Laman

Rabu, 17 Juni 2015

Allah Hilang Dari Rumah Jiwa

Allah Hilang Dari Rumah Jiwa
Dalam pergumulan jiwa kita sehari-hari diakui atau tidak sering kali terjadi perselingkuhan spiritual. Yang paling sederhana dari perselingkuhan itu ketika kita sedang menutupi jiwa kita dari Allah, berakhir dengan tindakan kita: melanggar aturan Allah.
Begitu kita langgar “janji cinta” antara kita dengan Allah, Kemahacemburuan Allah telah mengoyak jiwa kita tanpa kita sadari sudah begitu lama kita berpaling dari Allah. Bahkan Allah hanya kita jadikan alibi sehari-hari, kita jadikan alasan-alasan kegagalan, kalau perlu nama Allah kita jualbelikan dalam pasar kebudayaan dan politik, atau kepentingan nafsu lainnya.
Lalu, Allah kita bikin tarik ulur dalam qalbu kita. terkadang Allah begitu jauh, terkadang begitu dekat, terkadang hadir, terkadang hilang, terkadang pula kita hempaskan ke hamparan hawa nafsu kita. Seakan-akan kita ini memiliki kekuasaan untuk mengatur segalanya, bahkan termasuk mengatur Allah dalam gerak-gerik jiwa kita, khayalan dan persepsi kita. Bahkan Nama Allah sering kita sebut hanya untuk diketahui public bahwa kita akrab dengan Allah, kita ahli dzikir, kita sering munajat pada Allah. Padahal hanya kebusukan jiwa kita yang mendorong demikian. Seperti seseorang yang berteriak, “Saya lakukan ini Lillahi Ta’ala,…! Saya ikhlas, lho,… ini demi Allah!”, sadar atau tidak ia menikmati riya’ jiwanya, agar disebut sebagai orang yang ikhlas. Dan inilah yang memang dimaui oleh masyarakat syetan. Perselingkuhan hebat.
Hadirnya syetan, keakraban Iblis, dan gejolak-gejolak nafsu, sebanding (pada saat yang sama) dengan “hilang”nya Allah dari gravitasi jiwa kita, dari denyut nadi dan jantung kita, dari gerak-gerik hati kita. Itulah tercerabutnya iman kita kepadaNya, ketika Allah sengaja kita abaikan. Begitu kita sadar, ternyata sedang berada di tengah kubang lumpur yang memuakkan.
Allah memang “hilang” dalam kemunafikkan kita. Allah juga hilang dalam kefasikan kita. Allah tidak hadir dalam kedzalimam jiwa kita. Allah begitu terlantarkan ketika hawa nafsu kita menyeret ke lembah kehinaan kita. Allah, bahkan tidak diakui dalam lembah-lembah kekafiran. Allah, begitu sebanding dengan berhala-hala duniawi, berhala-berhala ambisi kita, berhala-berhala harta kita, berhala pesona kemolekan, dan itu begitu jelas ketika kemusyrikan membuka pintunya lebar-lebar. Na’udzubillah min dzaalik.
Kemunafikan dan kefasikan itu hadir dalam pergumulan hidup kita sehari-hari, dalam hubungan sosial, hubungan keluarga, hubungan bisnis dan politik, hubungan-hubungan interaktif kejiwaan kita antar sesama. Bahkan kita juga diam-diam ada yang menikmati Kemunafikan dan kefasikan itu, sebagai “tandingan” Tuhan dalam dirinya. Lalu dengan begitu mudah Allah dijadikan bemper. “Kita gagal, memang sudah takdir Allah…”. Tetapi kalau sukses, “Wah ini berkat kerja keras kita semua, ini berkat kreativitas saya dan ide saya…” lalu Allah dimana? Kenapa keakuan bisa menghapus Allah? Apakah keakuan lebih besar dari pada Allah?
Hari-hari ini memang hawa nafsu sedang menjadi mendung di atas langit-langit anda. Mendung itu sesungguhnya adalah awan penghinaan Allah pada makhlukNya, dan hanya mereka yang selalu menghadirkan Allah dalam qalbunya, yang terlindung dari penghinaan itu. Banyak orang-orang yang sedang strees, dan ketika nejalani tekanan hidupnya , mereka tidak kembali kepada Allah. Sangat terasa sekali betapa atmosgir Ridlo Allah tertutup oleh kepentingan ego masing-masing. Kemudian, tentu saja, seseorang kehilangan rasa ridlonya terhadap apa yang telah ditentukan Allah.
Hari-hari ini, betapa sempitnya dada orang, ketika rasa syukur saja telah hilang dari lembah jiwanya. Apalagi mengembangkan senyum bunga di hatinya. Mereka lebih senang memuja egonya dari pada memuja Allah atas-nikmat-nikmatNya. Padahal Allah dengan segala CintaNya tak henti-hentinya memanggil, “Ingatlah kepadaKu, niscaya Aku ingat kepadamu…..Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah mengingkari diri-Ku…”
Hari-hari ini betapa banyak orang yang kelaparan dalam kegersangan dalam kegersangan arus kehidupan modern. Jiwanya lapar, karena qalbunya tak pernah ditegukkan air dahaga yang menyejukkan, tidak pernah disuapi dengan suapan-suapan dzikrullah, syukur, tawakkal, dan qana’ah. Lalu dimana-mana berkembang virus yang sangat menakutkan: Penyakit jiwa yang merubah sosok-sosok kehidupan seperti binatang.
Hari-hari ini begitu banyak orang memburu kemuliaan, kebesaran, derajat-derajat, tetapi mereka lupa bahwa yang mereka tapaki adalah bukit-bukit kegersangan yang fana. Fatamorgana itu merasuki cita-cita, hasrat dan mimpi-mimpi. Bahwa gundukan tanah tinggi itu, sesungguhnya adalah gundukkan dari lobang-lobang kuburan kefanaanya, keruntuhan dan kehinaannya. Lalu Ibnu Athaillah as-Sakandary mengingatkan, “Janganlah kalian mencari kemuliaan pada hamparan kehinaan yang sirna. Carilah kemuliaan pada hamparan yang abadi, tak pernah fana dan sirna…”. Dan tak ada keabadian yang menjadi harapan kita semua, melainkan Allah yang hadir dalam kebersamaan kita.
Fafirruu Ilallah (kembalilah kepada Allah)! Sebagaimana ketika Rasululah, Muhammad SAWb dipeluk oleh jibril As, di gua kefanaan Hira’, “Bacalah dengan Nama Tuhanmu…”. Lalu Rasul pun membacanya dengan Nama Tuhannya, dan nama itu tidak lain adalah Allah. Rasul membaca dengan gemuruh Allah…Allah…Allah sampai sekujur tubuh gemetar dalam kemajdzuban (ekstase Ilahiyah), tetapi justru itulah rasulullah SAW bisa menirukan apa yang dituntun Jibril As.
Apakah Allah masih terus berubah diri Anda? Sesungguhnya yang berubah itu adalah diri anda, bukan Allah. Asma’, Sifat, Af’aal, dan Dzatullah tidak berubah selamanya, sejak dahulu hingga abadi kelak, Allah tetap sebagaimana adaNya.
Apakah anda masih terus menggugat Allah menggugat janji Allah, menggugat cintanya Allah? Padahal gugatan itu adalah keresahan hawa nafsu anda, yang sangat pahit ketika menerima kebenaran Allah. Dan gugatan itu akan berhenti ketika anda sudah mampu menggugat diri anda sendiri. Sebab kesombongan intelektual anda, kesombongan moral anda, kesombongan jabatan anda, kesombongan fasilitas dan kekuasaan anda, kesombongan popularitas anda, hanyalah kotoran debu yang membungkus diri anda, lalu anda duga itu sebagai kemuliaan, padahal hakikatnya adalah kehinaan.
Apakah anda masih terus mencari Allah? Padahal Allah tidak pernah hilang, Allah tidak ghaib, Allah juga tidak pernah bergerak dari sisi anda. Hanya imajinasi liar andalah yang melemparkan diri anda dalam hijab yang gelap sehingga anda merasa kehilangan Allah.
Apakah anda juga masih menuntut sesuatu dari Allah? Ini sungguh tidak sopan, tidak etis dan tidak punya adab di depan Allah, karena anda pasti sangat mencurigai Allah, karena anda pasti tidak yakin pada Allah. Apakah modal kita, bekal kita, prestasi amal kita, sehingga kita punya hak menuntut Allah? Padahal kita tak pernah memiliki modal, tak pernah berbuat, tak pernah membuat bekal. Sebab yang menggerakkan kepatuhan, amal, taat, ibadah kita itu, Allah juga!
Apakah anda masih mencari pemenuhan hasrat itu kepada selain Allah? Sungguh, anda tak pernah punya rasa malu kepada Allah. Bagaimana bisa anda lakukan tindakan seperti itu, sedangkan Allah mencukupi anda, melindungi anda, mengijabahi doa anda, memberi nafas anda, menjalankan darah anda, dan mendetakkan jantung anda, lalu kelak Allah memeluk anda. Kenapa anda masih sempat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar