Laman

Minggu, 30 Juni 2013

Bagaimana meraih kemulyaan

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary

“Rasa senangmu agar makhluk lain melihat keistimewaanmu, menunjukkan bahwa ubidiyahmu tidak benar.”
Bila seseorang memiliki keistemewaan dari Allah Swt, berupa ilmu yang bermanfaat, amal saleh yang banyak, atau pengalaman ruhani yang hebat, lalu ia secara diam-diam ingin diketahui keistemewaannya, maka dipastikan ubudiyah orang tersebut tidak benar.
Salah satu Sufi menegaskan, “Siapa yang senang jika amalnya dilihat manusia, maka ia adalah orang yang riya’, dan siapa yang senang jika pengalaman ruhaninya diketahui orang, maka ia adalah pendusta.”
Kondisi ini berlaku bagi para penempuh, namun untuk para ahli ma’rifat yang telah meraih hakikat dan musyahadah, maka tidak apa-apa jika ia tunjukkan amaliyahnya, menampakkan kebaikan ruhaninya, agar syukurnya benar-benar termanifestasi dan bias diteladani yang lain.
Namun bagi para penempuh ia akan mudah kagum pada diri sendiri, dan merasa cukup serta berakhir dengan takabur. Para pemula harus mewujudkan kefanaannya, hatinya lari dari pandangan makhluk menuju pandanganNya, menyembunyikan amal dan ihwal ruhaninya. Namun bila kefanaannya sempurna dan baqo’nya termaujud dalam hakikatnya, ia senantiasa bersama Allah Swt, maka biula Allah menghendaki untuk menampakkan ia tampakkan, jika Allah menghendaki menyembunyikan, ia sembunyikan. Ia sama sekali tidak berkait dengan soal tampak dan tersembunyi. Semua berkait dengan perintahNya belaka.
Ibnu Athaillah as-Sakandary meneruskan:
“Sembunyikan pandangan makhluk kepadamu dengan melihat pandangan Allah padamu, dan hilangkan penerimaan makhluk padamu, dengan melihat penerimaan Allah swt padamu.”
Maksudnya, jangan menginginkan pujian, diterima dan dihormati oleh manusia atas apa yang ada dalam diri anda, namun lebih konsentrasi kesenangan agar anda lebih diterima oleh Allah Swt.
Bagaimana pandangan makhluk kepadamu bisa merusak hatimu dengan Allah Swt, oleh karena itu rindumu dan rasa sukamu jangan pernah ada kecuali hanya demi pandangan Allah Swt padamu.
Apalagi jika anda berfikir agar citra anda naik di hadapan publik, nama anda agar dikenal, kemampuan anda disegani, ilmu anda dijadikan rujukan, amal anda dinilai besar, justru akan meracuni hatimu. Datangnya public dihadapanmu sebelum anda meraih kesempurnaan, akan melahirkan dampak psikologis yang membayakan hatimu, mulai dari rasa bangga, merasa lebih, terhormat, dan prestisius lain yang bisa merobek keutuhan hatimu kepada Allah Swt.
Sebagian sufi mengatakan, “Orang yang benar adalah yang tidak peduli, jikalau keluar  nilai lebih dari yang muncul dari hati para makhluk terhadap kebaikan hatinya, juga tidak suka jika ada seberat atom amalnya dilihat manusia, tidak benci jika amal buruknya dilihat orang lain, karena kebenciannya itu menunjukkan bahwa ia ingin punya nilai lebih di hadapan makhluk. Jelas itu bukan tergolongkan keikhlasan orang yang benar.”
 
Yaa ..Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar