Laman

Senin, 01 September 2014

Manfaat Keutamaan Istighfar


Manfaat istighfar bagi kita umat islam adalah begitu banyak. Karena kita sebagai manusia tentunya tak akan terlepas dari berbuat salah dan khilaf dalam kehidupan kita sehari-hari. Di dalam kelemahan manusia dalam berbuat dosa maka sebaik-baik manusia yang berbuat dosa adalah dengan bersegera memohon ampun atas dosa yang telah dilakukannya. Istighfar merupakan salah satu jalan untuk memohon ampunan-Nya. Istighfar mempunyai kedudukan yang tinggi dalam diri seorang hamba. Karena memang banyak hikmah keutamaan istighfar itu sendiri di dalam agama kita ini.
Dan diantara banyak dzikir yang diamalkan kita sebagai hamba Allah, salah satunya adalah dengan beristighfar. Dan untuk itulah maka dianjurkan untuk diperbanyak dan dikerjakan secara rutin adalah istighfar. Istighfar adalah meminta ampunan kepada Allah dengan mengucapkan doa atau dzikir yang menunjukkan pengakuan atas dosa yang kita perbuat, dengan harapan Allah akan memaafkan dan mengampuni dosa tersebut. Inilah yang dimaksud dengan pengertian istighfar.
Bacaan Istighfar berbunyi "Astaghfirullah" atau lengkapnya "Astaghfirullahhal’adhim" merupakan kalimat yang sangat pendek dan bisa di ucapkan dengan mudah. Namun demikian kalimat ini jika di baca secara rutin dalam setiap waktu dan kesempatan, terlebih setelah melaksanakan sholat akan memberikan dampak yang positif dan manfaat yang besar bagi si pelakunya.
Manfaat Keutamaan Hikmah Istighfar
Istighfar (memohon ampun) atas segala dosa dan kesalahan-kesalahan kita. Memperbanyak istighfar ketika kita telah berbuat dosa. Seorang muslim bila telah berbuat dosa dan aniaya, maka ia memohon ampun (beristighfar) kepada Allah. Ini merupakan solusi luar biasa saat seorang hamba terjerumus dalam dosa. Bila ia hamba yang bertakwa, ia akan selalu terbayang oleh dosanya, hingga dosa yang dilakukan tadi justeru berdampak positif terhadapnya di kemudian hari.
Berikut adalah salah satu dari keutamaan istighfar adalah seperti yang tersurat dalam sebuah hadist Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Sallam yang artinya adalah :"Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar niscaya Allah akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kegundahan yang menderanya, jalan keluar dari segala kesempitan yang dihadapinya dan Allah memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka-sangka." (HR. Abu Daud no. 1518, Ibnu Majah no. 3819, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 6421 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kubra no. 10665). Inilah dalil mengenai manfaat dan juga hikmah ketika kita senantiasa berdzikir dan juga beristighfar kepada Allah Ta'ala.
Istighfar mempunyai banyak faedah baik didunia maupun diakhirat kelak, faedah tersebut ada yang memang langsung dapat kita rasakan dan ada juga yang diakhirkan oleh Allah SWT sampai hari kiamat.
Berikut adalah beberapa faedah manfaat serta hikmah di balik istighfar yaitu :
Akan dihapus kejelekannya dan diangkat derajatnya. Allah Ta'ala berfirman : "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisa' [4]: 110).
Akan dilapangkan rejekinya, mendapatkan ketenangan batin, harta yang halal seperti yang telah diutarakan di atas.Allah Ta'ala berfirman : "Maka, aku katakan pada mereka : "Mohon ampunlah kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai."( QS. Nuh : 10 - 12 ).
Dihapuskannya dosa dan kesalahannya. Setiap dosa meninggalkan noda hitam pada hati. Noda hitam bisa lenyap dengan melakukan istighfar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Sesungguhnya bila seorang Mukmin melakukan satu dosa, pada hatinya timbul satu noda hitam. Bila dia bertobat, berhenti dari maksiat, dan beristighfar, niscaya mengilap hatinya." (HR Ahmad).
Dimudahkannya dalam segala urusan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Barangsiapa membiasakan diri untuk beristighfar, Allah akan memberikan jalan keluar baginya dari setiap kesulitan, akan memberikan kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).
Salah satu ciri hamba-hamba Allah yang shalih dan meraih surga adalah banyak beristighfar, terlebih pada sepertiga malam yang terakhir, sebagaimana dijelaskan dalam surat Ali Imran [3]: 17 dan Adz-Dzariyat [51]: 18. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sendiri telah memberikan keteladanan dan suri tauladan kepada umatnya dengan beristighfar minimal sebanyak 70 kali dalam sehari semalam. Maka sudah selayaknya bagi kita untuk menjadikan istighfar sebagai bagian penting dalam hidup kita sehari-hari.

Ujian Zikir


Ketika kita berdzikir dengan posisi duduk menghadap qiblat dan jangan bergerak. Qolbu juga kita suarakan (dzikir) Allah… Allah… Allah… terus sampai badan kita tak merasakan apa-apa. Qolbu terus bersuara….. masukkan lagi ke kedalaman yang paling dalam, lalu suarakan lagi dzikrullah ke kedalaman yang paling dalam itu, bersuara Allah… Allah… Allah… Setelah itu dengarkan dengan qolbu-mu, samakan dengan suara qolbumu. Sampai muncul adanya getaran. Dan rasakan getaran, kehidupan Roh terasa hidup dan makin hidup, hidup yang lebih hidupi dengan hidupnya Roh yang sedang berdzikir. Dan kita bisa katakan ; Hidup Dalam Roh yang Sedang Berdzikir. Dan kita bisa lebih mengenal Roh kita lewat dzikrullah.
Mari kita perhatikan sabda Rosullulah Muhamad Saw;
لِكُلِّ شَىْءٍ صَقَالَةٌ وَصَقَالَةُ الْقَلْبِ ذِكْرُاللهِ
“Bahwasanya bagi tiap sesuatu ada alat untuk mensucikan dan alat untuk mensucikan Qolbu itu ialah Dzikrullah.”
Pintu awal memasuki alam Roh adalah lewat qolbu, kalau qolbu sudah dibersihkan dengan dzikir qolbu, maka lambat laun Roh ikut menyuarakan dzikir. Dalam fase ini prosesnya melalui ritual-ritual Khusus. Dengan mengkhususkan diri dalam menjalankan ritual, maka kebersihan qolbu akan nampak dari kebeningan dalam pemikiran, karena qolbu selalu mengumandangkan dzikir, sedangkan Roh, dalam kondisi kesuciannya, ikut melantunkan dzikir. Dzikirnya Roh mampu merontokkan hijab jiwa yang sekian lama membelenggunya yang sulit dipisahkan.
Dalam surat As-Syam ayat 9 dan 10, Allah swt berfirman:
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكَّهاَ ( 9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّهَا (10)
9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya
10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori jiwanya.
Selalu Berdzikir kepada Allah swt akan senantiasa menguatkan iman dan taqwa seseorang, sekaligus membersihkan qolbu serta Roh. Dalam perjalanan hidupnya, yang dipikirkan hanya pendekatan diri kepada Allah swt. Ilham-ilham pun sering didapatkan, menerima ilham lewat qolbu dan Roh sebagaimana firman Allah swt. Dalam surat As-Syam ayat 8:
فَاَلْهَمَهَافُجُوْرَهَاوَتَقْوَهَا (الشَّمْس 8)
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu(jalan) kefasikan dan (jalan) ketaqwaannya”(As-Syam ayat 8).
Jadi Allah swt juga masih menguji dan memberi cobaan kepada orang yang taqwa, cobaan itu berupa: kejelekan serta kehinaan. Apakah dia Oleng, goyahkah taqwanya? Atau tambah kokoh taqwanya? Sesungguhnya orang-orang yang taqwa, dia mampu mengantisipasi dan menangkal dengan kesabaran dan ketabahan hati. Dia tetap tegar dalam menghadapi segala cobaan yang menimpanya dan senantiasa mengokohkan posisi dalam kesuciannya yang tidak akan dicemari oleh siapapun. Karena Roh tetap suci. Jadi yang bisa dikotori itu adalah jiwa bagian luar, itu-pun hanya limbasan dari kotornya qolbu yang dililit pengaruh dari hawa nafsu serta keinginan yang menyesatkan

Maqam Orang Menangis


Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
Rosullullah SAW bersabda: “Siapa pun anak yang dilahirkan, kemudian diberi nama Muhammad dalam rangka mendapatkan berkah darinya, maka ia dan anaknya berada di syurga.”
Hadits mulia ini mengandung rahasia cinta kepada Rasulullah Saw, yang bisa difahami oleh kalangan khusus yang dekat dengan Allah Swt. Mereka senantiasa menyebut namanya yang penuh berkah, yang kemudian memberikan hasrat untuk berakhlaq dengan akhlaq beliau yang suci, dalam rangka bersiteguh dengan jejak langkahnya. Sehingga anda tidak melihat mereka berhenti dalam stasiun dunia, ketika mereka menempuh jalan napak tilas Rasul Saw. Bahkan mereka senantiasa sadar dan [penuh] khusyu’, senantiasa takut kepada Allah Swt, mengikuti jejak Nabi mereka, mengamalkan sunnah Nabinya, dan merekalah yang disebut para ‘arifun.
Anak-anak sekalian. Ketahuilah kaum arifin senantiasa menangis, ketika kaum yang alpa sedang tertawa. Dan mereka sedang susah ketika kaum yang terpedaya dunia sedang gembira. Allah Swt, berfirman:
“Wajah-wajah mereka hari itu berseri-seri, kepada Tuhannya terus memandang.”
“Wajah-wajah mereka berseri, riang penuh gembira.”
Ragam orang menangis:
Sesungguhnya Allah Swt, telah menyebutkan bukti-bukti menuju ma’rifat. Dan diantara tanda kaum arifin senantiasa lebih banyak menangis dan mengalir air matanya karena Allah Ta’ala. Sebagaimana firmanNya: “Dan mereka sujud gelisah dengan menangis.”
Allah Swt mencerca kaum alpa, karena mereka lebih banyak bersendagurau dan tidak pernah menangis.
“Apakah dari kisah ini mereka heran dan mereka tertawa-tawa dan tidak menangis?”
Menangis itu ada kalanya:
Menangis mata
Menangis hati
Menangis rahasia batin.
Menangis mata adalah tangisan kaum ma’rifat yang kembali hatinya kepada Allah Swt.
Menangis hati adalah tangisan kaum ma’rifat yang sedang menempuh jalan menuju Allah Swt.
Menangis rahasia batin, adalah kaum ma’rifat yang menangis karena mereka menjadi pecinta Allah Swt.
Perlu diketahui, bahwa kalangan ahli ma’rifat mempunyai kesusahan yang tersembunyi di bawah rahasia batin mereka, tertutupi oleh pemikiran mereka, maka, ketika rahasia batinnya memuncah, berhembuslah angina rasa takut penuh cinta karena Kharisma Ilahi. Sedangkan hatinya begolak jilatan api kegelisahan, yang membakar seluruh remuk redamnya kealpaan dan kelupaan kepada Tuhannya Azza wa-Jalla.
Derajat Tangis
Tangisan itu terdiri enam arah:
Menangis karena malu, seperti tangisan Nabi Adam as.
Menangis karena kesalahan, seperti tangisan Nabi Dawud as.
Menangis karena takut, seperti tangisan Nabi Yahya bin Zakaria.
Menangis karena kehilangan, seperti tangisan Nabi Ya’qub as.
Menangis karena Kharisma Ilahi, seperti tangisan seluruh para Nabi as, yaitu dalam firmanNya: “Ketika dibacakan ayat-ayat Sang Rahman kepada mereka, maka mereka bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)
Menangis karena rindu dan cinta, seperti tangisan Nabi Syu’aib as, ketika beliau menangis sampai matanya buta, kemudian Allah Swt, mengembalikan menjadi sembuh, lalu beliau menangis lagi hingga buta kembali sampai tiga kali. Lalu Allah Swt, memberikan wahyu kepadanya: “Wahai Syu’aib, bila tangisanmu karena engkau takut neraka, Aku sudah benar-benar mengamankan dirimu dari neraka. Dan jika tangismu karena syurga, Aku telah mewajibkan dirimu syurga.” Ayub menjawab, “Tidak Ya Tuhan, namun aku menangis karena rindu ingin memandangmu…”
Kemudian Allah Swt, menurunkan wahyu kepadanya, ”Sungguh wahai Syu’aib! Sangat benar orang yang menghendakiKu, menangis dari dalam rindu kepadaKu. Untuk penyakit ini tidak ada obatnya, kecuali bertemu denganKu.”
Diriwayatkan bahwa Nabi Saw, bersabda: “Bila seorang hamba menangis karena takut kepada Allah atas masalah ummat, sungguh Allah Swt memberikan rahmat bagi ummat itu, karena tangisan hamba tadi.”
Rabi’ah ra, berkata, “Aku menangis selama sepuluh tahun karena merasa jauh dari Allah Swt, dan sepuluh tahun lagi menangis karena bersama Allah Swt, kemudian sepuluh tahun menangis karena menuju kepada Allah Swt. Menangis karena bersama Allah, disebabkan sangat berharap padaNya. Sedangkan menangis jauh dari Allah Swt, karena takut kepadaNya. Adapun menangis karena menuju Allah Swt, karena sangat rindu kepadaNya.”
Salah satu Sufi berkata, “Aku masuk ke rumah abi’ah al-Bashriyah, ketika itu ia sedang sujud. Lalu aku duduk di sisinya, hingga ia bangun mengangkat kepalanya. Kulihat ditempat sujudnya menggenang air matanya. Aku bersalam kepadanya, dan ia jawab salamku. Ia berkata, “Apa kebutuhanmu?” tanyanya.
“Aku ingin datang kepadamu..” kataku.
Lalu ia menangis, dan memalingkan wajahnya dariku. Ketika ia menangis, ia mengatakan, “Sejuknya matahatiku harus datang dariMu? Sungguh mengherankan orang yang mengenalMu, bagaimana ia bisa sibuk dengan selain DiriMu? Mengherankan sekali! Orang yang menghendakiMu, bagaimana ia menginginkan selain DiriMu?”
Atha’ as-Sulamy ra, ketika menagis banyak berungkap: “Oh Tuhan, kasihanilah diriku yang putus menujuMu, kasihanilah berpalingku dari selain DiriMu, kasihanilah keterasinganku di NegeriMu, kasihanilah rasa takutku pada hamba-hambaMu dan berhentinya diriku di hadapanMu.”
Al-Fudhail bin Iyadh menegaskan, “Ketika aku sedang thawaf, aku bertemu seseorang yang roman mukanya berubah dan tubuhnya kurus kering, ia menangis dengan menderu, lalu aku dekati ia. Tiba-tiba ia berkata, “Oh Tuhanku!betapa mesranya hati para pecinta,betapa ringannya hati para airfin, sungguh tak akan putus harapan perindumu.”
Tiba-tiba kudengar bisikan suara mengatakan, “Wahai Waliyullah, sungguh tujuh langit ikut menangis. Diam! Sekarang apa yang kamu pinta!.”
Diriwayatkan bahwa Nabi Adam as, ketika diturunkan dari syurga, ia menangis sampai airmatanya menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, lalu Allah Swt, mewahyukan padanya, “Tangisan ini karena kehilangan syurga, lalu mana tangisan karena meninggalkan khidmah bakti padaKu?”
Lalu Nabi Adam as, terkejut, hingga sampai pada kalimat ikhlas. Lalu berucap”Laa Ilaaha Illa Anta Subhanaka…” (Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau!)
Allah Swt, berfirman, : “Maka Adam mendapatkan kalimat-kalimat dari Tuhannya, lalu ia taubat kepadaNya.”
Dzun Nuun al-Mishry –semoga Allah Swt, merahmatinya– mengatakan, “Aku melihat lelaki di Makkah sedang menangis dengan tangisan ahli ma’rifat, lalu aku mendekat,
“Apakah engkau punya kekasih?” tanyaku.
“Betul!” jawabnya.
“Jauh apa dekat kekasihmu itu?”
“Dekat,” katanya.
“Selaras denganmu apa tidak?”
“Sungguh selaras denganku.”
“Subhanallah! Lalu kenapa engkau menagis?”
“Ketahuilah, siksaan karena dekat dan serasi itu lebih pedih, ketimbang siksaan karena jauh dan kontra…!”
Dikisahkan bahwa Rabiah –Rahimahallahu Ta’ala– suatu hari sedang lewat di salah satu jalan di Bashrah. Tiba-tiba ada tetesan yang menetes dari kesdihan, lalu ia bertanya, “Tetesan apakah itu?” Lalu dijawab, “Itu dari tangisan Hasan.” Rabi’ah lalu berkata, “Katakanj semua ya pada Hasan, seandainya airmata bertambah terus hingga sampai ke Arasy sana, sebagai rasa cinta kepada Allah Swt, sungguh airmata itu sangat sedikit sekali.”
Abbad bin Syumaid bin Ujlan berkata:”Apakah orang munafiq itu menmangis?”
Lalu dijawab, “Menangis dari mata kepala, memang. Tapi tangisan dari hati, tidak!”
Fudhail ra, mengatakan, “Bila anda melihat seseorang menangis tapi hatinya alpa, maka itulah tangisan munafiq. Tangisan yang sesungguhnya adalah tangisan qalbu.”
Malik bin Dinar ra, ditanya, “Tidakkah engkau datang dengan seorang qari’ yang membaca di hadapanmu?”
“Kematian kekasih tidak butuh pada peratap tangisan.”
Ka’b al-Ahbar ra, menandaskan, “Suatu tangisanku setets karena takut kepada Allah Ta’ala, lebih kucintai disbanding sedekah segunung emas.”
Dalam tangisan Malik bin Dinar ra, seringkali munajat, “Duh diriku! Engkau ingin bersanding pasa Sang Maha Jabbar, dan menjadi orang yang terpilih, lalu mana engkau tinggalkan syahwat nafsumu? Sudah sejauh mana engkau mendekat kepada Allah? Wali mana yang engkau cintai karena Allah? Musuh mana yang engkau benci karena Allah? Menahan diri yang mana yang engkau lakukan karena Allah? Tidak! Jika semua itu tidak karena ampunan dan rahmat Allah!”. Tiba-tiba ia pingsan.
Diriwayatkan, bahwa Allah Swt, berfirman kepada Nabi Musa as,: “Tak ada yang lebih dekat kepadaKu dibanding orang-orang yang menangis karena takut dan cinta kepadaKu.”
Tsabit an-Nasaj, ra berkata, “Nabi Dawud as, tidak pernah minum setegukpun setelah berbuat kesalahan, melainkan ia hanya menyerap airmatanya, hingga beliau menemui Allah Azza wa-Jalla (wafat).”
Ketika suatu hari melihat airmatanya banyak yang mengalir, ia berkata, “Ya Ilahi, apakah Engkau tidak kasihan atas tangisanku?”
Lalu ada suara dari langit, “Hai Dawud! Engkau masih ingat airmatamu, sedangkan engkau tidak mengingat dosa-dosamu?!”
Lantas Nabi Dawud as mengambil debu yang dipanaskan, lalu mengusap-usap kepalanya dengan debu pasir itu, sembari berkata, “Duh hilanglah air mukaku di hadapan Tuhanku.”
Di masa Hasan al-Bashry ra ada seorang lelaki yang punya anak perempuan sedang menangis, hingga matanya buta. Lelaki itu datang kepada Hasan agar didoakan dan dinasehatinya, siapa tahu ia menyadari dirinya. Lalu Hasan mendatangi gadis itu, dan berkata, “Kasihanilah dirimu!”
“Oh, guru! Mataku tidak lepas dari dua wajah, apakah layak untuk memandang Tuhanku atau tidak. Jika tidak layak maka sudah benar kalau mataku buta! Jika benar layak, maka ribuan seperti mataku ini pantas menjadi tebusan untuk memandangNya,” jawabnya.
“Aku datang untuk mengobati, malah aku yang diobati. Aku datang untuk jadi dokternya, malah aku menemukan dokterku.”
Salamah bin Khalid al-Makhzumy ra mengatakan, “Suatu hari perempuan dari Syam ada di Baitullah al-Haram, ia bisaa dipanggil Khazinah (Sang duka), karena selamanya menangis akibat rindunya kepada Allah Swt. Saat ia memandang pintu Ka’bah, selalu ia berucap, “Oh rumah Tuhanku, oh, rumah Tuhanku…”
Suatu saat pintu Ka’bah dibuka, lalu wanita itu melihat orang-orang sedang thawaf sembari menangis, dan berucap, “Diraja kami dan matahati kami…betapa panjang rindu kami kepadaMu…Kapan kami bertemu?” Wanita itu mendengarkan ucapan itu, lalu menjerit pingsan, hingga membuatnya mati.
Yahya bin Ashfar menandaskan, “Kami masuk bersama jamaah kami ke rumah Ufairah, perempuan ahli ibadah –semoga Allah Ta’ala merahmatinya-. Ia seorang yang buta karena banyaknya menangis, lalu salah satu dari kami mengatakan, “Betapa sedihnya kebutaan setelah sebelumnya bisa melihat!”.
Rupanya ia mendengar ucapan itu, dan berkata, “Hai hamba Allah! Butanya hati dari Allah Swt lebih pedih ketimbang butanya mata kepala! Aku sangat senang jika Allah memberikan kenyataan cintaNya kepadaku, dan sama sekali aku tidak ada kesedihan melainkan Allah Ta’ala mengambilnya dariku.”
Malam gelap gulita
Sedang pemaksiat lelap tidurnya.
Sang Arifun berdiri di hadap Tuhannya
Membacakan Ayat-ayat hidayah
Airmata mereka mengalir bercucuran
Tak sabar sedetik pun untuk tidak mengingatNya
Deru rindu bergelora
Sungguh pecinta tak pernah tidur.

Minggu, 31 Agustus 2014

DO’A UNTUK ORANG SAKIT

DO’A UNTUK ORANG SAKIT

1)
عن عائشة رضى الله عنها: ان النبي صلعم كان اذااشتكى الانسان الشئ منه, اوكانت به قرحة اوجرح قال النبى صلعم باسبعه هكذا. ووضع سفيان بن عيينة الراوى سبابته بالأرض ثم رفعها, وقال: باسم الله تربة ارضنا بريقة بعضنا يشفى به سقيمنا باذن ربنا . متفق عليه
1) Artinya: Aisyah r.a berkata: Adanya Nabi SAW jika didatangi oleh orang yang mengeluh sakit atau luka, maka Nabi SAW meletakkan jari telunjuknya ke tanah dan diludahi sedikit, kemudian diusapkan kepada apa yang dirasakan sambil berdo’a: BISMILLAHI TURBATU ARDLINA BIRIQOTI BA’DLINA YUSYFA SAQIMUNA BI’IDZNI ROBBINA (dengan nama Allah tanah kami dengan ludah setengah dari kami, semoga disembuhkan orang sakit ini dengan izin Tuhan kami) Buchori - Muslim
2)
وعنها: ان النبي صلعم كان يعود بعض اهله يمسح بيده اليمنى, ويقول:
اللهم رب الناس اذهب البأس اشف انت الشافى, لا شفاء الا شفا ؤك, شفاء لا يغادر سقما. متفق عليه
2) Aisyah RA. Berkata: Adalah Nabi SAW berziarah kepada salah seorang keluarganya yang sedang sakit, maka ia mengusap-usap sisakit dengan tangan kanannya sambil membaca: Allahumma Rabbannasi adzhibil ba’sa isyfi antasyafi la syifa’a illa syifa’uka syifa’an la yughadiru saqaman:(Ya Allah Tuhan dan semua manusia hilangkan segala penyakit, sembuhkanlah, hanya Engkau yang dapat menyembuhkan, tiada kesembuhan kecualai dari padaMU, sembuh yang tidak dihinggapi penyakit lagi (Buchory+ Muslim)
3)
وعن انس رضي الله عنه انه قال لثا بت رحمه الله: الا ارقيك برقية رسول الله صلعم, قال: بلى, اللهم رب الناس مذهب الباس اشف انت الشافى, لا شافى الا انت شفاء لا يغادر سقما - روه البخارى --
3) Artinya: Anas r.a berkata kepada Tsabit: Maukah aku menjampi/ mengobatimu dengan jampi/obat dari Rasulullah SAW? Jawab Tsabit: Baiklah, maka Anas membaca: Allahuma robbannasi mudzhibal bas, isy fi anta syafii, la syafiya illa anta syifa’an la yughodiru saqoman (Ya Allah Tuhan semua manusia, yang menghalaukan segala penyakit, sembuhkanlah, hanya Engkau yang bisa menyembuhkan, Tiada yang menyembuhkan kecuali Engkau, sembuh yang tidak dihinggapi penyakit lagi (Buchori)
4)
وعن سعد بن ابى وقاص رضي الله عنه قال: عاد نى رسول الله صلعم: فقال: اللهم اشف سعدا, اشف سعدا, اشف سعدا - روه مسلم
4) Sa’ad bin Abi Waqash r.a berkata: Ketika Rasulullah SAW menengok saya, ia berdo’a: Allahumasyfi Sa’dan, Allahumasyfi Sa’dan, Allahumasyfi Sa’dan ( Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad) 3x
5)
وعن ابى عبد الله عثمان بن ابى العاص رضى الله عنه انه شكا الى رسول الله صلعم وجعا يجده فى جسده, فقال له رسول الله صلعم: ضع يدك على الذ يألم من جسدك, وقل: بسم الله ثلاث. وقل سبع مرات: اعوذ بعزة الله وقدرته من شرما اجد واحا ذر-- رواه مسلم
5) Abu Abdillah (Usman) bin Abdil ‘Ash r.a. Ia telah mengeluh kepada Rasulullah SAW dari penyakit yang dideritanya, maka Rasulullah saw berkata kepadanya: Letakkan tangan di tempat dimana engkau merasa sakit, lalu bacalah: Bismillah 3x. Kemudian bacalah: A’udzu bi’izzatillahi waqudratihi min syarri ma ajidu wa uha dziru 7x. ( Aku berlindung kepada kemulyaan dan kekuasaan Allah dari bahaya yang saya rasakan dan saya kuatirkan. (Muslim)
6)
وعن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلعم قال: من عار مريضا لم يحضر اجله, فقال: عنده سبع مرات: اسأل الله العظيم رب العرش العظيم ان يشفيك الا عافاه الله مندالك المرض – روه ابوداود والتر مذى
6) Artinya: Ibn Abbas r.a berkata: Bersabda Nabi SAW: Siapa yang menjenguk orang sakit yang belum tiba ajalnya, kemudian dibacakan do’a ini 7 (tujuh) kali, pasti Allah akan menyembuhkan penyakitnya. Yaitu: as’alullahal adhim, robbal ‘arsyil adhim an-yasyfiyaka 7x (aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhan mempunyai Arsy yang Besar, semoga Allah menyembuhkan engkau 7x)
(Abu Dawud, Attirmidzy dan alhakim)
7)
وعنه: أن النبى صلعم دخل على اعرا بي يعوده, وكان اذا دخل على من يعوه, قال:
لا بأس طهور انشاء الله --- رواه البخارى
7) Ibnu Abbas r.a. berkata: Nabi saw pernah menjenguk seorang Badui (yang sakit), dan biasa Nabi jika menjenguk pada orang sakit Beliau berkata: La Ba’sa Thohurun insya Allah. (Tidak apa-apa, semoga penyakit ini menjadi pencuci dari dosa-dosa insya Allah. (Buchory)
8)
وعن ابى سعيد الخذرى رضي الله عنه: ان جبريل اتى النبي صلعم فقال: يا محمد اشتكيت؟ قال: نعم,قال: بسم الله ارقيك, من كل شيء يؤذيك, من شر كل نفس او عين حا سد الله يشفيك باسم الله ارقيك. – رواه مسلم –
8) Artinya: Abu Sa’id Al-Chudry r.a berkata: Djibril datang kepada Nabi SAW dan bertanya: Ya Muhammad kau sakit? Jawab Nabi: Ya, maka Djibril membaca do’a: Bismillahi arqika min kulli syai’in yu’dzika wamin syarri kulli nafsin au’aini hasidin Allahu yasyfika bismillahi arqika.(Dengan nama Allah saya mengobati kau dari segala yang mengganggu mu, dan dari bahaya tiap nafsu atau mata penghasud. Allah yang menyembuhkan kau. Dengan nama Allah saya mengobati kau)
(Muslim)
9)
وعن ابى سعيد الخذرى و ابى هريرة رضي الله عنهما انهما شهدا على رسول الله صلعم انه قال: من قال: لا اله الا الله اكبر صدقه ربه, فقال: لا اله الاانا وانا اكبر, واذا قال: لا اله الا الله وحده لا شريك له, قال:يقول: لااله الا انا وحدي لاشريكلى, واذا قال: لااله الاالله له الملك وله الحمد, قال: لااله الا انا لى الحمد ولى الملك, واذا قال: لااله الا الله ولا حول ولا قوة الا با الله, قال: لااله الا انا, ولا حول ولا قوة الا بى, وكان يقول: من قالها فى مرضه ثم مات لم تطمه النار –رواه الترمذي --
9) Artinya: Abu Sa’id Al-chudry r.a dan Abu Hurairah keduanya menyaksikan bahwa Rasulullah SAW bersabda: siapa yang membaca: La ilaha illahu wallahu akbar, maka akan dibenarkan (dijawab) oleh Tuhan: Benar Tiada Tuhan kecuali Aku, dan Aku yang Terbesar. Dan jika kamu membaca: La ilaha illahu wahdahu la syarikalahu, dijawab oleh Tuhan : Benar Tidak ada Tuhan kecuali Aku sendiri, dan tiada sekutu bagiku. Dan jika membaca: La ilaha illahu lahul mulku walahul hamdu, dijawab oleh Tuhan: Benar Tiada Tuhan kekuasaan kerajaan, dan jika berkata: La ilaha illahu wala haula wala quwwata illa billah. Dijawab oleh Tuhan: benar, tiada Tuhan kecauali Aku, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan bantuan pertolongan-KU, Nabi bersabda: siapa yang membaca semua kalimat itu, ketika sakit kemudian mati dalam sakit itu, tidak akan dimakan api neraka.

GANGGUAN SIHIR DAN JIN



Al-Quran memperakui adanya jin-jin. Terangkum dalam golongan jin adalah iblis dan syaitan. Malah Al-Quran sendiri menyatakan Allah menjadikan jin lebih awal daripada Adam. Gangguan jin-jin terhadap manusia adalah suatu hakikat yg tidak dapat kita nafikan. Allah s.w.t menjadikan makhluk jin berkemampuan berubah dari satu bentuk kepada satu bentuk yang lain dengan cepat kerana jasadnya yang halus. Kerana itu, mereka berupaya menyakiti manusia dengan memasuki kedalam badan manusia melalui cara halus. Jin-jin ini Allah jadikan di dalam berbagai bentuk, ada yang besar, tinggi, rendah, kecil dan sebagainya. Tetapi Allah memberikan keupayaan kepada mereka untuk mengecilkan jasad mereka dan memasuki tubuh badan manusia.
Dalam sebuah hadis sahih daripada Safiyah r.a. dijelaskan bahawa Rasuallah s.a.w. ada bersabda: Sesungguhnya iblis dan syaitan itu berlari dalam tubuh anak Adam menuruti pembuluh (saluran) darah. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Apabila jin-jin ini memasuki ke dalam badan manusia, ia selalunya berada di dalam otak dan di tulang belakang (spinal cord) berdekatan dengan urat saraf kita. Melalui otak dan urat saraf, jin ini akan dapat mempengaruhi pemikiran dan emosi pesakit itu. Sebab itu kalau seseorang itu menghidap sakit ganguan sihir atau ganguan jin, fikiran dan emosi mereka terganggu, dan kadang-kala "anxiety level" mereka sangat tinggi. Bila fikiran mereka terganggu ia akan mengakibatkan seseorang itu mendapat sakit tekanan jiwa atau "depression". Selain dari itu gangguan kepada urat saraf ini juga mengakibatkan rasa sakit kepada bahagian pinggang, otot-otot, tengkuk, bahu, sendi-sendi, rahim, perut dan kadang kala mengganggu sistem pernafasan seseorang itu.
Berapa banyak jin berada di dalam badan pesakit terpulang kepada komplikasi dan jenis-jenis sihir yang ditujukan kepada pesakit. Penulis pernah berjumpa dengan pesakit yang mempunyai lebih dari 80 jin dalam badan pesakit. Lebih banyak jin di dalam badan pesakit, maka lebih banyak komplikasi atau rasa sakit yang dirasai oleh pesakit itu. Kebanyakkan pesakit yang sakit gangguan sihir mempunyai 5 hingga 20 jin dalam badan mereka. Makin lama jin itu berada di dalam badan pesakit, mereka boleh beranak pinak dan jumlah dan bilangan akan bertambah.

ALLAHU AKBAR! BEGINILAH ALLAH MEMBERIKAN RIZKI KEPADA MAKHLUKNYA


Pada suatu hari Nabi Sulaiman a.s. duduk di pinggir danau. Sejurus kemudian, ia melihat seekor semut membawa sebiji gandum. Nabi Sulaiman a.s. terus memperhatikan semut itu, yang tengah menuju ke tepi danau.
Tiba-tiba ada seekor katak yang keluar dari dalam air seraya membuka mulutnya. Entah bagaimana prosesnya, semut itu kemudian masuk ke dalam mulut katak. Kemudian, katak itu pun menyelam ke dasar danau dalam waktu yang cukup lama.
Sementara Nabi Sulaiman a.s. memikirkan peristiwa barusan, katak tersebut keluar dari dalam air dan membuka mulutnya. Lalu semut itu keluar, sementara sebiji gandum yang dibawanya sudah tidak ada lagi bersamanya.
Nabi Sulaiman a.s. memanggil semut itu dan menanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan barusan, ”Wahai semut, apa yang kamu lakukan selama berada di mulut katak?”
”Wahai Nabiyullah, sesungguhnya di dalam danau ini terdapat sebuah batu yang cekung berongga, dan di dalam cekungan batu itu terdapat seekor cacing yang buta,” jawab semut.
“Cacing tersebut tidak kuasa keluar dari cekungan batu itu untuk mencari penghidupannya. Dan sesungguhnya Allah telah mempercayakan kepadaku urusan rezekinya,” lanjut semut.
”Oleh karena itu, aku membawakan rezekinya, dan Allah swt. telah menguasakan kepadaku sehingga katak ini membawaku kepadanya. Maka air ini tidaklah membahayakan bagiku. Sesampai di batu itu, katak ini meletakkan mulutnya di rongga batu itu, lalu aku pun dapat masuk ke dalamnya,”
“Kemudian setelah aku menyampaikan rezeki kepada cacing itu, aku keluar dari rongga batu kembali ke mulut katak ini. Lalu katak ini mengembalikan aku di tepi danau.”
Nabi Sulaiman a.s. kemudian bertanya, ”Apakah kamu mendengar suara tasbih cacing itu?”
”Ya, cacing itu mengucapkan: Yâ man lâ yansani fî jaufi hâdzihi bi rizqika, lâ tansâ ‘ibâdakal mu’minîna bi rahmatik (Wahai Dzat Yang tidak melupakan aku di dalam danau yang dalam ini dengan rezeki-Mu, janganlah Engkau melupakan hamba-hamba-Mu yang beriman dengan rahmat-Mu)."
Demikianlah, Allah mengatur rezeki segenap makhluknya, termasuk manusia. Sebagaimana pesan al-Qur’an dalam surat Hûd ayat 6: Wa mâ min dâbbatin fil ardli illâ ‘alaLlahi rizquhâ (Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya)

ADAKAH ALLAH YG MEMBERI SAKIT ATAU IBLIS YG MEMBERI SAKIT

RENUNGANKU
ADAKAH ALLAH YG MEMBERI SAKIT
ATAU IBLIS YG MEMBERI SAKIT
Buka minda sebelum membaca
karana ilmu sebenar bnyak diluar
akal yg dicerna manusia
manusia yg duduk pada lojiknya
ALLAH hanya menciptakan kebaikan sahaja
karana semua terjadi dengan rahman rohimnya
kasih sayang allah..
jadi dia takan menyakiti yg dia ciptakan
Orang yg sakit itu karana
didalam hatinya kosong
tidak ada allah
maka iblis akan masuk
menduduki hatinya dan berpesta pora
memasuki alam manusia
karana lentera tuhannya
hilang entah kemana
menduduki organ, jiwa dan raganya
urat dan tulang rusuknya
bersemadi dan sebati
dalam aliran darahnya
jadi
Allah tak mendatangkan sakit
karana diri manusia tidak mengingatnya
menjadikan cahaya Allah hilang
lentera suci sang ilahi padam
maka lentera api iblis menduduki
dan membakar segenap alam
dengan mudahnya
maka
LAILAHA HAILA ANTA
SHUBAHANAKA INI KUNTUM MINAL ZOLIMIN
tiada tuhan selain allah
sesungguhnya aku yg menzolimi
diriku sendiri....
PESAN
INGATLAH
YG HIDUP 24 JAM DALAM DIRIMU
ITULAH LENTERA SUCIMU DARI SANG ILAHI
JAGA DAN BESARKAN DENGAN TAFAKURMU ITU
DAN BERJALANLAH MEMBAWA LENTERA ITU...