Laman

Rabu, 20 April 2016

Talqin Dzikir


Talqin berasal dari kata laqqona yulaqqinu talqinan artinya mengajarkan.
Dalam ajaran Islam ada dua istilah yang kalimahnya berbeda dan maknanya pun berbeda Cuma hampir sama dalam pemindahan bahasa. Dua kalimat tersebut yaitu: 1. Ta’lim, 2. Talqin.
Ta’lim
Pengajarnya : mu’allim
Pelajarnya : muta’allim
Yang dipelajarinya : ilmu
Tempat belajarnya : majelis ta’lim
Jenjang waktunya : relatif lama
Tujuannya : ‘alim
Talqin
Pengajarnya : Syekh Mursyid
Pelajarnya : Murid
Yang diajarkannya : Kalimah toyyibah (لااله الاّالله)
Tempat belajarnya : Riyadul jannah (taman surga)
Jenjang waktunya : sangat singkat, yang pertama 1 detik langsung terasa dan yang kedua kurang dari satu menit, sudah terasa.
Tujuannya : Dzakir (menjadi ahli dzikir), yaitu orang yang senantiasa mengingat Alloh)
Talqin itu mesti dilaksanakan sebagai awalan, seperti menentukan arah sebelum memulai perjalanan, seperti menentukan target sebelum pemburu membidik sasaran atau menentukan menu sebelum memasak. Talqin ibarat niat sebelum memulai sebuah pekerjaan.Talqin itu penting dan wajib hukumnya bagi yang ingin mendekat kepada Alloh, mengenal Alloh, dan selanjutnya mencintai Alloh. Ibadah yang dikerjakan tanpa talqin jadi “buram arah” dan sebaliknya sekecil apapun ibadah kan sampai pada Alloh karena kita sudah mengenalnya.

Harley Davidson pun Berdzikir (Jack & Sufi)


Deru Harley Davidson bergemuruh disekitar kafe Susi. Sepuluh lelaki kekar turun, dengan tato dan arogansinya. Muka mereka tampak seram, tapi juga tidak terlalu garang.
“Ada Jack disini?” taya komandan mereka pada Satpam.
“Ada Pak, di dalam,”
Merekapun masuk satu per satu ke kafe itu. Begitu memasuki sudut kafe, mereka berteriak bersama-sama. Dan aneh, mereka justru meneriakkan takbir, “Allahu Akbar!” Suara yang hamper-hampir meruntuhkan gedung kafe itu, dan hamper-hampir membubarkan seisi kafe itu.
“Jaaack! Luar biaasa! Sudah saya duga, kawan kita ini akan tetap nyentrik, dan tidak akan sembuh dari kegilaanya…haa…ha…ha…,” kata salah seorang pengendara Harleu itu.
Rupanya antara Jack dan mereka seperti sahabat yang kental sekali, dan Jack telah lama menghilang, 10 tahun lamanya, dari klub mereka itu. Jack hanya menjadi bahan pembicaraan mereka selama sepuluh tahun itu, karena Jack pergi begitu saja, setelah meninggalkan kesan spiritual yang begitu mendalam diantara mereka.
Di klub Harey itu, Jack memang menjadi angota kehormatan, sekaligus sebagai psikolog bagi mereka. Anehnya, satuper satu mulai mengikuti jejak spiritual Jack, dan anehnya, mereka banyak yang mengikuti tareqat sufi, seperti Jack. Bahkan mereka tak harus melapaskan diri dari kegemaran mereka, bersepeda motor besar.
“Kapan dong…? Kalau teman-teman sampai tahu ente ada di Jakarta, pasti ente sudah tidak boelh kemana-mana lagi, tidak boleh menghilang lagi. Kita kangen Jack… kita kangen. Masak ente biarin kita-kita ini terlantar. Masak ente tega…”
Mendengar curhat satu per satu diantara kawan-kawan klub motor besar itu, Jack hanya senyum-senyum, sesekali meledakkan tawanya, karena banyak sekali kisah-kisah lucu, bahkan ekstrim, diantara mereka selama sepuluh tahun terakhir ini.
“Sudah! Ini tidak boleh ditawar lagi. Kita rayakan kembali si Jack. Bukan disini, di klub kita tempat nongkrong. Kita adakan dzikir bersama disana, bersama Jama’ah Motor Besar…ha…ha…ha… setuju!!!”
Jack tak berkutik. Diam-diam ia terharu. Ia juga tak pernah berfikir sejauh itu, disaat awal dirinya bergabung dengan klub motor itu. Di luar dugaan mereka menjadipengamal dunia sufi yang hebat, dan bahkan berkembang pesat diluar bayangan Jack sendiri. Tetapi memang, hidayah Allah jika sudah turun kepada seseorang, tak satupun yang bias menghalangi.
“Jack, sekarang ini ada tradisi baru di antara kawan-kawan,” celetok Jony.
“Apa Jon?”
“Ya, sekadar mempraktikkan ajaran Andalah… Mana lagi kalu bukan Anda yang kasih. Masak sudah lupa?”
“apa itu? Saya sudah benar-benar lupa lho…”
“Yah, paah deh. Kan ente bilang, agar kita belajar berdzikir dari deru suara Harley Davidson ini…”
Jack tertawa terbahak-bahak samai tubuhnya terguncang-guncang.
“Iya…ya…yaa… saya ingat. Jadi kalian semua terus melatih dzikir lewat suara mesin? Wah, kalau begitu akan saya umumkan ke seluruh dunia tareqat, bahwa kalianlah satu-satunya klub tareqat motoriyah, yang berdzikir melalui deru motor, gemuruh mesinm dan bertasbih bersama kecepatan mekanik jiwa Anda. Luar biasa… luar… biasa. Anda satu-satunya di dunia…ha…ha…ha…”
Diantara jengah tawa mereka, perempuan cantik berpakaian ketat menghampiri mereka dengan senyum yang khas. Susi, pelayan kafe itu sengaja bergabung dengan teman-teman Jack.
“Kenalkan, saya Susi…”
Susi yang cantik itu hanya membuat para pemotor besar itu ndomblong bolong, antara percaya dan tidak.
“Jack, buat kite mane donk…”
“Kalian perlu tahu, kalau kalian adalah pemotor yang penuh dengan dzikir, maka Susi adalah waitres penuh dengan gairah rindu Ilahi. Lihat bagaimana dia tersenyum dan menyapa, lihat pula bagaimana teduhnya matanya. Pandangan matanya saja, bukan membuat kita jadi nakal, tapi malah menjadi obat pelipur duka jiwa. Membuat kita malah bertobat…”
“Ya, Jack, benar! Dapat dari mana kamu, Jack.”
“Dari kubangan Lumpur di jakrta.”
Mereka manggut-manggut sambil memandang Susi lewat…

Perempuan Yang Menggetarkan Sejarah Islam


Pada suatu malam, seorang perempuan keluar rumah dengan membawa obor yang menyala-nyala di tangan kanannya dan seember air di tangan kirinya. Ia pergi mengelilingi kampong dengan berteriak sangat keras, “Wahai manusia, seandainya engkau beribadah kepada Allah dan mengharapkan surga. Maka, biarkan surgaitu kubakar dengan api ini! Dan, apabila engkau menjauhi maksiat oleh sebab takut akan neraka. Maka, biarkan neraka itu kusiram dengan seember air yang ada di tangan kiriku…..!”
Siapakah perempuan yang berani mengusik kesadaran orang-orang di sekitarnya, dan mungkin juga kita? Siapa lagi kalau bukan Rabi’ah Adawiyah. Ya, Rabi’ah Adawiyah. Perempuan suci yang sepanjang hayatnya mengajarkan cara beribadah kepada Allah dengan motif cinta yang tulus kepadaNya. Ia adalah sufi yang membawa corak baru dalam penghayatan Islam melalui ajaran cinta. Seluruh ajaran Islam dilaksanakan bukan sebab, “Ini semua karena perintahNya dan harus dilaksanakan untuk mengharap surgaNya”, bukan pula karena, “Itu ahrus dijauhi karena takut akan siksaNya.” Namun, ia melaksanakan perintah dan menjauhi semua laranganNya sebab cinta yang sebenar-benarnya cinta (al-hubb haqq al-hubb).
Bukankah seorang pecinta akan berhias rapid an wangi dalam shalatnya, melebihi saat pertemuan dengan orang yang paling dicintainya sekalipun? Bahkan, kerap kali ia menangis dalam shalatnya. Kucuran air mata pecinta ini adalah bentuk ungkapan lerinduan, kecintaan, dan kebahagiaan kala “berjumpa” denganNya.
Dengarkan, kata-kata Rabi’ah yang terbentuk dalam alunan puisinya :
Ya Tuhanku!
Tenggelamkan aku dalam kecintaanMu
Sehingga tiada suatupun yang dapat memalingkan aku dariMu
Kekasihku tiada menyamai kekasih lain niar bagaimanapun
Tiada selain Dia dalam hatiku mempunyai tempat manapun
Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan pribadiku sekalipun
Akan tetapi, Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedikitpun.
Aku mencintaiMu…
Oh, Tuhan tercinta…
Dengan cinta penuh kesenangan
Karena Engkaulah yang penuh kesenangan
Adapun cinta hawa
Maka aku sibuk mengingatMu daripada yang lain
Kuharap Kau bukan tabir untukku
Hingga aku dapat memandangMu
Maka ujian yang ini dan itu bukan untukku
Melainkan hanya untukMu.
Bagi Rabi’ah, bukan cinta apabila penghambaan manusia ada pamrihnya. Dan bukan pula cinta, apabila ibadah manusia memiliki motif-motif duniawi, sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits dari Abu Hurairah ra yang menceritakan bahwa ada orang-orang berkelompok bertanya kepadanya, “Wahai Tuan, ceritakan kepadaku sebuah hadits yang engkau dengar langsung dari Rasulullah!”. “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya, orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia didatangkan dan ditanyakan akan nikmat-nikmatnya, lalu ia mengakuinya. Allah SWT berfirman kepadanya, ‘Apakah yang kamu amalkan di dunia ini?’ Ia menjawab, ‘Saya berperang hingga mati syahid.’ Allah menjawab, ‘Kamu berdusta, tetapi kamu berperang supaya orang-orang berkata bahwa engkau pemberani dan itu telah dikatakannya.’ Lalu. Allah SWT memerintahkan agar wajahnya ditarik, kemudian dilemparkan ke dalam api neraka.
‘Berikutnya adalah orang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan suka membaca al-Qur’an didatangkan kepadaNya. Nikmat-nikmatnya ditanyakan dan ia mengakuinya. Allah berkata, ‘Apakah yang kamu kerjakan di dunia ini?’ Ia menjawab, ‘Saya mepelajari ilmu dan suka membaca al-Qur’an karenaMu.’ Allah SWT berfirman, ‘Kamu berdusta karena kam mempelajari ilmu supaya orang-orang mengatakan bahwa kamu pandai dan ahli dalam bidang al-Qur’an dan semua tu telah iucpkan oleh mereka.’ Allah pun memerintahkan agar ia dicampakkan ke dalam api neraka.
‘Selanjutnya, orang yang diberikan kelapangan oleh Allah dan diberi berbagai macam harta akan didatangkan dan ditanyakan atas nikmat-nikmatnya, dan ia mengakuinya. Allah SWT berfirman, ‘APakah yang kamu kerjakan di dunia?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak meninggalkan jalan yang Engkau senangi untuk menginfaqkan harta, melainkan saya menginfaqkannya karenaMu.’ Allah menjawab, ‘Kamu berdusta, tetapi kamu mengerjakannya supaya kamu dikatakan sebagai orang dermawan dan itu telah dikatakannya.’ Allah lalu memerintahkan agar wajahnya ditarik dan dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim).
Na’udzubillah min dzalik! Itulah nasib manusia yang beribadah beradsarkan motif duniawi, dan ironisnya itu sering menjangkiti kita! Kini, masihkah kita tidak tahu manakala beribadah karena motif dunia, maka yang rugi – baik waktu, materi, maupun tenaga – adalah diri kita? Andai kata kita berhaji, haji kita hanyalah menghambur-hamburkan uang dan mustahil dapat diterima. Kalau kita bershadaqah, berzakat, berinfaq, maka akan sia-sia, yang ada harta kita berkurang. Tetapi, inilah yang sering kita lakukan.
Sesungguhnya, apabila kita mau menghayati perintah-perintah agama dan aturan-aturannya, maka kita akan mendapati bahwa dia sebenarnya indah. Keindahan agama itu tentu mustahil didapatkan apabila kita masih saja beribadah kepada Allah karena terpaksa atau memiliki motif-motif duniawi yang rendah, bukan karena kita mencintaiNya.
Setiap ajaran agama yang diperintah Allah tidak lain hanya bertujuan untuk menguji seberapa cinta kita kepadaNya. Apakah kita melakukan amal shalih karena cinta kepadaNya ataukah sebab terpaksa? Tuhan bisa diibaratkan majikan, bos, atau pimpinan, maka manakala kita melakukan tugas yang diberikannya itu karena terpaksa, takut akan hukumannya, atau mengharapkan gaji lebih tinggi darinya, itu berarti kalau tidak ada sanksi atau hukuman dan tidak diberikan honor yang tinggi, kerja kita akan meksimal. Dia tentu bukan pekerja yang baik, karena bekerja ada pamrihnya.
Lalu, apakah beribadah untuk mengharapkan pahala dan takut akan siksaNya itu tidak diperbolehkan? Boleh! Tuhan itu tidak seperti bos Anda yang kalau Anda sudah bekerja keras pun, honornya sering kali tidak dinaikkan, bahkan tak jarang malah dipotong, Tuhan tidak juga seperti majikan Anda yang kalau Anda telah disiplin dan tertib dalam bekerja, gaji Anda pun masih sering telat diberikan.
Tidak mengapa beribadah mengharapkan surga dan takut akan neraka sebagai motivasi dalam melakukan amal shalih. Secara fiqh (hokum Islam) tidak ada masalah, ini hanya wilayah tingkatan (maqam) spiritual saja dalam beribadah.
Ali bin Abi Thalib mengungkapkan, “Apabila hamba beribadah kepada Allah, dan ia ingin mendapatkan imbalan serta menjauhi maksiat sebab takut akan mendapatkan siksa, itu tidak lain cara ibadahnya kaum pedagang. Sebab, ia masih memperhitungkan untung dan ruginya. Apabila hamba beribadah kepada Allah karena akut akan siksaNya, maka itu tidak lain adalah cara ibadahnya para budak. Dan, ada sekelompok kecil hamba yang beribadah karena cinta suci kepadaNya, itulah ibadahnya mukmin sejati.”
Tipe pertama dan kedua yang digambarkan Ali itulah yang sering kita lakukan. Karena itu, sangat wajarlah apabila Rabi’ah mengusik kesadaran motif beribadah kita hingga kini. Rabi’ah pada dasarnya mengajak kita supaya beribadah tidak karena pamrih demi meraih surga dan menghindar dari neraka, apalagi yang sangat menjijikkan, yakni beribadah dengan tujuan utnuk kelezatan dunia, ingin disebut dermawan, orang shalih, ingin mendapatkan jabatan tertentu, mendapat dukungan politik tertentu, dan lain-lain.
“Madzhab cinta” ini telah banyak memberikan inspirasi bagi tokojh0tokoh sufi kenamaan yang hidup sesudahnya, misalnya Farid ad-Din al-Athar, Ibnu al-Farid, al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, dan sebagainya. Muhammad Iqbal, seorang filsuf dari Pakistan, juga mengikuti jejak tokoh ini, ia menggunakan maqam cinta sebagai komponen untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Marilah kita berdoa kepada Allah supaya tidak pernah putus dari cintaNya. Disamping itu, kita berusaha keras untuk beribadah karena mencintaiNya. Kemudian, kita lanjutkan dengan doa yang menggetarkan jiwa, seperti halnya doa Ali saat bermunajat kepadaNya :
Ilahi…
Apakah orang yang telah mencicipi manisnya cintaMu
Akan menggantikan pengganti selainMu
Apakah orang yang telah bersanding di sampingMu
Akan mencari penukar selainMu
Ilahi…
Jadikan kami diantara yang Kau pilih untuk pendamping dan kekasihMu
Yang Kau ikhlaskan untuk memperoleh cinta dan kasihMu
Yang Kau rindukan untuk dating menemuiMu
Yang Kau ridhakan (hatinya) untuk menerima qadhaMu
Yang Kau anugerahkan (kebahagiaan) melihat wajahMu
Yang Kau limpahkan keridhaanMu
Yang Kau lindungi dari pengusiran dan kebencianMu
Yang Kau persiapkan baginya kedudukan shiddiq disampingMu
Yang Kau istimewakan dengan ma’rifatMu
Yang Kau arahkan untuk mengabdiMu
Yang Kau tenggelamkan hatinya dalam iradahMu
Yang Kau pilih untuk menyaksikanMu
Yang Kau kosongkan dirinya untukMu
Yang Kau bersihkan hatinya untuk (diisi) cintaMu
Yang Kau bangkitkan hasratnya mengingatMu
Yang Kau dorong kepadanya mensyukuriMu
Yang Kau sibukkan dengan ketaatanMu
Yang Kau jadikan dari makhlukMu yang shalih
Yang Kau pilih untuk bermunajat kepadaMu
Yang Kau putuskan daripadanya segala sesuatu
Yang memutuskan hubungan denganMu
Ya Allah…
Jadikan kami diantara orang-orang
Yang kedambaannya adalah mencintai dan merindukanMu
Nasibnya hanya merintih dan menangis
Dahi-dahinya sujud karena kebesaranmu
Mata-matanya terjaga dalam mengabdiMu
Air matanya mengalir karena takut kepadaMu
Hati-hatinya terikat pada cintaMu
Kalbu-kalbunya terpesona dengan kehebatanMu
Wahai Yang cahaya kesucianNya bersinar
Dalam pandangan para pencintaNya
Wahai Yang kesucian wajahNya membahagiakan hati pada pengenalNya
Wahai Kejaran Kalbu para perindu
Wahai Tujuan Cita para pencinta
Aku memohonkan cintaMu
Dan, cinta orang yang mencintaiMu
Dan, cinta amal yang membawaku ke sampingMu
Jadikan Engkau lebih aku cintai daripada selainMu
Jadikan cintaku kepadaMu membimbingku pada ridhaMu
Kerinduanku kepadaMu mencegahku dari maksiat atasMu
Anugerahkan padaku memandangMu
Tataplah diriku dengan tatapan kasih saying
Jangan palingkan wajahMu dariku
Jadikan aku dari penerima anugerah dan karuniaMu
Wahai Pemberi ijabah
Ya Arhamarrahimin…

Mereka Berbicara Cinta


Ungkapan dan definisi cinta begitu banyak. Ada yang berbicara berdasar prinsip-prinsip bahasa, banyak juga yang berbicara sesuai dengan perjalanan hidup dan tingkat spiritualnya dalam memahami makna cinta. Diantara yang berbicara menurut bahasa mengungkapkan bahwa hubb (cinta) adalah gelembung-gelembung yang terbentuk diatas permukaan air hujan lebat. Jadi, cinta adalah menggelembungnya hati manakala ia haus untuk segera bertemu dengan sang kekasih pujaan hati.
Dikatakan pula bahqa hubb bersumber dari akar kata yang memiliki arti keteguhan dan kemantapan. Dikatakan ahabbal ba’ir utnuk menggambarkan seekor unta yang berlutut dan menolak untuk bangkit lagi, seakan-akan sang pencinta (muhibb) tidak akan mengerakkan hatinya sebab selalu mengingat sang kekasih (mahbub).
Ada yang mengatakan pula bahwa hubb berasal ari kata hibbah yang berarti biji-bijian dari padang pasir. Cinta dinamakan hubb karena ia adalah lubuk kehidupan seperti hubb sebagai benih tumbuh-tumbuhan.
Dikatakan juga bahwa hubb adalah keempat sisi tempat air, dan cinta dinamakan hubb karena ia memikul beban dari yang dicintai dari segala hal yang luhur.
Dikatakan pula bahwa hubb berasal dari hibb, yaitu tempat yang didalamnya ada air, dan apabila ia sudah penuh, tidak ada tempat bagi lainnya. Demikian halnya, manakala hati diluapi perasaan cinta, tidak ada tempat selain sang kekasih.
Begitulah beberapa definisi cinta dari segi bahasa yang dinukil dari kitab Risalah al-Qusyairiyyah karangan Imam al-Qusyairi an-Naisaburi. Adapun definisi cinta menirut paara tokoh sufi juga banyak dikutip dalam kitab tersebut. Abu Yazid al-Busthami mengungkapkan, cinta adalah membebaskan hal-hal sebesar apapun yang dating dari dirimu dan membesar-besarkan hal-hal kecil yang dating dari kekasihmu.
Sementara, Syekh Abu Ali al-Daqqaq berkata, “Cinta adalah kelezatan, tetapi kdudukan hakikatnya adalah kedahsyatan.” Beliau juga mengatakan jika seluruh cinta dikumpulkan pada satu pribadi manusia, maka cinta itu masih sangat jauh dari kadarnya yang seharusnya dipersembahkan kepada Allah SWT. Tidak bisa dikatakan, “Orang ini telah melampaui semua batas dalam mencintai Allah SWT.”
Lebih lanjut, Abu Bakar al-Kattani bertutur, “Persoalan cinta telah dibicarakan para Syekh di Makkah selama musim haji. Junaid al_Baghdadi adalah salah satu pemuda yang pernah hadir dalam pertemuan besar. Sebagian pengikut memanggilnya dan bertanya, ‘Hai orang Irak, katakanlah kepada kami pendapatmu tentang cinta?’ Junaid menundukkan kepalanya seraya menangis, kemudian menjawab, ‘Cinta adalah seorang pelayan yang meninggalkan jiwanya dan meletakkan dirinya untuk berdzikir kepada Tuhannya, mengukuhkan diri dalam melaksanakan semua perintahNya dengan kesadaran yang terus-menerus akan Dia dalam hatinya. CahayaNya membakar hatinya dan dia ikut meminum minuman suci dari cangkir cintaNya. Yang Maha Kuasa terungkap kepadanya dari tabir alam ghaibNya hingga manakala berbicara, dia berbicara dengan perintahNya dan apa yang dikatakannya adalah dari Allah, dan manakal dia diam, maka diamnya itu bersama Allah. Dia akan selalu berbuat karena Allah, untuk Allah, dan selalu bersama Allah.” Mendengar kata-kata pemuda itu, semua Syekh menangis dan berkata, “Tak ada lagi yang perlu dikatakan. Semoga Allah menguatkanmu, wahai mahkota para ‘arifin.”
Rabi’ah Adawiyah, suatu kali ditanya soal cinta. Beliau berkata, “Sungguh, antara orang yang mencintai dan dicintai tidak ada jarak. Cinta adalah pembicaraan tentang kerinduan dan penyifatan tentang perasaan. Barang siapa yang merasakan cinta, berarti ia telah mengenalnya, barang siapa yang menyifati sesuatu, padahal dia sendir ghaib dari sisiNya terhadap wujud dan kehadiranNya, maka ia pandai, dengan kesadarannya maka ia mabuk, untuk memusatkan perhatian kepadaNya, ia sudah penuh, dalam bergembira denganNya ia bingung, kehebatanNya menjadikan lidah kelu untuk menyebutkan, ketercengangan membuat akal terikat utnuk mengakui, kebingungan menjadikan hati terhenti utnuk menyatakan. Disana, hanya kebingungan yang abadi, hati yang lemah, dan rahasia yang sempurna, sedangkan cinta dengan segala kekuasaannya merupakan penentu dalam hati.”
Lihatlah syair Rabi’ah sangat indah :
Gelasku, anggurku, dan teman minumku ada tiga
Dan, aku yang dirundung rindu cinta adalah yang keempat
Gelas kegembiraan, kenikmatan mengelilinginya
Tiba-tiba orang yang diajak minum di telaga mengikutinya
Bila aku memandang
Tiada kulihat kecuali milikNya
Wahai orang yang mencelaku
Aku mencintai keindahanNya
Demi Allah, telingaku bukan untuk mendengar celaanmu
Berapa kali aku terbakar dan pergantunganku sia-sia
Yang mengalirkan air mataku
Kesedihanku tiada meningkat
Hubunganku tiada tersisa
Dan mataku yang terluka tiada tidur…
Ibnu Qayyim berkata, “Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada daripada kata cinta itu sendiri, membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka, batasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukidkan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.”
Kolumnis Musthafa Amin menggambarkan cinta, sebagaimana peristiwa yang dialaminya, berikut ini :
Seorang pemuda yang beruntung meminta petunjuk kepadaku. Ia mempersoalkan tentang wanita yang bagaimana yang harus dinikahi? Apakah ia hrus menikah dengan perempuan yang berperadaban, yang menguasai banyak bahasa asing, agar ia bisa menemaninya rekreasi ke Eropa atau Amerika? Ataukah, perempuan canti dan menarik yang akan mendampinginya dalam pesta-pesta dan pertemuan-pertemuan yang disinari berbagai lampu? Ataukah, wanita yang bekerja hingga mengerti nilai kerja dab memperhitungkan kepayahan, kesulitan, serta memperkirakan kemelaratan dan beratnya tugas suami, sehingga ia tidak menambah beban berat karena ia tenggelamkan dalam pekerjaan-pekerjaan yang besar? Ataukah, wanita yang dapat menciptakan rumah seperti surga, tempat beristirahat dari kesengsaraannya bekerja terus-menerus?
Saya menjawab, “Engkau perlu menikah dengan seorang wanita yang memiliki beberapa sifat. Perempuan yang engkau nikahi haruslah bagaikan tongkat yang dapat engkau pergunakan saat engkau mendaki gunung. Atau, bagai paying yang dapat engkau pergunakan untuk melindungi kepalamu dari hujan dalam bahtera kehidupan.
“Engkau memerlukan lampu yang dapat menerangimu saat berjalan dalam gelap, kompas yang dapat engkau jadikan pedoman arah dalam bingung. Ia adalah bak lemari yang selalu siap menyimpan rahasiamu, rem yang bisa mengendalikan perjalananmu hingga bersemangat membara dan kuat saat menghadapi serangan lawan, obat kepala saat engkau pening, suara yang merdu yang dapat meninabobokan tidur, sapu tangan untuk mengusap air matamu dan mengeringkan keringatmu saat engkau lelah, kompres yang dapat mendinginkan lukamu, penangkal suara yang dapat mencegah sampainya hiruk pikuk ke telingamu. Ia adalah teman berunding dalam merundingkan persoalan yang engkau hadapi. Jika engkau mencari orang bijak untuk menyelesaikan masalahmu, engkau dapati ia berada dalam pelukanmu. Jika engkau membutuhkan teman, ia adalah sahabat setiamu. Dan jika engkau kehilangan ibu, engkau dapati pada istrimu kasih saying yang meluap-luap seperti kasih saying ibumu. Serta, ia rela berkorban dan berjuang bersamamu.
“Lelaki biasa hanya membutuhkan perempuan yang biasa. Tapi. Laki-laki yang beruntung, berarti ia laki-laki yang luar biasa sehingga memerlukan perempuan yang luar biasa pula. Ia sangup memikiul beban yang melebihi beban perempuan biasa, yang lebih sabar daripada Nabi Ayyub, yang tegar bak gunung, yang menjadi tiang sandaran laki-laki yang fakir hati dan akalnya.”
“Ia yang dapat mengembalikan harapanmu ketika engkau sedang berputus asa. Ia yang dapat membangkitkan semangat dan kemantapan hatimu ketika engkau sedang bergolak. Ia yang dapat membuatmu tersenyum ketika engkau tidak tersenyum. Ia yang oenyantun ketika engkau sedang terhimpit. Ia yang dapat mempergauli manusia dengan baik, padahal ia sedang berkuasa sebagai ratu dan menahan diri dari menumpahkan harta. Sewaktu kedudukannya meningkat, diulurkan tangannya untuk menggapai orang-orang yang jatuh duatas tanah. Jika suaminya bangkrut, ia memperlakukannya seperti orang terkaya di muka bumi ini.”
Pemuda itu berkata, “Mustahil aku dapati istri seperti itu!”
Saya menjawab, “Setiap perempuan yang benar-benar mencintaimu dapat bersikap seperti istri ideal seperti apa yang kau inginkan, jika ia benar-benar mencintaimu!”
Demikian paparan Musthafa Amin. Sesungguhnya, beliau ingin meyakinkan kepada pemuda itu bahwa ia bisa mendapatkan istri yang ideal, apabila istri itu mencintainya. Karena pencinta sejati, pada hakikatnya, tidak akan mendurhakai kekasih yang dicintainya. Ia akan selalu melaksanakan apa yang diinginkan kekasihnya. Kalau ia engaku mencintainya, tetapi sifat, sikap, dan perilakunya sering kali membuat hati orang yag dicintainya sedih, maka sesungguhnya ia tidak mencintainya. Ia mencintai kekasihnya hanya di mulutnya saja, bukan mencintai secara tulus.
Terkadang, banyak kita dapati orang-orang yang menikah dikarenakan calonnyaitu orang kaya, atau memiliki pekerjaan dengan gaji yang banyak. Tetapi, setelah tua dan orang yang dicintainya itu tidak dapat bekerja lagi, maka cinta yang dulu ada kini luntur sedikit demi sedikit. Maka, yang demikian bukanlah cinta namanya!
Cinta adalah manakala mengaku mencintai, maka dengan kesadarannya akan mematuhi apa yang menjadi perintahnya dan dengan penuh kesadaran pula akan menjauhi apa yang dilarangnya. Bukankah kekuatan cinta membuat seseorang tidak akan menyakiti objek (sesuatu yang dituju) yang dicintainya? Ia akan selalu tunduk, patuh, dan merindukannya sepanjang masa.
Cinta juga merupakan inti ajaran yang inberen dalam setiap agama. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan umatnya untuk saling memusuhi, mendengki, dan membenci. Ketika pemuka sufi, Ibnu Arabi, ditanya mengenai agama yang dianutnya, ia dengan tegas menjawab, “Cinta adalah agamaku”.
“Ragukan bahwa bintang-bintang itu api, regukan bahwa mataharu itu bergerak, ragukan bahwa kebenaran itu dusta, tapi jangan ragukan cintaku,” demikian ajaran Hamlet kepada Ophelia dalam literer estetisnya Wiliam Shakespeare.
Muhammad Iqbal, pujanga sufi dan filsuf Islam, bersyair :
When the self is made strong by love
Its power rules the whole world
The heavenly sage who adorned the sky with stars
Flunked these buds from the bough oh the self
Its hand becomes God’s hand
The moon is split by its fingers
It’s the arbitrator in all the quarrels of the world
Bila pribadi diperkuat dengan cinta
Tenaganya menguasai dunia semesta
Langit menguasai angkasa dengan bintang-bintang
Tenaganya menjadi tangan Tuhan
Bulan pecah dengan jari-jemarinya
Dialah pelerai dalam semua sengketa dunia.
Itulah rahasia cinta. Cinta membuat yang jauh menjadi dekat, yang berat menjadi ringan, dan yang pahit menjadi manis. Sebaliknya, kebencian membuat yang dekat menjadi jauh, yang ringan menjadi berat, dan yang mais menjadi pahit.
Ali bin Abi Thalib berkata, “Kalau kita mencintai Allah, maka Allah sendiri yang akan membalasnya.” Itu artinya, setiap kali seseorang yang mrncintai Allah dengan ikhlas, lalu mengharapkan pertolongan dan bantuanNya, maka Allah akan membantunya. Setiap kali ia berdoa, dengan cepat Allah mengabulkan doanya.
Kalau kita sudah mendekat Tuhan, maka Tuhan pun akan “turun ke langit dunia” dan tidak akan ada satu permintaan kita yang tidak terkabulkan, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad, “…Tuhan kita turun ke langit dunia pada pertiga terakhir setiap malam, lalu berkata, ‘Adakah orang yang memanggilKu sehingga Aku memenuhi setiap permintaannya? Adakah orang yang meminta dariKu, sehingga Aku akan memberinya? Adakah orang yang memohon ampunanKu, sehingga Aku mengampuninya.”
Dalam maqam luhur nan kudus seperti itulah, tabir antara manusia dan Dia tersibak. Inilah yang disitir surat QS. Qaaf (50) : 22 yang artinya : “…Maka kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu. Maka, penglihatanmu pada hari itu amat tajam.”
Ditanyakan kebada Ibrahim bin Adham, “Mengapa doa kami tidak dikabulkan oleh Allah SWT, padahal Dia telah berfirman, ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku akan perkenankan doamu’.”
Ia menjawab, “Karena, hati kalian telah mati dari mencintai Allah.”
“Apakah gerangan yang bisa mematikannya?”
“Ketahuilah, yang bisa mematikan hati kalian itu ada delapan hal. Kalian mengetahui haq Allah, tetapi tidak melaksanakan haqNya. Kalian membaca al-Qur’an, tetapi hanya dimulut saja, tidak pernah kalian berusaha mengamalkannya. Kalian mengatakan cinta kepada Rasulullah, tetapi tidak mengamalkan sunnah-sunnahnya. Kalian takut mati, tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuhmu”, tetapi kalian mendukungnya. Kalian takut api neraka, tetapi kalian mencampakkan jasad kalian di dalamnya. Kalian cinta pada surga, tetapi kalian tidak berusaha untuk mendapatkannya. Dan bila kalian berdiri, maka kalian melemparkan aib-aib kelian di belakang punggung kalian, lalu kalian beberkan aib-aib orang lain, dengan demikian kalian membuat Allah murka, maka bagaimana mungkin Dia mengabulkan doa kalian?”

Bila Allah Mencintai HambaNya


“Siapa yang menyampaikan hadits pada ummatku, dalam rangka menegakkan sunnah, atau demi menghancurkan bid’ah, maka ia berada di syurga.” (HR. Abu Nuaim dalam Al-Hiyah)
Para ahli syurga, dalam hadits mulia ini, adalah mereka yang terus menerus menegakkan Sunnah, membelah bid’ah, demi menuggalkan Allah Ta’ala, tawakkal kepadaNya, iman dan cinta kepadaNya.
Sebenarnya kekasih hati adalah Allah SWT. Bila Allah mencintai hambaNya Dia menampakkan rahasiaNya pada keagungan kekuasaanNya, dan Allah SWT, menggerakkan hatinya sebagai limpahan anugerahNya, Allah SWT, memberi minuman dari piala gelas cintaNya, hingga ia mabuk dari selain Dia, lalu dijadikannya berada dalam kemesraan, kedekatan dan kesahabatan denganNya, sampai ia tak sabar untuk segera mengingatNya, tidak memilih yang lainNya dan tidak sibuk dengan satupun selain perintahNya. Syeikh Abu Bakr al-Wasthy ra, berkata, “Posisi cinta lebih di depan dibanding posisi takut. Siapa yang ingin masuk dalam bagian cinta, hendaknya ia selalu husnudzon kepada Allah SWT dan mengagungkan kehormatanNya.”
Diriwayatkan bahwa Allah SWT, memberi wahyu kepada Nabi Dawud as. “Hai Dawud, Cintailah AKu, dan cintailah kekasih-kekasihKu, dan cintailah Aku untuk hamba-hambaKu.”
Lalu Nabi Dawud as, berkata, “Ilahi, Aku mencintaiMu, dan mencintai kekasih-kekasihMu, lalu bagaimana mencintaiMu untuk hamba-hambaMu?”
“Ingatlah mereka, akan keagunganKu dan kebaikan kasih sayangKu…” Jawab Allah SWT.
Dalam hadits disebutkan, “Bila Allah mencintai seorang hamba dari kalangan hamba-hambaNya, Jiril as, mengumumkan “Wahai ahlai lagit dan bumi, wahai kalangan wali-wali Allah dan para Sufi, Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai si fulan, maka cintailah dia.”
Dlam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW :
“Apabila Allah Ta’ala mencintai hamba, maka Jibril mengumandangkan, “Sesungguhnya Allah sedang mencintai si fulan, maka cintailah dia. Lalu penghuni langitpun mencintainya, baru kemudian diterima oleh penghuni bumi.”
Dalam satu riwayat Muslim dusebutkan:
“Apabila Allah Ta’ala mencintai hamba, maka Allah memangil Jibril dan berfirman ; “Sesungguhnya Aku mencintai si fulan maka cintailah dia”. Kemudian Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumandangkan, :Sesungguhnya Allah sedang mencintainya, baru kemudian diterima oleh penghuni bumi.”
Namun bila Allah Ta’ala membenci si fulan, maka Allah SWT mengundang Jibril dan berfirman, “Aku lagi membenci si fulan, maka bencilah ia…” Jibrilpun membencinya, kemudian mengajak kepada penghuni langit dengn mengatakan, “Sesungguhnya Allah sedang membenci si fulan, maka bencilah padanya. Lalu rasa benci itu diturunkan di muka bumi.”
Abu Abdullah an-Nasaj ra, mengatakan, “Setiap amal yang tidak disertai cinta kepada Allah SWT, tidak bisa diterima.”
“Siapa yang mencintai Allah SWT, maka Dia mengunjunginya dengan berbagai cobaan. Dan siapa yang berpaling dariNya dari lainNya, ia terhijab dariNya dan gugur dari hamparan para pencintaNya.”
Abdullah bin Zaid ra, mengatakan, “Saya sedang bertemu dengan lelaki sedang tidur di atas salju, sementara di keningnya bercucuran keringat. Aku bertanya, “Hai hamba Allah, Bukankah sangan dingin!” Lalu ia menjawab, “Siapa yang sibuk mencintai Tuhannya, tak pernah merasa dingin.” “Lalu apa tanda pecinta itu?” tanyaku. ” Merasa nasih sedikit atas amalnya yang banyak, dan merasa meraih banyak walau mendapatkan sedikit karena datang dari Kekasihnya.” jawabnya.
“Kalau begitu beri aku wasiat.”
“Jadilah dirimu hanya bagi Allah, maka Allah Bekal bagimu.”
Muhammad bin al-Husain ra, mengatakan, “Aku masuk ke pasar untuk membeli budak perempuan, Ku lihat ada budak perempuan yang sedang di ikat, dan pada kedua pipi tulipnya ada luka, yang terukir tulisan, “Siapa yang berkehendak pada kami, akan kami bangkrutkan dia. Dan siapa lari dari kami, akan kami goda dia.”
Inilah, kataku, sebagaimana firman Allah Ta’ala pada hambanya, “Bila kalian semua mencariKu, maka Kulalaikan kalian dari selain diriKu, dan Kufanakan denganKu dari dirinya, hingga tidak tahu siapa pun kecuali diriKu.”
Ada seseorang sedang mengetuk pintu kekasihnya, lalu ada suara dibalik pintu, “Siapa anda?”
“Aku adalah engaku.”
“Ya, silahkan aku, masuklah.”
AKu kagum dariMu dan dariku
Engkau fanakan diriku bersamaMu dari diriku
Engkau dekatkan diriku dariMu hinga
Aku menyangka Engkau adalah aku.
Haalatu Ahlil Haqiqah Ma’Allah (Syekh Ahmad Ar-Rifa’y)

Zikrullah


Puncak dzikir adalah ketika kita telah mampu menanggalkan atribut-atribut artificial yang kita sandang. Yakni kita benar-benar telah bebas dari keinginan-keinginan pribadi. Semua tindakan kita didasarkan pada prinsip lillahi ta’ala (hanya karena Allah ). Pada stadium inilah keikhlasan dan ihsan itu berada. Pada saat itu kita akan menemukan kesadaran akan nilai-nilai ilahiyah dan kemanusiaannya. Seperti memiliki kelembutan hati, kehalusan budi pekerti (akhlak), keadilan, keberanian, kasih sayang, kejujuran, amanah, kedermawanan, keikhlasan, dan keta’atan untuk mencapai ridho Allah SWT. Kemudian hidup ini akan senantiasa sibuk memperbaiki diri dan dibarengi dengan amal shaleh. Itulah derajat taqwa yang ingin kita raih bersama. Sebagai seorang muslim, kita selalu dituntut untuk berdzikir atau untuk selalu mengingat Allah SWT dalam kondisi apapun.
Baik dalam keadaan berdiri maupun duduk maupun berbaring, baik dalam keadaan senang maupun susah. Karena dengan mengingat Allah SWT hati kita akan menjadi tenang. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang berbunyi: Yang artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah! Hanya dengan mengingat Allah –lah hati menjadi tentram. (QS. Ar-Ra’d: 28) Dalam ayat ini seakan-akan Allah SWT mengatakan kepada kita: ketahuilah! Hanya dengan berdzikir kepada Allah , maka pasti hatimu akan tenang. Karena yang mengatakan ini adalah Allah SWT, berarti ini aksioma langit (ketentuan mutlak) yang tidak dapat ditawarkan lagi. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: Artinya: perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari). Demikian pentingnya kita untuk selalu mengingat Allah SWT, sampai-sampai Allah SWT mengumpamakan orang yang tidak berdzikir seperti orang mati. Na’udzubillahi min dzalika. Dzikir bukan hanya sebuah tutur kata diatas mimbar, bukan juga sekedar komat kamit sebagai gerak mulut saja, bukan sekedar duduk di masjid ataupun duduk di tengah malam sambil melafazkan kalimat-kalimat tertentu dengan menggunakan butiran-butiran tasbih. Namun lebih dari itu, dzikir merupakan pengalaman ruhani yang dapat dinikmati oleh pelakunya. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah SWT sebagai penentram hati. Pada hakekatnya dzikir dapat dijadikan empat macam. Pertama: Dzikir Qolbiyah, dzikir ini adalah merasakan kehadiran Allah, dalam melakukan apa saja ia meyakini akan kehadiran Allah SWT bersamanya sehingga hatinya selalu tenang tanpa ada rasa takut sedikit pun. Allah SWT maha melihat, maha mendengar, lagi maha mengetahui. Tidak ada yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya, seberat atom pun yang di langit maupun di bumi. (QS. Saba’: 3). Dzikir qalbiyah ini lazim disebut ihsan. Rasulullah SAW bersabda tentang arti ihsan, yaitu: Artinya: (Ihsan adalah) engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Sekalipun engkau tidak melihat-Nya tapi sesungguhnya Dia melihatmu. (Hadits Muttafaqun ‘alaih). Dengan dzikir qalbiyah kita memfungsikan mata hati kita dan menyadari bahwa Allah SWT selalu melihat dan mengawasi kita. Jika kita sudah mencapai pada kesadaran ini, maka akan menimbulkan dampak yang besar. Pertama: hati akan selalu bersih. Kedua: apapun yang kita kerjakakan akan menjadi ibadah dan ketiga: kita akan memperoleh nilai dalam hidup ini, yakni keridhoan Allah SWT, karena apapun yang kita kerjakan kalau bukan karena Allah SWT, maka mestilah sia-sia atau bahkan bisa disebut rugi. Dzikir yang kedua: Dzikir Aqliyah, adalah kemampuan menangkap bahasa Allah SWT dibalik setiap gerak alam semesta ini. Menyadari bahwa semua gerakan alam, Allah lah yang menjadi sumber gerak dan yang menggerakkannya. Alam semesta ini adalah sekolah dan tempat belajar kita. Segala ciptaan-Nya dengan segala proses kejadiannya, adalah proses pembelajaran kita. Segala ciptaan-Nya yang berupa batu, sungai, gunung, udara, pohon, manusia, hewan dan sebagainya merupakan pena Allah SWT yang mengandung qalam-Nya (sunnatullah) yang wajib kita baca. Kalau kita jeli memahami Al-Quran, sesungguhnya kita hidup di bumi nan luas ini, yang pertama kali di perintahkan adalah membaca (Iqra). Yang wajib kita baca ada dua wujud, yakni alam semesta (ayat kauniyah) termasuk di dalamnya diri kita (manusia) dan Al-Quran (ayat Qauliyah). Dengan kesadaran dan cara berfikir ini, maka setiap kita melihat suatu benda (ciptaan-Nya) pada saat yang sama kita akan melihat keagungan, kebesaran dankekuasaa Allah SWT, inilah yang merupakan puncak dan hasil dari dzikir aqliyah. Dzikir yang ketiga: Dzikir lisan, ini adalah buah dari dzikir hati dan akal. Setelah melakukan dzikir hati dan akal, barulah lisan berfungsi untuk senantiasa berdzikir, selanjutnya lisan berdo’a dan berkata-kata dengan benar, jujur, baik dan bermanfaat. Orang yang merasa hatinya hadir di hadapan Allah SWT dan sadar bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan-Nya disebut muraqabah. Dengan muraqabah akan mendorong seorang muslim untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Dengan melakukan muraqabah dan muhasabah, kita akan menemukan hikmah. Inilah yang merupakan tujuan akhir dari dzikir lisan, yaitu menemukan hikmah dibalik semua ciptaan Allah SWT setelah merasakan kehadiran-Nya dan befikir tentang semua ciptaan-Nya. Kalau kita tidak melakukan dzikir lisan, maka hati dan pikiran kita akan tumpul dan mudah di bisiki oleh bisikan-bisikan syetan yang akan merenggut ketenangan hati. Ma’ayiral muslimin, sidang shalat jum’at yang berbahagia! Dzikir yang keempat: Dzikir amaliyah, sebenarnya cita-cita kita semua adalah dzikir amaliyah, dan ini sebenarnya goal atau tujuan yang kita inginkan dari dzikir. Setelah hati kita berzikir, akal kita berzikir, lisan kita berdzikir, maka akan lahirlah jiwa-jiwa serta pribadi-pribadi yang suci, pribadi-pribadi yang berakhlaq mulia, baik secara lahir maupun bathin. Dari pribadi-pribadi tersebut akan lahirlah amal-amal shaleh yang diridhoi oleh Allah SWT, sehingga terbentuk sebuah masyarakat yang takut serta bertaqwa kepada Allah SWT. Kalau sudah demikian maka akan dibukakan oleh Allah SWT pintu-pintu berkah dari langit maupun dari bumi. Sebagaimana firman Allah SWT: Artinya: Jikalau sekiranya penduduk di negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat dan hukum-hukum kami) itu, maka kami siksa (adzab) mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raaf: 96) Demikianlah janji Allah kepada kaum yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Dengan meningkatkan dzikir kita kepada Allah SWT, insya Allah akan dapat kita raih predikat taqwa yang pada akhirnya akan melahirkan pribadi-pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT. Puncak dzikir adalah ketika kita telah mampu menanggalkan atribut-atribut artificial yang kita sandang. Yakni kita benar-benar telah bebas dari keinginan-keinginan pribadi. Semua tindakan kita didasarkan pada prinsip lillahi ta’ala (hanya karena Allah ). Pada stadium inilah keikhlasan dan ihsan itu berada. Pada saat itu kita akan menemukan kesadaran akan nilai-nilai ilahiyah dan kemanusiaannya. Seperti memiliki kelembutan hati, kehalusan budi pekerti (akhlak), keadilan, keberanian, kasih sayang, kejujuran, amanah, kedermawanan, keikhlasan, dan keta’atan untuk mencapai ridho Allah SWT. Kemudian hidup ini akan senantiasa sibuk memperbaiki diri dan dibarengi dengan amal shaleh. Itulah derajat taqwa yang ingin kita raih bersama. Wallahu a’lam bissowab

Taubat

Tidak sedikit orang-orang saleh awalnya adalah orang-orang yang sangat jahat saat mudanya. Setelah bertaubat, ia beristiqomah dalam berbuat baik dan pengabdian kepada Allah. Beberapa di antara mereka, pada akhirnya, menjadi tokoh panutan karena kesucian dan perilaku-perilaku yang membebaskan. Konon, Sunan Kalijaga adalah salah satu contoh beberapa orang-orang saleh yang berhasil tercerahkan, dan selanjutnya menjadi tokoh pemberi pencerahan pada masyarakat pada zamannya.
Hidup suci dalam Islam bisa diraih oleh siapa saja. Kesucian hidup, bukanlah hak istimewa seseorang. Jalan tersebut terbuka bagi siapa saja, tidak hanya milik para ulama. Bahkan orang jahat sekalipun, ia bisa menapak cara hidup suci, asal dia bersedia untuk bertaubat dan bersungguh-sungguh. Bagi Allah, kesalehan bukan karena sama sekali tidak berbuat dosa, akan tetapi orang yang saleh adalah orang yang setiap kali berbuat dosa dia menyesali dan selanjutnya tak mengulangi perbuatan tadi. Pepatah Arab menegaskan : “Manusia adalah tempat salah dan lupa”. Pepatah di atas bukan berarti manusia dibiarkan untuk selalu berbuat salah dan dosa, akan tetapi kesalahan pada diri manusia harus ditebus dengan tobat, penyesalan dan penghentian. Rasulullah bersabda : “Setiap anak Adam adalah sering berbuat salah. Dan, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat.â€? (H.R. Tirmidzi) Taubat yang sungguh-sungguh di mata Allah adalah pembersihan diri yang sangat dicintai. Dalam Islam, pertaubatan bukan melalui orang lain, sebut saja orang saleh, tetapi dari diri sendiri secara langsung kepada Allah. Apalagi, Islam tidak mengenal penebusan dosa dengan sejumlah uang. Islam sungguh sangat berbeda dengan cara-cara pertaubatan dibanding agama-agama lain. Islam memandang, pertaubatan adalah persoalan yang sangat personal antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dan, Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang bisa didekati sedekat mungkin, bukan tuhan yang berada di atas langit, tak terjangkau. Sabda Rasulullah (saw) : “Sesungguhnya Allah lebih suka menerima tobat hamba-Nya melebihi dari kesenangan seseorang yang menemukan kembali ontanya yang hilang di tengah hutan.” (H.R. Bukhori dan Muslim) Islam tidak menganggap taubat sebagai langkah terlambat kapanpun kesadaran itu muncul. Hisab (perhitungan) akan amal-amal jelek kita di mata Allah akan terhapus dengan taubat kita. Lembaran baru hidup terbuka lebar. Langkah anyar terbentang. Sabda Nabi (saw) : “Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubat dan mema’afkannya.â€? (H.R. Muslim) Bertaubat, demikian halnya, dijadikan amalan dzikir oleh Rasulullah (saw) setiap hari. Beliau beristighfar kendati sedikitpun beliau tidak melakukan dosa. Karena lewat istighfar, Nabi memohon ampun dan mengungkapkan kerendahan hati yang sangat dalam di hadapan yang Maha Agung. Sabda Nabi (saw) : “Hai sekalian manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya, maka sesungguhnya saya bertaubat dan beristighfar tiap hari 100 kali.â€? (H.R. Muslim) Firman Allah : “Katakanlah ! Hai hamba-hamba-Ku yang berdosa terhadap jiwanya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.â€? (Q.S. al-Zumar : 53) “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat, semoga Tuhan mu akan menghapuskan dari kamu akibat kejahatan perbuatan-perbuatanmu, dan akan memasukkan kamu ke dalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai.â€? (Q.S. al Thalaq : 8) Dalam memperbaiki kesalahan dan membersihkan diri dari dosa, ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu hak Allah dan hak bani Adam. Apabila kesalahan atau dosa berhubungan dengan hak Allah, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu : 1.Harus menghentikan tindakan maksiat. 2.Harus dengan sungguh-sungguh menyesali perilaku dosa yang telah dikerjakan. 3.Berniat dengan tulus untuk tidak mengulangi kembali perbuatan tersebut. Dan, apabila kesalahan itu berhubungan dengan bani Adam, maka syarat bertambah satu, yaitu harus menyelesaikan urusannya dengan orang yang berhak dengan meminta ma’af atau halalnya, atau mengembalikan apa yang harus dikembalikan. Sabda Nabi (saw) : “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa. Dan orang yang minta ampunan dari dosanya, sedangkan dirinya tetap mengerjakan dosa, seperti orang yang mempermainkan Tuhannya.â€? (H.R. Baihaqi) Tidak sedikit orang-orang saleh awalnya adalah orang-orang yang sangat jahat saat mudanya. Setelah bertaubat, ia beristiqomah dalam berbuat baik dan pengabdian kepada Allah. Beberapa di antara mereka, pada akhirnya, menjadi tokoh panutan karena kesucian dan perilaku-perilaku yang membebaskan. Konon, Sunan Kalijaga adalah salah satu contoh beberapa orang-orang saleh yang berhasil tercerahkan, dan selanjutnya menjadi tokoh pemberi pencerahan pada masyarakat pada zamannya.