Laman

Minggu, 24 Agustus 2014

Rela Nyembah Gusti Alloh?


“ Kamu sudah kenal gusti ALLAH Dul? “ tanya pardi tiba-tiba, ketika fajar mulai menyingkap semesta.
“ wah pertanyaan kok nganeh-nganehi Di… “
“lha wajar tho,ALLAH sudah kita sembah bertahun-tahun. Jangan-Jangan kita tidak kenal… “
Dulkamdi puyeng mendengar pertanyaan yang langsung menghujam ke ulu jantungnya, sampai ke ubun-ubun pikirannya. “ tidak Di, kamu kok tiba-tiba Tanya begitu pasti ada latar belakangnya…”.
“ latar belakangnya ya kebingungan saya, soalnya sekarang banyak orang ngaku makrifat, hakikat, sampai njlimet, tapi nyatanya tidak kenal gusti ALLAH …”.
“ lhah itu soal klasik sejak jaman dahulu juga banyak manusia seperti itu. Tidak usah dipikirkan, tiwas melu edan…”
“ lha terus gimana tho Dul? “
“ gampang, coba tadi malam kiai mursyid kan melontarkan suatu hadist nabi. (“telah merasakan nikmatnya iman, orang yang rela ALLAH sebagai tuhan, islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi ”)beres kan? Tidak usah puyeng-puyeng….”
“ lalu rasa tersebut macam apa, Dul? ”
“begini, ini kata kang soleh, tidak tau kang soleh ngutip dari mana, saya juga tidak tau antah-berantahnya. Katanya, rasa tersebut adalah faktor yang di bangkitkan oleh ridho’ (kerelaan) yaitu makrifat kepada allah. Dan makrifat itu adalah cahaya yang di tempatkan oleh allah dalam kalbu hamba yang di cintainya, tidak ada yang lebih besar dan lebih agung ketimbang cahaya itu, sedangkan hakikat makrifat itu adalah hidupnya hati dengan yang maha hidup, sebagaimana firman allah:
(“ adakah orang yang keadaan mati, maka kami hidupkan dia? “) begitu juga , (“ agar menjadi peringatan bagi orang yang hidup (hatinya)” ) ayat lain (“ maka kami hidpkan ia, dengan kehidupan yang baik ”).
“ itu yang ku maksud Dul…”
“ Ah itu tadi takwilan dari syeik rifa’i. beliau juga mengatakan “ siapa yang mati nafsunya maka dunianya jauh darinya,siapa yang mati hatinya akan jauh dari tuhannya.” Kata kang soleh njudul begitu saja dalam majlis kedai kopi.
Ibnu samak pernah di Tanya,” kapan seorang hamba di kenal bahwa dirinya telah sampai di hakikat makrifat?” beliau menjawab
“ manakala seorang hamba melihat ALLAH dengan mata renungan hatinya, fana dari segala selain dari-NYA.”
Dikatakan, “ makrifat berarti sirnanya pandangan melihat selain ALLAH. dimana selain ALLAH ta’ala begitu kecil bahkan di banding biji bayam sekalipun.katakanlah; ALLAH…! Lalu tinggalkan mereka…”
Matahari orang yang mencintaimu telah terbit di malam hari, lalu cahaya-NYA memendar, tak pernah surup. Matahari di siang dunia telah surup,sedangkan matahari kalbu tak pernah sirna.
Cukup kang… cukuuuup. Aku bisa edan makan sepatu nanti kaaaaang…. Cukuppp…!”
Lalu, kang soleh ngeloyor pergi di telan pagi buta, pardi dan dulkamin malah berpelukan erat, dadanya berdegup guncang. Penuh dengan zikrullah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar