Laman

Minggu, 20 Desember 2015

JALAN CINTA MENUJU TUHAN:


Menyelami Bahasa Kasih Sang Pecinta
Ada orang yang memahami Tuhan sebagai ‘kekuatan’ yang menakutkan, karena itu penghambaan atau ibadah didasarkan rasa takut (khauf). Ada juga yang memahami Tuhan sebagai ’kekuatan’ yang indah dan menjanjikan kebaikan, karena itu penghambaan atau ibadah dilakukan didasarkan pada jalan cinta dan harap (mahabbah dan raja). Sebaiknya melalui jalan apa kita menuju atau beribadah kepada Tuhan?.
Tuhan, Kosmologi dan Manusia
Disadari atau tidak, cara pandang kita terhadap Tuhan pada akhirnya menentukan laku ibadah dan penghambaan kita kepada Allah Swt. Persepsi manusia tentang Tuhan yang maha agung, perkasa, memaksa, sombong dan atribut ‘maskulin’ lainnya, mempengaruhi cara manusia mendekatiNya. Demikian, jika menganggap dan memahami Tuhan sebagai pemilik atribut-atribut ‘feminis’, seperi maha kasih, sayang, cinta, pemaaf, lembut dan lain-lain. Dalam studi agama-agama (religious studies) terkenal jargon Tuhan sebagai kekuatan yang menakutkan dan Tuhan yang mendamaikan. Kedua tesis ini mempengaruhi cara hamba beribadah kepadaNya.
Cara pandang bahwa Tuhan cenderung dipahami sebagai pemiliki atribut-atribut maskulin mensyaratkan penghambaan kepadaNya akibat dari rasa takut (khauf). Akan berbeda ketaatan kita kepada atasan kerja karena ia berwibawa, kharismatis dan atau karena mendamaikan, menarik dan supel berkomunikasi. Yang pertama, kepatuhan dan ketaatan kita dipastikan karena rasa takut akan dampak dan konsekuensi pembangkangan. Sebaliknya, menyadari atasan kita orang yang baik hati, supel bergaul, perhatian dan lain-lain, ketaatan kita kepadanya akan berdasarkan rasa harap dan cinta yang tinggi.
Menyadari hal ini, penting apa yang disebut sebagai cara pandang tentang semesta (kosmologi). Bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta temasuk manusia di dalamnya. Sudut pandang disiplin fisika dan ilmu-ilmu eksakta lainnya tentang kejadian alam, akan berbeda dengan pandangan tasawuf, misalnya. Pendekatan eksakta mentahbiskan bahwa alam semesta terdiri dari struktur kosmologis yang sistematis. Sebaliknya, pandangan tasawuf.
Dalam perspektif tasawuf, alam semesta dan segala isinya diciptakan Tuhan sebagai sarana tajalli (penampakan) Tuhan, atau cermin Tuhan. Dalam tasawuf, terdapat hadis qudis yang familiar, kuntu kanzan makhfiyyan lam u’raf, fa ahbabtu an u’rafa, fa khalaqtu al-khalqa. Kata Allah: “Aku adalah rahasia tersembunyi yang tidak dikenal. Aku senang untuk diketahui (di-ma’rifati). Karena itu, Aku ciptakan semesta”.
Dalam perspektif tasawuf, alam semesta dan segala isinya diciptakan Tuhan sebagai sarana tajalli (penampakan) Tuhan, atau cermin Tuhan. Dalam tasawuf, terdapat hadis qudis yang familiar, kuntu kanzan makhfiyyan lam u’raf, fa ahbabtu an u’rafa, fa khalaqtu al-khalqa. Kata Allah: “Aku adalah rahasia tersembunyi yang tidak dikenal. Aku senang untuk diketahui (di-ma’rifati). Karena itu, Aku ciptakan semesta”. Oleh karena itu, menurut sufi Ibn ‘Arabi, segala gerak alam semesta berawal dan memuara pada cinta. Segala proses penciptaan alam semesta berdasarkan dorongan cinta Tuhan agar diri-Nya dikenal. Dengan begitu, relasi manusia kepada Tuhan, dalam perspektif tasawuf berada dalam posisi intim luar biasa. Dalam bahasa lain, jalan cinta atau mahabbah sangat tepat di dalam memahami dan menghambakan diri kepada Allah Swt Penguasa alam semesta.
Nabi Muhammad Saw. dan Jalan Cinta Menuju Tuhan
Cinta bukan teori, tetapi praktek dan pengalaman. Orang yang selalu ingin mendefinisikan cinta sesungguhnya tidak sedang benar-benar mengenal cinta. Cinta bukan kata-kata, cinta adalah pengalaman pribadi seseorang bersama yang dicintainya. Allah Swt., berfirman, “Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S Ali-Imran [3] : 31).
Menjelaskan ayat di atas, Ibn ‘Arabi menyebutkan, “Aku beragama dengan agama cinta, kemanapun tunggangan kendaraannya mengarah, maka agama itu (cinta) adalah agamaku dan imanku.” Mencintai Tuhan dan mengikuti Muhammad adalah jalan (agama) cinta. Berdasarkan ayat di atas ketaatan dan kecintaan kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari ketaatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. Tidak bisa diterima taat kepada Allah tapi pada saat yang sama menistakan ketaatan kepada Nabi Muhammad Saw. Demikian karena, jaminan dari Allah Nabi Muhammad memiliki kemuliaan akhlak tinggi, laqad kana lakum fi rasulillah uswatun hasanah (QS. al-Ahzab [33] :21), dan wa innaka la’ala khuluqin azhim (QS. al-Qalam [68] : 4).
Dalam kosmologi cinta, Muhammad adalah cermin paripurna Tuhan, tempat tajalli Tuhan. Nabi laik diteladani karena ia tajalli Tuhan yang paling sempurna. Jika melihat Muhammad sebenarnya sedang melihat Tuhan. Muhammad adalah cermin bersih bagi Tuhan. Menurut ‘Aisyah sahabat sekaligus isteri Nabi, akhlak Nabi adalah al-Qur’an. Sementara al-Qur’an ‘kalam’ Tuhan sendiri, maka Muhammad al-Qur’an adalah yang hidup dan mengaktual. Memahami Muhammad sama dengan memahami Tuhan, mencintai Muhammad berarti mencintai Allah Swt.
Memahami Muhammad sama dengan memahami Tuhan, mencintai Muhammad berarti mencintai Allah Swt.
Nabi Muhammad membaca cinta dalam perjalanan panjang menuju Allah Swt. Berdasarkan catatan sejarah, siapa pun sepakat, sejak semula Muhammad seorang yang terpercaya. Praktek damai, cinta, kesejukan dan kesantunan bersosial dan beribadah diwujudkan dalam perikehidupannya. Dalam semangat ini, misalnya adalah tidak ideal, jika kita melihat negara-negara di Timur Tengah teribat konflik, kekerasan dan sektarianitas di antara sesama penganut agama Islam. Yang ada hanya kebencian, dendam, permusuhan dan curiga yang tidak berkesudahan. Mereka telah kehilangan spirit cinta, baik dalam relasi sesama manusia atau relasi manusia kepada Tuhan. Sejatinya jika mencintai dan memahami Tuhan dalam spirit kesantunan dan kedamaian, hal-hal destruktif tidak akan muncul.
Cinta dan Tuhan
Karena Tuhan menampakkan diri dalam atribut pengasih, penyayang, pemaaf dan atribut feminis lainnya, maka cinta adalah jalan terbaik dalam memahami, mendekati dan menghambakan diri kepadaNya. Tuhan Maha Indah dan mencintai keindahan. Perspektif cinta dalam beribadah berarti, menerima beban atau perintah (taklif) apa pun yang diberikan kekasih dengan gegap gembira dan cinta. Menurut Ibn ‘Arabi, tidak ada agama yang lebih luhur ketimbang agama yang disandarkan kepada cinta dan kerinduan kepada Tuhan sebagai kekasih. Agama ini khusus bagi umat muslim, karena Muhammad menempati makam cinta yang paling sempurna di sisi Allah Swt.
Perspektif cinta dalam beribadah berarti menerima
beban (taklif) apa pun yang diberikan kekasih
dengan gegap-gembira dan cinta
Ilustrasi terbaik bagaimana cinta diaplikasikan dalam mendektai Tuhan, dilakukan sufi Basrah Rabi’ah Adawiyah. Ia menyembah Tuhan bukan karena berharap surga, tetapi ingin bertemu dengan pemilik surga. Bahkan disebutkan, betapa hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah secara total, ia tidak lagi membenci setan. Katanya, “Kecintaanku kepada Allah, mengalahkan atau melampaui benciku kepada setan”.
“Kecintaanku kepada Allah, mengalahkan atau melampaui benciku kepada setan”.
Tasawuf adalah jalan cinta. Jalan terbaik menuju Tuhan. Salah satu definisi tasawuf: jalan cinta menuju Tuhan yang dialami sebagai kekasih. Ibadah dilakukan bukan karena diperintah atau beban dari Tuhan, tetapi karena ingin berjumpa dengan kekasih, misalnya shalat dan puasa. Cinta meniscayakan belajar sepanjang hayat bahwa ibadah yang dititahkan bukan beban, tetapi kebutuhan yang tidak dikesampingkan. Allah Swt. berfirman: “Barangsiapa ingin bertemu dengan Tuhannya, maka hendaklah ia melakukan amal shaleh dan tidak menyekutukanKu’. (Q.S Isra [17] )
Saat ini banyak orang meninggalkan cinta. Cinta semakin hilang dari kesadaran umat Islam baik dalam ibadah mahdhah kepada Allah, maupun ibadah ghair mahdhah, ibadah sosial. Akibatnya mudah ditebak, ibadah dianggap sebagai beban yang melelahkan. Dalam konteks sosial-politik, beberapa Negara Timur Tengah terjebak dalam perang sipil yang tidak berkesudahan. Di Irak, Suriah, Mesir, Tunisia dan lain-lain. Mereka tidak lagi memiliki cinta, diganti oleh dendam, benci, amarah dan curiga yang tidak berdasar. Hendaknya kita mencintai siapa saja. Kita jangan pernah membenci orang lain, hingga orang yang musyrik sekalipun. Jika pun harus membenci, maka yang kita benci perbuatannya bukan pelakunya. Nabi Isa Almasih berpesan: “Cintailah musuhmu!” Ketika mencintai musuh, musuh itu pada hakikatnya tidak ada lagi.
Kita jangan pernah membenci orang lain, hingga orang yang musyrik sekalipun. Jika pun harus membenci, maka yang kita benci perbuatannya bukan pelakunya. Nabi Isa Almasih berpesan: “Cintailah musuhmu!” Ketika mencintai musuh, musuh itu pada hakikatnya tidak ada lagi.
Apakah kita memiliki cinta atau tidak, paling tidak ada dua ciri utama. Pertama, Mengikuti keinginan yang dicintai. Jika kita mencintai Tuhan, maka kita akan mengikuti kehendak Tuhan tanpa syarat. Seorang sufi bernama Abu Yazid al-Bisthami ditanya, Apa keinginanmu? Yazid tidak langsung menjawab, ia bilang “Aku ingin tidak memiliki keinginan”. (Aku berkeinginan untuk tidak punya keinginan/berkeinginan). Jadikan aku keinginan-Mu, jadikan aku menginginkan orang yang menginginkan segala sesuatu yang Engkau inginkan. Sehingga tidak ada yang diinginkan selain apa yang diinginkan oleh-Mu.” Kedua, mensifati atau mengimitiasi dirinya dengan yang dicintai. Dalam konteks Allah, kita berakhlak dengan akhlak Allah.
Apakah kita memiliki cinta atau tidak, paling tidak ada dua ciri utama. Pertama, Mengikuti keinginan yang dicintai. Kedua, mensifati atau mengimitiasi dirinya dengan yang dicintai
Bukti cinta adalah kerinduan. Jika kita tidak pernah merindukan yang dicintai, maka jangan-jangan kecintaan kita masih semu. Menurut Aisyah, orang yang mencintai sesuatu, ia akan sering menyebutnya. Maka, dzikrullah (mengingat Allah), bukti cinta kita kepada Allah Swt., selain hal-hal seperti diuraikan di atas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar