Laman

Sabtu, 07 Mei 2016

Tuhan Melihat Hatimu


Pada suatu hari, Hasan Al-Basri pergi mengunjungi Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu salatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak melafalkan bacaan salatnya dengan keliru. Oleh karena itu, Hasan memutuskan untuk tidak salat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya untuk salat bersama orang yang tak boleh mengucapkan bacaan salat dengan benar. Di malam harinya, Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Tuhan berbicara kepadanya, “Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan salatmu, kau akan memperoleh keridaan-Ku, dan salat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh salat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan salatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna
Di zaman sekarang ini sulit sekali kita menemukan orang yang benar-benar mempunyai kriteria dekat kepada Tuhan, sering kali mata kita tertipu oleh penampilan zahir. Orang dekat dengan Allah itu adalah para Aulia-Nya, para kekasih-Nya yang beribadah semata-mata untuk mencari keridhaan Allah, dan menuntun orang-orang menuju kehadirat Allah. Seorang wali Allah dalam kehidupan sehari-hari bisa saja ber profesi sebagai seorang pedagang, ulama, guru sekolah, dan lain-lain. Hanya orang yang diberi petunjuk oleh Allah yang bisa berjumpa dengan wali-Nya.
Mempunyai bacaan benar (tajwid) yang sempurna memang salah satu syarat sah seseorang menjadi imam dalam shalat, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana hati nya bisa terus menerus bersama Allah selama dalam shalat. Ini hal yang sangat pokok, karena seorang imam akan mempertanggung jawab kan amalan makmum nya di hadapan Allah SWT. Kalau imam sepanjang shalat mengingat wanita-wanita cantik, mengenang harta, dan sejuta persoalan hidup, apakah pantas dijadikan sebagai imam?
Saya jadi teringat kisah Imam Al-Ghazali yang menjadi imam dalam shalat Ashar disebuah mesjid, Beliau baru saja mengajarkan hukum thaharah bagi wanita yang haid. Tanpa disadari pikiran Beliau saat shalat teringat kepada wanita yang sedang haid. Salah seorang yag menjadi makmum adalah adik kandung imam al-Ghazali. Setelah selesai shalat adik imam Al-Gazali menegur, “kenapa abang di rakaat kedua mengingat wanita yang lagi haid?” Imam Al-Ghazali sangat terkejut, selaku orang yang sangat ahli dalam hukum Islam telah hapal Al-Qur’an dan ribuan hadist, telah berpuluh tahun menjadi imam baru sekarang mengetahui kekeliruannya selama ini. Beliau berkata kepada adiknya, “Tajam sekali mata hati mu, mulai saat ini aku berguru kepada mu”
Imam Al-Ghazali yang terkenal akan ilmu syariatnya, harus belajar lagi kepada adiknya yang ahli tasawuf bagaimana menjadi seorang Imam yang sah, lalu bagaimana dengan imam-imam zaman sekarang yang hanya mengandalkan kefasihannya?
Bacaan tetap lah bacaan, hapalan tetap lah hapalan yang tersimpan dalam otak yang mempunyai dimensi rendah, seorang hamba baca tetaplah akan menjadi hamba baca kalau pengetahuannya tidak di upgrade. Semoga tulisan ini menyadarkan kita semua, setelah kita fasih mengalunkan ayat Al-Qur’an tiba saatnya untuk men-fasih-kan hati dalam mengingat-Nya. Bagaimana caranya?
“Bertanyalah kepada Ahli Zikir bila kamu tidak tahu” (An-Nahl, 43)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar