Laman

Senin, 17 Agustus 2015

Tasawuf, Pengertian Tasawuf dan Thoriqoh


Kita ketahui di masyarakat terdapat gerakan Tasawuf dan Thoriqoh, apa sebenarnya pengertian Tasawuf dan Thoriqoh dan apa pula tujuan daripada Thoriqoh dan Tasawuf. 

Tasawuf

Tasawuf, kata Thasawuf dapat diambil dari dua arti kata, yaitu : dari kata shofwun-shofaaun-shofwatun diartikan "kejernihan, pilihan, yang  terbaik. Shofaa-yashfuu-shofwan, artinya "jernih".

Dari kata Shofwaatun-shuufiyun-shuufun, artinya: pakaian dari wol, sufi pedagang wol."(Kamus Arab-Indonesia-Inggris. Abd. bin Nuh dan Osman Bakry, Mutiara Jakarta 1964, halam 159-162).
Dari pengertian yang kedua itu, ada gerakan tasawuf yang mengharuskan pengikutnya berpakaian wol putih bersih lambang kesucian hatinya. Dan umumnya orang-orang pengikut gerakan tasawuf menggemari pakaian putih, karena Rasulullah SAW juga menyukai pakaian putih.

Setengah ahli bahasa dan riwayat pada akhir-akhir ini, ada yang berpendapat bahwa perkataan "shufi" itu bukanlah bahasa Arab, melainkan dari bahasa Yunani lama yang telah di-Arab-kan, berasal dari kata theosofie, artinya "Ilmu Ketuhanan", kemudian di-Arab-kan, kemudian diucapkan dengan lidah orang Arab sehingga berubah menjadi Tasawuf (Tasauf Modern-Hamka-1980 Jakarta, halaman 7).

Ada lagi setengah ahli yang mengambil dari nama kaum "shuffah", ialah segolongan sahabat-sahabat Nabi yang menyisihkan diri dari satu tempat terpencil di Masjid Nabi. Ada lagi yang mengambil makna dari kata "shufanah" ialah sebangsa kayu yang mersik tumbuh di padang pasar tanah Arab.

Thoriqoh

Perkataan Thoriqoh, sering ditulis Tarekat dan akhirnya menjadi bahasa Jawa Tirakat, berasal dari kata "thoriq" (Arab) artinya "Jalan". Dalam sejarah ada seorang Panglima Perang bernama Thariq bin Ziyad yang memimpin serangan ke Spanyol melalui selat yang sampai sekarang bernama "Jibral Tar", ini adalah berasal dari pengabdian nama Panglima itu.

Di dalam Al Qur'an, kita jumpai sebuah Surat bernama "Ath-Thoriq" (Surat 86). Dalam Al Qur'an dan Terjemahnya Proyek Departemen Agama. "Ath-Thaariq" diterjemahkan "yang datang pada malam hari" (ayat 1), dan dijelaskan pada ayat 3 "(yaitu) bintang yang cahayanya menembus".
Dalam "Tafsir Al-Azhar", Buya Hamka, juz xxx 1986, dalam menafsiri Surat Ath-Thariq (S.86); At-Thariq diartikan "yang mengetok" (ayat 1). Dibuatkan misal, jalan raya yang keras (beraspal) dilalui kuda atau kaki manusia "diketok". Juga seperti suara keras orang mengetok pintu supaya yang di dalam bangun. Tetapi pada ayat 3 dijelaskan "Ath-Thariq" ialah suatu bintang yang menembus.

Dapatlah diambil kesimpulan dari deretan ketiga ayat ini, bahwa di dalam cakrawala itu ada suatu bintang yang melancar dengan keras dan cepat, laksana mengetok pintu yang terkunci sehingga orang yang enak tidur jadi terbangun. Sifatnya ialah menembus. Yang ditembus adalah kegelapan malam". (halaman 100).

Kapan dan Siapa Yang Memulai Thoriqoh dan Tasawuf?

Siapa yang mula-mula mengambil inisiatif untuk mengadakan gerakan Thoriqoh, masih perlu penelitian lebih lanjut. Tetapi kalau menurut Buya Hamka dalam bukunya "Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalnya" Tahun 1973 antara lain diterangkan : "Bahwa tumbuhnya gerakan tasawuf di Indonesia bersamaan dengan masuknya Madzab (sekte-sekte dalam Islam). Tahun berapa? Dalam sejarah Islam adanya madzab-madzab, dapat diteliti menurut catatan berdirinya madzhab. Seperti Hanafi (699-767 M), Maliki (714-798 M), Syafi'i (767-854 M) dan Hambali (780-885 M).

Thoriqoh adalah bagian dari Tasawuf. Thoriqoh merupakan jalan atau cara untuk menuju pada kesucian atau keheningan hati dalam usaha makrifatullah (mengenal Allah)

Pertanyaannya, Apakah kalau orang tidak masuk Thoriqoh, ibadahnya dianggap belum sempurna?
Untuk menentukan suatu ibadah itu sempurna atau tidak, diterima atau tidak diterima oleh Allah SWT, itu sepenuhnya menjadi wewenang Allah SWT sendiri. Berdasarkan Al Qur'an dan As Sunnah, dapat disimpulkan bahwa setidaknya ada dua syarat yang harus terpenuhi bagi ibadah yang diterima oleh Allah, dua syarat tersebut yaitu :
Pertama, Ikhlas. Maksudnya bahwa ibadah itu harus dilakukan dengan penuh ketulusan, semata-mata mengharap dan mendambakan keridhaan Allah saja. Tidak boleh dicampuri dengan noda syirik sedikitpun. Sebagai dasar antara lain firman Allah : 
"Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dengan mengamalkan agama yang lurus". (QS. 98:5)
"Maka barangsiapa yakin akan perjumpaan (dengan) Tuhan-nya, hendaklah ia kerjakan amal shaleh dan janganlah ia menyekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhan-nya". (QS. 18:110).
Kedua, sesuai dengan syariat. Maksudnya dalam mengamalkan ibadah harus sesuai dengan tuntunan dan aturan syariat, tidak boleh menyebal dari padanya. Sebagai landasan atau dalil antara lain firman Allah : 
"Dan barangsiapa menghendaki selain Islam sebagai agama (aturan), maka tidak akan diterima (amal ibadah) dari padanya, dan di akhirat (kelak) termasuk orang-orang yang merugi".(QS, 3:85)
Nabi SAW sendiri bersabda :
"Barangsiapa mengamalkan suatu amalan (ibadah) yang tidak didasarkan atas perintah Kami, maka amalan itu akan tertolak". (HR. Muslim)

Kesimpulan

Dalam situasi makin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, memang tidak dapat dihindari percampuran pengertian dari suatu istilah, dengan pengertian atau paham lain, karena dunia ilmu pengetahuan makin terbuka, juga tidak terkecuali dalam tasawuf atau thoriqoh.

Oleh karena itu, supaya tidak kehilangan tongkat, sebaiknya kita kembali berpangkal pada sumber aslinya, bahwa seluruh ibadah dalam Islam dasarnya bersumber dari Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW, bisa saja kita mempelajari dari ajaran-ajaran lain sebagai perbandingan untuk memperluas wawasan dan pandangan hidup kita.
Yang terang, Tasawuf itu mengarah kepada kesucian dan keheningan batin atau hati. Sedangkan Thoriqoh adalah jalan atau sistem menuju ke sana, dalam rangkaian makrifatullah, untuk mengkhususkan diri dalam beribadah kepada Allah, sehingga menemukan hakikat yang kita sembah. Wallahu 'alam
Demikian,  Tasawuf, Pengertian Tasawuf dan Thoriqoh. Baca juga "Pengertian Tasawuf, Oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj ". Semoga Bermanfaat
Sumber : Asah Asuh MPA 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar