Laman

Selasa, 11 November 2014

Seekor Singa Bernama Christian


Bertemu dengan seseorang yang kita sayangi tentu saja menyenangkan. Apalagi jika telah lama berpisah. Sejarah kebersamaan, suka derita, yang telah beku dalam kerinduan seketika mencair. Wajarlah jika kemudian kebahagiaan tumpah dalam haru. Namun bagaimana kiranya jika yang disayangi itu bukan manusia, tapi hewan? Mungkinkah bisa terjalin ikatan emosional antara hewan dan manusia?
Saya pernah melihat adik saya menangis di tepi liang yang sedang saya gali untuk kucingnya yang tewas dilindas mobil. Saya berusaha menenangkannya dengan mengatakan yang tewas itu cuma seekor kucing. Mendengar kata ‘cuma seekor kucing’, malah ia makin sedih. Saya tak memahami kesedihan itu.
Ada fenomena lain yang baru-baru ini menggelitik pemahaman saya, dan sebelumnya pernah mengguncang dunia maya setelah videonya diunggah ke Youtube, kalau tak salah tahun 2010 (benar, saya tahunya telat sekali).
Mulanya pada tahun 1969, di London. Waktu itu ada seekor anak singa dipajang toko Harrod untuk dijual. Ia terlihat murung dalam kurungan sempit. Mendapati pemandangan itu, John Rendall dan Anthony Bourke prihatin. Mereka memutuskan untuk membeli anak singa itu lalu memberinya nama Christian.
Sejak tinggal bersama Rendall dan Bourke di ruangan apartemen yang tentunya lebih lapang daripada kurungan toko Harrod, Christian mulai lincah bermain-main. Watak bangsa kucing (felidae) memang tak jauh beda, mau yang jenisnya kecil (genus felis, diantaranya kucing rumahan, macan akar, dsb) maupun yang nyaris sebesar lembu (genus panthera, meliputi harimau, singa, leopard, dan jaguar). Rendall dan Bourke juga mengajak Christian kalau mereka pergi ke resto, pantai, bahkan sekedar jalan-jalan sore di kota London dengan sedan Bentley atap terbuka. Christian telah menjadi singa kota.
Christian jalan-jalan di kota London
Bulan demi bulan, Christian berangsur-angsur tumbuh besar. Cukup besar sampai Rendal dan Bourke mempertimbangkan kembali niat mereka untuk mempertahankannya di London. Akhirnya mereka meminta bantuan George Adamson, seorang pegiat konservasi singa di Kenya, untuk memperkenalkan kembali Christian ke habitat aslinya di savana Afrika.
George Adamson, pegiat konservasi singa di Kenya
Christian lahir di kebun binatang. Seumur hidupnya belum pernah melihat Afrika. Tak mudah bagi Adamson untuk melatih seekor singa kota agar bisa bertahan hidup di alam liar Afrika. Namun ia tak menyerah. Setahun kemudian, Adamson mengirimkan kabar baik ke London. Christian telah berhasil beradaptasi di habitat aslinya. Sebagaimana singa yang merupakan satu-satunya jenis kucing yang memiliki struktur sosial, Christian membangun keluarga bersama dua singa betina. Bahkan mereka telah memiliki anak, dan telah sembilan bulan tidak pulang ke pusat konservasi. Artinya Christian telah mandiri dari pengawasan Adamson.
Mendengar kabar demikian, Rendall dan Bourke mengutarakan keinginannya untuk mengunjungi Kenya. Mereka ingin melakukan pertemuan terakhir dengan Christian, katakanlah perpisahan. Adamson memperingatkan bahwa Christian telah menjadi singa liar. Buas. Mungkin Christian tidak mengenali mereka lagi. Menemuinya bisa berakibat fatal. Namun Rendal dan Bourke bersikeras. Dengan tekad bulat, mereka terbang ke Kenya.
Pada malam sebelum kedatangan Rendall dan Bourke, Christian tiba-tiba pulang ke pusat konservasi membawa serta keluarganya. Menurut Adamson, Christian menunggu kedatangan Rendall dan Bourke. Adamson dan isterinya Joy memang sering bercerita bahwa singa memiliki kemampuan telepatis untuk berkomunikasi dengan manusia. Kepada Daily Mail ia menuturkan bahwa suatu hari nanti sains akan membuktikan itu.
Esoknya, Rendall dan Bourke bertemu dengan Christian tak jauh dari pusat konservasi. Mulanya Christian hanya menatap mereka lekat-lekat. Rendall memanggilnya. Christian mendekat ragu-ragu. Sampai ia yakin bahwa itu tuan yang dahulu membesarkannya di London, Christian berlari. Ia memeluk Rendall, memeluk Bourke, sebagaimana bertemunya sahabat yang telah lama berpisah. Semua yang hadir saat itu terharu.
Reuni Rendall dan Bourke dengan Christian di Kenya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar