Laman

Rabu, 17 Juni 2015

Sebuah Pesan


Berkata Syekh ‘Abdul Qadir al-Jilani, jika kita berguru kepada seseorang untuk sampai kepada Alloh, maka ikutilah sarannya ini,
Hendaklah kita berwudhu dengan sempurna, pikiranmu penuh khusyuk, dan matamu jangan memandang selain dari tempat wudhu salah. Setelah itu, barulah kita bershalat. Kita membuka pintu shalat dengan wudhu yang telah kita lakukan sebelumnya, kemudian kita membuka pintu istana Alloh dengan shalat. Apabila kita menyelesaikan shalat, tanyakanlah Alloh melalui bisikan hati, tentang siapakah yang patut kita contoh sebagai pembimbing atau guru kita? Siapakah yang benar benar dapat menyampaikan ajaran Alloh kepada kita? Siapakah orang yang menjadi pilihan-Nya ? Siapakan Khalifah-Nya ? Siapakah Wakil-Nya?
Alloh Maha Pemurah, kelak pertanyaan yang serius itu akan dijawab-Nya. Tanpa ragu lagi bahwa Dia akan mendatangkan ilham kedalam hati kita. Dia akan memberikan petunjuk ke dalam diri kita, yaitu petunjuk yang paling dalam yang disebut Sirr. Alloh akan memberikan kepada kita tanda-tanda atau isyarat yang jelas. Pintu cahaya-Nya akan terbuka untuk kita. Kemudian cahaya itu akan mendorong kita ke jalan yang benar. Ingatlah, siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh mencari, pasti akan mendapatkannya, sebagaimana firman Alloh SWT :
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Ankabut:69)
Segala keputusan ada pada diri kita masing-masing, pada hati kita yang diberi cahaya kelak. Kita sendiri yang memutuskan, bukan orang yang akan kita jadikan guru. Bila hati kita telah bulat tertumpu kepada orang itu, maka mulailah berguru kepada padanya. Dialah yang menjadi pilihan Tuhan untuk kita. Jangan peduli tentang hartanya, asal-usul keturunannya, wajah dan perawakannya, cara dan aturan-aturannya, dan apa yang dikatanya. Yang terpenting adalah batin dan hatinya, dan bukan keadaan zahir yang melekat pada dirinya.
Dalam majelis atau bimbingannya, kita tidak perlu tergesa-gesa berbicara dan menarik perhatiannya, Perhatikan kearifan yang bermanfaat yang dikerjakannya terhadap Tuhan. Dia adalah pengajar dan pembimbing, bukan hanya untuk diri nya sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Dia hanya penyampai bukti-bukti Ketuhanan.
Hendaknya kita bersedia menerima apa yang Alloh akan sampaikan melalui seseorang bertindak sebagai pembimbing bagi umat. Tumpukanlah perhatian kepadanya. Jangan sekali kali melanggar perintahnya atau melampaui batas-batas yang ditentukannya. Hendaknya kita mendengar kata-katanya dengan penuh khusyuk dan tekun. Jangan sampaikan merasa ragu dan berburuk sangka pada arah bimbinganya, terhadap kata-katanya, dan terhadap perlakuannya, karena semua itu muncul dari dalam ruhaninya, Anggaplah ia lebih dari pada orang lain, dan biarkanlah dia membimbing kita menuju Alloh SWT dalam keadaan tenang dan tentram, asalkan tujuannya mestilah Alloh semata dan bukan gayrullah.
Ikutilah saran-saran ini dengan baik, semoga Alloh akan membimbing kita ke jalan yang menuju pintu-Nya
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS Al-fatihah:6)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar