Seseorang yang mengklaim bahwa dia mencintai seseorang akan lebih
memilih yang dicintai dibanding semua orang, ia juga akan lebih memilih
apa yang disukai oleh yang dicintainya, jika tidak demikian maka dia
tidak akan bertindak sesuai yang dicintanya dan artinya cintanya juga
tidak akan tulus. Tanda-tanda berikut ini akan menjadi jelas pada mereka
yang benar-benar mencintai Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam.
Pertama : Tanda pertama cinta kepada Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa
Sallam, adalah bahwa dia akan mengikuti contoh-contohnya, menerapkan
cara Nabi saw dalam kata-kata, perbuatan, ketaatan kepada perintah-Nya,
menghindari apa pun yang dilarang dan mengadopsi sikap Nabi saw pada
saat diberi kemudahan, sukacita, kesulitan, dan penderitaan. Allah
berfirman, "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kalian mencintai Allah, maka
ikutilah aku (Muhammad) dan Allah akan mencintaimu." [Al-Imran: 31]
Kedua : Tanda kedua adalah bahwa dia akan menyingkirkan keinginan
sendiri dan nafsunya dengan mengikuti hukum yang didirikan dan didorong
oleh Nabi SallAllah alaihi wa Sallam. Allah berfirman, "Kepada
orang-orang sebelum mereka yang telah membuat tempat tinggal mereka di
tempat tinggal (Kota Madinah), dan karena keimanannya mereka mengasihi
orang yang telah beremigrasi ketempat mereka, mereka tidak menemukan
irihati dan dengki dalam dada mereka untuk apa yang telah diberikan dan
lebih memilih mereka atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri
memiliki kebutuhan." [Al Hasyr: 9]
Ketiga : Tanda ketiga adalah
bahwa kemarahan seseorang karena orang lain hanya demi mencari
keridhaan Allah. Anas, putra Malik diberitahu oleh Nabi SallAllahu
alaihi wa Sallam, "Anakku, jika Anda dapat menahan diri dari dendam di
hati Anda dari pagi hingga sore, kemudian melakukannya." Dia kemudian
menambahkan, "Anakku, yang merupakan bagian dari jalan kenabian bahwa
barang siapa yang menghidupkan kembali cara saya dan mengasihi Aku, dan
barangsiapa mencintaiku akan bersama dengan saya di surga." [Sunan
Tirmidh, Kitab al-Ilm, Vol 4, Halaman 151]
Jika seseorang
memiliki kualitas baik ini, maka dia memiliki cinta yang sempurna untuk
Allah dan Rasul-Nya. Jika dia menjadi sedikit kurang dalam kualitas ini
maka cintanya tidak sempurna. Bukti ini ditemukan dalam ungkapan Nabi
SallAllahu alaihi wa Sallam, ketika seseorang menghadapi hukuman karena
mabuk. Sebagaimana orang itu akan menerima hukuman seorang pria mengutuk
sang pelaku, dan Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata, "Jangan
mengutuk dia. Dia mencintai Allah dan Rasul-Nya." [Sahih Bukhari, Kitab
al-Hudud, Vol 3, Halaman 133]
Keempat : Tanda keempat adalah
bahwa seseorang yang mencintai selalu menyebutkan nama Nabi SallAllahu
alaihi wa Sallam, dalam kelimpahan - siapa mencintai sesuatu,
terus-menerus pada lidahnya bersalawat kepada Nabi saw. [Al Shifa bi
Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 32]
Kelima : Tanda
kelima adalah kerinduan untuk bertemu Nabi SallAllahu Alaihi wa Sallam.
Setiap kekasih rindu untuk bersama mereka yang tercinta. Ketika suku
Asy'ariyah mendekati Madinah, mereka mendengar nyanyian, "Besok, kita
akan bertemu dengan orang yang kita cintai, Muhammad saw dan para
sahabatnya!" [Dalail an-Nabuwwah lil Baihaqi, Jilid 5, Halaman 351]
Keenam : Tanda keenam adalah bahwa setiap mengingat Nabi SallAllahu
alaihi wa Sallam, seseorang yang mencintainya akan ditemukan memuji dan
menghormati setiap kali namanya disebutkan dan kemudian menampilkan
kerendahan hatinya dan lebih merendahkan dirinya sendiri ketika ia
mendengar namanya. Kami diberitahu oleh Isaac at-Tujibi bahwa setelah
wafatnya Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, setiap kali para
sahabat mendengar namanya disebutkan mereka menjadi lebih rendah hati,
kulit mereka gemetar dan mereka menangis karena cinta. Adapun para
pengikut lain dari Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, beberapa
sahabat mengalami rasa cinta yang luar biasa sehingga meneriakkan salam
kerinduan untuknya, sedangkan yang lain melakukannya karena rasa hormat
dan penghargaan pada Rasulullah saw. [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq
al-Mustafa, Vol 2, Page 33]
Ketujuh : Tanda ketujuh adalah
ungkapan kasih yang diungkapkan untuk Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa
Sallam, dan para ahlul bayt (keturunan Nabi saw) dan sahabatnya - para
Muhajirin dan bani Ansar sama besarnya demi kehormatan Nabi saw.
Seseorang dengan tanda ini akan ditemukan memusuhi orang-orang yang
membenci mereka.
Nabi saw berkata kepada umatnya sambil
menunjuk cucunya Sayidina Al Hasan dan Al Husain, semoga Allah senang
dengan mereka, Nabi Alaihi SallAllaho alaihi wa Sallam, berkata, "Ya
Allah, aku mencintai mereka, maka cintailah mereka."
Sahih Bukhari, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 23
Sahih Muslim, Kitab al Fadhail, Vol 4, Halaman 1883
Sunan Tirmidzi, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 327
Al-Hasan mengatakan bahwa Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, juga
mengatakan, "Ya Allah, aku mencintainya, dan cinta orang yang
mencintainya." Dua cucunya, Nabi saw juga mengatakan, "Barangsiapa
mencintai mereka, maka mencintai aku." Kemudian ia berkata. Barang siapa
mencintaiku, maka dia mencintai Allah. Barang siapa yang membenci
mereka membenci saya dan barangsiapa membenci saya artinya membenci
Allah."
Muqaddam Sunan Ibn Maja, Vol 1, Page 51
Majma 'az-Zawaid, Vol 9, Halaman 180
Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata, "Jangan membuat teman saya
sebagai sasaran setelah kepergian ku! Barangsiapa mengasihi mereka, maka
mengasihi mereka itu karena mereka mencintaiku, dan barang siapa
membenci mereka, adalah juga kebencian mereka terhadap aku, Barangsiapa
merugikan mereka, maka mereka merugikan aku. Barangsiapa yang melukai
sahabatku dan keluargaku, seolah-olah itu adalah menyakitiku (Nabi saw)
dan artinya juga Allah. Barang siapa menyaikiti Allah, maka mereka akan
dibuang.
Sunan Tirmidzi, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 358
Musnad Ahmad, Vol 5, Halaman 54
Keluarga Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, adalah berasal dari Sayidah
Fathimah, semoga Allah senang dengan dia, "Dia adalah bagian dari
diriku, barangsiapa yang membenci dia, maka mereka membenci saya."
Sahih al Bukhari, Kitab al Manaqib, Vol 5, Halaman 24
Sahih Muslim, Kitab Fadhail as-Sahaba, Vol 4, Halaman 1903
Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, mengatakan kepada Sayidina
Aisyah untuk mencintai Osama, putra Zaid karena dia mencintainya. [Sunan
Tirmidzi, Kitab al-Manaqib, Vol 5, Halaman 342]
Nabi
SallAllahu alaihi wa Sallam, berbicara kepada Ansar, berkata, "Tanda
iman adalah mencintai Anshar, sedangkan tanda kemunafikan adalah
kebencian kepada mereka."
Sahih al Bukhari, Kitab al Manaqib, Vol 5, Page 27
Sahih al Bukhari, Kitab al Iman, Vol 1, Page 9
Sahih Muslim, Kitab al Iman, Vol, Halaman 85
Anak Omar mengatakan kepada kita bahwa Nabi SallAllahu alaihi wa
Sallam, berkata, "Barang siapa mencintai orang-orang Arab dan mengasihi
mereka karena dia mencintaiku, dan barangsiapa membenci mereka, itu
adalah karena kebencian mereka terhadap aku.." [Al Shifa bi Ta'reefi
Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 34]
Faktanya adalah ketika
seseorang mencintai yang lain, dia mencintai segala sesuatu yang
dicintai orang itu, dan ini memang terjadi dengan para sahabat.
Ketika Anas melihat Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, makan sepotong
labu, ia berkata, "Dari hari itu maka akupun mencintai labu." [Al Shifa
bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 34]
Al-Hasan, cucu
Nabi, semoga kedamaian Allah atas mereka, pergi dengan Jafar Salma dan
memintanya untuk menyiapkan beberapa makanan Nabi SallAllahu alaihi wa
Sallam, yang biasa digunakan untuk makan. [Shamail Tirmidzi, Halaman
155]
Omar pernah melihat Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam,
mengenakan sepasang sandal berwarna kuning, sehingga dia juga mengenakan
sepasang sandal dengan warna yang sama.
Sahih al Bukhari, Kitab al-libas, Vol 7, Halaman 132
Sahih Muslim, Kitab al-Hajj, Vol 2, Halaman 844
Kedelapan : Tanda kedelapan, kebencian terhadap siapa saja yang
membenci Allah dan Rasul-Nya. yaitu dengan membenci orang-orang yang
menunjukkan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Orang beriman
memiliki tanda ini menghindari semua yang menentang cara kenabian, dan
bertentangan dengan orang-orang yang memperkenalkan inovasi dalam cara
kenabian (yang bertentangan dengan semangat Islam) dan menemukan hukum
yang memberatkan. Allah berkata, "Anda akan menemukan tidak ada umat
yang beriman kepada Allah dan Hari Terakhir yang mencintai siapapun yang
menentang Allah dan Rasul-Nya." [Al Mujadilah: 22]
Kesembilan :
Tanda kesembilan ditemukan pada mereka yang mencintai Al-Qur'an yang
dibawa oleh Nabi saw, dimana mereka dibimbing. Ketika ditanya tentang
Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, Sayidah Aisyah, ra dia, berkata,
"karakter Nabi adalah Al-Qur'an." Bagian dari cinta Al-Qur'an adalah
mendengarkan bacaan, bertindak sesuai dengan itu, pemahaman itu, menjaga
dalam batas-batas dan cinta cara Nabi Muhammad. [Al Shifa bi Ta'reefi
Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 35]
Sahal, putra Abdullah
berbicara tentang tanda ini mengatakan, "Tanda mencintai Allah adalah
cinta Al-Qur'an Tanda mencintai Al-Qur'an adalah cinta Nabi.Tanda
mencintai Nabi SallAllahu alaihi wa sallam, adalah cinta cara
kenabiannya. Tanda mencintai cara kenabian adalah cinta akhirat. Tanda
mencintai akhirat adalah membenci dunia ini. Tanda kebencian bagi dunia
ini adalah bahwa Anda tidak mengumpulkan semua kecuali untuk sedikit
saja sesuai ketentuan dan apa yang Anda butuhkan untuk tiba dengan
selamat di akhirat." [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2,
Page 35]
Anak Mas'ud mengatakan, "Tidak ada yang perlu bertanya
pada diri sendiri tentang apa pun, selain Al-Qur'an, jika ia mencintai
Al Qur'an maka dia mencintai Allah dan Rasul-Nya" pujian dan damai
besertanya. [Baihaqi fil Aadaab, Hal 522]
Kesepuluh : Tanda
kesepuluh cinta untuk Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, adalah untuk
mengasihani umatnya dengan menasihati mereka dengan baik, berjuang untuk
kemajuan mereka dan menghapus segala sesuatu yang berbahaya dari jalan
mereka dan dalam cara yang sama bahwa Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam,
berkata "kasih sayanglah kepada orang yang beriman." [Al-Taubah : 128]
Kesebelas : Tanda kesebelas kasih yang sempurna ditemukan dalam
membatasi siapa dirinya melalui penyangkalan diri, lebih memilih
kemiskinan dari kenikmatan atraksi dunia. Nabi SallAllahu alaihi wa
Sallam, berkata Abu Sa'id Al Khudri, "Kemiskinan akan datang kepada Anda
yang mencintai saya, mengalir lebih cepat daripada banjir dari puncak
gunung ke dasarnya." [Sunan Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, Vol 4, Halaman 7]
Seorang pria datang kepada Nabi Alaihi wa Aalihi SallAllahi wa Sallam,
dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku mencintaimu." Nabi SallAllahu alaihi
wa Sallam, memperingatkan, "Hati-hati dari apa yang Anda katakan." Pria
itu mengulangi cintanya sampai tiga kali, dimana Nabi SallAllahu alaihi
wa Sallam berkata kepadanya, "Jikalau kamu mengasihi ku maka persiapkan
diri mu dengan cepat untuk kemiskinan." [Sunan Tirmidzi, Kitab az-Zuhd,
Vol 4, Halaman 7]
Ya ALLAH SWT! Kami memohon kepadaMU untuk
mengisi hati kita dengan Kasih yang benar dan besar dari sifat Karim
yang terkasih, Habibullah. Kita tetap hidup pada Sunnah-nya dan
memberkati kita dengan kematian pada Iman di Kota terkasih Nabi Terkasih
saw dan kuburkan kami dengan Ahl al-Baqi 'asy-Syarif ... Aamin!
Hidup pastikan aman tenteram dunia wal akhirat kalau saja kita selalu bertafakur untuk mengingat Allah dan mengingat kehidupat akhirat, minimal 5 menit dalam sehari semalam
Kamis, 27 Februari 2014
Gundul Pacul :
"Gundul gundul pacul-cul, gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar...
Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yang dalam dan sangat mulia.
Gundul adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Jadi gundul adalah kehormatan tanpa mahkota.
Pacul adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. jadi pacul adalah lambang kawula rendah, kebanyakan petani.
Gundul pacul artinya adalah bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (4 yang lepas).
Kemuliaan seseorang tergantung 4 hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.
Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
Mulut digunakan untuk berkata adil dan bijaksana.
Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.
Gembelengan artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.
Gundul-gundul Pacul Cul artinya jika orang yang kepalanya sudah kehilangan 4 indera itu mengakibatkan GEMBELENGAN (= congkak/sombong).
Nyunggi-nyunggi Wakul Kul (menjunjung amanah rakyat) dengan GEMBELENGAN (= sombong hati), akhirnya WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh tidak bisa dipertahankan) SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia-sia, tidak bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat).
Murid yg rendah hati
Suatu ketika Imam Ghazali shalat jemaah dgn adiknya. Imam Ghazali
menjadi Imam manakala adiknya menjdi makmum. Tiba-tiba semasa
bersembahyang, adik Imam Ghazali mufarakah (keluar daripada menjadi
makmum) dan bersembahyang sendirian.
Setelah selesai menunaikan sembahyang Imam Ghazali terus bertanya kepada adiknya:“Mengapa ketika bersembahyang engkau meninggalkan aku dan bersembahyang sendirian?”
Lantas adiknya menjawab; “Bagaimanakah aku hendak bersembahyang denganmu. Aku lihat tubuhmu penuh bersalut darah. Lantaran itulah aku bermufarakah dan sembahyang sendirian”.
Mendengar jawaban adiknya itu Imam Ghazali terus berfikir dan lantas teringat bahwasanya memang benar, pada ketika itu beliau sedang menulis tentang permasalahan haidh. Dan, memang benar juga, terdapat satu saat semasa beliau menunaikan sembahyang pemikiran beliau terbawa-bawa oleh apa yang sedang beliau tulis itu. Dan saat itu jugalah Allah zahirkan apa yang sedang beliau fikirkan itu ke mata adiknya sehingga adiknya melihat tubuh badannya dipenuhi dengan darah.Imam Ghazali terkejut lantas bertanya kepada adiknya;
“Bagaimanakah kamu berupaya untuk melihat hal yang ghaib? Beritahulah kepadaku dari siapa kamu belajar ilmu ini.” Adiknya kemudian menjawab; “Engkau tidak layak belajar dengannya. Engkau orang yang masyhur, sedangkan guruku ini orang biasa sahaja.”
Imam Ghazali terus mendesak sehingga akhirnya adik beliau bersetuju untuk membawanya berjumpa dengan gurunya itu.Di pasar, mereka mendatangi seorang penjual daging. Lalu adiknya memberitahu itulah guruku.
Imam Ghazali terus berkata kepada penjual daging; “Tuan, saya mohon untuk belajar ilmu dengan Tuan.” Penjual daging menggelengkan kepalanya lalu berkata; “Aku tidak ada ilmu untuk mengajar kamu.” Imam Ghazali merayu sekali lagi;
“Ajarlah saya. Ajarkanlah saya ilmu yang Tuan tidak ada itu.” Penjual daging tetap enggan menunaikan keinginan Imam Ghazali itu. Akhirnya Imam Ghazali berkata kepada penjual daging tersebut; “Ajarlah saya. Saya serahkan diri saya kepada Tuan seumpama mayat menyerahkan diri kepada si tukang mandi”.
Penjual Daging kemudian berkata; “Baiklah, tanggalkanlah jubah kebesaran kamu itu (jubah yang dipakai Imam Ghazali kerana beliau merupakan orang tertinggi di Universiti Nizamiyyah). Sapulah meja tempat aku memotong dan menjual daging ini dengan jubahmu itu.” Tanpa berlengah lagi Imam Ghazali terus menunaikan kehendak penjual daging tersebut tanpa sedikitpun merasa terkilan.
Setelah selesai, beliau berkata lagi kepada penjual daging; “Ajarkanlah aku ilmu.” Penjual daging kemudian berkata;”Baiklah, esok datanglah ke rumahku selepas Subuh.”Tepat selepas Subuh keesokan harinya Imam Ghazali sudah sedia menanti si penjual daging di hadapan rumah. Sebaik sahaja melihat Imam Ghazali beliau terus menyuruhnya memotong rumput di kawasan rumah. Imam Ghazali terus akur tanpa terdetik di dalam hatinya sedikitpun rasa terhina.
Selesai menyiapkan tugas yang dipinta oleh penjual daging, Imam Ghazali pun mendatangi beliau, lalu mengulangi kata-kata;”Ajarkanlah aku ilmu”. Penjual daging berkata; “Baiklah, esok datanglah ke rumahku selepas Subuh”.Sama seperti hari sebelumnya, sebaik-baik sahaja selepas Subuh Imam Ghazali sedia menunggu di hadapan rumah penjual daging. Melihatkan Imam Ghazali, penjual daging meminta pula beliau mencuci longkang di sekeliling rumahnya. Imam Ghazali tetap taat menuruti perintah penjual daging.
Setelah selesai, Imam Ghazali berkata kepada penjual daging;”Wahai Tuan, kerja yang Tuan suruh telah dilaksanakan. Ajarkanlah aku ilmu”. Penjual daging berkata lagi;”Baiklah, datanglah kembali selepas Subuh esok”.
Keesokan harinya hal yang sama juga berlaku. Kali ini penjual daging meminta Imam Ghazali menimba najis dari tandas beliau. Tugas yang ini juga dilaksanakan tanpa terselit sedikitpun perasaan terhina dalam hati Imam Ghazali.
Apabila selesai penjual daging tersebut berkata; “Segala ilmu yang kamu mahu telah kamu dapat. Pulanglah.”Dalam perjalanan pulang Imam Ghazali terkejut kerana mendapati pandangannya telah tersingkap dan beliau dapat melihat hal-hal yang ghaib.
Hikmah yang dapat diambil:
1. Kita melihat Imam Ghazali mengetahui tentang sesuatu ilmu terus saja beliau mencari dan mendatanginya serta berusaha untuk mendapatkannya tanpa berputus asa. Tidak pula beliau mengambil sikap menunggu ilmu itu mendatangi beliau.
2. Perkara lain yang boleh dipelajari ialah ketaatan Imam Ghazali terhadap arahan gurunya. Apabila diminta datang selepas Subuh, beliau menghadirkan diri tepat pada waktunya. Tatkala diminta membuat pelbagai perkara, beliau akur tanpa banyak bersoal jawab bahkan tidak terdetik pun di dalam hatinya perasaan musykil dan prasangka terhadap gurunya. Sikapnya yang tawaduk dan menyerahkan diri bulat-bulat seumpama mayat menyerah diri kepada si tukang mandi agar dapat dididik sepenuhnya oleh gurunya inilah yang mendorongnya untuk mentaati tiap perintah, membuat segala yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang oleh gurunya.
3. Dalam mendidik, penjual daging tersebut menumpukan kepada mengikis sifat-sifat mazmumah seperti ego dan menanamkan sifat-sifat mahmudah seperti tawadhuk dalam diri anak muridnya. Sifat-sifat mazmumahlah sebenarnya yang menghijab ilmu yang ingin dialirkan daripada sampai ke hati. Manakala sifat mahmudah merupakan kunci kepada kefahaman ilmu. Apabila hati bersih, hati mudah menerima ilmu. Dan dengan hati yang bersih dari sifat mazmumah ini juga menjadikan hati itu semakin tenang dengan banyaknya ilmu dan bukannya semakin berserabut. Hasil daripada itu kita dapat lihat mengalirnya keberkatan ilmu dari gurunya itu kepada Imam Ghazali. Sehingga beliau berupaya menghasilkan tulisan yang agung, dapat menghafal lebih 100,000 hadith dan digelar Hujjatul Islam.
Setelah selesai menunaikan sembahyang Imam Ghazali terus bertanya kepada adiknya:“Mengapa ketika bersembahyang engkau meninggalkan aku dan bersembahyang sendirian?”
Lantas adiknya menjawab; “Bagaimanakah aku hendak bersembahyang denganmu. Aku lihat tubuhmu penuh bersalut darah. Lantaran itulah aku bermufarakah dan sembahyang sendirian”.
Mendengar jawaban adiknya itu Imam Ghazali terus berfikir dan lantas teringat bahwasanya memang benar, pada ketika itu beliau sedang menulis tentang permasalahan haidh. Dan, memang benar juga, terdapat satu saat semasa beliau menunaikan sembahyang pemikiran beliau terbawa-bawa oleh apa yang sedang beliau tulis itu. Dan saat itu jugalah Allah zahirkan apa yang sedang beliau fikirkan itu ke mata adiknya sehingga adiknya melihat tubuh badannya dipenuhi dengan darah.Imam Ghazali terkejut lantas bertanya kepada adiknya;
“Bagaimanakah kamu berupaya untuk melihat hal yang ghaib? Beritahulah kepadaku dari siapa kamu belajar ilmu ini.” Adiknya kemudian menjawab; “Engkau tidak layak belajar dengannya. Engkau orang yang masyhur, sedangkan guruku ini orang biasa sahaja.”
Imam Ghazali terus mendesak sehingga akhirnya adik beliau bersetuju untuk membawanya berjumpa dengan gurunya itu.Di pasar, mereka mendatangi seorang penjual daging. Lalu adiknya memberitahu itulah guruku.
Imam Ghazali terus berkata kepada penjual daging; “Tuan, saya mohon untuk belajar ilmu dengan Tuan.” Penjual daging menggelengkan kepalanya lalu berkata; “Aku tidak ada ilmu untuk mengajar kamu.” Imam Ghazali merayu sekali lagi;
“Ajarlah saya. Ajarkanlah saya ilmu yang Tuan tidak ada itu.” Penjual daging tetap enggan menunaikan keinginan Imam Ghazali itu. Akhirnya Imam Ghazali berkata kepada penjual daging tersebut; “Ajarlah saya. Saya serahkan diri saya kepada Tuan seumpama mayat menyerahkan diri kepada si tukang mandi”.
Penjual Daging kemudian berkata; “Baiklah, tanggalkanlah jubah kebesaran kamu itu (jubah yang dipakai Imam Ghazali kerana beliau merupakan orang tertinggi di Universiti Nizamiyyah). Sapulah meja tempat aku memotong dan menjual daging ini dengan jubahmu itu.” Tanpa berlengah lagi Imam Ghazali terus menunaikan kehendak penjual daging tersebut tanpa sedikitpun merasa terkilan.
Setelah selesai, beliau berkata lagi kepada penjual daging; “Ajarkanlah aku ilmu.” Penjual daging kemudian berkata;”Baiklah, esok datanglah ke rumahku selepas Subuh.”Tepat selepas Subuh keesokan harinya Imam Ghazali sudah sedia menanti si penjual daging di hadapan rumah. Sebaik sahaja melihat Imam Ghazali beliau terus menyuruhnya memotong rumput di kawasan rumah. Imam Ghazali terus akur tanpa terdetik di dalam hatinya sedikitpun rasa terhina.
Selesai menyiapkan tugas yang dipinta oleh penjual daging, Imam Ghazali pun mendatangi beliau, lalu mengulangi kata-kata;”Ajarkanlah aku ilmu”. Penjual daging berkata; “Baiklah, esok datanglah ke rumahku selepas Subuh”.Sama seperti hari sebelumnya, sebaik-baik sahaja selepas Subuh Imam Ghazali sedia menunggu di hadapan rumah penjual daging. Melihatkan Imam Ghazali, penjual daging meminta pula beliau mencuci longkang di sekeliling rumahnya. Imam Ghazali tetap taat menuruti perintah penjual daging.
Setelah selesai, Imam Ghazali berkata kepada penjual daging;”Wahai Tuan, kerja yang Tuan suruh telah dilaksanakan. Ajarkanlah aku ilmu”. Penjual daging berkata lagi;”Baiklah, datanglah kembali selepas Subuh esok”.
Keesokan harinya hal yang sama juga berlaku. Kali ini penjual daging meminta Imam Ghazali menimba najis dari tandas beliau. Tugas yang ini juga dilaksanakan tanpa terselit sedikitpun perasaan terhina dalam hati Imam Ghazali.
Apabila selesai penjual daging tersebut berkata; “Segala ilmu yang kamu mahu telah kamu dapat. Pulanglah.”Dalam perjalanan pulang Imam Ghazali terkejut kerana mendapati pandangannya telah tersingkap dan beliau dapat melihat hal-hal yang ghaib.
Hikmah yang dapat diambil:
1. Kita melihat Imam Ghazali mengetahui tentang sesuatu ilmu terus saja beliau mencari dan mendatanginya serta berusaha untuk mendapatkannya tanpa berputus asa. Tidak pula beliau mengambil sikap menunggu ilmu itu mendatangi beliau.
2. Perkara lain yang boleh dipelajari ialah ketaatan Imam Ghazali terhadap arahan gurunya. Apabila diminta datang selepas Subuh, beliau menghadirkan diri tepat pada waktunya. Tatkala diminta membuat pelbagai perkara, beliau akur tanpa banyak bersoal jawab bahkan tidak terdetik pun di dalam hatinya perasaan musykil dan prasangka terhadap gurunya. Sikapnya yang tawaduk dan menyerahkan diri bulat-bulat seumpama mayat menyerah diri kepada si tukang mandi agar dapat dididik sepenuhnya oleh gurunya inilah yang mendorongnya untuk mentaati tiap perintah, membuat segala yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang oleh gurunya.
3. Dalam mendidik, penjual daging tersebut menumpukan kepada mengikis sifat-sifat mazmumah seperti ego dan menanamkan sifat-sifat mahmudah seperti tawadhuk dalam diri anak muridnya. Sifat-sifat mazmumahlah sebenarnya yang menghijab ilmu yang ingin dialirkan daripada sampai ke hati. Manakala sifat mahmudah merupakan kunci kepada kefahaman ilmu. Apabila hati bersih, hati mudah menerima ilmu. Dan dengan hati yang bersih dari sifat mazmumah ini juga menjadikan hati itu semakin tenang dengan banyaknya ilmu dan bukannya semakin berserabut. Hasil daripada itu kita dapat lihat mengalirnya keberkatan ilmu dari gurunya itu kepada Imam Ghazali. Sehingga beliau berupaya menghasilkan tulisan yang agung, dapat menghafal lebih 100,000 hadith dan digelar Hujjatul Islam.
Malu Sama Cacing
Imam Al Ghazali
Ada kisah yang yang perlu kita renungkan, yaitu kisah Nabi Musa as. Suatu ketika Nabi Musa as duduk bersandar di sebuah pohon, tiba-tiba muncul dari dalam tanah seekor cacing merah. Saat itu Nabi Musa as langsung bergumam sendiri: “Buat apa Allah menciptakan seekor cacing merah yang menjijikan seperti ini.” Ternyata Allah mengijinkan pada cacing itu dapat berbicara hingga Nabi Musa as dapat mendengar ucapannya. Cacing berkata: “Wahai Nabi Allah aku diciptakan Allah agar aku dapat membaca Tasbih (Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaa ha illallah, Wallaahu Akbar) di siang hari 1000 kali dan membaca Shalawat (Allahumma Sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ‘aali Muhammad saw) kepada Nabi Muhammad SAW di malam hari 1000 kali.
Mendengar jawaban itu Nabi Musa as tertunduk malu dengan cacing yang kelihatannya menjijikan. Lalu beliau bertobat kepada Allah. Bagaimana dengan kita, sudahkan kita bertasbih dan membaca sholawat 1000 kali dalam sehari? apakah kita lebih mulia dari cacing atau lebih hina?
Jika belum kita dikalahkan oleh seekor cacing merah yang menjijikkan.
Mempermainkan Allah
Imam Al Ghazali
Manshur bin Amar berkata, “Saya mempunyai seorang kawan yang tak henti-hentinya melakukan maksiat. Suatu saat ia bertobat. Saya melihatnya banyak melakukan ibadah dan shalat tahajud. Beberapa hari saya kehilangan dia. Saya pergi untuk menjenguknya. Saat itu saya disambut oleh putrinya yang bertanya, “Mau menemui siapa?” “Mau ke si anu, “Jawab saya. Putri kawan saya mengizinkannya. Saya masuk ke dalam rumah dan saya lihat ternyata ia berbaring di ruangan tengah. Mukanya kelihatan hitam, matanya belalakan, dan bibirnya sangat keras. Saya berkata kepada dia-saat itu saya merasakan rasa takut terhadapnya, “Kawan, perbanyak mengucapkan kalimat la ilaha illallah!” Ia membuka kedua matanya dan melihat kepadaku dengan mata yang sangat merah lalu pingsan. Setelah siuman, saya berkata lagi kepadanya, “Kawan, perbanyaklah mengucapkan la ilaha illallah!” Saya mengucapkan kata tersebut sebanyak dua kali. Ia membuka kedua matanya lalu berkata, “Wahai manshur, saudaraku! Kalimat itu telah terhalang terucapkan olehku.”
Mendengar kata-kata dia saya spontan bertutur, “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali oleh Allah Yang Mahaluhur dan Mahaagung.” Kemudian saya berkata lagi kepadanya, “Kawan, di mana shalat, puasa, tahajud, dan ibadah malammu itu?” Ia menjawab, “Semua itu saya persembahkan bukan untuk Allah. Tobatku hanya pura-pura. Saya melakukan itu semua tiada lain kecuali supaya disebut-sebut oleh orang banyak sebagai orang saleh. Saya melakukan semua itu hanya untuk pamer kepada orang lain. Ketika sedang menyendiri, saya mengunci pintu, merumbaikan tirai rumah, dan saya meneguk minuman memabukkan. Saya menampakkan berbagai maksiat kepada Tuhanku. Saya melakukan hal tersebut sangat lama. Suatu saat saya tertimpa penyakit yang sangat berbahaya. Saya berkata kepada putriku, “Tolong ambilkan Al-Quran!” Setelah Al-Quran berada di tanganku, saya berkata, “Ya Allah, demi kebenaran Al-Quran yang agung ini, berikanlah kesembuhan kepadaku dan saya tidak akan melakukan dosa selamanya.” Allah pun memberikan kesembuhan kepadaku. Ketika telah sembuh, saya kembali lagi pada kebiasaanku, yaitu mabuk dan melahap kesenangan lainnya. Setan pun melupakan janji yang telah saya tuturkan kepada Tuhanku. Saya meneruskan kebiasaan berdosa. Tidak lama kemudian saya menderita sakit yang sangat parah dan hampir merenggut nyawa. Saya meminta kepada keluargaku untuk memindahkan saya ke ruang tengah sebagaimana kebiasaanku kalau sedang sakit. Kemudian saya meminta diambilkan Al-Quran, lalu saya membacanya kemudian mengangkatnya. Saya berdoa, “Ya Allah, demi kehormatan apa yang ada di dalam Al-Quran yang mulia ini, berupa kalam-Mu, saya meminta engkau memberikan kesembuhan kepadaku.” Allah pun saat itu mengabulkan doaku. Tidak beda dengan sebelimnya saya kembali menyantap maksiat. Tidak lama kemudian saya terkena penyakit ini. Saya meminta kepada keluargaku untuk dipindahkan (dari kamar) ke ruangan tengah sebagaimana engkau lihat sekarang. Saya meminta diambilkan Al- Quran untuk dibaca. Namun, aneh sekali, tidak ada satu huruf pun yang tampak di dalam lembaran Al-Quran tersebut. Saya tahu bahwa Allah SWT marah kepadaku. Lalu saya mengangkat kepala ke langit sambil berdoa, “Ya Allah, demi kehormatan Al-Quran ini, berikanlah kesembuhan kepadaku, wahai Dzat Penggenggam langit dan bumi. “Tiba-tiba saya mendengar suara tanpa jirim (hatif) yang berbentuk syair :
Engkau bertobat ketika sakit
Dan kembali kepada dosa ketika sehat
Sering sekali kesusahanmu
Berkali-kali engkau dijauhkan
Dari petaka yang menimpamu
Apakah engkau tidak khawatir
Kematian datang menemuimu
Padahal dirimu dalam dosa
Yang terus engkau lupakan
Manshur bin Amar berkata, “Demi Allah, tidaklah saya keluar dari rumahnya sehabis menjenguk, melainkan mataku penuh dengan berbagai pelajaran. Belum juga saya sampai ke pintu rumah, tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa ia meningga
Kisah Seorang Hamba Yang Selalu Bertasbih di Zaman Nabi Musa
Sayyidina Musa (a) sedang dalam perjalanan ketika ia mendengar sebuah suara datang dari gunung, suaranya terdengar jelas, dan ia pun mendekati suara itu. Ia sampai pada sebuah gua dan melihat ke dalamnya, di sana ada seseorang yang sedang bertasbih, "Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan aku lebih mulia dari yang lainnya."
Dan Musa (a) melihat orang itu yang sedang bersujud, mendengarkan suaranya yang merdu. Ia terkejut ketika orang itu bangkit dari sujud, ternyata ia tidak mempunyai tangan dan kaki! Musa (a) terheran-heran, bagaimana ia bisa mengatakan itu? Bagaimana ia bisa makan? Lalu seekor rusa datang dan orang itu meminum susu darinya.
Musa (a) melihatnya dan berkata, "Sahabatku, engkau memuji Allah bahwa Dia telah memuliakanmu dengan tak terhingga, tetapi engkau tidak mempunyai tangan dan kaki!" Orang itu melihatnya dan berkata, "Yaa Musa (a), Allah memberiku yang terbaik yang dapat kau bayangkan!" "Apa itu?" "Dia menjadikan aku sebagai seorang Muslim!"
Kisah itu ada di dalam Taurat. Menjadi Muslim adalah suatu kehormatan, jangan merasa malu, kalian pergi jalan, ke universitas, berbanggalah bahwa kalian Muslim! Orang itu yang tidak mempunyai tangan dan kaki berkata, "Aku seorang Muslim!" lalu Musa (a) mengangkat tangannya, "Yaa Rabbi hamba itu membuatku kagum dengan imannya, berikanlah ia Surga!"
"Wahai Musa, apa yang kau minta telah diterima." Kemudian Allah mengirimkan hyenas untuk memakannya. "Kepada hamba-hamba-Ku yang tulus, Aku kirimkan ujian bagi mereka untuk mendapatkan Surga." Ujian ini adalah bahwa kita harus menegakkan Islam, berjuang untuk Nabi (s), pertama di antara diri kita, yaitu untuk mengetahui kebesaran Nabi kita (s). Apa yang dikatakan oleh Nabi (s)? "Aku telah diutus untuk menyempurnakan akhlakmu, untuk mendisiplinkanmu, untuk menyempurnakan perilakumu dan membuatmu menjadi orang yang lebih baik. Bukan hanya untuk shalat dan puasa."
Lupa Membaca Shalawat
Imam Al Ghazali
Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang lupa membaca shalawat kepada Rasulullah Saw. Lalu pada suatu malam ia bermimpi melihat Rasulullah Saw. tidak mau menoleh kepadanya, dia bertanya: “Ya Rasulullah, apakah Engkau marah kepadaku?”
Beliau Saw. menjawab: “Tidak.”
Dia bertanya lagi: “Lalu sebab apakah Engkau tidak memandang kepadaku?” Beliau Saw. menjawab: “Karena aku tidak mengenalmu.”
Laki-laki itu bertanya: “Bagaimana Engkau tidak mengenaliku, sedang aku adalah salah satu dari umatmu? Para ulama meriwayatkan bahwa sesungguhnya Engkau lebih mengenali umatmu dibanding seorang ibu mengenali anaknya?”
Rasulullah Saw. Menjawab: “Mereka benar, tetapi engkau tidak pernah mengingat aku dengan shalawat. Padahal kenalku dengan umatku adalah menurut kadar bacaan shalawat mereka kepadaku.”
Terbangunlah laki-laki itu dan mengharuskan dirinya untuk bershalawat kepada Rasulullah Saw. setiap hari 100 kali. Dia selalu melakukan itu hingga ia melihat kembali Rasululah Saw. dalam mimpinya. Dalam mimpinya tersebut Rasulullah Saw. Bersabda: “Sekarang aku mengenalmu dan akan memberi syafa’at kepadamu.” Yakni karena orang tersebut telah menjadi orang yang cinta kepada Rasulullah Saw. dengan memperbanyak shalawat kepada beliau.
Langganan:
Postingan (Atom)