Laman

Kamis, 27 November 2014

Tidak Ada Perantara Antara Manusia dengan Allah


Dalam hadist Qudsi Allah berfirman, “Jadikanlah dirimu beserta dengan Allah…”, ini perintah Allah yang utama. Setiap manusia berusaha dengan segenap kemampuannya, dengan ikhtiar ibadahnya untuk bisa senantiasa selalu beserta atau bersama dengan Allah. Karena tidak semua manusia mengetahui rahasia untuk berhubungan dengan Allah maka Allah memberikan rumus, “Jika engkau belum bisa berhubungan dengan Allah maka adakanlah dirimu beserta dengan orang yang beserta dengan Allah, maka dialah yang mengantarkan dirimu kepada Allah”. Dari hadits Qudsi tersebut jelas bahwa Allah tidak menyuruh kita mengambil perantara tapi mencari orang yang bisa menuntun dan membimbing kita kepada-Nya dalam hal ini Nabi dan kemudian diteruskan oleh para Wali Allah.
Pengamal tarekat tidak pernah menjadikan Gurunya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, Guru Mursyid bertugas untuk membimbing, mengarahkan dan menuntun murid kepada jalan Allah, jalan yang sudah berulang kali di lewati oleh Sang Guru sehingga paham di mana jurang terjal dan di mana tikungan tajam sehingga para murid selamat sampai ke tempat tujuan.
Guru, Mursyid dan Wasilah
Hal yang harus kita pahami dengan baik terlebih dulu adalah perbedaan antara Guru, Mursyid dan Wasilah agar kita lebih mudah memaknai hakikat langsung hubungan dengan Allah. Kalau kita menyebut Guru berarti kita sedang membicarakan sosok manusia dalam hal ini lebih khusus kepada Guru tarekat. Gelar yang diberikan kepada Guru Tarekat bisa Syekh, Saidi Syekh, Tuan Guru, Sunan, Kanjeng, Kiayi, Abuya, Abi dan gelar lain yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat yang tujuannya adalah untuk menghargai sang Guru. Guru Tarekat dalam keseharian bisa saja berprofesi sebagai pimpinan pasantren, iman mesjid, ahli pengobatan, Guru di Universitas dan bahkan sebagai pekerja biasa. Profesi duniawi Guru tidak mempengaruhi derajat Beliau di sisi Allah. Guru sebagaimana manusia biasa memiliki sifat-sifat alamiah manusia juga seperti: sedih, sakit, tersinggung, senang, susah dan sifat-sifat alamiah manusia lainnya. Seorang murid harus memahami akan kepribadian Gurunya, karena itu dalam tarekat ada istilah Hadab/Adab atau sopan santun dari murid kepada Guru agar kasih sayang Guru bisa mengalir kepada murid-muridnya.
Mursyid adalah pembimbing rohani, ketika menyebut kata Mursyid lebih bersifat kepada rohani. Mursyid akan membimbing rohani para murid secara 24 jam dari dunia sampai ke akhirat kelak karena rohani Mursyid telah berada pada tingkatan sempurna lagi menyempurnakan.
Sama halnya dengan Nabi atau Rasul yang merupakan pangkat kerohanian, Muhammad bin Abdullah adalah manusia biasa sama seperti umumnya manusia lain yang memiliki kekurangan, mengalami sakit dan sedih sedangkan Rasulullah (rohani Muhammad) adalah suci lagi mensucikan yang terbit dari dzat dan sifat Allah, Rasulullah ini lah yang berfungsi membimbing rohani ummat menuju Allah SWT.
Dalam dunia tarekat sudah menjadi kelaziman kata Guru dan Mursyid di gabung menjadi satu karena fungsi seorang Guru Tarekat bukan hanya menuntun murid secara zahiriah dengan ilmu-ilmu agama tapi juga membimbing rohani para murid setiap saat 24 jam agar jauh dari godaan setan. Kita sering menyebut Guru Tarekat sebagai Guru Mursyid atau Syekh Mursyid.
Sedangkan Wasilah adalah pancaran cahaya Allah atau dikenal dengan Nur Muhammad yang berasal langsung dari sisi Allah. Dengan Nur inilah manusia bisa berkomunikasi dengan Allah. Manusia tidak akan mungkin bisa sampai kehadirat Allah, siapapun itu tanpa kecuali, tanpa adanya wasilah, tanpa adanya cahaya Allah tanpa adanya AL-BURAQ. Dengan Cahaya Allah itu pula seluruh Nabi/Rasul termasuk Nabi Muhammad berhubungan dengan Allah, karena Beliau diberi Wasilah berupa Nur itulah yang membuat pangkat Beliau menjadi Rasulullah, utusan Allah. Satu hal yang harus di pahami, utusan Allah itu bukanlah Muhammad bin Abdillah yang sudah wafat 14 abad yang lain, bukan sama sekali. Utusan Allah adalah Nur Muhammad, cahaya Allah yang diberikan ke dalam dada Muhammad yang telah terlebih dulu di sucikan oleh Jibril as dengan menggunakan metodologi yang berasal dari Allah. Dengan memiliki Wasilah tersebut maka Muhammad adalah sebagai pembimbing seluruh manusia saat itu untuk bisa berkomunikasi dengan Allah. Siapapun yang menggunakan metode yang persis digunakan oleh Nabi Muhammad maka dia akan mendapat hasil yang sama yaitu komunikasi yang murni dengan Allah Ta’ala.
Nabi Muhammad dengan kedudukan sebagai utusan Allah bisa diibarat sebagai Pemancar gelombang radio yang meneruskan gelombang dari pusat kemudian diteruskan keseluruh alam, sehingga radio tersebut bisa diterima oleh semua orang yang telah memiliki radio, dengan syarat radio nya hidup dan menyetel di chanel yang tepat.
Hubungan antara manusia dengan Allah dengan Wasilah ini sangat ilmiah dan tak terbantahkan, inilah sebagai sumber power bagi ummat Islam sehingga musuh-musuh Islam berusaha dengan sekuat tenaga menghancurkan hal yang Maha Penting ini, menghembuskan keraguan ke dalam kaum muslim tentang Wasilah. Kabar buruknya propaganda yang dilakukan berabad-abad untuk menghancurkan metode warisan Nabi ini (Tarekatullah) telah mulai berhasil dilakukan oleh orientalis pada abad ke-19 yang dimulai dari jantung peradaban Islam yaitu Mekkah dan Madinah, dari sanalah dimulai gerakan untuk menghancurkan ajaran tasawuf, warisan Nabi yang tak ternilai harganya.
Wasilah yang tertanam dalam dada nabi Muhammad itu kemudian diteruskan kepada sahabat, diteruskan ke generasi berikut, sampai akhir zaman. Jadi, Nabi, Rasul dan para Wali itu bukanlah Wasilah, mereka hanya sebagai pembawa wasilah yang berasal dari sisi Allah.
Ketika seorang hamba pilihan dititipkan Wasilah oleh Allah maka secara otomatis dalam dirinya bersemayam Nur Allah, apapun yang terpancar dalam dirinya berasal dari Allah swt. Pada tahap ini persis seperti yang di firmankan Allah dalam hadits Qudsi, “Apabila melihat AKU-lah matanya”, “Apabila berjalan AKU-lah kakinya” dan “Apabila bermohon niscaya KU kabulkan”. Orang yang mempunyai kedudukan seperti di atas sangat langka, tidak semua manusia yang dalam matanya ada mata Allah, di kakinya ada kaki Allah dan dalam bahasa sederhana diseluruh tubuhnya telah dipenuhi dengan cahaya Allah sehingga ketika orang memandang wajahnya adalah Allah disana. Orang yang telah mendapat wasilah ini disebut oleh Nabi, “Barang siapa memandang kepada wajah orang Alim sekali dengan pandangan yang senang, niscaya Allah menjadikan pandangan tersebut malaikat yang memintakan ampun baginya hingga hari kiamat”. Bukan hanya memandang wajah, namanya pun begitu mulia sebagaimana disebut dalam hadist, “Sebaik-baik manusia adalah yang apabila namanya disebut maka nama Allah ikut disebut”. Siapakah manusia yang namanya tidak pernah berpisah dengan nama Allah, yang menyebut namanya sama dengan menyebut nama Allah? Mareka adalah orang-orang yang diberi kedudukan mulia oleh Allah, para kekasih Allah yang hanya Allah yang mengetahui keberadaan mereka. Mereka pula yang telah begitu akrab dengan Allah bisa mengantarkan seluruh manusia dengan mudah di sisi-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar