Laman

Jumat, 07 November 2014

Kumpulan Hadits Shalat Sunnah Rawatib

·  ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha meriwayatkan sebuah hadits tentang shalat sunnah rawatib sebelum (qabliyah) shubuh, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Dua raka’at sebelum shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya“. Dalam riwayat yang lain, “Dua raka’at sebelum shubuh lebih aku cintai daripada dunia seisinya.” (HR. Muslim no. 725).

·  Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu dia berkata:
“Aku menghafal sesuatu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berupa shalat sunnat sepuluh raka’at yaitu; dua raka’at sebelum shalat dzuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat maghrib di rumah beliau, dua raka’at sesudah shalat isya’ di rumah beliau, dan dua raka’at sebelum shalat subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729).
Dalam sebuah riwayat keduanya, “Dua raka’at setelah jum’at.”
Dalam riwayat Muslim, “Adapun pada shalat maghrib, isya, dan jum’at, maka Nabi saw mengerjakan shalat sunnahnya di rumah.”


·  Ummu Habibah radiyallaahu ‘anha meriwayatkan sebuah hadits tentang keutamaan shalat sunnah rawatib, dia berkata: saya mendengar Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat dua belas raka’at pada siang dan malam, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga“.
Ummu Habibah berkata: saya tidak pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib semenjak mendengar hadits tersebut.
‘Anbasah berkata: Maka saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah.
‘Amru bin Aus berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Ansabah.
An-Nu’am bin Salim berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Amru bin Aus. (HR. Muslim no. 728).

·  Hadits Ummu Habibah di atas menjelaskan bahwa jumlah shalat rawatib ada 12 raka’at dan penjelasan hadits 12 raka’at ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata: Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) raka’at pada shalat sunnah rawatib, maka Allaah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat raka’at sebelum dzuhur, dan dua raka’at sesudahnya, dan dua raka’at sesudah maghrib, dan dua raka’at sesudah ‘isya, dan dua raka’at sebelum subuh“. (HR. At-Tirmidzino. 414, An-Nasa’i no. 1794).

·  Dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhu dia berkata: "Aku shalat bersama Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dua raka’at sebelum dzuhur dan dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah Jum’at, dua raka’at sesudah Maghrib dan dua raka’at sesudah Isya." (Muttafaq ‘alaih).

·  Ummu Habibah radhiyallaahu ‘anha meriwayatkan tentang keutamaan rawatib dzuhur, dia berkata: saya mendengar Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menjaga (shalat) empat raka’at sebelum dzuhur dan empat raka’at sesudahnya, Allaah haramkan baginya api neraka“. (HR. Ahmad 6/325, Abu Dawud no. 1269, At-Tirmidzi no. 428, An-Nasa’i no. 1814, Ibnu Majah no. 1160).

·  Dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Semoga Allaah memberi rahmat bagi orang yang shalat empat raka’at sebelum Ashar." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan, hadits ini hasan).

·  Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian mengerjakan shalat Jum’at, maka shalatlah sesudahnya empat rakaat“. (HR. Muslim no. 881).


Mengenai dua rakaat sebelum maghrib dan sebelum isya, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:
·  Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Di antara setiap dua adzan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda,“ Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384).

·  Dari Ibnu ‘Abbas ra dia berkata:
“Orang-orang yang diridhai mempersaksikan kepadaku dan di antara mereka yang paling aku ridhai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat setelah Shubuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam.”  (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1367).



Surat yang Dibaca pada Shalat Rawatib:

Qabliyah Subuh
·  Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, “Bahwasanya Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada shalat sunnah sebelum subuh membaca surat Al Kaafirun dan surat Al Ikhlas.” (HR. Muslim no. 726).

·  Dan dari Sa’id bin Yasar, bahwasannya Ibnu Abbas ra mengkhabarkan kepadanya: “Sesungguhnya Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada shalat sunnah sebelum subuh diraka’at pertamanya membaca: QS. Al-Baqarah:136, dan diraka’at keduanya membaca: QS. Aali Imraan:52. (HR. Muslim no. 727).

Ba’diyah Maghrib
·  Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu, dia berkata: Saya sering mendengar Rasulullaah shallalllaahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau membaca surat pada shalat sunnah sesudah maghrib:” surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas. (HR. At-Tirmidzi no. 431, Ibnu Majah no. 1166).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar