Laman

Senin, 08 September 2014

MAKRIFAT BUKAN TUJUAN AKHIR


“Awal beragama Makrifatullah” begitu kata baginda Rasul untuk mengingatkan ummatnya untuk fokus mencapai tahap makrifat kepada Allah sebagai syarat awal agar seseorang dinilai telah beragama. Makrifatullah dalam makna umum berarti mengenal atau mengetahui tentang Allah. Makrifat terbagi menjadi Makrifat Asma (nama), Makrifat af’al/fi’il (perbuatan) dan Makrifat Dzat (Memandang Dzat Allah).
Makrifat dengan nama Allah berarti kita mengenal tentang Allah lewat nama-nama-Nya, adalah 99 nama yang baik (asmaul husna) yang terdapat dalam al-Qur’an. Ar-Rahman dan ar-Rahim misalnya mengajarkan kita bahwa Allah adalah sosok yang mempunyai sifat pengasih dan penyayang. Al-‘Aziz, Maha Perkasa atau Maha Kuat, dengan nama itu tergambar dalam pikiran kita akan Tuhan yang Maha Kuat, sumber dari segala kekuatan. Dengan mengetahui nama tersebut akan membuat kita sadar bahwa di atas kita ada sosok yang jauh melebihi kemampuan kita. Dengan mengetahui nama-nama-Nya adalah salah satu cara kita mengenal-Nya.
Makrifat dengan af’al/fi’il atau sifat, ada 20 sifat Allah yang wajib diketahui oleh hamba-Nya. Kalam, atau berkata-kata akan mengajarkan kita bahwa Allah memiliki sifat berkata-kata, dengan itu memberikan keyakinan bahwa Allah memberikan petunjuk kepada seluruh manusia dengan perantaraan kata-kata-Nya. Kata-kata-Nya yang disampaikan kepada Nabi ditulis dalam bentuk kitab suci sedangkan kata-kata-Nya yang disampaikan kepada hati orang beriman akan memberikan petunjuk secara pribadi kepada orang tersebut dalam kehidupannya. Sifat Kalam Tuhan itu abadi, artinya tidak mungkin Tuhan hanya berkata-kata zaman dulu saja ketika Nabi ada tapi Dia akan terus berkata-kata sepanjang zaman, cuma diperlukan ketenangan jiwa dan hati yang bersih untuk bisa mendengarkan firman-Nya.
Makrifat Dzat, mengenal Dzat Allah, ini adalah puncak makrifat, mengenal dengan sebenar kenal. Dengan makrifat seorang hamba yang telah disucikan dan intensif berdzikir lewat hati sanubarinya, dapat melihat Tuhan Allah SWT. Para Sufi mengatakan, “Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah SWT. Makrifat merupakan cermin. Jika seorang sufi melihat ke cermin, maka yang dilihatnya hanya Allah SWT. Yang dilihat orang arif sewaktu tidur maupun bangun hanya Allah SWT”
Kenapa awal beragama makrifat kepada Allah, karena jika tidak mengenal Allah maka tidak mungkin manusia bisa menyembah-Nya dan tidak mungkin bisa mencintai-Nya. Maka sangat penting bagi seluruh manusia untuk mencapai tahap makrifat agar ibadah-ibadah yang dilakukannya tidak sia-sia.
Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk mengorbankan anaknya lewat mimpi, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya. Kenapa Ibrahim melaksanakan perintah yang “aneh” tersebut karena dia sangat yakin yang memerintahkan adalah Allah. Kenapa sangat yakin yang datang dalam mimpinya adalah Allah, karena Nabi Ibrahim telah mencapai tahap makrifatullah, mengenal Dzat Allah SWT. Akal tidak mampu menguraikan tentang wujud Allah yang datang dalam mimpi Ibrahim, tasawuf dengan mudah menguraikannya. Uraian tentang makrifat dan pengalaman-pengalaman tentang makrifat hanya bisa dipahami oleh orang yang telah berada di alam makrifat pula.
Makrifat tidak di dapat lewat perenungan, lewat kajian-kajian atau bacaan-bacaan. Ribuan buku tasawuf tidak akan membawa seseorang mencapai makrifat. Al-Ghazali berkata, “Alat seorang sufi mendapatkan makrifat adalah qalbu, bukan panca indera atau akal. Pengetahuan yang diperoleh qalbu lebih benar daripada pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Jalan untuk memperoleh kebenaran adalah tasawuf (makrifat bukan filsafat)”. Al-Ghazali memaknai makrifat sebagai Memandang Wajah Allah.
Setelah mencapai tahap makrifat seperti yang disebutkan oleh Rasulullah SAW, barulah seseorang bisa menerapkan segala ibadah yang dianjurkan oleh agama. Zunnun al-Mishri mengatakan bahwa makrifat mempunyai jangkauan moral yang nilai kemanusiaan seoptimalnya yang harus berhias ahklak Allah SWT. Pergaulan orang arif bila telah sampai ke tingkat ini bagaikan pergaulan dengan Allah SWT. Aisyah istri Nabi ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an.
Hanya Allah yang mengetahui siapa dari hamba-Nya yang benar-benar mengenal-Nya, sampai ke tahap makrifat. Tapi tentu saja orang yang telah mengenal Allah sebagaimana disebutkan tadi maka Akhlaknya akan mengikuti akhlak Rasulullah SAW. Menurut zunnun adalah tiga tanda orang Arif (Orang yang telah mencapai tahap Makrifat) :
Cahaya Makrifat tidak memadamkan cahaya kerendahan hatinya,
Tidak mengakui secara bathiniah, ilmu yang bertentangan dengan hukum lahiriah (Hukum Syariat).
Nikmat Allah SWT yang banyak itu tidak mengiringnya untuk melanggar larangan Allah SWT.
Orang Arif dengan pengetahuannya yang luas, hakikat yang mendalam akan tetap menjaga amalan-amalan zahir yang di syariatkan oleh agama. Orang yang mengaku bermakrifat kemudian bertingkah aneh, meninggalkan kewajiban agama, berakhlak yang tercela akan diragukan tentang makrifatnya. Kehebatan dan kekeramatan yang diberikan Allah kepadanya tidak dipakai untuk melanggar perintah Allah, melakukan perbuatan-perbuatan tercela, ini penjelasan dari ciri-ciri orang makrifat menurut Dzunnun al-Mishri.
Kesimpulan dari tulisan ini bahwa makrifatullah atau mengenal Allah adalah awal beragama, dengan mencapai makrifat maka segala ibadah akan bermakna karena kita mengenal siapa yang kita sembah. Kalau Makrifatullah adalah awal beragama, lalu apa akhir dari agama? Akhir dari beragama juga makrifatullah karena Makrifatullah adalah ruh dari agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar