Laman

Jumat, 14 Agustus 2015

Cobaan Tuhan???

Cobaan Tuhan???

Tuhan menciptakan Alam dan seluruh isinya dan kemudian Tuhan juga menciptakan hukum-hukum di alam yang disebut dengan Sunatullah. Sunatullah itu bersifat universal dan berlaku untuk semua tanpa membedakan orang per orang.
Tuhan menciptakan udara dan air sebagai sumber kehidupan, siapun yang hidup di dunia ini apakah dia beriman atau tidak, menyembah Allah atau tidak tetap bisa menikmati yang namanya air dan udara.
Tuhan menciptakan bumi, menciptakan tanah beserta hukum hukumnya, siapa yang menabur biji dia akan menuai. Kalau yang ditanam padi maka sesuai hukum Alam apabila rawat sesuai rukun dan syaratnya akan mendapatkan hasil berpuluh atau beratus kali lipat.
Siapun yang menanam, apakah dia Islam, Kristen, Yahudi atau bahkan penyembah berhala sekalipun apabila memenuhi syarat syarat yang telah ditentukan oleh Allah sebagai pencipta dan pemilik alam akan mendapatkan hasil.
Sunatullah tidak ada hubungan dengan yakin atau tidak kepada Tuhan, taat atau lalai, beriman atau kafir.
Tidak hanya hukum alam, hal hal lain juga Tuhan telah mengatur sesuai dengan aturannya.
Sebagai contoh sederhana misalnya untuk menanak beras agar bisa menjadi nasi agar bisa dimakan harus memenuhi rukun syaratnya. Hal2 yang harus dipenuhi dalam menanak nasi :
  • Ada beras, tanpa beras apa yang mau dimasak?
  • Ada wadah (periuk, belanga, dll) tanpa wadah maka beras akan berserakan tidak akan pernah bisa di masak.
  • Ada air, tanpa air maka beras akan menjadi gosong tak akan pernah menjadi nasi.
  • Ada api (listrik) tanpa ada api atau alat untuk memanaskan maka sampai kiamat beras tidak akan pernah menjadi nasi.
  • Ada ahli masak (orang yang memasak), 4 syarat telah terpenuhi (beras, wadah, air dan api) kalau tidak ada yang memasak maka beras tidak akan bisa berubah menjadi nasi.
Pertanyaannya apakah menanak nasi ada hubungan dengan akidah, keyakinan, keimanan?
Jawabannya: TIDAK?
Orang yang taat ibadah sekalipun kalau tidak paham cara menanak nasi maka sampai kiamat pun nasi itu tidak akan jadi sebaliknya orang jahat, atheis atau penyembah berhala sekalipun kalau dia mengetahui ilmu menanak nasi maka dia akan mendapatkam nasi.
Begitu juga dengan hal lain, semua ada aturan dan hukum hukumnya.
Itulah sebabnya kenapa orang orang yang ahli di dunia ini kebanyakan non muslim, karena mereka belajar, menyelidiki dengan sungguh2 tentang hukum hukum yang berlaku di alam.
Tuhan telah menciptakan manusia dengan sempurna dan memberikan manusia kemampuan untuk berfikir sehingga manusia bisa memahami hukum yang ada di alam dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Orang yang menjaga kesehatan pasti akan mendapatkan kesehatan sebaliknya orang yang tidak menjaga kesehatan akan mengalami sakit, ini tidak ada hubungan dengan ibadah.
Rasulullah SAW junjungan kita termasuk orang yang sehat sepanjang hidup bahkan Beliau hanya pernah sakit satu kali. Kenapa? Karena dalam keseharian Beliau menerapkan pola hidup sehat. Pola makan Nabi juga sehat, Beliau bersabda, “”Perut itu rumah (sumber) penyakit. Dan obatnya adalah pencegahan” dalam riwayat lain Nabi menganjurkan agar perut kita isinya dibagi menjadi 3 yaitu sepertiga makanan, sepertiga air dan sepertiga udara atau anjuran Beliau makanlah sesudah lapar dan berhentilah sebelum kenyang.
Cara makan Nabi juga ada adab atau kesopanan yang selalu diterapkan oleh Nabi setiap saat.  Pertama-tama, makan dalam keadaan bersih, setidaknya, tangan harus sudah dicuci bersih. Makanan agar jangan terlalu panas. Selanjutnya membaca basmalah. Kemudian memakan sedikit garam. Makan dengan tangan kanan dan jangan menyuap makanan dalam jumlah yang banyak ke dalam mulut. Melainkan sedikit demi sedikit dimasukkan ke dalam mulut.
Selanjutnya, harus mengunyah makanan sampai halus, jangan minum di tengah-tengah makan, duduk yang lama, mengambil makanan yang lebih dekat, jangan menatap mata, dan disunnahkan setiap kali suapan, dalam pikiran kita mengucapkan rasa syukur atas rezeki dari Allah swt.
Adab makan lainnya adalah menggunakan jari dan sebisa mungkin tidak menggunakan sendok atau garpu kecuali makanan yang mengharuskan untuk itu. Nabi juga menganjurkan melengkapi makanan dengan sayur mayur. Sebelum minum, hendaknya makan sedikit garam lagi. Selesai makan, mengelus perut dari atas ke bawah. Jika ada sisa makan pada jari, dianjurkan untuk dijilat. Dan terakhir, mencuci tangan. Siapapun yang mengikuti pola hidup sehat seperti Nabi akan bisa sehat walaupun ibadahnya kurang bahkan tidak beribadah sama sekali.
Saya pernah membaca, seorang dokter non muslim sejak umur 20 tahun sampai umur 70 tahun, selama 50 tahun tidak pernah mengalami sakit walaupun hanya sekali sementara orang yang ibadahnya sangat rajin karena tidak mengetahui ilmu bagaimana menjaga kesehatan dengan baik sering kali mengalami sakit. Sekali lagi masalah kesehatan tidak ada hubungan sama sekali dengan ibadah atau keimanan.
Sering kali kita mengatakan sebagai “cobaan Tuhan” ketika kita gagal, padahal kegagalan itu terjadi karena kita tidak mengetahui hukum-hukum yang telah ditetapkan Tuhan atau salah menerapkan hukum yang telah dibuat oleh Tuhan. Seorang Guru Sufi mengatakan, “Tuhan hanya memberikan cobaan dan ujian kepada Wali-Nya, sedangkan orang awam apa yang dialami akibat kesalahannya sendiri”. Dari pada kita fokus kepada cobaan yang belum tentu itu sebuah cobaan, lebih baik kita merenungi, memperbaiki hal-hal yang membuat kita gagal dalam segala aspek kehidupan. “Salah dulu baru Benar” begitu nasehat Guru kepada saya, nasehat itu menjadikan semangat bagi kita untuk terus belajar, belajar dan belajar dalam segala hal agar kita terus bertumbuh, berkembang menjadi manusia yang lebih sempurna.
Tulisan ini mudah-mudahan bisa menjadi renungan kita semua agar tidak dengan mudah menyalahkan Tuhan ketika kita mengalami hal-hal buruk dalam hidup atau mengalami kegagalan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar