Laman

Rabu, 12 November 2014

Hakikat Hikmah Tauhid Dan Tasawuf (Al Hikam) TERBUKA JALAN MA’RIFAT KEPADA ALLAH


Apabila seseorang hamba Allah telah dibukakan jalan untuk mengetahui Allah, maka apakah sesuatu yang harus dihadapinya sebagai akidah dan pegangan ?
Al Imam Ibnu Athaillah Askandary telah merumuskan tentang hal ini dalam kalam hikmahnya:
“Apabila Allah membukakan bagi engkau jalan untuk mengenal-Nya, maka janganlah engkau ambil peduli tentang sedikit amalan engkau, karena Allah swt tidak membukakan jalan tadi bagi engkau selain Ia nya Allah berkehendak memperkenalkan (Zat-Nya atau sifat-sifat-Nya) kepada engkau.
Tidakkah engkau ketahui bahwa, memperkenalkan itu adalah pemberian Allah atas engkau, sedangkan amal-amal yang engkau kerjakan engkau berikan amal-amal itu untuk Allah dan dimanakah fungsi pemberian engkau kepada Allah apabila dibandingkan pada apa yang didatangkan Allah atas engkau”.
Kalam hikmah ini mengandung pengertian yang dalam sekali tentang tujuan kita selaku hamba Allah, dalam perjalanan kepada Allah.
Ketahuilah, bahwa Allah membukakan jalan ma’rifat untuk dapat kita kenal Dia (Allah). Adalah merupakan kehendak-Nya, semoga dengan karunia-Nya dan termakan pengertian asma-Nya dalam hati dan perasaan tubuh jasmaniah kita. Terbuka jalan ini adalah lebih besar nilainya dari pada amal ibadah yang banyak tetapi sunyi atau sedikit sekali ma’rifat kita kepada Allah. Bandingkanlah antara nikmat yang maha besar ini dengan amal ibadah yang kita kerjakan. Sekalian amal ibadah yang kita amalkan, kita persembahkan kepada Allah, dan dengan kurnia-Nya Allah memberikan pula kepada kita nikmat ma’rifat dimana kita kenal (mengetahui kepada Allah dalam arti yang luas dan mendalam (sesungguhnya).
Hamba Allah yang soleh mempunyai pendirian, bahwa pemberian sihamba kepada majikan adalah dianggap kecil, apabila dibandingkan dengan pemberian majikan kepada hamba-Nya, sebab pemberian si hamba pada hakikatnya tidak kembali kepada tuannya (majikannya), tetapi kembali kepada si hamba juga. Kesimpulannya, bahwa kita selaku hamba Allah biarlah amal ibadah kita sedikit, asal saja ma’rifat kita kepada Allah bersemayam di dalam diri kita, ini adalah lebih bagus dari pada amal ibadah yang banyak tetapi hati kita lalai kepada Allah, tidak sejalan antara ibadah yang kita kerjakan dengan hati kita sendiri, sebab itu maka Allah mencela dan memandang rendah orang-orang yang mengerjakan sembahyang tetapi hatinya tidak kepada Allah, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Maa’un zuz 30, ayat 4, 5 dan 6 sbb:
“Fawailul lilmushalliinal ladziina hum’an shalaatihim saahuunaalladziina hum yuraa uuna”
“Sebab itu celakalah orang-orang yang sembahyang dimana mereka lalai dari sembahyangnya, mereka mengerjakan kebaikan supaya dilihat orang”
Apabila kita diberikan oleh Allah sebagian nikmat ma’rifat kepada-Nya, maka hendaklah selalu kita hadapkan hati kita kepada Allah dalam arti yang luas, sebab Dia lah yang Maha berkehendak, Maha berkuasa, Maha pengasih, Maha penyayang dan lain-lain sebagainya dari sifat-sifat Allah yang Maha Agung dan tidak terhingga jumlahnya.
Dengan demikia Allah akan menambah hampir kita kepada-Nya dan mementingkan kita dalam segala hal yang kita hadapi. Yaitu terbukanya hatinya untuk dapat mengenal, mengetahui (ma’rifat) kepada Allah ta’ala.
Oleh karena itu maka hamba-hamba Allah yang arif kepada-Nya, kadang-kadang kita lihat amal lahiriah mereka sedikit, tetapi rupanya yang sedikit sedangkan nilainya jauh lebih besar disisi Allah swt.
“Illaahii anta maqshuudii waridhaaka mathlubbii”
“Wahai Tuhanku! Engkaulah yang aku tuju dan keridhaan Engkaulah yang aku cari”.
Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kepada kita ni’mat ma’rifat kepada-Nya dan terbuka hati kita dalam mengenal-Nya sehingga seluruh diri kita lahir dan batin selalu ingat kepada-Nya, Amien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar