Laman

Senin, 10 November 2014

RAHASIA KEAJAIBAN CINTA SEJATI


Abu Bakar Al-Kattani menuturkan.”Suatu ketika, kala musim haji, pernah diselenggarakan dialog yang mengupas masalah cinta di Mekah. Banyak orang-orangtua yang angkat bicara pada forum itu. Sementara Junaid Al-Baghdadi adalah orang yang paling muda di antara mereka. Mereka berkata kepadanya, ‘Sampaikan pendapatmu, wahai penduduk Irak!’
Maka Al-Junaid, anak muda itu menundukkan mukanya dan air mata menetes dari kedua matanya seraya berkata, “Orang yang jatuh cinta adalah hamba yang mengabaikan dirinya, selalu menyebut Rabb-nya, melaksanakan hak-hak-Nya, memandang-Nya dengan hati, membakar hati dengan cahaya kehendak-Nya, minumannya berasal dari bejana cinta-Nya, jika bicara dengan menyertakan Allah, jika berucap dari Allah, jika bergerak menurut perintah Allah, jika diam bersama Allah, dia dengan Allah, milik Allah dan bersama Allah.”
Mendengar itu, orang-orang tua pun ikut menangis. Mereka mengatakan, “Ini keterangan yang tidak membutuhkan tambahan lagi. Semoga Allah memberikan keperkasaan kepadamu wahai pemimpin orang-orang yang berilmu.”
Inilah cinta sejati yang sejatinya mesti dimiliki dan ditumbuh-kembangkan dalam kalbu setiap Muslim. Cinta kepada Allah, menurut kaum sufi, akan mengantarkan ruh kepada kasih sayang, ridha dan ketentraman.
Ammar bin Yasir mengatakan:
“Ya Allah, andaikan aku tahu Engkau lebih meridhai diriku terjun dari ketinggian gunung ini, niscaya aku melakukannya. Andai pula aku tahu Engkau lebih meridhai aku menenggelamkan diri ke dalam air, tentu akan aku lakukan juga. Tiada kukatakan ini, kecuali begitu kuatnya cintaku kepada Zat-Mu yang Mulia dan Indah.”
Mencintai Allah merupakan kesempurnaan cinta dan merupakan tuntutan cinta. Allah mempunyai hak untuk dicintai, yang tidak boleh ada sekutu selain-Nya dalam cinta itu. Kezaliman yang paling zalim adalah meletakkan cinta itu bukan pada tempatnya dan ada persekutuan antara Allah dengan selain Allah di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar