Laman

Sabtu, 01 Januari 2022

MAKSIAT ITU AKAN MENCEMARI SUASANA

Anakku, kemaksiatan itu akan mencemari suasana. Sesuatu yang indah akan berubah jadi jelek karena perbuatan maksiat dan dosa. 

 

Kemaksiatan adalah pelanggaran terhadap perintah Alloh.

Dosa adalah ketidakpatuhan pada perintah Alloh.

Kemaksiatan akan mencemari suasana.

Dosa akan meracuni suasana. 

 

Satu dosa akan menyisakan satu titik noda di dada.

Seribu dosa akan membuat hati manusia jadi hitam.

Bila hati hitam, wajah hitam, nasib hitam, dan rezeki jadi hitam.

Satu orang yang hitam, akan membuat satu keluarga jadi hitam.

Satu orang yang hitam, akan membuat daerah menjadi suram.

Bila suatu daerah sudah gersang iman,  akan turun azab Alloh.

 

Karena dosa, hidup seseorang menjadi tidak nyaman.

Karena dosa, kehidupan keluarga menjadi tidak tenang.

Karena dosa, masyarakat kampung menjadi gersang.

Bila suatu daerah gersang iman, bencana akan segera turun.

 

Bila hidupmu tidak nyaman, taubatlah, jauhi perbuatan dosa.

Bila keluargamu tidak tenang, taubatlah, belajarlah ibadah.

Bila kampungmu tidak rukun, taubatlah, adakan kegiatan agama.

Walau panas kemarau setahun, akan sejuk dengan hujan sehari.

 

Renungan:

Karena setitik nila, akan rusak susu sebelanga.

Karena kompor meledak, akan terbakar satu perkampungan.

Karena sebiji puntung rokok, akan terbakar satu hutan.

Karena setetes racun, akan mati terkapar ikan satu sungai.

Karena dosa satu orang, satu keluarga terasa hampa.

Karena dosa satu orang, satu kampung suasana jadi gersang.

Dan akibat dosanya, akan kembali pada pelakunya.

Kamis, 30 Desember 2021

KITAB SIRRU ASROR -7 tingkat zikir zikir

 7 Tingkatan Dzikir  :


1. Dzikir Lisan 

2. Dzikir Qolbu / hati

3. Dzikir Jiwa 

4. Dzikir Rukh

5. Dzikir Sirri

6. Dzikir Akhfa

7 .Dzikir Akhfa Sirri 


Disari dari kitab " KITAB SIRRU ASROR " Karya Sulthonul Auliya' Syech Abdul Qodir Al- Jaelani QDS

Imam ash-Shadiq as berkata, “Zikir Lisan itu puja (al-hamd) dan puji (ats-tsana’), Zikir Jiwa (Dzikr al-Nafs) itu kesungguhan (al-juhd) dan kemauan yang keras (al-‘ana’), Zikir Ruh itu takut (al-khauf) dan harap (al-raja’), Zikir Kalbu itu pembenaran (al-shidiq) dan pembersihan (ash-shifa’), Zikir Akal itu pengagungan (at-ta’zhim) dan malu (al-haya’), Zikir Ma’rifat itu penyerahan diri (at-taslim) dan rela (ar-ridha’), Zikir Sirr (Dzikr al-Sirr) itu memandang (al-ru-u’yat) dan berjumpa (al-liqa’).


TINGKATAN PERTAMA : ZIKIR LISAN

 Imam ash-Shadiq as berkata, ”Zikir Lisan itu puja (al-hamd) dan puji (ats-tsana’). Pertama-tama yang mesti dilakukan oleh seseorang yang sedang melakukan latihan zikir, adalah membiasakan lidahnya untuk selalu berzikir. Ia harus senantiasa berzikir tanpa henti di mana pun ia berada dan kapan pun keadaannya. Pada tingkatan ini, zikir diwujudkan oleh lisan dalam bentuk pujaan dan pujian yang ditujukan hanya kepada Allah SwT.

Kata “al-Hamd – segala puji-” yang diucapkan lidahnya muncul dari persaksian atas Karunia Allah kepada sang hamba. Sang hamba mesti bersaksi dan mulai benar-benar menyadari bahwa Dia-lah yang telah melimpahkan semua karunia yang diterimanya.

2] Oleh karena itu, sang hamba mesti selalu mentaati-Nya di mana pun dan kapan pun ia berada.


TINGKATAN KEDUA : ZIKIR JIWA (DZIKR AL-NAFS)

Imam al-Shadiq as mengatakan, ”Zikir Jiwa itu adalah mewujudkan kesungguhan (al-juhd) dan kemauan yang keras (al-‘ana)”. Pada tingkatan Dzikr al-Nafs ini, sang pezikir mesti mulai melatih untuk menguatkan jiwanya dengan kesungguhan dan kemauan yang keras agar selalu terjaga dari alpa dan kelalaian. Nafs sang hamba mesti senatiasa terjaga dalam kondisi zikir dan mengingat-Nya. Dengan kesungguhan dan kemauan yang kuat, sang hamba harus menundukkan nafs (diri) –nya untuk tetap berzikir (baca : ta’at) kepada Tuhannya.

Seseorang yang berpikir bahwa dirinya akan dapat menyingkap rahasia-rahasia dan mencapai Hakikat-Nya tanpa bermujahadah (kesungguhan) maka dia hanyalah berangan-angan. Karena awal perjalanan ruhani itu adalah mujahadah.

Barangsiapa yang tidak memiliki kesungguhan (mujahadah) di jalan-Nya niscaya tidak akan memperoleh Cahaya dari-Nya.

 3] Kehendak dan kesungguhan adalah esensi kemanusiaan dan kriteria kebebasan manusia. Perbedaan derajat manusia adalah sesuai dengan perbedaan tingkat kehendak dan kesungguhan masing-masing manusia.

4] Dengan kata lain tingkat kemanusiaan (insaniyyah) seseorang dapat diukur dari kuat lemah kesungguhan dan kemauan diri (nafs)-nya untuk tidak lalai dan senantiasa mengingat-Nya di dalam mencapai peringkat-peringkat ruhani di jalan-Nya. “Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Kami niscaya benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (ihsan)” (QS 29 : 69)


TINGKATAN KETIGA : ZIKIR RUH

Imam ash-Shadiq as berkata, ”Zikir Ruh itu takut (al-khauf) dan harap (al-raja’)”. Tingkatan Zikir Ruh adalah Tingkatan ketika Ruh berzikir kepada-Allah sampai muncul hasil dari zikirnya itu rasa takut kepada Allah Swt yang sedemikian rupa sehingga seorang hamba merasa jika ia datang kepada-Nya dengan kebajikan (birr) dari 2 dunia (jin dan manusia), dia merasa akan tetap dihukum oleh-Nya dan pada saat yang bersamaan muncul pula rasa harap yang sedemikian rupa sehingga jika ia datang ke hadapan-Nya dengan dosa 2 dunia, maka Dia akan tetap mengasihinya (dengan ampunan-Nya) .

5] Sesungguhnya tingkatan (maqam) “khauf dan raja’” ini merupakan tingkatan ruhani yang cukup tinggi. Karena tidak akan muncul rasa takut di dalam hati seseorang melainkan karena kesempurnaan pengetahuannya tentang Tuhan. Al-Qur’an Yang Mulia mengatakan, ”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang memiliki ilmu” (QS 35 : 28). Hanya mereka yang memiliki ilmu yang bermanfaatlah yang memperoleh rasa takut kepada Tuhannya Yang Maha Perkasa. Namun rasa takut tidaklah hanya terungkap di dalam kata-kata atau munajat, tetapi juga mewujud di dalam setiap amal perbuatan dan ibadah-ibadahnya. Imam Ali as berkata, ”Aku heran dengan orang yang (mengaku) takut pada siksa (Neraka) tetapi ia tidak menahan diri (dari dosa). Dan aku heran dengan orang yang mengharapkan ganjaran pahala (tsawaab) namun ia tidak bertaubat dan melakukan amal shalih.”

6] Dan adapun orang-orang yang takut kepada kedudukkan Tuhannya dan menahan dirinya dari hawa nafsu maka Surga-lah tempat tinggalnya (QS 79 : 40-41)

TINGKATAN KEEMPAT : ZIKIR KALBU (DZIKR AL-QALB)

Imam ash-Shadiq as berkata, ”Zikir Kalbu itu pembenaran (al-shidiq) dan pembersihan (ash-shifa’)”. Tingkatan ini lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saww bersabda, ”Janganlah kamu melihat shalat-shalat mereka, puasa-puasa mereka dan banyaknya hajji dan kebaikan mereka, bahkan ibadah malam mereka. Tetapi hendaklah kamu lihat (sejauh mana) kebenaran kata-kata dan penunaian amanat (mereka).”

7] Jangan sampai kita tertipu karena kita hanya mengandalkan amalan lahiriyah kita (fiqih) namun melupakan amalan batiniyah (akhlaq). Banyak kita lihat orang-orang yang rajin melakukan shalat, berpuasa bahkan pergi hajji berkali-kali ke Baitullah namun ternyata mereka adalah para pendusta, penipu, koruptor dan para pengkhianat bangsa dan agama. (Kita berlindung dari amalan yang seperti itu). Syahadat yang kita ucapkan di dalam shalat kita, sudah semestinya tidak hanya diucapkan dengan lidah saja, syahadat juga mesti diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Imam Ali as mengatakan di dalam khutbahnya, ”Pokok pangkal agama itu adalah mengenal Allah, dan kesempurnaan dari ma’rifat kepada-Nya adalah pembenaran atas-Nya, dan kesempurnaan dari pembenaran atas-Nya adalah meng-Esakan-Nya dan kesempurnaan peng-Esa-an-Nya adalah mengikhlashkan (pengabdian) kepada-Nya, dan kesempurnaan dari pengikhlashan kepada-Nya adalah menafikan semua sifat yang dinisbatkan kepada-Nya.”

8] Zikir Kalbu ini adalah pembenaran atas ke-Esa-an-Nya, yaitu ketika sang pezikir sudah mencapai maqam musyahadah (penyaksian). Sang pezikir menyaksikan dengan mata batinnya akan Wujud-Nya Yang Tunggal sehingga ia pun membenarkan Sang Realitas seraya membersihkan hatinya dari penisbatas sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. “Maha Suci Tuhanmu Yang Memiliki Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan (kepada-Nya)” (QS Al-Shâffât 37 : 180)


 TINGKATAN KELIMA : ZIKIR AKAL (DZIKR AL-AQL)

Imam al-Shadiq as berkata, ”Zikir Akal itu pengagungan (at-ta’zhim) dan malu (al-haya’)”. Agaknya maksud akal di dalam hadits ini bukanlah sekadar akal rasional, namun akal ke’arifan. Di dalam sebuah hadits lainnya, Imam Ali as berkata, ”Perumpamaan akal di dalam hati (al-qalb) adalah seperti lampu di tengah-tengah sebuah rumah.”

9] Akal yang berada dalam hati ini hanya bisa bercahaya dan menyinari alam syuhud dan alam ma’nawi jika ‘digosok’ dan ‘dipoles’ dengan tadzakkur dan tafakkur. Cahaya akal ini akan menyingkap tabir-tabir kegelapan yang menutupi diri sang pejalan ruhani dari Al-Haqq sehingga ia dapat menyaksikan Keagungan (al-Jalal)-Nya dan Keindahan(Al-Jamal)-Nya dan terpancarlah rasa pengagungan (ta’zhim) kepada-Nya. Sebiji mata yang melihat lebih baik ketimbang ratusan tongkat orang buta. Mata dapat membedakan permata dari kerikil (Rumi, Matsnawi VI : 3785)


TINGKATAN KEENAM : ZIKIR MA’RIFAT

Imam al-Shadiq as mengatakan, ”Zikir Ma’rifat itu penyerahan diri (at-taslim) dan rela (ar-ridha’)”. Zikir ini lebih tinggi dari Zikir Akal. Setelah tadzakkur dan tafakkur muncullah ma’rifat. Ma’rifat kepada-Nya inilah yang membuatnya terdorong untuk berserah diri secara total (taslim) dan rela atas segala tindakan dan keputusan-Nya atas dirinya. Imam al-Shadiq as berkata, ”Sesungguhnya manusia yang paling mengenal Allah adalah mereka yang ridha akan Qadha (ketentuan) Allah ‘Azza wa Jalla.”

10] Di dalam sebuah Hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi Musa as : “Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan mampu mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai ketimbang sikap ridha dengan Ketentuan (Qadla’)–Ku”

11] Dan melalui penyingkapan–diri-Nya di dalam pancaran cahaya, Dia menunjukkan keterbatasan kemampuan (penglihatan) mata serta kekuatan rasional, menjadikannya melampaui kekuatan (penglihatan) mata Jadi, segala sesuatu memiliki keterbatasan, hanya Tuhan yang memiliki Kesempurnaan Esensi (Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah II : 632.29)


TINGKATAN KETUJUH : ZIKIR SIRR

Imam al-Shadiq as berkata, ”Zikir Sirr itu memandang (al-ru-u’yat) dan berjumpa (al-liqa’)”. Inilah tingkatan zikir yang paling tinggi! Tapi apakah sebenarnya Sirr itu? Sebagian kaum ‘urafa menyebut Sirr (Rahasia) sebagai Habb, yang secara harfiah berarti biji. Sirr atau Habb ini merupakan inti dari Lubb. Dan Lubb ini adalah inti dari Qalb (hati)

12] Jadi, Sirr adalah bagian yang terdalam dan terhalus dari hati.

13]. Habb atau Sirr inilah tempat bersemayamnya Cinta yang bersifat ruhani. (Hubb) Adapun Zikir Sirr adalah Zikir yang muncul setelah tahapan Zikir Ma’rifat terlampaui. Jika seorang pezikir telah sepenuhnya berserah diri dan ridha kepada semua Qadla-Nya maka sampailah ia pada tahapan memandang Yang Terkasih setelah berjumpa (liqa’)dengan-Nya, yang kemudian Cinta (Mahabbah) pun bersemi. Imam Ali al-Murtadha as bermunajat: Ya Allah, Tuhanku… Engkaulah yang paling terpaut pada pencinta-Mu Dan yang paling bersedia menolong orang-orang yang bertawakkal kepada-Mu. Engkau melihat, Engkau menguji rahasia-rahasia (saraa-i-rihim) mereka, dan mengetahui apa yang bersemayam dalam kesadaran mereka, dan menyadari sampai ke tingkat penglihatan batin mereka. Akibatnya rahasia-rahasia mereka terbuka bagi-Mu, dan kalbu-kalbu mereka memuji-Mu dalam kerawanan yang sungguh-sungguh. Dalam kesunyian, teman dan pelipur lara mereka adalah dengan berzikir kepada-Mu dan penderitaan, bantuan-Mu adalah pelindung mereka.

Semoga manfaat

Rabu, 29 Desember 2021

PERBEDAAN RELIGIUS DAN SPIRITUAL.

 Menurut definisi awam, orang religius adalah orang yang agamis, rajin ibadah, terkadang dari penampilannya terlihat (sengaja diperlihatkan), menampilkan simbol-simbol agama.


Apa itu spiritual? Merujuk kamus Bahasa Indonesia,  spiritual berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan seperti rohani atau bathin.


Fenomena yg terjadi saat ini sangat memprihatinkan. Kita dikenal sebagai bangsa yang religius,


Banyak orang taat beragama, tempat ibadah ada dimana-mana.

Tapi ternyata kejahatan terus terjadi, korupsi dan fitnah merajalela.

Kita sudah lazim menonton warga yang taat beribadah dan sebagainya namun tiba-tiba dikejutkan  tokoh tersebut melakukan korupsi alias menjadi maling uang rakyat. Rajin ibadah sekaligus rajin fitnah, teror, adu domba dan sebagainya. Inilah yang disebut kita menjadi sosok religius, belum berada pada tingkatan spiritual.


 Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak mampu membawa perbedaan antara yang beragama dengan yang tidak.


Kita masih terpaku pada “religius”, bukan “spiritual”.


Orang spiritual adalah orang yang baik, bukan hanya dalam menjalankan perintah agama saja, atau di tempat ibadah saja, tapi ia baik dimanapun ia berada.


Apakah kita bersikap sebagai pribadi religius atau spiritual? Apa yang membedakan dua hal tersebut?


Ada 5 perbedaan antara religius dengan spiritual :


1. Orang religius adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada.


 Sedangkan orang spiritual adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu hadir.


Orang melakukan perbuatan tidak baik karena ia berpikir Tuhan hanya ada, tapi tidak hadir.


Sedangkan orang spiritual berpikir bahwa Tuhan ada di manapun dia berada.


2. Orang religius adalah orang yang merasa paling suci dan paling benar.


Orang spiritual adalah orang yang melihat semua orang adalah setara, semua punya kelebihan dan kekurangan.


3. Orang religius adalah orang yang mudah melihat perbedaan, dan sensitif dengan perbedaan.


Orang spiritual adalah orang yang mudah melihat persamaan, mau menerima perbedaan, mau mendengarkan orang lain.


4. Orang religius adalah orang yang hanya mementingkan simbol-simbol agama dan ritual agama saja.


Orang spiritual adalah orang yg menyembunyikan ibadahnya dari orang lain, dan mempraktekkan keagamaan nya dimanapun dan kapanpun.


5. Orang religius adalah orang yg baik dalam urusan ibadah saja.


Orang spiritual adalah orang yang baik dalam semua urusan, karena menganggap semua urusan adalah ibadah.


Tanpa spiritual, ibadah yang dilakukan hanya menjadi ritual semata.


Ritual agama diperlukan, tapi harus dilakukan dengan kesadaran dan cinta kepada Tuhan.


Religius adalah cara untuk meraih spiritual.


Kita bisa menjadi spiritual tanpa melakukan hal-hal yang religius.


Namun hal itu belumlah lengkap, karena beragama tanpa ibadah tidaklah lengkap.


Untuk memasuki wilayah spiritual kita harus ingat dengan esensi dan hakekat kita ada di dunia ini, dan mencari makna dari setiap yang kita lakukan.


6. Orang religius Exclusive.  Orang spiritual membumi.


*****


Jadilah seorang yang religius dengan kecerdasan spiritual.

SUKMA diikat oleh RASA.

 RAGA supaya HIDUP harus dihidupkan oleh SUKMA..


SUKMA diikat oleh RASA. 


Ikatan RASA akan pudar dan lama-kelamaan akan habis apabila RASA tidak kuat lagi menahan penderitaan dan trauma yang dialami oleh RAGA. 


Bila seseorang tak kuat lagi menahan RASA sakit, kesadaran JASADnya akan hilang atau mengalami pingsan, dan bahkan kesadaran JASADnya akan sirna samasekali alias mengalami kematian.


Peristiwa kematian di sini adalah padamnya “alat nirkabel” atau semacam “bluetooth” bikinan tuhan sehingga terputuslah hubungan antara JASAD dan SUKMA. 


Lain halnya dengan aksi meraga sukma, sejauh manapun SUKMA berkelana ia tetap terhubung dengan RAGA melalui “teknologi” bluetooth bikinan tuhan bernama NYAWA.


Banyak orang yang bertanya, mengapa dalam mempelajari Agama mesti harus mengenal RASA ? 


Memang kalau hanya sampai pada tingkat Syariat, bab RASA tidak pernah dibicarakan atau disinggung. 


Tetapi pada tingkat Tarekat ke atas bab RASA ini mulai disinggung. 


Karena bila belajar ilmu Agama itu berarti mulai mengenal siapa Sang Percipta itu.


Karena ALLAH maha GHAIB maka dalam mengenal hal GHAIB kita wajib mengaji RASA ..!!


Jadi jelas berbeda dengan tingkat syariat yang memang mengaji telinga dan mulut saja. Dan mereka hanya yakin akan hasil kerja panca inderanya.. Bukan Batin..!


DAIM ini butuh konsentrasi yg tinggi, pikiran harus nol. 


Tentu hal ini sulit dilakukan oleh para syariat karena terlalu banyak urusan dunia yang dipikirkan. 


Tapi tidak menutup kemungkinan ada para syariat yg memiliki kemampuan lebih atas ijin Allah bisa melakukannya, tentu dengan bimbingan seorang mursyid loo yaaa... 😊


RASA dibagi dalam beberapa golongan .Yaitu : 

- RASA TUNGGAL, 

- SEJATINYA RASA, 

- RASA SEJATI, 

- RASA TUNGGAL JATI


Mengaji RASA sangat diperlukan dalam mengenal GHAIB... Karena hanya dengan mengaji RASA yang dimiliki oleh batin itulah maka kita akan mengenal dalam arti yang sebenarnya, apa itu GHAIB...


1. RASA TUNGGAL

Yang empunya Rasa Tunggal ini ialah jasad/jasmani. Yaitu rasa lelah, lemah dan capai. 


Kalau Rasa lapar dan haus itu bukan milik jasmani melainkan milik Nafsu.


Mengapa jasmani memiliki rasa Tunggal ini..? 


Itu karena sesungguhnya dalam jasmani/jasad ada penguasanya/penunggunya. 


Orang tentu mengenal nama QODHAM atau ALIF LAM ALIF. 


Itulah sebabnya maka di dalam AL QUR’AN, ALLAH memerintahkan agar kita mau merawat jasad/jasmani. Kalau perlu, kita harus menanyakan kepada orang yang ahli/mengerti. 


Selain merawatnya agar tidak terkena penyakit jasmani, kita pun harus merawatnya agar tidak menjadi korban karena ulah hawa nafsu maka jasad kedinginan, kepanasan ataupun masuk angin.


Bila soal-soal ini kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, niscaya jasad kita juga tahu terima kasih. 


Dan kalau dia kita perlakukan dengan baik, maka kebaikan kita pun akan dibalas dengan kebaikan pula. Karena sesungguhnya jasad itu pakaian sementara untuk hidup sementara di alam fana ini. 


Kalau selama hidup jasad kita rawat dengan sungguh-sungguh (kita bersihkan 2 x sehari/mandi, sebelum puasa keramas, sebelum sholat berwudhu dulu, dan tidak menjadi korban hawa nafsu, serta kita lindungi dari pengaruh alam), maka dikala hendak mati jasad yang sudah suci itu pasti akan mau diajak bersama-sama kembali ke asal, untuk kembali ke sang pencipta. 


Seperti halnya kita bersama-sama pada waktu datang/lahir ke alam fana ini. 


Mati yang demikian dinamakan mati Tilem (tidur) atau mati sempurna. 


Tetapi Pandangan yang kita lakukan malah sebaliknya. Mati dengan meninggalkan jasad.. 


Kalau jasad sampai dikubur, maka QODHAM atau ALIF LAM ALIF, akan mengalami siksa kubur. Dan kelak dihari kiamat akan dibangkitkan.


Dalam mencari nafkah baik lahir maupun batin, jangan mengabaikan jasad. Jangan melupakan waktu istirahat. Sebab itu ALLAH ciptakan waktu 24 jam (8 jam untuk mencari nafkah, 8 jam untuk beribadah, dan 8 jam untuk beristirahat).


Juga dalam hal berpuasa, jangan sampai mengabaikan jasad. Sebab itu ALLAH tidak suka yang berlebih-lebihan. Karena yang suka berlebih-lebihan itu adalah Dzad (angan-angan). Karena dzad mempunyai sifat selalu tidak merasa puas.


2. SEJATINYA RASA

Apapun yang datangnya dari luar tubuh dan menimbulkan adanya RASA, maka Rasa itu dinamakan Sejatinya RASA . 


Jadi Sejatinya RASA adalah milik Panca Indera:


1.MATA : 

Senang karena mata dapat melihat sesuatu yang indah atau tidak senang bila mata melihat hal-hal yang tidak pada tempatnya.


2.TELINGA : 

Senang karena mendengar suara yang merdu atau tidak senang mendengar isu atau fitnahan orang.


3.HIDUNG : 

Senang mencium bebauan wangi/harum atau tidak senang mencium bebauan yang busuk.


4.KULIT : 

Senang kalau bersinggungan dengan orang yang disayang atau tidak senang bersunggungan dengan orang yang nerpenyakitan.


5.LIDAH : 

Senang makan atau minum yang enak-enak atau tidak senang memakan makanan yang busuk.


3. RASA SEJATI

Rasa sejati akan timbul bila terdapat rangsangan dari luar, dan dari tubuh kita akan mengeluarkan sesuatu. 


Pada waktu keluarnya sesuatu dari tubuh kita itu, maka timbul Rasa Sejati. 


Untuk jelasnya lagi Rasa Sejati timbul pada waktu klimaks/pada waktu melakukan hubungan seksual.


4. RASA TUNGGAL JATI

Rasa Tunggal Jati sering diperoleh oleh mereka yang sudah dapat melakukan Meraga Sukma (keluar dari jasad) dan Salat Da’im.


Beda antara Meraga Sukma dan Shalat Da’im ialah :


1.Kalau Meraga Sukma jasad masih ada, batin keluar dan dapat pergi kemana saja.


2.Kalau Shalat Da’im jasad dan batin kembali keujud NUR dan lalu dapat pergi kemana saja yang dikehendaki. Juga dapat kembali / bepergian ke ALAM LAUHUL MAKHFUZ.


Bila kita Meraga Sukma maupun Shalat Da’im, mula pertama dari ujung kaki akan terasa seperti ada “aliran“ yang menuju ke atas / ke kepala. 


Pada Meraga sukma, 

bila “aliran“ itu setibanya didada akan menimbulkan rasa ragu-ragu/khawatir atau was-was... Namun bila kita ikhlas, maka kejadian selanjutnya kita dapat keluar dari jasad, dan yang keluar itu ternyata masih memiliki jasad. 


Memang sesungguhnya setiap manusia itu memiliki 3 buah wadah lagi, selain jasad/jasmani yang tampak oleh mata lahir ini.


Kalau Shalat Da’im bertepatan dengan adanya “Aliran“ dari arah ujung kaki, maka dengan cepat bagian tubuh kita akan “Menghilang“ dan kita akan berubah menjadi seberkas NUR sebesar biji ketumbar dibelah 7 bagian. 


Bercahaya bagai sebutir berlian yang berkilauan. 


Nah, RASA keluar dari jasad atau rasa berubah menjadi setitik NUR. 


NUR inilah yang disebut sebagai Rasa Tunggal Jati. 


Selain itu, baik dalam Meraga Sukma maupun Shalat Da’im. Bila hendak bepergian kemana-mana kita tinggal meniatkan saja maka sudah sampai.. Rasa ini juga dapat disebut Rasa Tunggal Jati. Sebab dalam bepergian itu kita sudah tidak merasakan haus, lapar, kehausan, kedinginan dan lain sebagainya. 


Bagi mereka yang berkeinginan untuk dapat melakukan Meraga Sukma dianjurkan untuk sering Tirakat/Kannat puasa. 


Jadikanlah puasa itu sebagai suatu kegemaran. 


Dan yang penting juga jangan dilupakan melakukan Dzikir gabungan NAFI-ISBAT dan QOLBU.. Dalam sehari-hari sudah pada tahapan Lillahi Ta’ala.


Hal ini berlaku baik mereka yang menghendaki untuk dapat melakukan SHALAT DA’IM. 


Kalau Meraga Sukma mempergunakan NUR ALLAH, tapi bila SHALAT DA’IM sudah mempergunakan NUR ILLAHI. 


Karena ada Rasa Sejati, maka Rasa merupakan asal usul segala sesuatu yang ada. 


Oleh sebab itu bila hendak mendalami ilmu MA’RIFAT Islam dianjurkan untuk selalu bertindak berdasarkan RASA .. 


Artinya jangan membenci, jangan menaruh dendam, jangan iri, jangan sirik, jangan bertindak sembrono, jangan bertindak kasar terhadap sesama manusia, dll. Sebab dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita ini semua sama, karena masing-masing memiliki RASA . 


RASA merupakan lingkaran penghubung antara etika pergaulan antar manusia, juga sebagai lingkaran penghubung pergaulan umat dengan Penciptanya. 


Rasa Tunggal jati ini mempunyai arti dan makna yang luas... Karena bagai hidup itu sendiri. 


Apapun yang hidup mempunyai arti. 


Dan apapun yang mempunyai arti itu hidup. 


Sama halnya 


Apapun yang hidup mempunyai Rasa.


Dan apapun yang mempunyai Rasa itu Hidup.


Dengan penjelasan ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang mendiami Rasa itu adalah Hidup. Dan Hidup itu sendiri ialah Sang Pencipta/ALLAH. 


Padahal kita semua ini umat yang hidup. Jadi sama, ada Penciptanya. 


Oleh sebab itu, umat manusia harus saling menghormati, tidak saling merugikan, bahkan harus saling tolong menolong dll.


Dan hal ini sesuai dalam firman ALLAH : 

“HAI MANUSIA ! MASUKLAH KALIAN DALAM PERDAMAIAN, JANGAN BERPECAH BELAH MENGIKUTI LANGKAH SYAITAN, SESUNGGUHNYA SYAITAN ITU MUSUHMU YANG NYATA”.


🎐Keilmuan ZIKIR NAFAS akan menunjukkan pada anda, bagaimana caranya mengatasi berbagai masalah yang mengintai dalam kehidupan serta memuat berbagai alternatif solusinya, rahasia ilmu ini masih banyak hikmah dan manfaat lainnya dan akan sangat bermanfaat pada orang-orang beristiqomah dalam mengamalkan suatu ilmu 


BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM ALLAHUMMA KUN HU SIRRULLAH, HU ALLAH MENJADI RASA, RASA SIRR TA 'AZZAZTU BIROBBIL 'IZZATI WAL JABARUUT, WA TAWAKKALTU 'ALAL HAYYIL LADZII LAA YAMUUT, SYAAHATIL WUJUUH, WA 'AMATIL ABSHOORU, TAWAKKALTU 'ALAL WAAHIDIL QOHHAR, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL 'ALIYYIL 'AZHIIM

.

Dibaca selama 7 hari dimulai pada hari Senin, khasiatnya tergantung niat sipengamalnya untuk apa..

MELEBURKAN DIRI DENGAN ALLAH

 Pemahaman didalam nama ALLAH itu sebenarnya Adalah DZat, SIFAT, ASMA dan AF'AL, sebab pada Lafadz ALLAH itu adalah sebagai berikut :

- Huruf (ALIF) pada kalimah ALLAH itu masuk pada DZAT,

- Huruf (LAM AWAL) pada kalimah ALLAH itu masuk pada SIFAT,

- Huruf (LAM AKHIR) pada kalimah ALLAH itu masuk pada ASMA

- Dan Huruf (HA) pada kalimah ALLAH itu masuk pada AF'AL,

maka itulah yang bernama ALLAH.


Jika memang diri itu HAYAT (Ruh), hendaknya kita jangan berhenti pada RUH saja, akan tetapi teruskan dan tembuskan pandanganmu itu kepada Hal dan SIFAT Allah TA'ALA.

Sekiranya pandanganmu itu berhenti hanya kepada NYAWA saja, maka sesungguhnya kita salah dalam memahami pernyataan bahwa "DIRI ITU RUH".


- Sebab Tatkala Ia Nasab bagi sekalian TUBUH NYAWA Namanya,

- Tatkala Ia keluar masuk NAPAS Namanya,

- Tatkala Ia berkehendak HATI Namanya,

- Tatkala Ia percaya akan sesuatu IMAN Namanya,

- Dan Tatkala Ia dapat memperbuat sesuatu AKAL Namanya.


Pohon AKAL itu adalah ILMU, inilah jalannya dan inilah yang disebut sebenar-benarnya DIRI. Jika demikian adanya maka dapat dikatakan bahwa sekarang ini kita hanya bertubuhkan RUH semata-mata. Mengapa demikian . .?


"KITA" disini sudah FANA LAHIR dan BATHIN kepada RUH, disini jangan diartikan bahwa kita yang MEMFANAKAN DIRI, akan tetapi FANA itu dari ALLAH jua adanya, sedangkan kata "KITA" itu pun sudah LEBUR kedalam FANA itu sendiri.

Itu sebabnya jika ada orang yang mengatakan telah dapat dan mampu MEMFANAKAN DIRI akan tetapi Ia sendiri tidak tau dan tidak kenal akan DIRINYA, maka sesungguhnya itu omong kosong dan bohong besar saja, mengapa demikian ?


Sebab jika seseorang itu tidak tau atau kenal siapa DIRINYA yang sesungguhnya, maka mau di-FANA-kan kemana dirinya itu......?

NYAWA itu adalah NUR MUHAMMAD,

NUR MUHAMMAD itu adalah SIFAT,

dan SIFAT itulah HAYAT,


Akan tetapi ingat olehmu bahwasannya RUH itu bukan TUHAN, Tetapi Tiada lain dari Pada TUHAN, asalkan saja diteruskan kepada DZAT dan SIFAT.

Jika ini dapat dipahami, maka jangan kamu cari lagi akan Ia, karena bila dicari lagi bukannya semakin dekat akan tetapi malah semakin jauh.


Siapa saja yang telah sampai pada MAQOM ini, pastilah Ia tidak akan mau mengatakan kata-kata SYARIAT, TARIKAT, HAKIKAT, MARIFAT, dan...

- Ahli SYARIAT tidak BERSYARIAT lagi,

- Ahli TARIKAT tidak BERTARIKAT lagi,

- Ahli HAKIKAT tidak BERHAKIKAT lagi,

- Ahli MARIFAT tidak BERMARIFAT lagi . .

silahkan direnungkan.


Seseorang yang sampai kepada TUHAN, Ia tidak tahu lagi akan DIRINYA, dan tidak tahu lagi siapa TUHAN-NYA. Emas, Pasir , Syurga, Neraka, sama saja.

Ia lebih senang Diam. Karena diam itu adalah kedudukan Tuhan yang maha Agung dan maha Mulia serta maha Tinggi.

Sebagai tambahan agar kita benar-benar mengenal akan diri yang sebenar-benarnya diri, maka ketahuilah olehmu :


Rasulullah SAW bersabda:

"AKU ADALAH BAPAK DARI SEGALA RUH SEDANGKAN ADAM ITU ADALAH BAPAK DARI SEKALIAN BATANG JASAD/TUBUH".


Batang Tubuh manusia itu dijadikan oleh ALLAH SWT dari pada Tanah.

"AKU JADIKAN INSAN (Adam) ITU DARIPADA TANAH" (Al-Qur'an)


TANAH itu dari pada AIR, AIR itu dijadikan daripada NUR MUHAMMAD.

Dengan demikian maka Nyatalah bahwasannya Batang TUBUH dan RUH kita ini jadi dari pada NUR MUHAMMAD, maka MUHAMMAD Jua Namanya, tiada yang lain.


Sesungguhnya TUBUH kita yang kasar ini tidak akan pernah dan tidak akan dapat mengadakan pengenalan kepada ALLAH melainkan dengan NUR MUHAMMAD jua.

Itulah sebabnya maka dinamakan POHON BUSTAH Artinya yang hampir pada UJUDNYA.


Adapun UJUD itu, adalah UJUD ALLAH TA'ALA jua adanya, sekali-kali jangan ada UJUD yang lain dari pada UJUD ALLAH TA'ALA, itulah yang sebenar-benarnya DIRI, begitu pula dengan kelakuan, jangan ada yang lain, karena tidak ada kelakuan yang lain selain kelakuan ALLAH TA'ALA. Sebab kalimah "FAQAD ARAFAH" itu Tiada akan menerima salah satu, melainkan suci ZAHIR dan BATHIN adanya.


DZAT Artinya UJUD ALLAH semata-mata, itulah yang sebenarnya, Melihat itu BASYAR ALLAH, berkata-kata itu KALAM ALLAH dan seterusnya.

Seandainya ada yang lain dari diri-Nya maka seluruh pengenalanmu itu akan menjadi BATAL.


Semoga bermanfaat...

Salam

Selasa, 28 Desember 2021

SIFAT MA’ANI

 Allah Hu.


Bismillahifat Apakah Yang Terkandung Di Dalam Ma’ani.?


Sifat yang terkandung di dalam sifat ma’ani ada tujuh perkara:


1. Qudrat = kuasa

2. Iradat = berkehendak

3. Ilmu = mengetahui

4. Hayat = hidup

5. Sama’ = mendengar

6. Basar = melihat

7. Qalam = berkata-kata


Bagaimana Menterjemah Sifat Ma’ani Pada 

Diri Kita.?


Sifat ma’ani Allah Ta’ala yang jelas terzahir pada diri kita ada tujuh:


1. Hidup

2. Mengetahui

3. Berkuasa

4. Berkehendak

5. Melihat

6. Mendengar

7. Berkata-kata


Ada dengan terang dan jelas menzahir Sifat-Sifat-Nya ke atas Diri kita. Tujuan dizahirkan Sifat-nya supaya dijadikan sebagai pedoman, sebagai panduan dan sebagai iktibar untuk kita mengenal, melihat dan memandang Allah melaluinya.


Allah bukan Ain (bukan benda) yang boleh dikenal melalui bentuk hitam dan putih. 

Allah menzahirkan Sifat-Sifat-Nya ke atas Diri kita adalah bertujuan supaya dijadikan Tempat memandang Sifat-Sifat-Nya kepada mereka-mereka yang berpandangan jauh.


Ramai yang masih tidak memerhatikannya. Sifat hidup, Sifat mengetahui, Sifat berkuasa, Sifat berkehendak, Sifat melihat, dan Sifat berkata-kata yang dipakaikan Allah atas Diri kita, adalah menjadi tanda kebesaran-Nya atas Diri kita supaya kita memerhati dan melihatnya. Sifat-Sifat tersebut bukannya Sifat peribadi kita tetapi Sifat tersebut sebenarnya adalah hak kepunyaan Mutlak Allah Ta’ala.


Sifat yang kita pakai ini adalah pinjaman semata-mata. Dari itu hendaklah kita sedar dan insaf akan hal itu. Kesemua Sifat-Sifat tersebut adalah hak milik Allah dan kepunyaan Allah swt yang sepatutnya dikembalikan semula kepada Tuan yang Ampunya, *sementara hayat masih dikandung badan*.


Penzahiran Sifat ma’ani (Angin) atas Makluk (Diri kita) adalah sekadar pinjaman yang berupa pakaian sementara, yang Akhirnya dikehendaki kembali semula kepada Tuan 

yang Ampunya. Allah tidak boleh diibarat atau dimisalkan dengan sesuatu.


Maha suci Allah dari ibarat dan misal. Segala misalan atau segala perumpamaan yang dinukilkan itu, hanyalah sekadar untuk mempermudahkan faham. Sifat ma’ani itu, adalah seumpama Bayang-Bayang, manakala Allah Ta’ala itu, adalah seumpama Tuan yang Ampunya bayang.


Tidakkah engkau melihat kekuasaan Tuhanmu.? – bagaimana ia menjadikan Bayang-Bayang itu terbentang luas kawasannya dan jika ia kehendaki tentulah ia menjadikannya tetap tidak bergerak dan tidak berubah Kemudian Kami jadikan matahari sebagai tanda yang menunjukkan perubahan bayang-bayang itu;


Allah Jadikan Manusia dalam Bayang-Nya


Maksud Bayang itu, adalah merujuk kepada Makhluk dan Diri kita. Bayang (Diri) sebenarnya tidak mempunyai apa-apa Sifat. Bayang hanya sekadar Sifat yang menumpang dari yang Ampunya bayang. Bergeraknya bayang adalah gerak daripada yang Ampunya Bayang. Berdirinya Bayang adalah dengan berdirinya Tuan yang Ampunya Bayang (Allah). Mustahil Bayang itu boleh berdiri dengan sendiri tanpa kuasa dari yang Ampunya Bayang (Allah). Bayang dengan yang Ampunya Bayang itu, mustahil bersatu dan mustahil bercerai.


Diri kita dengan wajah Allah itu, adalah seumpama ujud Bayang dengan yang Ampunya Bayang atau seumpama Bayangan wajah di permukaan cermin. Sifat ma’ani itu tidak boleh berdiri dengan sendiri tanpa bergantung dari sifat maknawiah. Hubungan antara sifat ma’ani dengan sifat maknawiah itu, adalah seumpama hubungan antara Bayang dengan yang Ampunya Bayang.


Contohnya seumpama Sifat mata dengan penglihatan, Sifat telinga dengan pendengaran dan Sifat mulut dengan yang berkata-kata. Walau bagaimana keadaan sekalipun, ianya tetap tidak boleh bercerai dan juga boleh bercantum. Inilah yang dikatakan hubungan Sifat ma’ani dengan sifat ma’anawiah itu, bercantum tidak bercerai tiada.


Tiada bercerai antara Nafi dan Isbat, dan siapa-siapa yang menceraikan antara keduanya maka orang itu kafir adanya.


Bayang bukan Cahaya tetapi tidak lain dari Cahaya. Cahaya bukan Matahari tetapi tidak lain dari Matahari. Begitu jugalah contohnya hubungan antara Allah dengan Diri kita. Dari itu marilah kita sama-sama mengambil faham dan insaf bahawa Sifat yang kita miliki ini, sebenarnya hak kepunyaan Allah, yang harus kita serah kembali kepada yang Ampunya.


Tujuan mempelajari Sifat ma’ani adalah bertujuan supaya kita mengaku bahawa sebenarnya Diri kita ini tidak ada, tidak wujud, dan tidak terjadi. Yang wujud, yang ada dan yang terjadi adalah hanya semata-mata Allah, seumpama Sifat Bayang, terzahirnya Bayang itu, adalah bagi tujuan menampakkan dan menyata Sifat yang Ampunya Bayang itu sendiri.


Di dalam keghairahan membicarakan soal Sifat ma’ani, harus diingat bahawa Allah tidak bertempat. Allah tidak menjelma ke atas jasad. Allah tidak bertempat di dalam atau di luar badan, Allah tidak bersatu, tidak bercantum dengan badan, Allah bukan kesatuan, Allah bukan bersyarikat, bukan bercantum dengan jasad kita. Ada orang yang mengaku bahawa Allah menjelma di dalam jasad dan tidak kurang pula ada yang mengaku menjadi Allah dan sebagainya.


Bukan kita yang meliputi Allah, tetapi Allah lah yang meliputi kita. Kesemua Sifat yang kita miliki ini adalah milik Allah, Sifat yang ada pada diri kita akan hancur, binasa dan hilang lenyap, Sifat yang kekal dan yang Abadi itu, hanyalah Allah swt.


Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama Allah. Tiada Tuhan melainkan Allah. Tiap-tiap sesuatu akan binasa melainkan Zat Allah. Bagi-Nya lah kuasa memutuskan segala hukum, dan kepada-Nya lah kamu semua dikembalikan.


Apa Hubungan Sifat Maani Dengan Roh.


Sifat ma’ani adalah wajah Allah yang terzahir melalui Sifat dan rupa paras Roh, melalui Sifat mata, mulut, telinga, dan anggota tubuh seluruhnya. Sebagaimana rupa dan paras Roh, sebegitulah Wajah ma’ani Allah, kerana Rohlah Sifat ma’ani Allah.


Untuk melihat Sifat ma’ani Allah, lihatlah pada Wajah dan Sifat rupa paras Diri kita sendiri.

NUR SEBAGAI BUAH DZIKIR.

 Asalamualaikum Warahmatullahu Wabarahkatuh.


l  Bismillahirahmanirahim.


NUR SEBAGAI BUAH DZIKIR.


٭٭ قومٌ تسبِقُ انوارهُم اذكارهُم وقومٌ تسبِقُ اذكارهُم انوارهُم وقومٌ تتساوٰى اذكارهُم و انوارهُم وقومٌ لا اذكار ولا انوار. نعوذ بالله من ذالك ٭٭.


 Sebahagian kaum ada yang Nur (makrifat)nya mendahului dzikirnya,  dan sebahagian kaum dzikirnya mendahului Nur-nya, dan sebahagian lagi kaum yang tidak berdzikir dan tidak punya nur., Na’udzubillahi-min-dzalik.


Kaum yang Nur-nya mendahului dzikirnya yaitu : Maj-dzubuun atau Murooduun (orang yang langsung ditarik oleh Allah bolih makrifat), mereka setelah mendapat nur makrifat lalu berdzikir, sedang kaum yang dzikirnya mendahului Nurnya yaitu para Salikuun atau Murii-duun ( orang yang berusaha mencapai makrifat atau wushul kepada Allah), mereka bermujahadah/memerangi nafsunya dengan berdzikir sehingga mendapatkan nur makrifat.


ذاكِرٌ ذكرَ ليَسْتنيرَ قلبه فكان ذاكِراً وذاكرٌ اِستنارَ قلبه فكان ذاكِراً والذي استَوَت اَذكارُهُ واَنوارُهُ فبذِكرهِ يَهتدى وبنُورهِ يقتدى ٭٭


Orang berdzikir yang dzikirnya untuk mendapatkan terang hatinya (yaitu salikuun/muriduun, dan ada orang yang berdzikir sedang hatinya telah terang/mendapat nur (yaitu Majdzubuun/murooduun)mereka semua disebut berdzikir.”


Golongan kaum yang mendapat nur sebelum dzikir itu di sebut dalam ayat  :  يَختصُّ برَحْمَتهِ من يشـَاءُ “Allah menentukan/mengkhususkan rahmat-Nya pada siapa yang dikehendaki-Nya.”


Sedangkan golongan yang berdzikir kemudian mendapatkan Nur, disebutkan dalam ayat :  “ وَالَّذِينَ جاَهَدُوا فِيْناَ لنَهْدِيَنـَّهُمْ سُبُلَنـاَ

 Dan mereka yang benar-benar berjuang dijalan kerirhoan-Ku, pasti Aku pimpin (Aku tunjukkan jalan kami).”


Syeih Abul-Abbas Al-Mursy berkata : sebagian kaum ada yang mendapatkan karunia/karomah dari Alloh dengan taat kepada Alloh(salikuun), dan ada yang bisa taat kepada Alloh sebab karunia/karomah dari Alloh(majdzubuun).


٭٭ ماكان ظاهرُ ذكرٍ الا عَن باطن شهودٍ وفكْرٍ ٭٭


 Tidak akan terjadi dzikir pada anggota lahir kecuali sebab musyahadah dan berfikir (tentang keagungan Allah) dalam bathin (hati)nya .”


Yang dimaksud dzikir disini yaitu semua amal lahir, sebab semua amal lahir itu pasti timbul dari hati yang memandang Allah(musyahadah) dan berfikir tentang keagungan Allah.

Apabila anggota lahir disibukkan dengan berdzikir kepada Allah, itu sebagai tanda adanya cinta kepada Allah dalam hatinya; ketika seseorang cinta sesuatu maka banyak menyebutnya, dan tidak ada cinta kecuali dari mengenal (makrifat).


Alhasil adanya dzikir pada anggota lahir itu timbul dari adanya musyahadah dalam bathinnya, bagi para arifiin. Atau timbul dari berfikir tentang anugerah dari Allah, bagi orang-orang yang mencari pahala.


Dalam hal dzikir manusia terbagi menjadi tiga bahagian : 

1. Orang yang mencari pahala(awam).

 2. Orang yang berharap sampai/wushul kepada Allah(salik). Dan 

3. Orang yang mengagungkan dan memuliakan Allah(’Arif).


٭٭ أشهدكَ من قبل أن يستشهِد ك فنطقت باءلٰهيتهِ الظواهرُ وَتحققت بأحديته القلُوبُ وَالسرَائرُ ٭٭


Allah ta’ala telah memberi syuhud (kesaksian) kepadamu, untuk menyaksikan ke-Tuhanan-Nya Allah sebelum  Allah menuntut kamu supaya menyaksikan keagungan Allah , lalu anggota lahirmu mengucapkan (menyatakan) ke-Tuhanan-Nya Allah dan hatimu menyaksikan sifat Esa-Nya Allah.”


Allah telah membukakan pada semua ruh manusia dialam ghaib tentang ke-Tuhanan Allah dan sifat Esa Dzatnya Allah, dan tentang Allah meliputi dan mengurusi semua makhluknya, lalu setelah Allah melahirkan arwah tadi kealam dunia yakni Allah mngumpulkan ruh dengan jasad lahir, lalu Allah menuntut ruh tadi untuk menyaksikan ke-Tuhanan-Nya Allah, maka ruh tadi menyaksikan dengan lisan lahirnya,. Jadi kesaksian ruh itu mengikuti penyaksian ruh dialam ghaib.


Dalam keterangan kitab lain hikmah ini juga diartikan : Allah sudah memperlihatkan Dzatnya kepadamu, sebelum Ia menuntut kepadamu harus mengakui kebesarannya, sehingga nyata mengakui ke-TuhananNya segala makhluk lahir, dan nyata hakikat ke-Esa-anNya dalam hati dan sir.


٭٭ أكرمك بكراماتٍ ثلاث جعلك ذاكِرًا له ولولا فَضله لم تكن أهلاً لِجرَيان ذِكرِه عليكَ، وجعلك مذكوراً به اِذْ حقق نِسبتَه ُ لديكَ وجعلك مذكوراً عنده فتمم نِعْمته عليكَ ٭٭


 Allah telah memuliakan engkau dengan tiga karomah (kemuliaan): Allah telah menjadikan engkau seorang yang berdzikir kepada-Nya, jika tidak karena anugerah-Nya, nescaya  engkau tidak pantas/layak untuk berdzikir kepada-Nya. Allah telah menjadikan engkau disebut dengan asma Allah, karena Allah telah menisbatkan asma itu kepada engkau. Allah telah menjadikan engkau disebut  disisi Allah , maka dengan demikian Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu.”


Allah berfirman :  

 Dan sesungguhnya dzikir Allahh kepada hamba itu lebih besar (dari pada dzikir hamba kepada Allah)”.


Bagaimana seorang hamba yang hina boleh menyebut dan mengabdi kepada Tuannya yang maha agung, kalaulah tidak karena anugrah Tuhan tidaklah mungkin engkau bolih berdzikir dengan lisanmu.


Karomah yang kedua, Engkau dijadikan orang yang disebut dengan asma Allah (Allah sendiri yang menisbatkan asma/dzikir itu kepadamu) , seperti contoh : Ya waliyyallah, Ya shafiyullah, itu kerana Allah sudah memberikan sifat khususiyyah pada kamu.


Karomah yang ketiga,Engkau disebut-sebut disisi Allah dihadapan para malaikat al-muqorrobin. Itulah sempurna-sempurnanya nikmat.


Dalam sebuah hadits qudsi , dari Abi Hurairah ra. Berkata : Rasulullah saw. Bersabda : Allah berfirman : Aku selalu mengikuti perasangka hambaku, dan aku selalu mendampinginya selama ia berdzikir  pada-Ku,  jika ia berdzikir padaKu dalamhatinya, Aku ingat padanya dalam Dzatku, dan bila ia dzikir pada-Ku di muka umum, aku ingati dia didalam umum yang lebih baik dari golongannya,  dan bila ia mendekat padaKu sejengkal maka Aku mendekat padanya sehasta, bila ia mendekat padaKu sesehasta maka Aku mendekat padanya sedepa, dan bila ia datang kepadaKu berjalan, Aku datang kepadanya berlari.

Salam Santun Dan Salam Tauhid