Laman

Rabu, 15 Oktober 2014

JANGAN PUTUS ASA !

JANGAN PUTUS ASA !
"Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang doa doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu"
Kata-kata itu terngiang betul di benak Dulkamdi, sampai ia thenger-thenger bersandar di kursi panjang kedai itu.
"Dul, kalau kamu sakit, mbok libur saja minum kopinya"
"Malah tambah sakit Di."
"Kamu ini aneh."
"Justru saya dapat obat disi kok...."
Pardi tertawa ngakak.
"Kenapa tertawa ngakak."
"Aku pucat bukan karena sakit. Aku pucat karena aku membenci diriku saat ini..."
"Nah, itu namanya mendzalimi diri sendiri...."
"Nggak tahulah. Pokoknya setelah semalam saya ikut ngaji baru terbuka. Betapa saya sering curiga kepada Tuhan, lalu ujungnya su'udzon kepadaNya..."
"Ada apa sih ?"
"Kamu ingat nggak Ibnu Athaillah as Sakandari mengingatkan kepada kita semua agar kita tidak berputus asa dalam berdoa. Mengapa demikian? Karena nafsu manusia seringkali muncul ketika Allah menunda ijabah atau pengabulan doa-doa kita. Dalam kondisi demikian manusia seringkali berputus asa, dan merasa bahwa doanya tidak dikabulkan. Sikap putus asa itu disebabkan karena manusia merasa bahwa apa yang dijalankan melalui doanya itu, akan benar-benar memunculkan pengabulan dari Allah. Tanpa disadari bahwa ijabah itu adalah hak Allah bukan hak hamba. Dalam situasi keputusasaan itulah hamba Allah cenderung mengabaikan munajatnya sehingga ia kehilangan hudbur [hadir] bersama Allah"
"Wah, benar-benar hebat kamu Dul. saya juga dapat pelajaran berharga Dul."
Dua orang itu terdiam. Merenungkan perjalanan doanya selama ini yang naik turun, kadang pasrah, kadang putus asa, kadang penuh dengan optimisme. Bahkan kadang penuh protes kepada Allah. Lalu kedua hamba Allah itu tersenyum bersama, lalu tertawa bersama-sama... Gila!
Kang Soleh masuk kedai itu dengan mengernyitkan jidatnya, begitu heran dua sahabatnya itu terpingkal-pingkal. Gerangan apa yang membuatnya begitu ? Tidak jelas. Samar-samar terdengar diantara mereka tadi ada yang nyelethuk soal putus asa. Tapi itu juga masih diraba-raba oleh Kang Soleh.
"Kang, kenapa kita diingatkan agar tidak putus asa ketika ijabah Allah itu ditunda?"
"Ha... ha.... ha.... Benar pula kalian. Itu menunjukkan betapa sangat lemahnya kita ini, dan sangat agungnya cintanya Allah kepada kita. Sampai kita seperti dielus-elus, dibelai-belai oleh Allah. Begini suadara-saudara, orang yang sedang bermunajat itu ada tiga :
Pertama, seseorang menuju kepada Tuhannya dengan kepasrahan total, sehingga ia meraih ridhaNya. Hamba ini senantiasa bergantung denganNya baik doa itu dikabulkan seketika maupun ditunda. Ia tidak peduli apakah doa itu akan dikabulkan dalam waktu yang panjang atau lainnya.
Kedua, seseorang tegak di depan pintuNya dengan harapan penuh pada janjiNya dan memandang aturanNya. Hamba ini masih kembali pada dirinya sendiri dengan pandangan yang teledor dan syarat-syarat yang tidak terpenuhi, sehingga mengarah pada keputusasaan dalam satu waktu, namun kadang-kadang penuh harapan optimis, Walaupun hasratnya sangat ringan, toh syariatnya menjadi besar dalah hatinya.
Ketiga, seseorang yang berdiri tegak di pintu Allah namun disertai dengan sejumlah cacfat jiwa dan kealpaan, dengan hanya mengingingkan keinginannya belaka tanpa mengikuti aturan dan hikmah. Orang ini sangat dekat dengan keputusaasaan, kadang-kadang terjebak dalam keragu raguan, kadang kadang terlempar di jurang kebimbangan, semoga Allah mengampuninya.
Syaikh Abu Muhammad Abdul Aziz Al Mahdawi mengatakan : "Siapa pun yang tidak menyerakan pilihannya dengan suka rela kepada Sang Allah Taala, maka orang tersebut terkena istidraj [sanjungan yang terhinakan]. Orang tersebut termasuk golongan mereka yang disebut oleh Allah. "Penuhilah kebutuhannya, karena Aku benci mendengarkan keluhannya." Tetapi jika seseorang memasrahkan pada pilihan ALlah, bukan pilihan dirinya, maka otomatis doanya telah terkabulakn walaupun belum terwujud bentuknya. Sebab amal itu sangat tergantung pada saat akhinya."
Nah itulah Ibnu Athaillah menegaskan lagi "Allah yang menjaminijabah doa itu menurut pilihanNya kepadamu, bukan menurut piliha seleramu, kelak pada waktu yang dikehendakiNya, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki."
"Jadi pasi dikabulan dong doa kita?"
"Pasti Dul, Kita saja yang nggak sabaran. Maunya Allah kita bikin sesuai dengan selera kita. Nanti malah terbalik balik hidup kita ini.... Dalam hadists Rosulullah bersabda : "Tak seorang pun pendoa, melainkan ia berada diantara salah satu dari tiga kelompok ini : Kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda [pengabulannya] demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya" [HR. Imam Ahmad dan al Hakim].
Dalam hadist lain disebutkan : "Doa diantara kalian bakal diijabahi, sepanjang kalian tidak tergesa-gesa, [sampai akhirnya] seseorang mengatakan : "Aku telah berdoa, tapi tidak diijabah-i untukku" [HR. Bukhari-Muslim].
"Tapi apa rahasia penundaan ijabah itu Kang?" Tanya Pardi.
:"Karena kasih sayang dan pertolongan Allah pada hambaNya. Sebab Allah mahhmurah, Mahaasih dan Maha mengetahui. Dzat yang Mahamurah apabila dimohon oleh orang yang memuliakanNya, ia akan diberi ssuatu yang lebih utama menurut kemahatahuanNya. Sementara seorang hamba itu pada dasarnya bodoh terhadap mana yang baik dan yang lebih bermashlahat. Terkadang seorang hamba itu mencintai sesuatu, padahal sesuatu itu buruk baginya, dan terkadang ia membenci susuatu padahal yang dibenci itu lebih baik baginya. Inilah yang seharusnya dipahami pendoa.
Doa itu sendiri adalah ubudiah. Rahasia doa adalah menunjukkan getapa seorang hamba itu serba kekurangan. Kalau saja ijabah doa ini menurut keinginanna talk[Kewajiban-ubudiah} menjadi kelihur itu sendiri.
Pardi dn dlkamdi hanya cengar-cengir kuda, seperti kuda, sambil mengelus kedua jidat masing masing. Kadang Kang sholeh tanya bahagia melihat sahabatnya yang konyol, lucu, lugu, dan spontan tampak puas...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar