Laman

Sabtu, 15 Agustus 2015

Bai’at

lilin_kecilAbu Bakar menjadi khalifah yang pertama melalui pemilihan dalam satu pertemuan yang berlangsung pada hari kedua setelah Nabi Wafat dan sebelum jenazah beliau di makamkan. Itulah antara lain yang menyebabkan kemarahan keluarga Nabi, khususnya Fatimah, putri tunggal beliau.
Pada hari itu Umar Bin Khattab mendengar berita bahwa kelompok ansar mendengar berita sedang melangsungkan pertemuan di Saqifah atau Balai pertemuan Bani Saidah, Madinah, Untuk mengangkat Saad Bin Ubadah, seorang tokoh ansar dari suku khazraj, sebagai khalifah. Dalam keadaan gusar umat cepat cepat pergi kerumah kediaman Nabi dan menyuruh seseorang untuk menghubungi Abu Bakar, yang berada dalam rumah, dan memintanya supaya keluar. Semula Abu Bakar menolak denagan alsan sedang sibuk. Tetapi akhirnya dia keluar setelah di beritahu telah terjadi peristiwa penting yang mengharuskan kehadiran Abu Bakar.
Sampai di balai pertemuan ternyata sudah datang pula sejumlah orang Muhajirin, dan bahkan telah terjadi perdebatan sengit antara kelompok Ansar dan kelompok Muhajirin. Lalu Abu Bakar dengan nada tenang mulai berbicara. Kepada kelopok Ansar beliau mengingatkan bukan kah Nabi pernah bersabda bahwa kepemimpinan umat islam itu seyogianya berada pada tengah suku Quraisy, dan bahwa hanya pada di bawah pimpinan itulah akan terjamin keutuhan, keselamatan dan kesejahteraan bangsa Arab. Kemudian Abu Bakar menawarkan dua tokoh Quraisy untuk dipilih sebagai khalifah, Umar Bin Khattab atau Abu Ubaidah bin Jarah. Orang orang ansar tampaknya sangat terkesan oleh ucapan Abu Bakar itu, dan Umar tidak menyia nyiakan momentum yang sangat baik itu. Dia bangun dari tempat duduknya dan menuju ke tempat Abu Bakar untuk ber baiat dan menyatakan kesetiaannya kepada Abu Bakar sebagai Khalifah, seraya menyatakan bahwa bukanlah Abu Bakar yang selalu di minta oleh Nabi untuk menggantikan beliau sebagai imam shalat bilamana Nabi sakit, dan bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang paling di sayangi oleh Nabi. Gerakan Umar itu diikuti oleh Abu Ubaidah bin Jarah. Tetapi sebelum kedua tokoh Quraisy itu tiba di depan Abu Bakar dan mengucapkan baiat, Basyir bin Saad, seorang tokoh Ansar dari suku Khazraj, mendahului mengucapkan baiatnya kepada Abu Bakar. Barulah kemudian Umar dan Abu Ubaidah serta para hadirin, baik dari kelompok Muhajirin maupun kelompok Ansar dari Aus. Baiat terbats ini kemudian terkenal dala sejarah Islam dengan nama Bai’at Saqifah atau baiat di balai pertemuan. Para sahabat senior tersebut kemudian seorang demi seorang, kecuali Zubair, dengan sukarela berbaiat kepada Abu Bakar. Zubair memerlukan tekanan dari Umar agar bersedia berbaiat. Adapun Ali bin Abu Thalib, menurut banyak ahli sejarah baru berbaiat kepada Abu Bakar setelah Fatimah, istri Ali, dan putri tunggal Nabi wafat 6 bulan kemudian. (Helmi Dakwah)
Abu Bakar di pilih oleh sahabat dan ummat zaman tersebut sebagai pemimpin berdasarkan petunjuk dari Nabi baik berupa ucapan maupun kepercayaan yang diberikan Nabi kepada Abu Bakar sehingga menjadikan beliau sebagai sahabat yang paling utama. Setelah Abu Bakar wafat, para sahabat berbai’at kepada Umar bin Khattab, kemudian Usman bin Affan dan kemudian Ali bin Abi Thalib, mareka 4 orang dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin.
Secara sederhana, arti bai’at itu adalah janji atau sumpah setia. Ibnu Khaldun di dalam kitabnya, Al Muqadimah, mengatakan, bahwa “Bai’at ialah janji untuk taat. Seakan-akan orang yang berbai’at itu berjanji kepada pemimpinnya untuk menyerahkan kepadanya segala kebijaksanaan tentang urusan dirinya dan urusan kaum muslimin, sedikitpun tanpa menentangnya; serta taat kepada perintah pimpinan yang dibebankan kepadanya, suka maupun tidak.”
Sebagaimana pula tercatat dalam sejarah Islam, adanya bai’at Aqabah pertama, dimana terjadi bai’at antara Nabi Muhammad dengan 12 orang dari Yatsrib yang kemudian mereka memeluk Islam. Bai’at ‘Aqabah ini terjadi pada tahun kedua belas kenabiannya. Kemudian mereka berbaiat (bersumpah setia) kepada Muhammad. Isi baiat itu ada tiga perkara, yaitu: Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, Melaksanakan apa yang Allah perintahkan, Meninggalkan apa yang Allah larang.
Jadi Bai’at atau sumpah setia itu merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman Nabi, sebagaimana hadist ini :
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a, ia berkata, “Dahulu kami berbai’at pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar (menerima perintah) dan taat pada pemimpin kaum muslimin. Beliau bersabda pada kami, “Hendaklah engkau taat semampu engkau.” (HR. Bukhari)
Secara khusus dalam ilmu tarekat, Bai’at bisa bermakna pelantikan, peresmian, penobatan (tahbis) seorang yang memiliki keseriusan dalam menempuh jalan pengetahuan (makrifat) Allah melalui seorang Mursyid yang diyakini memiliki hubungan khusus secara jasmani dan ruhani kepada Rasulullah Saw. Bai’at, talqin, pemberian ijazah atau inisiasi spiritual dikaitkan dengan peristiwa Bai’atur Ridwan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat. Ketika itu para sahabat menyatakan janji setia dalam kondisi apapun untuk mengabdi kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) (Q.S Al-Fath, 18)
Bai’at atau sumpah setia dari murid kepada Guru Mursyid bermakna bahwa dia akan melaksanakan apa yang diperintahkan Gurunya dan meninggalkan apa yang diarang oleh Gurunya dengan ikhlas hati. Ini memerlukan proses yang panjang, bukan serta merta. Tidak mungkin sumpah setia berlaku pada level “murid-murid-an”, pada level coba-coba, juga tidak berlaku pada murid yang tidak mengerjakan hal paling sederhana seperti ibadah wajib dan sunnat, termasuk zikir yang diamanahkan Guru kepadanya. Sumpah Setia merupakan kepasrahan dan keikhlasan, bukan keterpaksaan.
Guru saya pernah berkata bahwa bai’at itu hanya berlaku untuk murid yang sudah “jadi”, murid yang telah mengetahui hakikat dari Guru Mursyid, sebelum sampai kesana tidak ada janji apa-apa. Dari sekian banyak murid, hanya sedikit yang bisa memahami hakikat Guru dan dari sedikit itu pula yang dengan ikhlas menyatakan kesetiaan kepada Guru secara zahir dan bathin.
sMoga kita semua menjadi murid yang taat kepada Guru, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, amin ya Rabbal ‘Alamin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar