Laman

Minggu, 10 Juli 2016

Yang Dikatakan Rumah Allah


Tujuan besar kita menunaikan fardhu haji, adalah bertujuan untuk sampai kerumah Allah (Baitullah).
Tujuan besar kita menghadapkan hati kita kepada Kiblat, adalah bertujuan supaya tertuju kepada rumah Allah (Baitullah).
Barang siapa yang berjaya sampai kerumah Allah, akan bersih dosanya, suci putih hatinya dan terampun dosanya menjadi seperti bayi yang baru lahir.
Sayangnya tahukah kita dimana Rumah Allah?. Apakah rumah Allah itu diperbuat dari batu?. Apakah rumah Allah pernah terbakar?.. Apakah batu Hajaratul Aswat dirumah Allah itu pernah dicuri berpuloh tahun oleh tentera Rom?. Apakah rumah Allah pernah dilanda banjir. Apakah rumah Allah itu pernah runtuh. Apakah rumah Allah itu, harus ada kelambu. Orang buat rumah, mereka mendiami rumahnya, apakah Allah membuat rumah tidak didiamiNya?.
Ya Allah ya Tuhan ku, apakah ertinya semua ini?. Tidak Engkau menjaga rumah Mu sendiri, ya Allah?. Sehingga makhluk manusia yang menjaganya?. Manusia buat rumah tetapi menjaganya sendiri, apakah Engkau yang Maha Berkuasa, tidak menjaga rumah Mu ya Allah?.
Perkara-perkara ini atau elemen-elemen ini semua, adalah menjadi satu bahan bukti kepada ita yang mahu berfikir, dimanakah sebenarnya rumah Mu ya Allah?.
Ada pula terdapat dalam ayat suci Al-Quraan yang mengatakan bahawa ” Qalbu Mukmin Baitullah”. Qalbu mukminlah sebenar-benar rumah Mu. Yang mana satukah rumah mu yang sebenar ya Allah?
Apakah Baitullah itu ? Baitullah itu artinya adalah rumah ALLAH. Di manakah Baitullah yang kita kenal … ? Baitullah yang kita kenal itu adalah Ka’bah, yang ada di mesjidil Haram. Kalau begitu artinya, Baitullah itu jauh. Bukankah ALLAH mengatakan dalam Al-Quran, bahwa ALLAH itu dekat, bahkan lebih dekat kepadamu dari pada urat lehermu,…….. tapi kenapa mengatakan bahwa rumah-NYA jauh.. ? Kalau ALLAH dekat kepadamu melebihi dekatnya urat lehermu, harusnya rumah-NYA pun dekat bersamamu. Bagaimana menurutmu..?
ALLAH telah berfirman dalam hadits qudsi,
“Qalbul mukmin Baitullah.”
“Qalbu orang yang beriman itu adalah rumah ALLAH.”
“Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali “Hati” hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang“
(HR Abu Dawud ).
Berarti rumah ALLAH itu ada dua. Ada yang jauh dan ada yang dekat. Ada yang simbolik dan ada yang sebenarnya. Ada yang syariat dan ada yang hakikat. Kita akan merasakan betapa nikmatnya berkunjung ke Baitullah yang di Makkah, apabila kita telah dapat berkunjung ke Baitullah yang sebenarnya yang ada pada diri kita. Kita akan merasakan nikmatnya berkunjung ke Baitullah yang Syari’at apabila telah pernah berkunjung ke Baitullah yang hakikat.
Dan adalah sebuah karunia yang besar bila kita dimampukan oleh Allah untuk dapat berkunjung kepada kedua Rumah Allah tersebut. Sinergi antara dua baitullah inilah yang insya Allah nantinya akan menciptakan sebuah Energi Resultante berupa Lompatan Quantum Energi SULTHONAN NASHIROH yang sangat besar. Keseimbangan yang harmonis antara energi makrokosmos dengan energi mikrokosmos ini akan membuat Seimbang antara kehidupan duniawi dan ukhrowi kita. Sedangkan energi Resultantnya akan memberikan kekuatan yang di sebut “ENERGI SULTHONAN NASHIROH” yang akan memampukan kita untuk menembus batasan-batasan langit yang selama ini membatasi jangkauan pandangan bathiniah kita. Terbukalah sebuah cakrawala baru yang lebih indah dan luas terbentang di depan mata bathin kita, yang akan mengantarkan kita untuk lebih mudah dalam mencapai kesuksesan abadi yaitu sukses di dunia dan sukses di akhirat.
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”( QS. Ar Rahmaan : 33 )
وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَاناً نَّصِيراً
“Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong (سُلْطَاناً نَّصِيراً)“( QS. Al Israa’ : 80)
Diriwayatkan oleh Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi bahwa suatu hari ketika Syaikh Abu Yazid al-Busthami sedang dalam perjalanan menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji, beliau mengunjungi seorang sufi di Bashrah. Secara langsung dan tanpa basa-basi, sufi itu menyambut kedatangan beliau dengan sebuah pertanyaan: “Apa yang anda inginkan hai Abu Yazid?”.
Syaikh Abu Yazid pun segera menjelaskan: “Aku hanya mampir sejenak, karena aku ingin menunaikan ibadah haji ke Makkah”.
“Cukupkah bekalmu untuk perjalanan ini?” tanya sang sufi.
“Cukup” jawab Syaikh Abu Yazid.
“Ada berapa?” sang sufi bertanya lagi.
“200 dirham” jawab Syaikh Abu Yazid.
Sang sufi itu kemudian dengan serius menyarankan kepada Syaikh Abu Yazid: “Berikan saja uang itu kepadaku, dan bertawaflah di sekeliling hatiku sebanyak tujuh kali”.
Ternyata Syaikh Abu Yazid masih saja tenang, bahkan patuh dan menyerahkan 200 dirham itu kepada sang sufi tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Selanjutnya sang sufi itu mengungkapkan: “Wahai Abu Yazid, hatiku adalah rumah Allah, dan ka’bah juga rumah Allah. Hanya saja perbedaan antara ka’bah dan hatiku adalah, bahwasanya Allah tidak pernah memasuki ka’bah semenjak didirikannya, sedangkan Ia tidak pernah keluar dari hatiku sejak dibangun oleh-Nya”.
Syaikh Abu Yazid hanya menundukkan kepala, dan sang sufi itupun mengembalikan uang itu kepada beliau dan berkata: “Sudahlah, lanjutkan saja perjalanan muliamu menuju ka’bah” perintahnya.
Syaikh Abu Yazid al-Busthami adalah seorang wali agung yang sangat tidak asing lagi di hati para penimba ilmu tasawuf, khususnya tasawuf falsafi. Beliau wafat sekitar tahun 261 H. Sedangkan Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi (yang meriwayatkan kisah di atas) adalah juga seorang wali besar (wafat tahun 645 H.) yang telah banyak menganugerahkan inspirasi dan motivasi spiritual kepada seorang wali hebat sekaliber Syaikh Jalaluddin ar-Rumi, penggagas Tarekat Maulawiyah (wafat tahun 672 H.).
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar