Laman

Minggu, 24 Agustus 2014

Kang Parmin Naik Haji


Menjelang keberangkatan para Calhaj, kedai Cak San terus menjadi ajang diskusi soal Haji. Soal pengalaman aneh2di tanah suci, sampai berbagai penderitaan akibat ulah para oknum kelompok di tanah air. Tetapi bagi Kang Parmin, pengalaman naik haji ditahun silam justru lain. Kang Parmin tergolong manusia langka yg datang ke kedai itu. Kadang2 saja, dua bulan sekali ia menongolkan kepalanya, sambil mencari obat kangen kedai kopi Cak San.
Pardi paling bersemangat kalau menanyakan pengalaman Kang Parmin. "Saya dulu naik haji, saya niati untuk plesiran, dharmawisata lah..." kata Kang Parmin.
"Wisata bagaimana Kang?" "Pokoknya santai-santai, pelesiran lah.." "Ini bisa kacau...Orang lain niat ibadah, sampean malah pelesiran!" "Lah biar saja too, itu khan urusan saya.
Saya bayar lunas kok.." Pardi bengong tidak mengerti ucapan Kang Parmin yang aneh ini. Rasanya ia jengkel, sekaligus ingin tertawa. "Saya cocok sama sampean Kang". kata Dulkamdi tiba2. "Cocok gundhulmu atos, Dul!" Sela Pardi. "Pokoknya saya cocok. Soal kamu tidak cocok, itu bukan urusan saya!" jawab Dulkamdi seenak udelnya. Pardi pusing tujuh keliling. Sambil memijat-mijat keningnya, Pardi tak bisa mencerna apa makna dua statemen kontroversial itu. "Naik haji kok pusing-pusing, Di. Kita ini mau jadi tamu Allah. Ya sudah..." sahut Kang Soleh menengarai. " Saya setuju soal tamu Allah. Tapi soal plesiran itu edan! Kang..."
"Salah kamu sendiri, menganggapnya edan. Kan dengan cara pelesiran itu, jiwa seorang tamu Allah menjadi ringan, bebas dan penuh luapan cinta..." Semuanya jadi heran dengan pendapat Kang Soleh. Tapi mereka juga membenarkan.
Namun Pardi tetap penasaran pada Parmin. "Kang Parmin, apa benar begitu, sampean lebih santai, lebih mencintai Allah dengan niat pelesiran itu..." "Begini saja, Di. Saya naik haji dengan niat pelesiran. Sebagai tamu, rasanya akan santai dan enak, dan tentu kalau penerima tamu melihat kita seperti itu, hatinya kan gembira. Sejak dulu sampai kapan saja Allah itu tidak pernah berubah, Di. Di Mekkah atau disudut Ka'bah, atau disudut kedai ini, nggak ada bedanya Di." Pardi melotot tak berkedip.
Semuanya jadi tertawa atas ucapan Parmin dan ketololan Pardi. Tapi Pardi mulai paham. "Kang, sampean ini memang dahsyat, luar biasa.."
Ucap Pardi menepuk punggung Kang Parmin. Sementara Parmin tetap melongo kayak kerbau, karena lugunya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar