Laman

Minggu, 20 Desember 2015

CAHAYA-CAHAYA MAKRIFAT


MACAM-MACAM CAHAYA BATIN YANG MENGGODA
“Ada cahaya yang menyingkap jejak-jejak-Nya dan ada cahaya yang menyingkap sifat-sifat-Nya.”
—Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam.
Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa ada cahaya yang menyingkap keadaan makhluk-makhluk sehingga ia menyinari ahwal (keadaan spiritual) para hamba dan menyinari yang ada di atas bumi dan di bawah langit. Ini disebut dengan kasyaf shuwari (pengungkapan bentuk). Kasyaf ini tidak dipedulikan oleh para muhaqqiq (para ahli hakikat).
Ada pula cahaya yang menyingkap sifat-sifat Allah dan keindahan-Nya. Cahaya ini tak akan terlihat, kecuali para orang-orang yang darinya tampak sifat-sifat Allah. Ini disebut dengan kasyaf maknawi (pengungkapan immateril). Kasyaf inilah yang dicari oleh para muhaqqiq.
Syekh Ibnu Atha’illah tidak mengatakan, “Ada cahaya menyingkap dzat-Nya,” karena penampakkan dzat Allah yang murni dan bersih dari sifat-sifat masih menjadi perdebatan di kalangan mereka. Sebagian dari mereka menafikan. Sebagian yang lain membenarkan kemungkinannya.
Syekh Muhyiddin Ibn Arabi menyebut penampakkan dzat Allah yang murni ini dengan bawariq (kilat), karena ia datang dan hilang dengan cepat, dan manusia tidak sanggup menerimanya dalam waktu lama.”
Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam mengatakan: “Boleh jadi kalbu terhenti pada cahaya-cahaya, sebagaimana terhijabnya kalbu oleh gelapnya bayang-bayang ciptaan.”
Menurut Syekh Abdullah Asy-Syarqawi, boleh jadi kalbu kita tertutup oleh cahaya-cahaya dan terhenti dari perjalanannya menuju Allah, sebagimana jiwa tertutup oleh tebalnya ciptaan, syahwat, dan kenikmatan sehingga terhalang dari Allah SWT.
Hijab yang menghalangi dari Allah itu ada dua macam:
Pertama, hijab yang bersumber dari cahaya, yakni ilmu dan pengetahuan. Jika hati terhenti padanya, maka ia akan merasa cukup dengannya dan menjadikannya sebagai tujuan dan maksud. Kedua, hijab yang bersumber dari kegelapan, yakni nafsu syahwat dan kebiasaanya. Ia digambarkan dengan ketebalan dan kegelapan, karena tidak dapat dihilangkan, kecuali dengan perjuangan dan penderitaan.”

Sayangi yang Ada di Bumi, yang Ada di Langit Menyayangimu


Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Malaikat Jibril a.s. berkata kepadaku,’Allah SWT meyanyangi para hamba-Nya yang penyayang,” (HR Bukhari). Rasul juga bersabda, “Sayangilah apa yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangi kalian,” (HR At-Tirmidzi)
Wahai orang yang menginginkan kasih sayang Allah SWT, perhatikanlah harganya dan itu sudah ada di tanganmu! Lalu berapa harga yang harus dibayar? Yaitu, kasih sayang kepada sesama makhluk-Nya. Lalu, apa yang dimaksud dengan ‘yang ada di tanganmu?’ Yang ada di tanganmu adalah berikanlah harganya dan ambil barangnya.
Celakalah dirimu, engkau mengaku mengenal Allah SWT, namun tidak mengasihi sekalian makhluk-Nya, Pengakuanmu itu dusta. Orang yang arif akan senantiasa mengasihi sekalian makhluk berdasarkan ilmunya, serta mengasihi kaum lainnya berdasarkan hukum. Hukum itu memecah dan ilmu menyatukan. Allah SWT berfirman, “Dan, masuklah ke rumah-rumah dari pintu-pintunya..”(QS Al-Baqarah [2]: 189)
Para syekh yang mengamalkan ilmu dan benar dalam menjalaninya merupakan pintu Al-Haqq Azza wa Jalla dan jalan menuju kedekatan kepada-Nya. Mereka merupakan pewaris para Nabi, yang menyeru kepada jalan keesaan-Nya. Mereka adalah para dokter agama dan pengajar. Maka, terimalah penjelasan yang mereka sampaikan dan layanilah mereka. Serahkan nafsu jahiliah kalian atas dasar perintah dan larangan mereka.
Semua rezeki berasal dari Al-Haqq ‘Azza wa Jalla, baik rezeki badan, batin, maupun relung jiwa, maka mintalah dari-Nya, bukan kepada selain-Nya. Rezeki badan adalah makanan dan minuman. Rezeki batin (qalb) adalah tauhid, dan rezeki relung jiwa adalah dzikir khafi. Sayangilah diri kalian dengan bermujahadah, memerintahkannya dan melarangnya, serta melatihnya dengan kesungguhan. Sayangilah sekalian makhluk dengan memerintahkan mereka untuk menjalankan amal kebaikan dan mencegah kemunkaran, disertai niat yang benar dalam menasihati mereka, serta menuntun tangan mereka menuju pintu-Nya.
Kasih sayang merupakan salah satu sifat orang Mukmin, sedangkan bersikap kasar adalah ciri orang kafir. Sambunglah silaturahmi kepada orang yang memutus talinya. Berilah orang-orang yang tidak memberi kepada kalian. Dan, maafkanlah orang-orang yang menzalimi diri kalian. Jika kalian mampu melakukan hal tersebut, maka tali kalian bersambung dengan tali Al-Haqq Azza wa Jalla. Segala sesuatu yang kalian miliki ada di sisi-Nya, karena akhlak-akhlak ini merupakan bagian dari akhlak-Nya.
Sambutlah para muadzin yang menyeru kalian agar mendatangi masjid, yang merupakan rumah pertemuan dan munajat. Sambutlah mereka, maka kalian akan mendapatkan kesuksesan dan kecukupan. Jika kalian merespons seruannya maka Allah SWT akan memasukkan kalian ke dalam negeri-Nya, mengabulkan doa kalian, mendekatkan kalian, serta mengajarkan makrifat dan ilmu kepada kalian. Dia akan memperlihatkan kepada kalian segala sesuatu yang ada di sisi-ya, mendidik seluruh anggota badan kalian, menyucikan kalbu kalian, menjernihkan bashirah kalian, memberi ilham, menempatkan kalian di hadapan-Nya, mengantarkan kalbu kalian ke Negeri Kedekatan-Nya, dan mengizinkan kalian masuk menemui-Nya.
Dia Maha Dermawan jika kalian menyambut-Nya serta tidak meremehkan berdoa kepada-Nya. Dia berbuat baik kepada kalian dan mencabut apa yang harus dicabut dari diri kalian.”

KULIAH DZIKIR DARI IBNU ATHA’ILLAH


Sumber: https://www.facebook.com/tasawufunderground
Mari belajar tentang makna, faidah dan hakikat dzikir dari Syekh Ibnu Atha'illah dalam kitab Miftah al-Falah wa Misbah al-Arwah.
Dzikir adalah melepaskan diri dari kelalaian dengan selalu menghadirkan kalbu bersama al-Haqq (Allah). Pendapat lain mengatakan bahwa dzikir adalah mengulang-ulang nama Allah dalam hati maupun melalui lisan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengingat lafal jalalah (Allah), sifat-Nya, hukum-Nya, perbuatan-Nya atau suatu tindakan yang serupa. Dzikir bisa pula berupa doa, mengingat para rasul-Nya, nabi-Nya,wali-Nya, dan orang-orang yang memiliki kedekatan dengan-Nya, serta bisa pula berupa takarub kepada-Nya melalui sarana dan perbuatan tertentu seperti membaca, mengingat, bersyair, menyanyi, ceramah, dan bercerita.
Maka, dengan pemahaman seperti ini, mereka yang berbicara tentang kebenaran Allah, atau yang merenungkan keagungan, kemuliaan, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di langit dan di bumi, atau yang mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesungguhnya—dengan berbuat demikian—mereka sedang melakukan dzikir. Dzikir bisa dilakukan dengan lisan, kalbu, anggota badan, ataupun dengan ucapan yang terdengar orang. Orang yang berdzikir dengan menggabungkan semua unsur tersebut berarti telah melakukan dzikir secara sempurna.
Menurut Ibnu Atha’illah, dzikir lisan adalah dzikir dengan kata-kata semata, tanpa kehadiran kalbu (hudhur). Dzikir ini adalah dzikir lahiriah yang memiliki keutamaan besar seperti yang ditunjukkan oleh beberapa ayat Al-Quran, hadis, dan atsar. Dzikir lisan terbagi dalam beberapa bagian. Ada yang terikat dengan waktu dan tempat, serta ada pula yang bebas (tidak ditentukan tempat dan waktunya). Dzikir yang terikat, misalnya bacaan ketika shalat dan setelah shalat, bacaan ketika haji, sebelum tidur, setelah bangun, sebelum makan, ketika menaiki kendaraan, dzikir di waktu pagi dan petang, dan seterusnya.
Sementara yang tidak terikat dengan waktu, tempat, ataupun kondisi, misalnya pujian kepada Allah seperti dalam untaian kalimat, “Subhana Allah wa al-hamdu li Allah wa la ilaha illa Allah wa Allah akbar wa la hawla wa la quwwata illa bi Allah al-‘aly al-‘azhim (Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya, tiada tuhan selain-Nya, dan Allah Mahabesar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar).” Contoh lainnya adalah dzikir berupa doa seperti, “Rabbana la tu’akhidzna in nasina aw akhtha’na...,” atau munajat lainnya.
Selain itu, terdapat pula bacaan shalawat atas Nabi SAW yang akan memberi pengaruh lebih besar ke dalam kalbu para pemula daripada dzikir yang tidak disertai munajat. Sebab, orang yang bermunajat, kalbunya merasa dekat dengan Allah. Ia termasuk sarana yang memberikan pengaruh tertentu dan menghiaskan rasa takut pada kalbu.
Dzikir lisan ada yang bersifat ri’ayah misalnya ketika mengucapkan kalimat, “Allah bersamaku, Allah melihatku.” Ucapan tersebut mengandung usaha untuk menjaga kemaslahatan kalbu. Ia adalah dzikir untuk memperkuat kehadiran kalbu bersama Allah, memelihara etika di hadapan-Nya, menjaga diri dari sikap lalai, berlindung dari setan terkutuk, dan untuk bisa khusyuk dalam ibadah.
Setiap dzikir memiliki pengaruh tertentu. Jika kita sibuk dengan dzikir, pasti akan diberi yang lebih tinggi darinya. Dzikir yang disertai kesiapan akan bisa membuka tirai, tapi hal itu disesuaikan dengan kondisi orang yang melakukannya.
Menurut Imam Ghazali, hakikat dzikir adalah berkuasanya Allah di dalam kalbu disertai kesirnaan dzikir itu sendiri. Tapi, dalam pandangannya, dzikir memiliki tiga kulit atau lapisan yang salah satunya lebih dekat kepada inti (lubb) daripada yang lainnya. Inti (lubb) tersebut berada di balik tiga kulit tadi. Kulit-kulit itu adalah sebagai jalan menuju inti (lubb). Kulit yang paling luar adalah dzikir lisan semata.
Seorang pedzikir selalu mengaplikasikan dzikir lewat gerakan lisan disertai usaha menghadirkan kalbu. Karena, kalbu perlu penyesuaian dengan lisan agar sanggup hadir dalam dzikir. Jika dibiarkan, ia akan sibuk dengan berbagai imajinasi yang melintas.
Kondisi ini baru berakhir ketika kalbu mengikuti lisan serta cahayanya membakar syahwat dan setan. Saat itulah dzikir kalbu menguat, sementara dzikir lisan mulai melemah. Seluruh organ dan semua sisi tubuhdipenuhi cahaya, kalbu pun bersih dari hal-hal selain Tuhan, terputus dari berbagai bisikan, dan setan al-Khannas pun tak lagi tinggal di dalamnya. Dengan begitu, kalbu menjadi tempat masuknya anugerah Allah, serta cermin bagi segala manifestasi dan makrifat ilahiah. Ketika dzikir itu menyeruak masuk ke dalam kalbu dan menyebar di seluruh organ tubuh, maka semua organ itu pun berdzikir sesuai dengan kondisinya.
Al-Jurairi menuturkan, “Salah seorang sahabat kami selalu mengucap Allah, Allah. Lalu pada suatu hari, kepalanya terkena batang pohon hingga pecah dan mengucurkan darah. Dari darah itu kemudian tertulis di atas tanah lafal Allah, Allah.”
Dzikir laksana api yang bekerja secara aktif dan memberikan pengaruh. Ketika masuk ke dalam sebuah rumah, dzikir itu akan berucap, “Aku, tidak ada lagi selainku.” Itulah makna ungkapan la ilaha illa Allah. Jika di dalam rumah itu bertemu dengan kayu bakar, dzikir tersebut akan segera membakar. Jika rumah itu gelap, ia akan menjadi cahaya penerang.
Jika rumah itu memang memiliki cahaya, ia akan menjadi cahaya di atas cahaya.
Dzikir berfungsi menghilangkan endapan berlebih dalam tubuh yang diakibatkan oleh makan berlebihan dan mengkonsumsi barang haram. Saat endapan kotor itu terbakar sehingga hanya yang baiklah yang bertahan, barulah ia bisa mendengar senandung dzikir dari semua organ tubuhnya. Suara dzikir itu seperti tiupan terompet. Pertama-tama, ia jatuh di sekitar kepala sehingga kau akan mendengar suara seperti terompet.
Dzikir adalah penguasa, jika singgah di suatu tempat, ia akan singgah dengan membawa terompet itu. Sebab, dzikir menghadang apa saja selain al-Haq. Ketika menempati suatu tempat, ia akan sibuk melenyapkan segala sesuatu yang menjadi lawannya laksana air bertemu api. Lalu, akan terdengar berbagai macam suara seperti desir air, deru angin, golakan api, derap kuda, dan suara dedaunan tertiup angin. Sebab, struktur tubuh manusia terdiri dari unsur mulia dan hina. Unsur yang hina meliputi tanah, air, api, udara, bumi dan langit, serta segala yang berada di antara keduanya. Jadi, semua suara itu berasal dari seluruh unsur asli di atas. Ketika suara itu terdengar, berarti ia sedang bertasbih dan mensucikan Allah dengan lisannya. Itulah hasil dari dzikir lisan yang optimal.
Bisa jadi ketika seorang hamba diam tak berdzikir, kalbu yang bertempat di dadanya akan segera bergerak meminta dzikir seperti gerakan anak di perut ibunya. Kalbu manusia ibarat Isa ibn Maryam as., sementara dzikir adalah susunya. Ketika besar dan kuat, ia akan menangis dan berteriak karena rindu pada dzikir dan objeknya (Allah).
Dzikir kalbu ibarat suara lebah. Ia tidak terlalu nyaring dan menganggu, tetapi tidak pula terlalu samar tersembunyi. Ketika objek dzikir (Allah) sudah bersemayam dalam kalbu dan dzikir itu menjadi samar dan tak tampak, maka sang pedzikir takkan lagi menoleh pada dzikir dan kalbu. Tapi, kalau ia masih menoleh pada dzikir atau pada kalbunya, berarti masih ada hijab.
Kondisi saat seseorang tidak lagi memperhatikan dzikir dan kalbunya disebut kondisi fana. Dalam kondisi seperti itu, ia melenyapkan dirinya sehingga tak lagi merasakan keberadaan anggota tubuhnya, hal-hal lain di luar dirinya, ataupun lintasan-lintasan jiwanya.
Semua itu gaib dari dirinya dan dirinya juga gaib dari semua itu untuk bergegas menuju Tuhan lalu lenyap di dalam-Nya. Seandainya masih terbersit dalam benaknya bahwa ia sedang dalam kondisi fana berarti kondisi fananya masih bercampur noda dan belum sempurna. Yang sempurna adalah kalau ia telah fana dari dirinya sendiri dan fana dari kefanaannya.
Jalan pertama yang harus dilalui seorang salik adalah pergi menuju Allah. Sebab, petunjuk hanya milik Allah. Seperti dikatakan Nabi Ibrahim as., “Aku pergi menghadap kepada Tuhanku. Dialah yang akan memberi petunjuk kepadaku.” (Q.S. al-Shaffat [37]: 99). Ketika pergi menuju Allah telah mantap dan berlangsung secara kontinyu sampai menjadi kebiasaan yang melekat kuat, naiklah ia menuju alam yang paling tinggi seraya menyaksikan hal hakiki yang paling sucii. Gambaran alam malaikat tertanam kuat dalam dirinya dan kesucian lahut tampak jelas di hadapannya.
Hal pertama yang tampak di alam tersebut adalah substansi malaikat serta alam roh para nabi dan wali dalam bentuk yang sangat indah. Dengan perantaraannya, ia bisa mengetahui berbagai hakikat yang ada. Itulah yang terdapat di awal perjalanan sampai pada tingkatan yang sulit digambarkan. Dalam segala sesuatu al-Haq tampak secara jelas. Inilah hasil dari esensi dzikir.
Tahap pertama adalah dzikir lisan. Kemudian dzikir kalbu yang cenderung diupayakan dan dipaksakan. Selanjutnya, dzikir kalbu yang berlangsung secara lugas, tanpa perlu dipaksakan. Serta yang terakhir adalah ketika Allah sudah berkuasa di dalam kalbu serta sirnanya dzikir itu sendiri. Inilah rahasia dari sabda Nabi saw., “Siapa ingin bersenang-senang di taman surga, perbanyaklah mengingat Allah.” Juga sabda Nabi saw., “Dzikir diam (khafiy) tujuh puluh kali lebih utama daripada dzikir yang terdengar oleh para malaikat pencatat amal.”
Sebagai tanda bahwa sebuah dzikir sampai pada sirr (nurani terdalam pada jiwa yang kelak menjadi tempat cahaya penyaksian) adalah saat pedzikir dan objek dzikirnya lenyap tersembunyi. Dzikir sirr terwujud ketika seseorang telah terliputi dan tenggelam di dalamnya. Tandanya, apabila engkau meninggalkan dzikir tersebut, ia takkan meninggalkanmu.
Dzikir tersebut terbang masuk ke dalam dirimu untuk menyadarkanmu dari kondisi tidak sadar kepada kondisi hudhur (hadirnya kalbu). Salah satu tandanya, dzikir itu akan menarik kepalamu dan seluruh organ tubuhmu sehingga seolah-olah tertarik oleh rantai. Indikasinya, dzikir tersebut tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup. Tetapi, engkau menyaksikan cahayanya selalu naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu senantiasa bersih menyala. Dzikir yang masuk ke dalam sir terwujud dalam bentuk diamnya si pelaku dzikir seolah-olah lisannya tertusuk jarum. Atau, semua wajahnya adalah lisan yang sedang berdzikir dengan cahaya yang mengalir darinya.
Ketahuilah, setiap dzikir yang disadari oleh kalbumu didengar oleh para malaikat penjaga. Sebab, perasaan mereka beserta perasaanmu. Di dalamnya ada sirr sampai saat dzikirmu sudah gaib dari perasaanmu karena engkau sudah sirna bersama Tuhan, dzikirmu juga gaib dari perasaan mereka.
Sebagai kesimpulan tentang tahapan dzikir, Ibnu Atha’illah mengatakan, berdzikir dengan ungkapan kata-kata tanpa rasa hudhur disebut dzikir lisan, berdzikir dengan merasakan kehadiran kalbu bersama Allah disebut dzikir kalbu, sementara berdzikir tanpa menyadari kehadiran segala sesuatu selain Allah disebut dzikir sirr. Itulah yang disebut dengan dzikir khafiy.
Rezeki lahiriah terwujud dengan gerakan badan. Rezeki batiniah terwujud dengan gerakan kalbu, rezeki sirr terwujud dengan diam, sementara rezeki akal terwujud dengan fana dari diam sehingga seorang hamba tinggal dengan tenang untuk Allah dan bersama Allah. Nutrisi dan makanan bukanlah konsumsi rohani, melainkan konsumsi badan. Adapun yang menjadi konsumsi rohani dan kalbu adalah mengingat Allah Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Allah berfirman, “Orang-orang beriman dan kalbu mereka tenteram dengan mengingat (dzikir kepada) Allah.”
Semua makhluk yang mendengarmu sebenarnya juga ikut berdzikir beersamamu. Sebab, engkau berdzikir dengan lisanmu, lalu dengan kalbumu, kemudian dengan nafs-mu, kemudian dengan rohmu, selanjutnya dengan akalmu, dan setelah itu dengan sirrmu.
Jika engkau berdzikir dengan lisan, pada saat yang sama semua benda mati akan berdzikir bersamamu. Jika engkau berdzikir dengan kalbu, pada saat yang sama alam beserta isinya ikut berdzikir bersama kalbumu. Jika engkau berdzikir dengan nafs-mu, pada saat yang sama seluruh langit beserta isinya juga turut berdzikir bersamamu.
Jika engkau berdzikir dengan rohmu, pada saat yang sama singgasana Allah beserta seluruh isinya ikut berdzikir bersamamu. Bila engkau berdzikir dengan akalmu, para malaikat pembawa arasy dan roh orang-orang yang memiliki kedekatan dengan Allah juga ikut berdzikir bersamamu. Bila engkau berdzikir dengan sirmu, arasy beserta seluruh isinya turut berdzikir hingga dzikir tersebut bersambung dengan zat-Nya.
Menurut Ibnu Atha’illah, nafs adalah unsur (hai’ah) berjenis uap yang lembut dan membawa potensi kehidupan, perasaan, dan gerakkan kehendak. Allah Yang Mahabijaksana menyebutnya dengan roh hewani. Ia merupakan instrumen perantara antara kalbu—sebagai nafs yang berbicara—dan badan. Ada yang berpendapat bahwa nafs itulah yang dalam Al-Quran disebut dengan pohon zaitun sebagai pohon yang penuh berkah, tidak tumbuh di sebelah timur atau di sebelah barat. Sebab, dengan nafs manusia bisa bertambah mulia dan suci. Selain itu, ia tidak berasal dari penjuru timur alam ruh semata atau penjuru barat tubuh yang padat.
Nafs ada yang bersifat ammarah (memerintah), lawwamah (suka mencaci), dan muthma’innah (tenteram). Nafs al-ammarah bi al-su (yang memerintahkan pada keburukan) adalah nafs yang condong kepada naluri badan, menyuruh pada kesenangan dan syahwat, serta menarik kalbu kepada sesuatu yang rendah. Ia adalah jenis nafs yang buruk, sumber segala akhlak dan perbuatan tercela. Selain itu, ia adalah nafs yang dimiliki manusia pada umumnya dan merupakan kejahatan. Bagi nafs al-ammarah bi al-su ini, dzikir ibarat lampu yang menerangi rumah yang gelap gulita.
Nafs lawwamah adalah nafs yang memberikan cahaya tertentu kepada kalbu yang dengannya manusia tersadarkan dari kelalaian. Setelah itu, ia pun mulai memperbaiki diri. Ia berpindah-pindah di antara unsur ketuhanan dan unsur kemanusiaan. Setiap kali muncul perbuatan jahat yang berasal dari karakter dan tabiat buruknya, cahaya peringatan ilahi segera meluruskan. Pada saat itu ia akan mencaci dirinya seraya bertobat, memohon ampunan, dan kembali pada pintu Sang Maha Pengampun lagi Penyayang. Karena itu dalam Al-Quran Allah menjadikan Nafs lawwamah itu sebagai sandaran sumpah. Allah berfirmsn, “Aku bersumpah dengan hari kiamat. Dan Aku bersumpah dengan Nafs lawwamah (yang sering mencaci).” (Q.S. al-Qiyamah [75]: 1-2).
Seperti dijelaskan sebelumnya, nafs ada yang bersifat ammarah (memerintah), lawwamah (suka mencaci), dan muthma’innah (tenteram). Menurut Ibnu Atha’illah, melalui dzikir, nafs dalam diri manusia itu seolah-olah menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam sebuah rumah yang penuh dengan segala hal buruk seperti kotoran, anjing, babi, singa, macan, dan gajah.
Lalu setelah ia bergumul dengan berbagai macam keburukan itu, ia berusaha mengeluarkannya. Ia pun sempat terluka oleh binatang-binatang buas yang ada di dalamnya. Karena itu, ia segera melakukan dzikir dan munajat agar dzikir tersebut bisa mengalahkan dan mengeluarkan mereka.
Nafs lawwamah terus berusaha sekuat tenaga mengumpulkan berbagai perabotan sampai akhirnya rumah itu menjadi indah. Setelah itu, barulah rumah tersebut layak dihuni dan ditempati sang penguasa (dzikir). Ketika dzikir bertempat di dalamnya dan tatkala al-Haq tampak dengan jelas, nafs itu pun kembal pada kondisi muthma’innah (tenteram). Itulah nafs yang mendapatkan cahaya kalbu secara sempurna. Nafs tersebut mengikuti kalbu untuk naik menuju surga alam kesucian yang bersih dan terhindar dari segala kotoran. Nafs muthma’innah selalu tekun mengerjakan ketaatan, serta merasa tenteram bersama Allah Dzat Yang meninggikan derajat kemuliaan. Sehingga Allah berseru kepadanya, “Wahai nafs muthma’innah, kembalilah pada Tuhanmu dalam kondisi ridha dan mendapat ridha. Masuklah sebagai hamba-Ku, serta masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. al-Fajr [89]: 29-30).

JALAN CINTA MENUJU TUHAN:


Menyelami Bahasa Kasih Sang Pecinta
Ada orang yang memahami Tuhan sebagai ‘kekuatan’ yang menakutkan, karena itu penghambaan atau ibadah didasarkan rasa takut (khauf). Ada juga yang memahami Tuhan sebagai ’kekuatan’ yang indah dan menjanjikan kebaikan, karena itu penghambaan atau ibadah dilakukan didasarkan pada jalan cinta dan harap (mahabbah dan raja). Sebaiknya melalui jalan apa kita menuju atau beribadah kepada Tuhan?.
Tuhan, Kosmologi dan Manusia
Disadari atau tidak, cara pandang kita terhadap Tuhan pada akhirnya menentukan laku ibadah dan penghambaan kita kepada Allah Swt. Persepsi manusia tentang Tuhan yang maha agung, perkasa, memaksa, sombong dan atribut ‘maskulin’ lainnya, mempengaruhi cara manusia mendekatiNya. Demikian, jika menganggap dan memahami Tuhan sebagai pemilik atribut-atribut ‘feminis’, seperi maha kasih, sayang, cinta, pemaaf, lembut dan lain-lain. Dalam studi agama-agama (religious studies) terkenal jargon Tuhan sebagai kekuatan yang menakutkan dan Tuhan yang mendamaikan. Kedua tesis ini mempengaruhi cara hamba beribadah kepadaNya.
Cara pandang bahwa Tuhan cenderung dipahami sebagai pemiliki atribut-atribut maskulin mensyaratkan penghambaan kepadaNya akibat dari rasa takut (khauf). Akan berbeda ketaatan kita kepada atasan kerja karena ia berwibawa, kharismatis dan atau karena mendamaikan, menarik dan supel berkomunikasi. Yang pertama, kepatuhan dan ketaatan kita dipastikan karena rasa takut akan dampak dan konsekuensi pembangkangan. Sebaliknya, menyadari atasan kita orang yang baik hati, supel bergaul, perhatian dan lain-lain, ketaatan kita kepadanya akan berdasarkan rasa harap dan cinta yang tinggi.
Menyadari hal ini, penting apa yang disebut sebagai cara pandang tentang semesta (kosmologi). Bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta temasuk manusia di dalamnya. Sudut pandang disiplin fisika dan ilmu-ilmu eksakta lainnya tentang kejadian alam, akan berbeda dengan pandangan tasawuf, misalnya. Pendekatan eksakta mentahbiskan bahwa alam semesta terdiri dari struktur kosmologis yang sistematis. Sebaliknya, pandangan tasawuf.
Dalam perspektif tasawuf, alam semesta dan segala isinya diciptakan Tuhan sebagai sarana tajalli (penampakan) Tuhan, atau cermin Tuhan. Dalam tasawuf, terdapat hadis qudis yang familiar, kuntu kanzan makhfiyyan lam u’raf, fa ahbabtu an u’rafa, fa khalaqtu al-khalqa. Kata Allah: “Aku adalah rahasia tersembunyi yang tidak dikenal. Aku senang untuk diketahui (di-ma’rifati). Karena itu, Aku ciptakan semesta”.
Dalam perspektif tasawuf, alam semesta dan segala isinya diciptakan Tuhan sebagai sarana tajalli (penampakan) Tuhan, atau cermin Tuhan. Dalam tasawuf, terdapat hadis qudis yang familiar, kuntu kanzan makhfiyyan lam u’raf, fa ahbabtu an u’rafa, fa khalaqtu al-khalqa. Kata Allah: “Aku adalah rahasia tersembunyi yang tidak dikenal. Aku senang untuk diketahui (di-ma’rifati). Karena itu, Aku ciptakan semesta”. Oleh karena itu, menurut sufi Ibn ‘Arabi, segala gerak alam semesta berawal dan memuara pada cinta. Segala proses penciptaan alam semesta berdasarkan dorongan cinta Tuhan agar diri-Nya dikenal. Dengan begitu, relasi manusia kepada Tuhan, dalam perspektif tasawuf berada dalam posisi intim luar biasa. Dalam bahasa lain, jalan cinta atau mahabbah sangat tepat di dalam memahami dan menghambakan diri kepada Allah Swt Penguasa alam semesta.
Nabi Muhammad Saw. dan Jalan Cinta Menuju Tuhan
Cinta bukan teori, tetapi praktek dan pengalaman. Orang yang selalu ingin mendefinisikan cinta sesungguhnya tidak sedang benar-benar mengenal cinta. Cinta bukan kata-kata, cinta adalah pengalaman pribadi seseorang bersama yang dicintainya. Allah Swt., berfirman, “Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S Ali-Imran [3] : 31).
Menjelaskan ayat di atas, Ibn ‘Arabi menyebutkan, “Aku beragama dengan agama cinta, kemanapun tunggangan kendaraannya mengarah, maka agama itu (cinta) adalah agamaku dan imanku.” Mencintai Tuhan dan mengikuti Muhammad adalah jalan (agama) cinta. Berdasarkan ayat di atas ketaatan dan kecintaan kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari ketaatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. Tidak bisa diterima taat kepada Allah tapi pada saat yang sama menistakan ketaatan kepada Nabi Muhammad Saw. Demikian karena, jaminan dari Allah Nabi Muhammad memiliki kemuliaan akhlak tinggi, laqad kana lakum fi rasulillah uswatun hasanah (QS. al-Ahzab [33] :21), dan wa innaka la’ala khuluqin azhim (QS. al-Qalam [68] : 4).
Dalam kosmologi cinta, Muhammad adalah cermin paripurna Tuhan, tempat tajalli Tuhan. Nabi laik diteladani karena ia tajalli Tuhan yang paling sempurna. Jika melihat Muhammad sebenarnya sedang melihat Tuhan. Muhammad adalah cermin bersih bagi Tuhan. Menurut ‘Aisyah sahabat sekaligus isteri Nabi, akhlak Nabi adalah al-Qur’an. Sementara al-Qur’an ‘kalam’ Tuhan sendiri, maka Muhammad al-Qur’an adalah yang hidup dan mengaktual. Memahami Muhammad sama dengan memahami Tuhan, mencintai Muhammad berarti mencintai Allah Swt.
Memahami Muhammad sama dengan memahami Tuhan, mencintai Muhammad berarti mencintai Allah Swt.
Nabi Muhammad membaca cinta dalam perjalanan panjang menuju Allah Swt. Berdasarkan catatan sejarah, siapa pun sepakat, sejak semula Muhammad seorang yang terpercaya. Praktek damai, cinta, kesejukan dan kesantunan bersosial dan beribadah diwujudkan dalam perikehidupannya. Dalam semangat ini, misalnya adalah tidak ideal, jika kita melihat negara-negara di Timur Tengah teribat konflik, kekerasan dan sektarianitas di antara sesama penganut agama Islam. Yang ada hanya kebencian, dendam, permusuhan dan curiga yang tidak berkesudahan. Mereka telah kehilangan spirit cinta, baik dalam relasi sesama manusia atau relasi manusia kepada Tuhan. Sejatinya jika mencintai dan memahami Tuhan dalam spirit kesantunan dan kedamaian, hal-hal destruktif tidak akan muncul.
Cinta dan Tuhan
Karena Tuhan menampakkan diri dalam atribut pengasih, penyayang, pemaaf dan atribut feminis lainnya, maka cinta adalah jalan terbaik dalam memahami, mendekati dan menghambakan diri kepadaNya. Tuhan Maha Indah dan mencintai keindahan. Perspektif cinta dalam beribadah berarti, menerima beban atau perintah (taklif) apa pun yang diberikan kekasih dengan gegap gembira dan cinta. Menurut Ibn ‘Arabi, tidak ada agama yang lebih luhur ketimbang agama yang disandarkan kepada cinta dan kerinduan kepada Tuhan sebagai kekasih. Agama ini khusus bagi umat muslim, karena Muhammad menempati makam cinta yang paling sempurna di sisi Allah Swt.
Perspektif cinta dalam beribadah berarti menerima
beban (taklif) apa pun yang diberikan kekasih
dengan gegap-gembira dan cinta
Ilustrasi terbaik bagaimana cinta diaplikasikan dalam mendektai Tuhan, dilakukan sufi Basrah Rabi’ah Adawiyah. Ia menyembah Tuhan bukan karena berharap surga, tetapi ingin bertemu dengan pemilik surga. Bahkan disebutkan, betapa hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah secara total, ia tidak lagi membenci setan. Katanya, “Kecintaanku kepada Allah, mengalahkan atau melampaui benciku kepada setan”.
“Kecintaanku kepada Allah, mengalahkan atau melampaui benciku kepada setan”.
Tasawuf adalah jalan cinta. Jalan terbaik menuju Tuhan. Salah satu definisi tasawuf: jalan cinta menuju Tuhan yang dialami sebagai kekasih. Ibadah dilakukan bukan karena diperintah atau beban dari Tuhan, tetapi karena ingin berjumpa dengan kekasih, misalnya shalat dan puasa. Cinta meniscayakan belajar sepanjang hayat bahwa ibadah yang dititahkan bukan beban, tetapi kebutuhan yang tidak dikesampingkan. Allah Swt. berfirman: “Barangsiapa ingin bertemu dengan Tuhannya, maka hendaklah ia melakukan amal shaleh dan tidak menyekutukanKu’. (Q.S Isra [17] )
Saat ini banyak orang meninggalkan cinta. Cinta semakin hilang dari kesadaran umat Islam baik dalam ibadah mahdhah kepada Allah, maupun ibadah ghair mahdhah, ibadah sosial. Akibatnya mudah ditebak, ibadah dianggap sebagai beban yang melelahkan. Dalam konteks sosial-politik, beberapa Negara Timur Tengah terjebak dalam perang sipil yang tidak berkesudahan. Di Irak, Suriah, Mesir, Tunisia dan lain-lain. Mereka tidak lagi memiliki cinta, diganti oleh dendam, benci, amarah dan curiga yang tidak berdasar. Hendaknya kita mencintai siapa saja. Kita jangan pernah membenci orang lain, hingga orang yang musyrik sekalipun. Jika pun harus membenci, maka yang kita benci perbuatannya bukan pelakunya. Nabi Isa Almasih berpesan: “Cintailah musuhmu!” Ketika mencintai musuh, musuh itu pada hakikatnya tidak ada lagi.
Kita jangan pernah membenci orang lain, hingga orang yang musyrik sekalipun. Jika pun harus membenci, maka yang kita benci perbuatannya bukan pelakunya. Nabi Isa Almasih berpesan: “Cintailah musuhmu!” Ketika mencintai musuh, musuh itu pada hakikatnya tidak ada lagi.
Apakah kita memiliki cinta atau tidak, paling tidak ada dua ciri utama. Pertama, Mengikuti keinginan yang dicintai. Jika kita mencintai Tuhan, maka kita akan mengikuti kehendak Tuhan tanpa syarat. Seorang sufi bernama Abu Yazid al-Bisthami ditanya, Apa keinginanmu? Yazid tidak langsung menjawab, ia bilang “Aku ingin tidak memiliki keinginan”. (Aku berkeinginan untuk tidak punya keinginan/berkeinginan). Jadikan aku keinginan-Mu, jadikan aku menginginkan orang yang menginginkan segala sesuatu yang Engkau inginkan. Sehingga tidak ada yang diinginkan selain apa yang diinginkan oleh-Mu.” Kedua, mensifati atau mengimitiasi dirinya dengan yang dicintai. Dalam konteks Allah, kita berakhlak dengan akhlak Allah.
Apakah kita memiliki cinta atau tidak, paling tidak ada dua ciri utama. Pertama, Mengikuti keinginan yang dicintai. Kedua, mensifati atau mengimitiasi dirinya dengan yang dicintai
Bukti cinta adalah kerinduan. Jika kita tidak pernah merindukan yang dicintai, maka jangan-jangan kecintaan kita masih semu. Menurut Aisyah, orang yang mencintai sesuatu, ia akan sering menyebutnya. Maka, dzikrullah (mengingat Allah), bukti cinta kita kepada Allah Swt., selain hal-hal seperti diuraikan di atas.

JALAN YANG HAKIKI

Bahwa tugas manusia adalah menanggung rahasia Allah dan memulangkan rahasia tersebut di dalam keadaan yang bersih, suci seperti asalnya tatkala awal di terimanya dahulu.JALAN KEWALIAN
Setelah dilahirkan ke muka bumi ini mulai dari kecil hingga besar manusia telah menjalani dinamika dalam kehidupannya hingga sampailah dia meninggal dunia, mulai saat itulah maka dia harus mempertanggung jawabkan amanah yang telah diberikan yaitu sumpah janji kita dengan Allah Ta’ala.
Manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan bersih disisi Allah, tetapi kemudian menjadi kotor dan terhijab hubungannya dengan Allah s.w.t., oleh karena itu maka terputuslah hubungan diri batin rahasia Tuhannya dengan diri Empunya Diri.
Keadaan seperti ini bisa diibaratkan seperti orang yang hidup sebatang kara dan berada di dalam gua yang tertutup, gelap gulita, tidak ada cahaya serta tidak ada juga jalan untuk keluar dari gua tersebut.
Hidupnya merana, resah, gelisah dan sebagainya sebelum dia dapat menemukan kembali jalan untuk keluar dari gua tersebut.
Begitu juga hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia memerlukan sinar hidayah untuk mengeluarkan dirinya dari hijab kegelapan, agar bisa kembali membuat hubungan dengan diri Empunya Diri.
Perlu diketahui bahwa hubungan antara diri Rahasia dengan diri Empunya diri harus berhubungan terus tanpa terputus dalam hidupnya selama 24 jam setiap hari dan setiap detik.
Seandainya diri kasar ( jasmani ) dapat dibikin menjadi gemuk dan sehat dengan memberi makan-makanan yang lezat seperti : daging, buah-buahan dan lain sebagainya, maka begitu juga dengan diri halus ( rohani ), dia juga membutuhkan makanan yang bisa membuat dirinya menjadi segar, gemuk dan bersih. Makananyang dimaksudkan itu adalah zikir. Dengan makanan zikirlah maka dia dapat berhubungan dengan diri Empunya Diri dikala nafas masih dikandung badan atau jasad dan roh belum berpisah.
Oleh karena itu jika badan kasar manusia memerlukan minuman dan makanan agar bisa sehat, senang dan gembira, maka badan Rohani kita juga tidak terlepas daripada hal yang sama, semua itu tidak lain dan tidak bukan adalah zikrillah.
Oleh sebab itu makanan zikir ini harus kita sediakan supaya badan Rohani kita ini akan menjadi sehat, segar, suci, seimbang dengan kesehatan tubuh kasar kita.
Kebanyakan orang hanya bisa menjaga tubuh kasar ini dengan baik, kebersihan di jaga, makan minum di jaga, pakaian di jaga, pendek kata semuanya di jaga dengan baik. Tetapi mereka lupa menjaga dirinya yang satu lagi, yaitu Rohani. Mereka membiarkan badan rohani itu tersiksa, kurus kering yang akhirnya menyebabkan jiwanya, matanya, pendengarannya tertutup oleh hijab-hijab yang tebal yang mengakibatkan terputusnya hubungan dirinya dengan Empunya Diri.
Akibat terputusnya hubungan manusia dengan Tuhannya itu, maka muncullah sifat-sifat yang tidak baik pada diri manusia tersebut yang pada akhirnya menjauhkan dirinya dengan Empunya Diri, di samping itu timbul juga perangai-perangai yang dibenci oleh syariat dan hakikat Allah s.w.t.
Manusia seperti ini akan hilang perasaannya, hilang pertimbangannya. hilang fikiran baiknya, dan juga akan hilang akal sehatnya sehingga menyebabkan benih-benih iman pada dirinya menjadi kotor dan mati. Bila saja benih-benih imannya mati maka manusia tersebut akan menjadi sesat dan lupa akan tugas utamanya dengan Allah s.w.t. dan manusia itu diibaratkan seperti seekor bangkai yang bernyawa ataupun binatang berupa manusia.
Menyadari hal ini maka manusia harus kembali ke jalan Tuhannya dengan caramengenal Tuhannya yang menjadi tuan Empunya Diri.
Seperti sabda Rasulullah s.a.w.
Awalludin Makrifatullah
Artinya :
Bahwa awal-awal hidup (agama) itu adalah mengenai Allah.
Oleh karena Allah Ta’ala mempunyai sifat yang tidak dapat dikenal oleh panca indra, maka diberikanlah jalan untuk mengenalinya dengan cara mengenal Rahasia diri sendiri.
Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah s.w.t. di dalam Hadist Qudsi :
Man Arafa nafsahu fakad arafa Rabbahu
Artinya :
Barang siapa yang mengenal dirinya, maka kenallah Tuhannya.
Dalam proses pengenalan dirinya ini maka beberapa jalan harus ditempuh dan dilalui yaitu jalan tarikat, jalan hakikat dan jalan makrifat.
Jalan-jalan ini adalah merupakan jalan-jalan yang pernah ditempuh dan dilalui oleh para Rasul, Nabi-Nabi, Aulia-aulia, para Ariffin-Biilah, para Siddiqin, para Salehin dan Wali-Wali Allah yang agung.
Mereka yang hendak menuju ke jalan ini haruslah membersihkan diri, hati, jiwa dan raga mereka yaitu, bersih dari sifat iri, dengki, khianat, syirik dan lain sebagainya yang mana semua sifat-sifat itu tidak disukai oleh Syari’at dan Hakikatnya Allah s.w.t.
Mereka hendaklah mendapatkan latihan untuk membersihkan dirinya dan jiwanya melalui seorang guru Hakiki dan Makrifat lagi Mursyid, yang bisa memberikan petuah dan petunjuk agar mengikuti pengalamannya untuk menuju ke martabat Hakiki dan Makrifat.
Seseorang itu hendaklah mencari seorang guru yang Mursyid, yang mempunyai ciri-ciri sebagaimana yang akan diterangkan di dalam bab mengenai “ GURU MURSYID “
Setelah menemui guru-guru yang Mursyid mereka haruslah berguru dengan guru yang dijumpainva itu serta meminta izin dari guru tersebut untuk disambung saluran Jalan Hakiki dan Makrifat dari padanya.
Bila saja tersambung saluran jalan Tarikat, Hakikat, Makrifat, maka sudah tentu gurunya akan mengarahkannya untuk berbuat sesuatu seperti disuruh berzikir, dengan zikir-zikir tertentu atau dengan cara-cara yang diatur oleh guru tersebut mengikuti tata caranya, tentunya setelah diangkat menjadi muridnya.
Maka hendaklah muridnya tersebut beramal dengan petuah-petuah yang diberikan oleh gurunya dari satu peringkat keperingkat berikutnya, dari satu zikir ke satu zikir berikutnya.
Seperti sabda Rasulullah s.a.w.
Artinya :
Barang siapa mengamalkan apa-apa yang ia ketahui (yang dipetuakan) niscaya akan diwariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.
Syarat-syarat anak murid yang ingin mempelajari ilmu Hakikat ketuhanan, hendaklah mempunyai sifat ketabahan dan memenuhi 4 syarat penting :
1. Berani . ‘
2. Ikhlas
3. . Fikirannya tajam
4. Akal yang waras.
Bila seseorang mempunyai sifat-sifat ini maka bolehlah dia mempelajari ilmu hakikat dan Makrifat.
Adapun syarat-syarat seseorang yang hendak menuntut ilmu Hakikat, maka hendaklah mereka mengetahui dan mengikuti syarat menuntut ilmu seperti di bawah ini agar dia bisa memperoleh berkahnya di dunia dan akhirat.
1. Jangan mendurhakai guru dan anak cucunya sampai tujuh keturunan
2. Hendaklah taat kepada perintah guru.
3. Hendaklah seorang murid senantiasa berkhidmat kepada gurunya.
4. Bersedekah kepada gurunya dengan ikhlas.
5. Mengunjungi rumah guru minimal 2 hari raya setiap tahunnya.
6. Mencium tangan gurunya ketika bersalam dengan gurunya.
7. Senantiasa merendahkan dirinya kepada gurunya.
Di dalam menuntut ilmu Hakikat dan Makrifat ada 4 hal yang tidak boleh dilanggar secara sengaja atau tidak sengaja dan ini menjadi pantangan atau larangan besar dalam menuntut Ilmu Hakiki dan Makrifat.
Pertama : Durhaka kepada gurunya.
Kedua : Tidak beriman terhadap sesuatu yang ghaib yang berkaitan dengan ilmunya.
Ketiga : Tidak meyakini atau ragu terhadap kebenaran ilmunya.
Keempat : Tidak tauhid dengan ilmunya yaitu tidak mempunyai keteguhan keyakinan terhadap keberkatan dan kesaktian ilmunya.
Adapun syarat-syarat murid dengan murid seperguruannya adalah :
1. Jangan iri hati diantara satu dengan yang lainnya.
2. Senantiasa mengamalkan dan menelaah ilmunya sesama murid.
3. Jangan bertengkar atau berkelahi sesama murid yang lain.
4. Senantiasa tolong menolong antara satu dengan lain.
5. Hendaklah menganggap sesama murid itu bersaudara.
6. Senantiasa memberi ingatan kepada yang lalai.
7. Membela gurunya dan kawan seperguruan-nya.
Pada peringkat awal penerimaan ilmu Hakiki dan Makrifat maka murid tersebut hendaklah mengamalkan petuah-petuah yang diberikan oleh gurunya. sehingga murid tersebut dia akan mendapatkan NUR dalam bentuk mimpi di dalam tidurnya. Mimpi-mimpi ini adalah merupakan sebagian daripada ilmu ghaib melalui penyampaian LADUNI dan bila hal ini dialami oleh murid tersebut, maka hal ini harus diingat baik-baik, tentang apa-apa yang dilihatnya dalam mimpinya tersebut. Misalnya keadaan tempat, suasana tempat, orang-orang yang dijumpainya, bentuk rupa dan wajah orang-orang di dalam mimpinya tersebut dan sebagainya tentang apa-apa yang digambarkan di dalam mimpinya itu. Setelah itu murid tersebut sebaiknya membuat catatan untuk dipersembahkan kepada pengetahuan gurunya agar mendapat tabir penafsiran terhadap makna dan maksud mimpi tersebut di dalam konteks ilmu Hakiki dan Makrifat.
Murid ini hendaklah terus menerus dan tekun mengamalkan petuah-petuah dari gurunya hingga dia bisa membersihkan gumpalan darah kotor yang berada di Jantungnya shingga terpancarlah nur dari hatinya dan sesungguhnya nur itulah yang dinamakan hati nurani
Setelah berhasil mendapatkan hati nurani maka murid tersebut dalam menjalani latihan hakikat dan makrifat ini akan dikaruniakan satu mata yang dapat melihat dan menembus 7 lapis langit 7 lapis bumi, mata tersebut dinamakan mata bashir.Sesungguhnya melalui mata bashir dan telinga batin inilah seseorang murid tadi akan dapat menerima ilmu dari guru-guru ghaib yang akan mengajar ilmu hakiki dan makrifat melalui satu lagi cabang atau cara penyampaian LADUNl yaitu SIRUSIR.
Keadaan tingkah-laku murid pada peringkat ini sudah mulai berhasil membentuk jiwanya tenang, lapang, tidak ada lagi perasaan resah gelisah di dalam hidupnya. sedangkan hatinya terus berada bersama Allah pada setiap detik dan setiap saat.
sebagaimana firman Allah Ta’ala :
Surah Al Fajr ayat : 27 – 30
Artinya :
Wahai orang-orang yang bernafsu pulanglah kepada pangkuan Tuhanmu dengan perasaan lapang dan kesenangan dan jadilah kamu hambaKu dan kekallah dirimu didalam Syurga.
Pada peringkat ini murid tersebut bisa disifatkan telah mencapai makam wali kecil yaitu pada martabat nafsu mutmainnah dan Syurga dijamin sudah oleh Allah di Akhirat nanti.
Pada martabat ini mereka telah dapat meningkatkan pendengaran dan penglihatan mereka melalui telinga batin dan mata bashir mereka ke alam Barzah ( alam kubur ).Mereka juga dapat melihat bagaimana alam Barzakh. Mereka bisa melihat dan mendengar dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana nasib atau suka-duka seseorang itu yang telah berada di alam Barzakh. Di samping itu juga mereka diberi kemampuan untuk menjelajahi ke alam lain. Oleh sebab itu bila telah sampai ke martabat ini seseorang murid itu tidaklah boleh memberhentikan latihan dan amalannya mengikuti petuah gurunya. Dia harus bekerja lebih keras dan lebih tabah untuk menjangkau martabat yang lebih tinggi lagi.
Dia harus berusaha membersihkan dirinya untuk mencapai tingkatan yang lebih luhur lagi, pada tingkatan ini hatinya sering fana bersama dengan Allah s.w.t. zikirnya pada tingkatan ini telah melekat dihatinya pada setiap saat dan tidak terpisah dari menilik rahasia dirinya serta dia dapat memecah diri batinnya dari satu wajah ke wajah yang lain sampailah ke wajah yang tertinggi pada martabat 9.
Bagi mereka yang telah berhasil mendapat wajah, mereka ini akan berpeluang menelusuri alam yang lebih jauh. Mereka dapat menembus 7 lapis langit, 7 lapis bumi. Mereka menjelajah sambil melawat dengan penuh kenikmatan, kebahagiaan dan kegembiraan yang tidak mungkin dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Hal ini hanya bisa dirasakan sendiri oleh orang-orang yang mendalaminya dan yang telah sampai pada martabatnya.
Jiwa mereka saat ini sering fana bersama dengan Allah s.w.t. serta jiwanya tidak pernah terpisah pada ingatanya kepada Allah s.w.t. pada kondisi ini hatinya mulai bersih, suci dan luhur pada Allah s.w.t. mereka sering lupa diri zahirnya karena terlampau asyik menilik ke dalam rahasianya sendiri karena mereka menikmati suatu kelezatan yang ter-amat sangat.
Dalam keadaan fana beginilah maka seorang murid tersebut sering terucap dari mulutnya yang menimbulkan fitnah pada orang-orang syariat.
Misalnya terucaplah dari mulutnya dengan kata “aku makan semeja dengan Tuhanku” ataupun sambil mengangkat tangannya kepada orang “Ini tangan Tuhan”, kadang-kadang keluar ucapan secara fasih dan nyaring dengan kata-kata“Akulah Tuhan sebenarnya” dan lain sebagainya yang membuat bingung orang-orang syariat. Keadaan ini timbul karena begitu kuatnya gelora fana yang bergelombang didalam lamunan cintanya terhadap diri rahasianya.
Dalam kondisi murid yang keadaannya seperti ini maka dia harus mendapat perhatian khusus dari gurunya agar dia tidak menimbulkan suatu fitnah dari orang-orang syariat yang bisa jadi membahayakan keselamatan dirinya sendiri.
Bila seseorang murid itu telah berhasil mencapai tahapan ini, maka bolehlah disifatkan murid tersebut telah sampai ke martabat Wali Besar ( Wali Akbar ) pada peringkat nafsu …………… ataupun …………..
Kalau sudah mencapai ke tahapan ini maka seorang murid tersebut akan menerima tamu-tamu agung yang terdiri dari para Rasul, para Nabi, para Aulia, dan Wali-wali Allah yang datang mengunjungi mereka dan mengajarkan ilmu-ilmu yang lebih dalam dan memberi peluang kepada mereka menjelajahi alam yang lebih jauh termasuk Syurga, Neraka, Arash dan Qudsi Allah s.w.t.
Kehadiran para pelawat agung tersebut adalah secara hidup-hidup bukan dalam suatu mimpi. Penerimaan tetamu semacam ini disebut oleh para ahli Tasawuf sebagai cara penerimaan Laduni di peringkat Tasawuf.
Jiwa murid yang telah Berhasil menerima – Tasawuf ini sangat tenang, hatinya tetap terus bersama Tuhannya pada setiap saat dan terhadap diri rahasianya adalah tetap. Pada situasi seperti ini bisa juga disifatkan murid tersebut telah dapat sampai kemakom Fana Bakabillah dan duduklah ia di dalam kelezatan bersama dengan Allah s.w.t.
Setelah menerima Tawassul, maka seseorang murid tersebut hendaklah berusaha terus untuk menjangkau satu lagi martabat ……… ( Insan Kamil ) pada martabat nafsu……… ataupun ……….
Dimana bila saja tercapai pada martabat ini murid tersebut akan menjadi orang yang tertinggi di sisi Allah s.w.t. dan di pandang mulia oleh setiap makhluk di muka bumi ini.
Murid ini dalam kehidupannya seperti orang biasa pada umumnya yaitu : berniaga, bertani, berpolitik, dan sebagainya sehingga susah bagi orang lain untuk menerka kedudukan ilmunya dan mertabatnya di sisi Allah s.w.t.
Pendek kata kehidupan mereka seperti orang biasa pada umumnya, tidak menampakan ilmunya dan lain-lain perangai yang susah untuk ditebak oleh manusia biasa tentang kealimannya, ketinggian derajatnya, keberkatan dirinya dan sebagainya.
Dalam kehidupnya mereka membaur dalam masyarakat dengan menyembunyikan ilmunya, sementara hatinya tidak sekali-kali pernah melupai Allah s.w.t. walau sedetikpun.
Ingatan dan tilikan terhadap diri rahasinya tidak pernah lepas atau lalai, malah dia tetap tinggal dan beristana didalamnya pada setiap saat sepanjang hayatnya.
Inilah suatu martabat yang paling tinggi yang dapat dicapai oleh manusia di dalam memakrifatkan dirinya dengan Allah s.w.t. mereka sangat mengenal akan dirinya dengan arti kata yang sebenar-benarnya.
Dialah seorang manusia yang tetap berada di sisi Allah di dunia dan akhirat, dan di akhirat nanti mereka akan ditempatkan bersama para Rasul, Aulia, Nabi-nabi di dalam menikmati bakti yang tertinggi.
Seperti firman Allah s.w.t. di dalam Al-Qur’an :
Surah : An Nisaa’ Ayat 69
Artinya :
Dan barang siapa yang mentaati Allah da rasulnya. Mereka itu akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat yaitu para Nabi, para Shidiqqin, para Syuhadah dan orang-orang Shalleh dan mereka itulah sebaik-baiknya umat.
Ingatlah bahwa permulaan pada saat tercapainya seorang murid pada Martabat Wali Kecil yaitu pada nafsu …… maka timbullah sifat-sifat agung yang di miliki oleh seorang Wali seperti : berkat, keramat, mustajab dan sifat-sifat lainnya yang tidak ada pada manusia biasa, pendek kata apa yang adalah apa yang diminta akan dikabulkan, apa yang dikehendaki akan terjadi.
Manakala telah tercapai peringkat atau martabat Wali Besar yaitu pada nafsu …. atau ….. maka muncul juga sifat-sifat kesaktian atas dirinya.
Disini semua kelakuan yang diperbuatnya akan diredhoi oleh Allah Ta’ala secara spontan.
Pada hak tertinggi para Tasawuf mensifatkan kelakuan begini sebagai :
KUN FAYAKUN
Artinya :
Jadi maka jadilah
Pada martabat ini mereka mempunyai kesaktian yang amat tinggi.
Oleh karena itu wahai anak cucuku tuntutlah jalan kewalian ini, semoga kita semua di redhoi di dunia dan akhirat.

MENYUCIKAN HATI **

MENYUCIKAN HATI **
Kebanyakan manusia akan melebarkan senyumnya ketika ia dikaruniakan “kesenangan” tetapi mengapa mereka tidak dapat mengukir senyuman didalam menghadapi apa yang dianggapnya “susah”. Sepatutnya jika manusia tersebut boleh senyum lebar di kala senang maka sebaliknya manusia tersebut boleh-lah tersenyum simpul dikala susah.
( Lanjutan dari iman dan hati bag I )
Sabda Rasulullah s.a.w.
Artinya :
Di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah, jika darah itu baik maka baiklah manusia tersebuit dan jika darah itu kotor maka kotorlah manusia itu. Sesungguhnya gumpalan darah itu adalah hati.
Sesungguhnya manusia itu yang dinilai adalah hatinya, semakin kotor hati manusia, maka semakin jauhlah manusia itu dengan Allah s.w.t., sebaliknya semakin suci hati manusia, maka semakin dekatlah Allah s.w.t. kepada dirinya, hanya hati yang suci saja yang dapat membawa manusia ke jalan makrifat dengan Allah s.w.t.
Karenanya menjadi tugas manusia yang ingin me-matlumat-kan hidupnya untuk memakrifatkan dirinya dengan Allah s.w.t. menyucikan hatinya, sebab bila hati sudah suci maka timbullah pada dirinya kasih kepada dirinya, kasih kepada Allah s.w.t. dan kasih kepada Tuhan Semesta Alam.
Sesungguhnya hati yang kotor tidak mungkin dapat membawa manusia kasih kepada dirinya dan kasih kepada tuhannya apa lagi untuk mengenal dirinya sendiri.
Sesungguhnya pembersihan hati itu untuk membuka jalan agar manusia dapat mengenal dirinya, karena tanpa mengenal dirinya maka manusia tidak dapat memberikan kasih sayang yang sebenar-benarnya kepada Tuhannya. Hanya hati yang dikuasai oleh Allah sajalah yang bisa memberikan peluang kepada manusia untuk mengenali dirirnya dan Tuhanya.
Bila manusia mengenal dirinya maka barulah muncul didalam dirinya suatu martabat hati yang benar-benar kasih kepada Allah s.w.t.
Seperti firman Allah taala didalam al-Quran :
Artinya :
Mereka mengasihi diri mereka sebagimana mereka mengasihi Allah.
Dan firman Allah taala lagi :
Surah Ali Imran ayat : 31
Artinya :
Katakanlah, jika kamu benar-benar menyintai Allah ikutilah aku, niscaya Allah mengasishi.
Ingatlah !! hati yang kotor akan dikuasai oleh iblis, hati yang kotor akan menjadi istana iblis atau sebagai pemerintahan iblis yang akan menjajah seluruh alam saghir yaitu tubuh kita.
Bila iblis menguasai kerajaan alam Saghir, maka seluruh dasar pemerintahnya adalah bertujuan untuk melalaikan kita dari mengingat kepada Allah dan menjauhkan diri kita dari Allah s.w.t . Semakin lama dibiarkan iblis menguasai kerajaan maka selama itulah manusia tersebut jauh dengan Allah. bahkan hanya akan membawa manusia tersebut kelembah yang terhina disisi Allah s.w.t.
seperti firman Allah taala didalam Al-Quran :
Surah ; Yusof ayat 5
Artinya :
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.
Bila syaitan dan iblis menjadi penguasa kerajaan pada diri kita. Maka kita tidak mungkin sekali dapat petunjuk dari Allah s.w.t dan justru itu juga maka terhindarlah mata hati yang memberi sinar makrifat kepada Allah s.w.t dan tinggalah kita yang dikuasai syaitan dan iblis itu didalam kegelapan hidup yang tidak menentu.
Untuk mendapat mata hati dan petunjuk dari Allah s.w.t maka hati harus disucikan jika Allah dapat berkuasa maka hatipun terus bertukar menjadi pusat pemerintah Allah atau Istana Allah.
Seperti sabda Rasulullah s.aw.
Artinya :
Hati orang mukmin itu istana Allah.
Bila Allah beristana dihati maka terbitlah dan muncul-lah mata hati (lampu makrifat) yang akan memberi daya keyakinan yang mutlak dan pegangan yang sejati terhadap sesuatu, walaupun hal itu keluar dari jangkauan pemikiran manusia itu sendiri disamping ilmu dan petunjuk dari padanya.
Seperti firmaNya didalam Al-Quran
Surah Al- Baqarah ayat : 5
Artinya :
Mereka itulah mendapat petunjuk dari pada tuhanya dan merekalah orang-orang beruntung.
Dengan mendapat mata hati yaitu mata basir, maka manusia akan mendapat cahaya (Nur Kalbu) yang membawa manusia makrifat kepada Allah s.w.t,. Sesungguhnya Nur Kalbu itulah yang menjadi dasar kepada perjuangan proses menyucikan hati. Kesucian hati pada peringkat awal dapat diukur dengan berhasilnya ke-jaya-an mendapat Nur Kalbu yang memancar pada lampu makrifat ataupun mata batin.
Sesungguhnya mata basir akan terpancar apabila hati bersih dan suci dengan Allah s.w.t dan dengan adanya mata basir maka manusia bukan saja dapat melihat sesuatu yang zahir tetapi manusia tersebut dapat pula menyaksikan sendiri sesuatu yang gaib dan keluar dari daya pemikiran manusia dengan demikian perasaan kasih dan keagungan yang mendalam terhadap Allah makin bertambah kukuh dan tebal.
Dengan demikian manusia akan memberi segala kasih sayang, cinta, rasa dan keagungan itu hanya kepada Allah. Mereka tidak lagi membagikan kasih sayang, cinta, rasa dan keagungan itu kepada yang lain tetapi dengan sesungguhnya timbul pada dirinya sifat –sifat yang mencari segalanya untuk Allah Semata-mata. Mereka tidak lagi akan membuat pergantungan pada orang lain selain Allah dan mereka juga tidak akan
minta pertolongan selain dari pada Allah, mereka hanya mengharapkan untuk mendapat petunjuk dan ilmu serta pertolongan dari Allah s.w.t seperti yang pernah diberikan kepada Rasul-rasul, Nabi-nabi, Aulia-aulia orang –orang yang di…………….seperti Firman Allah didalam Al-Quran.
Surah: Al-Faatihah : ayat 4-7
Artinya :
Yang menguasai hari kebangkitan, kepadaNya dibangkitkan dan kepadanya dimohon pertolongan untuk mendapat jalan sebenarnya yaitu jalan orang-orang yang diredhai dan bukan jalan kesehatan.
Sesungguhnya mata basir itulah yang memberi jalan petunujk kepada manusia itu, menghasilkan suatu Nur (cahaya) yang bernama Nur kalbu, nur inilah yang menghasilkan keyakinan terutama pada suatu hal yang gaib.

Pasal Sembahyang

Adapun rukun Sembahyang itu ada 13 perkara :
Niat
Berdiri betul
Takbiratul Ihram
Fatihah
Rukuk
I’tidal
Sujud
Duduk Antara Dua Sujud
Duduk Tahiyat
Tahiyat Akhir
Salawat
Salam
Tertib
Tumakninah artinya menetapkan suatu rukun pindah ke rukun yang lainnya. Inilah Tumakninah namanya. Menghilangkan gerak dan diam rukun, baru pindah ke rukun yang lainnya, karena apabila gerak rukun umpamanya tidak sempat hilang sudah pindah kepada I’tidal, maka tiadalah sah sembahyangnya karena tumakninahnya tidak ada gerak.
Rukun itu tercampur kepada yang lainnya, inilah syari’at namanya. Maka dari itu kalau kita merasa belum bisa belajar sembahyang, belajarlah terlebih dahulu, sebelum kita mengerjakan sembahyang atau sambil mengerja sambil belajar, karena tiap-tiap rukun sembahyang itu ada mempunyai syarat-syarat yang tertentu.
Inilah yang menjadikan kita diwajibkan belajar, sesuai dengan hadis Nabi yang berbunyi “UT LUBUL’ILMI PARI DATUN ‘ALA KULLI MUSLIMIN NAWA MUSLIMAT” artinya Menuntut ilmu itu wajib atas kita laki-laki dan perempuan. Maka oleh sebab itu kalau kita yang ingin bersembahyang belajarlah terlebih dahulu, kalau ingin selamat di dalam Kubur atau di waktu panas pada hari Mahsyar, karena di dalam sembahyang itu cukup lengkap buat menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir, meluaskan Titiyan Siratul Mustakim, buat payung di waktu panas Padang Mahsyar. Karena sembahyang itu cukup lengkap tersedia apa saja, akan tetapi sembahyangnya orang belajar atau berIlmu. Kalau sembahyang orang yang tiada belajar atau tiada berilmu, pasti tiada dapat lindungan seperti uraian yang tersebut di atas.
Maka dari itu, sesudah lengkap kita ketahui apa apa yang diwajibkan oleh Syara’ yakni Syari’at, kemudian kita tambah pula dengan Ilmu bathin yakni Hakikat, supaya segala amalan sembahyang kita itu lepas dari syirik, ujub, ria, takbur dan sebagainya.
Yang menghilangkan pahala sembahyang, apabila Ilmu Fiqih sudah sungguh-sungguh dipelajari dan Ilmu Tasawuf sudah juga dipelajari, baru itu amalan yang Tahkik yang disyari’atkan oleh Nabi kita Muhammad SAW supaya jangat sampai sembahyang itu sembahyang tiruan saja, tiada ada ilmunya.
Adapun rukun sembahyang itu terbagi 3 (tiga) bagian :
Rukun Qolbi
Rukun Qauli
Rukun Pi’li
Rukun Qolbi itu masuk 2 (dua) rukun yaitu : Niat dan Tertib, tempatnya di hati, tiada boleh dibaca atau dituturkan dengan hati, hanya ingat, atas Ma’rifat saja, takluknya kepada Sifat Ilmu (pengetahuan).
Rukun Qouli itu masuknya 5 (lima) rukun yaitu : Takbiratul ihram, Fatihah, Tahiyat, Salawat, Salam Pertama. Adapun rukun Qouli ini wajib dibaca dengan mulut, tiada boleh diingat dengan hati, membacanya sekira-kira telinga kita sendiri yang mendengarnya, takluknya kepada sifat Sama’ atau pendengaran.
Rukun Fi’li masuknya 6 (enam) rukun yaitu : kelakuan sembahyang : Berdiri Betul, Rukuk, I’tidal, Sujud, Duduk Di antara Dua Sujud, Duduk Tahiyat Akhir, maka yang 6 (enam) ini ialah kelakuan sembahyang, takluknya kepada sifat Bashar (penglihatan). Maka Rukun Fi’li ini ialah kelakuan sembahyang atau kelakuan Allah atas jasad yang terbit dari pada setetes air mani. Diciptakan Allah menjadi tubuh/jasad, itulah hurufnya nasar Nabi Allah Adam yang 4 (empat) yakni Air, Tanah, Api dan Angin, menjadi tubuh hurufnya kepada kita, dan inasar Muhammad itu 4 (empat) pula pada kita yaitu :
Pengrasa
Pendengar
Penglihat
Pencium
maka menjadi Roh kepada kita itulah asal dari pada inasar Muhammad. Maka Muhammad inilah yang disuruh menyembah Allah, karena sesudah inasar Adam menjadi tubuh dan inasar Muhammad menjadi Roh kita, maka sempurnalah kejadian kita, akan tetapi masih belum bisa bergerak apa-apa, Firman Allah Ta’ala : “LAA TATAH RAKA ZURRATAN ILLA BIIZRILLAH” artinya Tidak bergerak Ya Muhammad di dalam alam ini sesuatu apa yang kecil kalau tiada izinKu (RahasiaKu).
Maka Rahasia itu “Nur”. Adapun jalan hakikat yang mengata Allahu Akbar di waktu kita sembahyang itu ialah Rahasia Allah kepada kita. Begini jalan Ma’rifat kita kepada Allah atau kepada Zattullahi Ta’ala yang berpedoman kepada hukum Syara’ yakni Syari’at yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad SAW.
PENJELASAN ORANG ORANG YANG MENINGGALKAN SEMBAHYANG
Nabi bersabda : artinya Siapa yang meninggalkan sembahyang lima waktu, maka ia akan dibebankan seperti tersebut di bawah ini :
Syahadatnya tidak diterima dan harus dibunuh.
Mayatnya jangan dimandikan dan ditanam di jalanan.
Jangan dimakan binatang yang disembelihnya.
Jangan bergaul dengan mereka, karena mereka lebih najis daripada Anjing dan Babi.
Perhatikanlah hadist Nabi Muhammad SAW yang tersebut di atas. Selanjutnya ketahuilah Rahasia Sembahyang, karena itu adalah Nama Nabi Muhammad SAW dan yang pertama dijadikan sembahyang itu adalah Nama “Akhmad” seperti : Berdiri tegak dengan hakekatnya "Alif", Ruku’ seperti “Ha”, Sujud seperti “Mim”, Duduk seperti “Dal”, inilah artinya kelakuan sembahyang pada Insan, seperti rupa Muhammad.
Kepala Seperti Mim Awal
Tangan/Bahu seperti Ha
Perut seperti Mim Akhir
Kaki seperti Dal
Rahasia daripada Rahasia Sembahyang kepada huruf Allah.
Berdiri betul hurufnya Alif
Ruku’ hurufnya Lam Awal
Sujud hurufnya Lam Akhir
Duduk Tahiyat hurufnya Ha
Inilah yang diumpamakan Diri yang bernafas ialah Muhammad yang berasal dari Ahmad.
Alif Syaratnya kepada Api
Ha Syaratnya kepada Angin
Mim Syartnya kepada Air
Dal Syaratnya kepada Tanah/Bumi