Laman

Kamis, 27 November 2014

Mencari Tuhan?


kaligrafi-allah-3Kunci Rahasia untuk memudahkan kita mencari sepupu jauh yang berada di Tiongkok adalah dengan ditemani oleh orang yang sudah sangat kenal dan sering berjumpa dengan sepupu kita tersebut, maka istilah yang tepat bukan mencari tapi “diperkenalkan”. Begitu juga dalam hal mencari Tuhan, istilah yang tepat adalah “diperkenalkan” sebagaimana Nabi Muhammad diperkenalkan kepada Allah oleh malaikat Jibril as sebagai pembimbing rohani Beliau. Mula-mulai diperkenal nama-Nya, “Bacalah (hai Muhammad”, bacalah dengan nama Tuhanmu..”, disini Muhammad diajari cara menyebut atau memanggil nama-Nya, diajarkan dzikir tersembunyi menyebut nama Allah pagi dan petang.
Secara bertahap atau dalam mujadah Nabi selama bertahun-tahun, maka terbukalah hijab pembatas antara Muhammad dengan Allah, maka bertemulah antara hamba dengan Tuhannya yang terungkap di Tahiyat dalam shalat, Allah berseru “Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya bagimu wahai Nabi…”. Karena shalat adalah proses Mikraj nya seorang mukmin maka seharusnya apabila shalat mengalami kesempurnaan maka kita juga mendapat seruan yang sama dari Allah, “Keselamatan, rahmat Allah dan keberkahan-Nya bagimu wahai fulan”.
Berulangkali saya menulis bahwa mencari Tuhan lewat akal akan lebih banyak keliru dari pada benarnya. Akal fikiran diciptakan Allah untuk mengungkapkan rahasia hasil ciptaan Allah untuk dipergunakan demi kemaslahatan manusia. Akal fikiran tidak di rancang untuk menemukan Sang Pencipta sebagai mana peringatan Allah, “Fikirkanlah ciptaanku dan jangan kau fikirkan Dzat-Ku”. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah tidak akan mungkin bisa ditemukan dengan akal fikiran. Namun demikian bukan berarti firman Allah tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak bisa ditemukan sama sekali. Sebagian keliru memaknai “Jangan kau fikirkan dzat-Ku” sebagai bentuk kemustahilan manusia untuk menemukan dzat Allah. Firman Allah tersebut mengingatkan kita bahwa ada cara khusus telah dirancang Allah untuk mengenal-Nya yaitu lewat bimbingan orang yang sudah mengenal-Nya.
Ketika pencarian Tuhan mengalami kebuntuan, maka cara terbaik adalah dengan mengikuti apa yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat dan ulama pewaris Nabi yang dengan menemukan Wasilah yang menghubungkan kita dengan Allah SWT.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan bersungguh-sungguh pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.“ ( Qs al-Maidah : 35 )
Silahkan memaknai Wasilah menurut pemahaman masing-masing, sebagian memaknai wasilah sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada-Nya dan makna wasilah menurut pemahaman Tasawuf adalah gelombang atau frekwensi yang membuat kita tersambung kepada Allah swt. Wasilah bukanlah ibadah akan tetapi Nur Allah yang diberikan kepada Nabi SAW dan kemudian diteruskan kepada ulama pewaris Nabi. Nabi sendiri bukanlah wasilah, Beliau hanya sebagai pembawa wasilah, ibarat gelas dengan air, Nabi adalah gelas sedangkan wasilah adalah air.
Wasilah akan terus berlanjut dan berkesinambungan, secara estafet tanpa putus diwariskan kedalam dada para Ulama dan wasilah ini yang kita gunakan untuk bisa berhubungan dengan Allah SWT. Ibarat listrik dengan kabel, wasilah sebagai listrik sedangkan kabel ibarat Nabi atau Wali Allah, fungsi kabel membawa arus listrik sampai kepada kita.
Perumpamaan ini hanya untuk memudahkan kita dalam memahami karena hal yang paling banyak diperdebatkan oleh orang yang belum menekuni tarekat adalah kedudukan seorang Guru Mursyid bagi pengamal tarekat yang menurut mereka diperlakukan dengan berlebihan. Anda tidak mungkin bisa menikmati listrik kalau tanpa menggunakan kabel, dan suatu hal yang wajar kalau rasa terima kasih kepada kabel yang telah begitu berjasa membawa listrik kepada anda.
Hal yang wajar kalau anda berterima kasih kepada gelas dan memperlakukan gelas dengan istimewa karena tanpa gelas anda tidak bisa minum air. Antara Mursyid dengan Wasilah walaupun berbeda unsur tapi tidak bisa dipisahkan sama sekali, keduanya telah menyatu. Kalau anda ingin menyambungkan diri dengan wasilah, anda harus menyambungkan diri dengan Guru Mursyid terlebih dulu.
Dalam hadist qudsi Allah berfirman, “…Apabila dia telah Ku cintai maka apabila melihat Aku lah matanya…” ini menunjukkan orang-orang yang dicintai oleh Allah (Guru Mursyid) memiliki keistimewaan dimana ketika kita memandang wajah Beliau ada cahaya Allah disana. Itulah sebabnya kenapa para pengamal tarekat selalu melakukan rabithah kepada Gurunya agar Allah selalu berhampiran dengan mereka dan terjauh dari gangguan setan.
Saya mengakhiri tulisan ini dengan kesimpulan bahwa Allah tidak perlu cari karena Dia tidak pernah hilang, yang dilakukan adalah mencari orang yang sudah bersama-Nya, maka orang tersebut yang akan menuntun kita kepada-Nya sebagai mana firman Allah dalam hadist Qudsi : “Jadikanlah dirimu beserta dengan Allah, Jika engkau belum bisa beserta dengan Allah maka jadikanlah dirimu beserta dengan orang yang telah beserta dengan Allah, maka dialah yang mengantarkan dirimu kepada Allah”
Semoga tulisan di hari Jum’at penuh berkah ini bermanfaat hendaknya, amin ya Rabbal ‘Alamin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar