Laman

Jumat, 31 Januari 2014

ISLAM BERLAPIS..... [1]


Sudah menjadi hukum pasti yang berlaku di alam bahwa di dunia ini segala sesuatu diciptakan Allah dengan berlapis-lapis atau bertingkat-tingkat yang kesemuanya itu mempunyai tujuan tersendiri. Allah menciptakan bumi berlapis, mulai dari lapisan paling atas berupa tanah yang subur, kemudian dibawahnya ada batuan yang keras sampai kemudian kepada kerak bumi yang terdiri dari batuan cair yang sangat panas dan kesemua susunan yang begitu teratur itu mempunyai tujuan dan tunduk kepada hukum Alam (Sunatullah) yang diciptakan oleh Allah saat dunia ini diciptakan. Buah-buahan ciptakan dengan berlapis, tanaman pun demikian bahkan atom sebagai bagian benda terkecil yang diketahui manusia saat ini juga mempunyai lapisan.

Begitu juga Agama Islam yang kita kenal, mempunyai tingkatan atau lapisan yang dengan tingkatan tersebut memudahkan manusia untuk mempelajari agama. Syariat merupakan kumpulan hukum-hukum atau aturan yang harus dijalankan oleh ummat Islam adalah pintu terdepan, etalase yang mewakili Islam itu sendiri. Orang yang belum mengenal Islam ketika ditanya apa itu Islam, kita bisa menjelaskan dengan sederhana lewat Rukun Islam yang dikerjakan oleh ummat Islam seluruh dunia. Lewat ucapan syahadat, pelaksanaan shalat 5 waktu dan shalat sunnat di mesjid atau di rumah masing-masing, membayar zakat, melaksanakan puasa ketika bulan Ramadhan dan puasa sunnat serta menunaikan ibadah haji akan bisa mewakili atau menjelaskan apa itu Islam.

Apa yang nampak terlihat sebagai rukun Islam yang 5 perkara itu tentu saja mempunyai asfek rohaniahnya, asfek esoteris yang mendukung gerak zahir dari pelaksaaan rukun Islam yang 5 perkara. Gerakan-gerakan zahir, ucapan yang keluar dari mulut akan bisa dilakukan oleh siapapun, bahkan orang yang baru mengenal Islam sekalipun atau sangat awam akan bagitu mudah memahami dan melaksanakan ibadah yang diwajibkan dalam Islam.

Satu hal yang harus kita pahami bersama bahwa Islam yang kita kenal sekarang bukan turun dalam semalam, bukan paket yang diantar oleh malaikat kemudian dilaksanakan oleh ummat atau dalam bahasa mudahnya, Islam bukan agama instan. Shalat sebagai ibadah wajib baru dilaksanakan ummat setelah 13 tahun Nabi dakwah, lalu ibadah apa yang dilaksanakan oleh ummat sebelum adanya kewajiban shalat? Apakah mereka tidak beribadah sama sekali?

Selama 13 tahun Nabi menanamkan Tauhid, Kalimah Allah Yang Maha Tinggi yaitu La Ilaha Ilallah yang merupakan pondasi dari agama. Kenapa harus memerlukan waktu 13 tahun untuk mengajarkan ucapan pendek tersebut? Ini menjadi bahan renungan dan kajian kita bersama. Nabi menjelaskan bahwa perkerjaan paling mudah adalah menyebut nama Allah dan pekerjaan paling sulit juga menyebut nama Allah. Kalau hanya sekedar menyebut nama Allah atau mengucapkan syahadat, maka seluruh manusia yang berakal dan bisa berbicara akan mampu mengucapkannya akan tetapi mengucapkan kalimah Allah disertai oleh Allah itu pekerjaan yang sangat sulit seperti yang dijelaskan oleh Nabi.

Karena agama mempunyai asfek zahir dan bathin, tidak terkecuali juga Kalimah Syahadat, mempunyai asfek zahir dan bathin pula. Dalam sebuah hadist Qudsi Allah Berfirman, “La Ilaha Ilallah adalah kalimah KU dan dia adalah AKU, barangsiapa yang menyebut La Ilaha Ilallah akan masuk dalam benteng-KU dan barangsiapa yang masuk dalam benteng-KU maka dia terbebas dari azab-KU”. Pernahkah kita kemudian meriset, membuktikan akan kehebatan Kalimah Allah, membuktikan bahwa diri kita masuk dalam kapsul Maha Menang sehingga Iblis beserta bala tentaranya tidak akan bisa menembus hati sanubari kita. Pernahkah kita membuktikan akan kehebatan Kalimah Allah seperti yang tercantum dalam al-Qur’an AR-RA’AD ayat 31 berikut :

“Dan sesungguhnya andaikata ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dapat membuat gunung-gunung berjalan/berguncang dahsyat atau bumi dipotong-potong/ dibelah-belah atau orang-orang mati diajak bicara / dapat bicara (hidup kembali) niscaya Kitab Suci itu ialah Al-Qur’an. Dan merekapun tidak juga beriman (dan juga masih tidak terpikir juga untuk merisetnya, walaupun Tuhan mengatakan KEDAHSYATAN AL-QUR’AN itu bertubi-tubi)”

Para Auliya Allah termasuk Guru saya sendiri telah meriset dan membuktikan secara nyata dan fakta dan apa yang dilakukan Beliau bisa dilakukan pula oleh para murid karena memang memakai rumus yang sama sehingga hasilnya sama. Al-Qur’an yang kita kenal bukan hanya untuk dibaca, di alun-alunkan dengan nada indah atau diperlombakan dalam MTQ, lebih jauh Al-Qur’an apabila diketahui teknologinya bisa menghasilkan energy Maha Dahsyat yang bisa menghidupkan orang mati dan bahkan menunda kiamat datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar