Laman

Selasa, 23 Desember 2014

awal beragama makrifat

Gak usah dibaca!!! Rahasia ini!!! Awas jalan masih licin
Khusus untuk orang orang yang paham!!!
Kenapa awal beragama makrifat kepada Allah, karena jika tidak
mengenal Allah maka tidak mungkin manusia bisa menyembah-Nya
dan tidak mungkin bisa mencintai-Nya. Maka sangat penting bagi
seluruh manusia untuk mencapai tahap makrifat agar ibadah-ibadah
yang dilakukannya tidak sia-sia.
Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk mengorbankan anaknya lewat
mimpi, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya.
Kenapa Ibrahim melaksanakan perintah yang “aneh” tersebut karena dia sangat yakin yang memerintahkan adalah Allah. Kenapa sangat yakin yang datang dalam mimpinya adalah Allah, karena Nabi Ibrahim telah mencapai tahap makrifatullah, mengenal Dzat Allah SWT. Akal tidak mampu menguraikan tentang wujud Allah yang datang dalam mimpi Ibrahim, tasawuf dengan mudah menguraikannya. Uraian tentang makrifat dan pengalaman-pengalaman tentang makrifat hanya bisa dipahami oleh orang yang telah berada di alam makrifat pula.
Makrifat tidak di dapat lewat perenungan, lewat kajian-kajian atau
bacaan-bacaan. Ribuan buku tasawuf dan keterangan tidak akan membawa seseorang mencapai makrifat. Al-Ghazali berkata, “Alat seorang sufi mendapatkan makrifat adalah qalbu, bukan panca indera atau akal. Pengetahuan yang diperoleh qalbu lebih benar daripada pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Jalan untuk memperoleh kebenaran adalah tasawuf (makrifat bukan filsafat)”. Al-Ghazali memaknai makrifat sebagai Memandang Wajah Allah .
Pasal kebenaran
Dia Allah terzahir dalam bentuk Aku muhammad (dirimu sendiri) – Salik. Oleh itu memahami Aku sendiri adalah memahami Allah.
Dia-lah Yang mengetahui & Yang Diketahui. Aku Kenal Allah Dengan Allah.
Dan Dia dalam Nafs kamu...dan kamu tidak nampak Dia.
Hadith Rasul :-
Siapa yan melihat saya nampaklah Allah
Dia sekarang saperti Dia dahulu juga
Allah ada dan tiada sekutu dengan Dia.
Bagaimana ada sekutu dengan Dia sedangkan dahulu, sekrang dan akan datang adalah satu sahaja padanya.
Ruh “ yang tidak dijadikan “ ialah Hakikat Muhammad ( Wahdah ) Dibawah
daripada itu ialah Hakikat – i – Insani ( Wahidiyyat ) yaitu Ruh “ yang
dijadikan” bergelar SIRR.
Semua ruh adalah bayangan dari Ruh itu ( Hakikat Muhammad ) . Itulah “
Ruh Yang Dihembuskan / Ditiupkan “
Firman Allah :-
Aku hembuskan padanya ( Adam ) Ruhku
Aku jadikan dia dengan kedua TanganKu ( Sifat Jalal & Jamal )
Kemana sahaja kamu menghadap disitu nampak Wajah Allah
Ruh ialah PEMBATASAN / HAD saperti badan adalah pembatasan Ruh.
Perkaitannya saperti air dan buih. Pada peringkat pertama ia bergelar Ruh
– Al- Quddus yaitu Hakikat –i – Muhammadi.
Ruh bukan didalam atau diluar badan dan tidak juga lekat pada badan. Ruh
bukan tidak diluar badan dan bukan tidak didalam badan, bukan terlekat
dan bukan pula tidak terlekat pada badan.
Ruh pada aspek luarnya adalah mendengar pada satu tempat, bercakap
pada satu tempat yang lain dan ditempat yang lain pula melihat. Semua ini
adalah satu yang mempunyai nama nama yang berlainan.
NUR ( cahaya ) MUHAMMAD ada dua jenis :-
Pertama BATIN – yaitu dalam peringkat ILMU dinamakan Hakikat
Muhammad dan tidak dizahirkan.
Aku dari Allah dan seluruh Alam adalah cahayaku
Ianya adalah keadaan Pencipta itu sendiri.
Al-Maidah ayat 35,
“Dan carilah jalan untuk merapatkan diri (wasilah) dengan kerinduan (dzauq) kepada-Nya”
Ayat al maidah diatas adalah ayat yang menerangken tentang mahabbah kerana kerinduan tiada akan ada kecuali jika ada mahhabbah ( cinta ) dihatinya.
Ayat dalam surat al kahfi ayat 54 tentang kebodohan manusia.
Sesungguhnya kami menjelasken (berulang ulang) didalam alquran ini bagi manusia macam macam perumpamaan. Dan adalah manusia sesuatu (makhluk) yang paling banyak membantahnya.
Kesimpulannya makrifat itu hanya dapat dipahami dengan ketaatan ,cinta dan kasih sayang saja maksudnya kita merasakan bahwa segala hal yang kita perbuat ini adalah perbuatan nurnya semata mata sedangken kita tidak memiliki daya apapun kecuali dengan kehendaknya.
Firman allah
Sesungguhnya aku mengikuti prasangka hamba hambaku
Hadistnya
Inna aqmalu binniat
Sesungguhnya segala amal itu bergantung niatnya
Firman allah
Sesungguhnya allah maha mendengar lagi mengetahui isi hati.
“Setiap orang terikat (bertanggung jawab atas apa yg dilakuannya .” (QS. St-Thur: 21)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar