan binasa, kecuali dzat Nya, baginya hukum itu dan kepada Nya kamu dikembalikan"
Kesemua sifat yang kita miliki ini adalah milik Allah, sifat yang ada pada diri kita pasti akan hilang lenyap dan hancur binasa.
Sifat yang kekal dan abadi itu hanyalah Allah SWT.
Makhluk itu hanya menjadi bekas/Bayangan atau tempat Penzahiran Ketuhanan.
Dia menyatakan Diri-Nya melalui 4 fasal yang dizahirkan pada :
- Usul (Dzat)
- Asal (Sifat)
- Nama (Asma)
- Perbuatan (Af'al)
*Asal Usul*
YANG MENJADI EMPAT JALAN :
- Syariat
- Tarekat
- Hakikat
- Ma'rifat
MARTABATNYA :
- Syariat itu Af'al Allah
- Tarekat itu Asma Allah
- Hakikat itu Sifat Allah
- Ma'rifat itu Dzat Allah
ALAMNYA :
- Alam Syariat - Alam Nasut
- Alam Tarikat - Alam Malakut
- Alam Hakikat - Alam Jabarut
- Alam Ma'rifat - Alam Lahut
MENJADI :
- Syariat jadi Tubuh
- Tarekat jadi Hati
- Hakikat jadi Ruh atau Nyawa
- Ma'rifat jadi Sirr Rahasia
PENJELASANNYA ADALAH :
1.Dzat = Wujud Dzat yaitu wujud yang HAQ pada Dzat Allah dipahami dengan Rabbul Izzati yaitu wujud yang sebenar benarnya melekat pada Dzat Allah, yang menjadi Rahasia (SIRR), *merupakan sesuatu yang tidak bisa di ucapkan tapi secara nyata bisa dirasakan, seperti rasa manis pada gula, rasa masin pada garam, hanya bisa dirasakan tanpa bisa dikatakan.*
2. Sifat = Wujud Sifat yaitu wujud yang melekat pada sifat dzat dipahami dengan sifat Allah yaitu terhimpunNya sekalian sifat dari segala sifat, yang dirangkum oleh para wali menjadi sifat 20, *wujud sifat ini dinamakan juga Nur Muhammad, yang merupakan Ruh atau Nyawa pada diri.*
3. Asma = Wujud Asma yaitu wujud yang melekat pada nama dzat yakni terhimpunnya sekalian nama dari segala nama, yang diringkas menjadi asmaul husna 99
1 nama rahasia genap 100, wujud ini dinamakan juga wujud iman, merupakan Hati pada diri tempat keyakinan yang menjadi iman kepada Allah sebagai cermin setiap makhluk yang memahami tentang dzat Allah.
4. Af'al = Wujud Af'al yaitu wujud yang melekat pada perbuatan dzat dipahami dengan kelakuan Allah dalam Qudrat IradatNya, yaitu wujud yang keberadaanNya disebabkan oleh suatu sebab sehingga tidak terjadi dengan sendirinya, wujud ini dinamakan juga wujud Adam, merupakan tubuh pada diri.
SEHINGGA DAPAT DIFAHAMI TENTANG WUJUD ALLAH INI ADALAH :
~Dzat Allah jadi Rahasia pada diri.
~Sifat Allah jadi Nyawa atau Nur Muhammad atau Ruh pada diri.
~Asma Allah jadi Hati atau iman pada diri.
~Af'al Allah jadi tubuh pada diri.
- Tugas Sirr adalah merasakan.
- Tugas Ruh adalah menghidupkan.
- Tugas Hati adalah mengakui.
- Tugas Wujud adalah memperlihatkan Af'al-NYA.
- Tugas Akal adalah berfikir.
- Tugas Nafsu adalah berkeinginan.
Jadi bukan DZAT melainkan telah menjadi RAHASIA pada diriku.
Bukan SIFAT melainkan NUR MUHAMMAD atau NYAWA menjadi RUH pada diriku.
Bukan ASMA atau nama melainkan HATI atau keyakinan menjadi IMAN pada diriku.
Bukan PERBUATAN melainkan BATANG TUBUH pada diriku.
Inilah yang sebenarnya apa yang dikatakan manunggalnya sang diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, Wujud Manunggaling Kawula Gusti atau yang dimaksud Wahdatul Wujud yang berada pada sang diri meliputi Dzat Sifat Af'al dan Asma, tiada jarak antara Hamba dan Tuhan yaitu Esa yang tiada bilangan.
*Nama yang ke 1 ke 00 k0s0ng*

Minggu, 12 Maret 2023

Pedoman Wirid (Amalan) tanpa Petunjuk Guru (Mursyid) bagi Ibnu Athaillah


Wirid adalah nama lain dari ibadah kepada Allah. Setiap orang memiliki wirid yang berbeda. Ada orang yang menjadikan shalat malam sebagai wiridnya. Sebagian lain menjadikan tadarus Al-Quran sebagai wiridnya. Walhasil segenap bentuk ibadah dapat menjadi wirid, yaitu sedekah, puasa, tafakkur, ta’lim, zikir, dan pelbagai aktivitas lain yang diniatkan ibadah.
Kita tidak perlu heran dengan perbedaan jenis wirid orang lain. Kita juga tidak perlu mempengaruhi apalagi merendahkan wirid orang lain. Perbedaan ini menunjukkan keragaman yang Allah SWT kehendaki sebagaimana disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.
تنوعت أجناس الأعمال بتنوع واردات الأحوال
Artinya, “Jenis amalan tiap orang bermacam-macam seiring perbedaan inspirasi pada keadaan.”
Kita perlu sekali menjaga adab terhadap wirid orang lain. Untuk sebagian orang, wirid ditentukan oleh guru mereka. Di sini kita harus menghargai wirid orang lain. Tetapi untuk sebagian orang, wirid ditentukan oleh suasana batin yang bersangkutan. Kita juga perlu menghargai wirid mereka yang didasarkan pada suasana batinnya sebagai dijelaskan Syekh Syarqawi berikut ini.
تنوعت أجناس الأعمال) على العاملين (بتنوع واردات الأحوال) أى الواردات التى تنتج أحوالا قائمة بقلوبهم تقتضى ميلهم إلى تلك الأعمال، أو واردات قد يسمى حالا كما سيأتى يعنى أن بعض المريدين تجده مشتغلا بالصلاة وبعضهم بالصيام وهكذا، وسبب ذلك وارد إلهى اقتضى ميل هذا إلى كذا وهذا إلى كذا. وينبغى لكل أحد أن يعمل بمقتضى ميله المذكور إن لم يكن تحت تربية شيخ، وإلا فلا يشتغل بشىء إلا بإذنه وإرادته
Artinya, “(Jenis amalan tiap orang) hamba-hamba Allah yang beramal (bermacam-macam seiring perbedaan inspirasi pada keadaan), yaitu inspirasi yang menghasilkan suasana-suasana tertentu di hati mereka yang menuntut kecenderungan mereka pada sebuah amalan atau wirid tertentu. Inspirasi itu kadang disebut juga keadaan sebagai nanti diterangkan, yaitu di mana kau menemukan sebagian murid menyibukkan diri dengan shalat sebagai wiridnya, sebagian lain sibuk mengamalkan puasa sebagai wiridnya, dan seterusnya. Sebab dari semua itu adalah perbedaan inspirasi ilahi kepada mereka yang menuntut kecenderungan si fulan untuk wirid ini, si fulan untuk wirid itu, dan seterusnya. Jika tidak dalam bimbingan salah seorang mursyid, seseorang seyogianya mengamalkan sebuah wirid tertentu sesuai kecenderungan inspirasinya. Tetapi mereka yang berada di bawah bimbingan seorang mursyid tidak boleh mengamalkan wirid tertentu tanpa izin dan kehendak mursyidnya,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa keterangan tahun, halaman 11).
Sementara Syekh Ahmad Zarruq menangkap dua pengertian berbeda soal hikmah ini. Pengertian pertama adalah pengertian seperti dijelaskan di atas, yaitu jenis wirid seseorang diinspirasi oleh suasana batinnya. Sedangkan untuk pengertian kedua, wirid seseorang harus sesuai dengan tuntutan riil lapangan, yaitu kondisi sulit menuntut seseorang untuk bersabar dan kondisi lapang menuntut orang bersyukur.
قلت: التنوع التلون، والأعمال عبارة عن الحركات الجسمانية، والأحوال عبارة عن الحركات القلبية فحركات الأجسام تبع لأحوال القلوب. وإذا كانت كذلك فينبغى ألاَّ تبالى بفقد الفرع لوجود أصله عند تعذر الفرع، هذا مقتضى ما فى التنبيه...والذى أفهمه أن الأعمال عبارة عن الحركات الجسمانية والقلبية، والأحوال عبارة عن التقلبات الوجودية كالغنى والفقر، والعز والذل، والعافية والبلية..إلى غير ذلك مما ترتب عليه الأحكام فتختلف باختلافه فلكل حال عمل يخصه ويختص به فيكون عوضا عن مقابله فما فات مثلا فى الشكر على العافية استدرك بالصبر على البلية وبالعكس، وما نقص من الأعمال البدنية تحصل بالأعمال القلبية...ولما خير النبى صلى الله عليه وسلم بين أن يكون نبيا ملكا أو نبيا عبدا قال: يا رب أجوع يوما وأشبع يوما، فاذا جعت تضرعت إليك، وإذا شبعت حمدتك وشكرتك، فلم يؤثر واحدا منهما على الآخر بل نظر إلى العبودية فى الجميع لأنها المقصود وبالله التوفيق.
Artinya, “Buat saya, pengertian ‘bermacam-macam’ itu berwarna-warni. ‘Amalan’ sendiri merupakan ungkapan atas gerakan fisik. ‘Keadaan’ adalah ungkapan atas gerakan batin sehingga gerakan fisik seseorang mengikuti suasana batinnya. Kalau memang demikian, seseorang tidak perlu fokus pada ketiadaan wirid ketika wirid uzur untuk dilakukan karena sudah ada suasana batinnya. Ini yang dituntut dalam Kitab Tanbih…
Yang saya pribadi pahami bahwa kata ‘amalan’ merujuk pada gerakan fisik dan batin. Sedangkan ‘keadaan’ merupakan ungkapan dari perubahan riil, yaitu kaya-fakir, mulia-hina, sejahtera-bala, dan seterusnya yang berdampak padanya sebuah hukum sehingga amalan tiap-tiap orang berlainan karena perbedaan tuntutan riil terkait dirinya. Setiap keadaan riil menuntut amalan tersendiri dan orang tertentu secara khusus sehingga keadaan itu saling menggantikan. Keluputan keadaan riil yang menuntut amalan syukur atas sejahtera, akan disusul dengan keadaan riil yang menuntut sabar atas sebuah bala, dan seterusnya. Kekurangan dalam amalan fisik dapat disempurnakan dengan amalan batin... Ketika ditawarkan pilihan pangkat nabi yang raja atau nabi yang rakyat jelata, Rasulullah SAW menjawab, ‘Tuhanku, hamba memilih lapar sehari dan kenyang di hari sesudahnya agar saat lapar hamba merendakan diri di hadapan Paduka dan saat kenyang hamba dapat memuji dan bersyukur kepada Paduka.’ Di sini Rasulullah SAW tidak mengutamakan salah satu keadaan dibanding lainnya, tetapi memerhatikan penghambaan kepada Allah pada segala keadaan karena penghambaan inilah yang menjadi tujuan hidup. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita. Amiiin,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 23).
Penjelasan Syekh Zarruq ini sejalan dengan firman Allah pada Surat Ad-Dzariyat berikut ini.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya, “Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku,” (Surat Ad-Dzariyat ayat 56).
Dengan penjelasan itu, Syekh Zarruq ingin mengatakan bahwa kondisi riil setiap orang bersifat khusus dan menuntut amal yang khusus pula sehingga dalam kondisi apapun setiap orang tetap menjaga penghambaan kepada Allah dalam bentuk ibadah yang terus berubah seiring perubahan kondisi. Wallahu a‘lam.

Kenali 7 Komponen Utama Tarekat.


    Tasawuf amali melahirkan anak kandung yang bernama tarekat. Secara harfiah, tarekat berarti ‘cara’, ‘jalan’, atau ‘metode’, guna mencapai tujuan bertasawuf, yakni meraih kesucian jiwa, kedekatan diri dengan Sang Pencipta dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap keadaan. Tasawuf amali bersifat praktis, aplikatif, dan berorientasi kuat pada amaliah.

    Sebagai metode khusus yang dipakai seorang penempuh laku spiritual (salik) menuju Allah, tarekat memiliki tujuh komponen utama, seagaimana yang diungkap oleh Prof. Asep Usman Ismail, Guru Besar Tasawuf UIN Jakarta. Ketujuh komponen tersebut adalah:

    1. Mursyid :

    Secara bahasa, mursyid berarti ‘pembimbing’, ‘pemandu’, atau ‘guru’. Dalam tarekat, mursyid adalah dokter ruhani yang mengenal berbagai penyakit kalbu, memiliki kemampuan untuk mengobati dan memperbaikinya menjadi lebih sempurna.

    Lebih popularnya, mursyid adalah guru tarekat atau pembimbing spiritual yang sering disebut dengan syaikh, murad, atau pir. Peranannya sangat penting, bahkan mutlak dalam tarekat. Sebab, menurut Abu Yazid al-Busthami, seorang ulama tasawuf (wafat 874 M),

    من لم يكن له أستاذ فإمامه الشيطان

    Artinya, "Siapa saja yang tidak memiliki guru, maka imamnya adalah setan."

    Dalam Tafsir Ruhul-Bayan, karya Ismail Haqqi al-Hanafi, disebutkan:

    من لم يكن له شيخ فشيخه الشيطان

    Artinya :
    "Siapa saja yang tidak memiliki syaikh (mursyid), maka syaikhnya adalah setan."

    Jika ulama fiqih, tafsir, dan hadis sebagai pewaris Nabi saw. yang mengajarkan ilmu zahir, maka mursyid adalah pewaris Nabi saw. yang mengajarkan penghayatan agama yang bersifat batin. Oleh karena itu, kriteria syaikh atau mursyid tentunya harus menguasai ilmu syariat dan ilmu hakikat secara mendalam dan lengkap. Pemikiran, perkataan, dan tingkah lakunya harus mencerminkan budi pekerti yang luhur.

    2. Murid :

    Istilah murid berasal dari isim fail kata arada, yang berarti seorang yang berkehendak atau menginginkan sesuatu. Dalam tasawuf, para penempuh jalan ruhani adalah murid, yakni orang yang menghendaki perjumpaan dengan Allah melalui ibadah, riyadhah, mujahadah, dan munajat, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran:

    فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

    Artinya :
    "Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya," (QS. al-Kahfi [18]: 110).

    Dalam tarekat, meski seseorang sudah berada dalam posisi mursyid, pada hakikatnya tetaplah ia seorang murid, artinya seorang penempuh ruhani yang menghendaki perjumpaan dengan Allah. Karenanya, mursyid bersama-sama murid berusaha membersihkan diri dari berbagai penyakit hati dan sifat-sifat tercela agar bisa merasakan bagaimana persahabatan dengan-Nya, mencintai dan dicintai-Nya, meridhai dan diridhai-Nya.

    Jika seorang mursyid saja masih berstatus murid, bagaimana dengan keadaan murid yang masih mencari jalan dan cara guna memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadahnya kepada Allah? Tentu ia harus menyadari jati dirinya serta berupaya lebih keras lagi demi mencapai tingkatan yang tertinggi, yakni makrifat kepada Allah.

    3. Baiat :

    Secara bahasa, baiat adalah transaksi atau janji setia antara dua pihak. Di tengah masyaraat Islam klasik pra-Islam, baiat juga merupakan pranata sosial. Biasanya terjadi di antara anggota suku dengan kepala suku sebagai bentuk penguhuhan kepemimpinan untuk dipatuhi dan ditaati perintahnya.

    Dalam Islam, pelaksanaan baiat menggambarkan tradisi saling menumpuk tangan yang mengakar dalam budaya Arab sebelum Islam, sebagaimana yang tercermin dalam ayat:

    إِنَّ الَّذِينَ يُبايِعُونَكَ إِنَّما يُبايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّما يَنْكُثُ عَلى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفى بِما عاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً

    Artinya :
    "Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad), (pada hakikatnya) mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Oleh sebab itu, siapa yang melanggar janji (setia itu), maka sesungguhnya (akibat buruk dari) pelanggaran itu hanya akan menimpa dirinya sendiri. Siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan menganugerahinya pahala yang besar," (QS. al-Fath [48]: 10).

    Dalam tarekat, baiat merupakan kontrak belajar antara murid dengan mursyid. Murid berjanji terhadap dirinya untuk mengamalkan ajaran yang diajarkan guru dengan sebaik-baiknya. Namun, janji itu pada hakikatnya adalah janji kepada Allah, bukan kepada mursyid, sebagaimana para sahabat berjanji kepada Rasulullah saw. Karena itu, seorang calon pengamal tarekat disyaratkan harus berbaiat atau ikrar setia di hadapan mursyid bahwa dirinya akan mengamalkan segala bentuk tuntunan dan amalan yang diajarkan.

    Selanjutnya, dalam tarekat juga dikenal dengan dua bentuk baiat, yakni baiat shuwariyah dan baiat ma’nawiyah. Baiat pertama adalah baiat calon pengamal tarekat dalam mengakui bahwa mursyid yang membaiatnya adalah gurunya, tempat ia berkonsultasi tentang beragai masalah ruhani. Di sisi lain, sang mursyid juga mengakui bahwa orang tersebut adalah muridnya. Pada baiat ini, seorang pengamal tidak perlu meninggalkan keluarganya untuk bersuluk dan berzikir bersama guru. Ia tetap tinggal di rumah dan melakukan pekerjaan sehari-hari sesuai dengan profesinya. Adapun wirid atau amalan dikerjakan pada waktu tertentu sesuai dengan petunjuk mursyid.

    Semantara baiat kedua adalah baiat calon pengamal tarekat dalam rangka mengakui dan menyatakan bahwa dirinya bersedia dididik dan dilatih menjadi murid tarekat serta mengikuti pendidikan serta pelatihan ruhani sesuai bimbingan sang murysid. Murid yang menyatakan baiat demikian sebaiknya sesekali meluangkan waktu, bahkan meninggalkan keluarga dan pekerjaan keduniaan guna mengikuti suluk, khalwat (menyendiri), uzlah (menjauh dari keramaian), atau riyadhah di zawiyah (tempat khusus) atau berupa surau, sesuai dengan petunjuk mursyid.

    Setelah baiat itulah seorang murid ditangani dan dibimbing oleh mursyid untuk dibukakan kalbunya yang semula tertutup oleh noda, kotoran dosa-dosa, dan perangai tercela. Kemudian, hatinya diisi dengan berbagai muatan positif, sifat-sifat terpuji, termasuk ilmu-ilmu ruhani yang mengantarkannya kepada Sang Pencipta. Tujuannya agar jaringan kalbu sang murid selalu terhubung dengan Allah sehingga bisa merasakan kesadaran, kedekatan, dan kehadiran-Nya Nya.

    4. Silsilah :

    Secara bahasa, silsilah adalah mata rantai yang menghubungkan butiran-butiran anak rantai sehingga membentuk satu kesatuan. Dalam tarekat, silsilah ialah mata rantai yang menghubungkan kesinambungan ruhani di antara mursyid yang satu dengan mursyid sebelumnya hingga sampai kepada Rasulullah saw.

    Silsilah dalam tarekat sama dengan sanad dalam hadis. Sebuah hadis dikatakan sahih, apabila sanad hadis itu tersambung kepada Rasulullah saw. Demikian juga sebuah tarekat dinamakan mu’tabarah, salah satu kriterianya apabila tarekat tersebut memiliki silsilah yang berkesinambungan hingga Rasulullah saw. Jadi, fungsi silsilah dalam tarekat sama dengan fungsi sanad dalam hadis, yakmi untuk menjaga dan membuktikan keotentikan amaliah tarekat. Sebuah tarekat yang tidak memiliki sisilah yang benar, maka tarekat tersebut disebut tarekat tidak absah, ghair mu’tabarah, dan tidak mendapat legitimasi dari Rasulullah saw.

    5. Wirid :

    Istilah wirid merupakan kosa kata dari bahasa Arab. Berasal dari kata warada, yang berarti datang berulang-ulang. Jadi, wirid secara bahasa adalah sesuatu yang rutin dan dilakukan berulang-ulang. Sementara menurut istilah wirid adalah zikir, bacaan, amalan, yang dilakukan secara rutin. Setiap tarekat memiliki ragam wirid dan ketentuannya masing-masing. Biasanya ada zikir harian, mingguan, dan bulanan.

    Dasar amaliah wirid sendiri dapat ditemui langsung dalam sejumlah ayat Al-Quran, di antaranya:

    الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
    Artinya :
    "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram," (QS. ar-Ra’d [13]: 28).

    فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

    Artinya :
    "Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku," (QS. al-Baqarah [2]: 152).

    6. Tempat :

    Dalam sejarah perkembangan tasawuf dan tarekat, dikenal berbagai istilah yang mengacu kepada tempat pendidikan dan pelatihan rohani. Ada yang mengistilahkannya sebagai zawiyah, yang secara harfiah berarti ‘pojok’. Penamaan ini ada hubungannya dengan cikal bakal kehidupan tasawuf dalam Islam, yakni para sahabat yang menempati salah satu pojok masjid Nabawi di Madinah. Mereka dikenal sebagai Ahlus-Shuffah.

    Ada pula yang menyebut ribath, yang secara harfiah berarti tempat mengikat. Para sufi menempati ribath seakan-akan sedang mengikatkan jiwanya agar tidak liar, tetap jinak dan berserah kepada Allah. Dalam perkembangannya, majelis tempat para salik mengamalkan suluk, zikir, khalwat, dan berbagai wirid tarekat dinamakan dengan surau, sebagaimana yang akrab di kalangan tarekat Naqasyabandiyah al-Khalidiyah yang ada korelasinya dengan kebudayaan Melayu yang menjadi basis kultural mursyid tarekat ini.

    Ada lagi yang mengistilahkan tempat pelatihan ruhani para murid dan syaikhnya sebagai pondok. Di sana mereka berkumpul guna mengadakan kegiatan-kegiatan keruhanian dan latihan-latihan spiritual. Dalam istilah lain, pondok juga merupakan nama lain dari pesantren.

    7. Adab :

    Adab adalah etika hubungan salik dengan syaikh atau gurunya. Menurut Ibnu ‘Arabi, seorang salik di hadapan gurunya harus bersikap bagaikan mayat yang berada di tangan orang yang memandikannya. Selain itu, salah satu adab salik kepada guru adalah tidak boleh berburuk sangka. Tidak boleh duduk di tempat yang biasa dipakai oleh guru. Tidak boleh memakai barang yang biasa dipakai oleh gurunya. Ia harus turut dan patuh terhadap perintah guru. Dan masih banyak lagi adab dan akhlak lainnya.

    Penghormatan dan ketaatan seorang murid kepada syekh terekat merupakan komponen penting dalam tarekat. Bahkan, menurut Ibnu Arabi, seorang salik yang tidak hormat dan tidak taat terhadap guru, maka rusaklah adabnya kepada Rasulullah saw. Sebab, syekh adalah wakil Rasulullah saw. dalam kepemimpinan rohani sampai ke hadirat Allah.

    Walhasil, dalam tarekat apa pun, para salik harus menjaga adab kepada guru yang membimbing mereka. Mereka dianjurkan tidak banyak berdiskusi, menyanggah, atau mempertanyakan pesan-pesan guru. Hal itu dimaksudkan agar sang salik senantiasa mendapat rida dan berkah dalam rangka meningkatkan maqam atau kedudukannya. Karena limpahan berkah terjadi atas izin Allah yang hanya dikaruniakan kepada murid yang taat dan khidmah kepada gurunya. (Lihat: Asep Usman Ismail, Tasawuf Menjawab Tantangan Global, 2012 (Jakarta: Transpustaka), hal. 144-160).

    Demikian tujuh komponen utama tarekat yang diungkap dalam tulisan ini. Semoga bermanfaat. Wallahu a‘lam.