Laman

Jumat, 07 November 2014

Sikapi ujian-Nya dengan benar.

Sikapi ujian-Nya dengan benar.
"Bisa jadi engkau memperoleh
tambahan kurnia dalam kesukaran,
apa yang dalam puasa dan solat
tidak engkau dapatkan.
Bisa jadi Allah memberimu maka menolakmu,
dan bisa jadi Dia menolakmu maka memberimu.
Penolakan dari Allah
terasa pedih bagimu
hanya kerana engkau tak mengerti
rahmat Allah di balik penolakan itu.
Ketika Allah membukakan pintu pengertian
bagimu tentang penolakan-Nya,
maka penolakan itu pun berubah
menjadi pemberian."
Jangan bergantung pada amalan,
yang menyampingkan ketentuan-Nya.
"Salah satu tanda bergantung pada amal
iaitu berkurangnya harapan ketika mengalami kegagalan."
Jangan berpatah harapan dari kembali pada-Nya,
hanya kerana kepahitan ujian dan dosa.
Kasih sayang-Nya mengatasi Kemurkaan-Nya, demikian
diungkap dalam suatu Hadis Qudsi.
"Apabila engkau berbuat dosa,
maka itu jangan menjadi alasan keputusasaanmu
dalam menggapai istiqamah dengan Tuhan,
kerana bisa jadi
itu adalah dosa terakhir yang ditakdirkan bagimu.
Tertundanya pemberian
setelah engkau mengulang-ulang permintaan,
janganlah membuatmu patah harapan.
Allah menjamin pengabulan doa
sesuai dengan apa yang Dia pilih buatmu,
bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri;
dan pada waktu yang Dia kehendaki,
bukan pada waktu yang engkau ingini."
Sandarkan pada Allah yang
Maha Mengatur dan Menentukan.
Keyakinan hanya hadir apabila
kita akui kelemahan dan kehambaan kita
di hadapan-Nya.
"Apa pun bersandar pada kehendak Allah,
sementara kehendak Allah tidak bersandar pada apa pun.
Tiada suatu nafas berhembus darimu
melainkan di situ takdir Tuhan berlaku padamu.
Pinta tiada tertahan
selama engkau memohon kepada Tuhan.
Namun, pinta tiada mudah
bila pada dirimu sendiri engkau berserah.
Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan
adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan."
Leburkan nafsu, tajamkan penglihatan mata hati.
Kenali (kehambaan) diri, kenali (keagungan) Dia.
Fahami letak duduk di alam ini,
tempat diri dalam perencanaan-Nya.
Letakkan sesuatu pada tempatnya, yakni bersikap adil.
"Pangkal segala maksiat, kelalaian,
dan syahwat adalah pengumbaran nafsu.
Dan pangkal segala ketaatan, kewaspadaan,
dan kebajikan adalah pengekangan nafsu.
Bersahabat dengan orang bodoh yang
tidak memperturutkan hawa nafsunya
lebih baik bagimu daripada
bersahabat dengan orang pintar
yang memperturutkan hawa nafsunya.
Kepintaran apa lagi yang disandangkan
pada orang pintar yang selalu
memperturutkan hawa nafsunya?
Dan kebodohan apalagi
yang dapat disandangkan
pada orang bodoh
yang tidak memperturutkan hawa nafsunya?
Amal yang berasal dari hati penuh keikhlasan
tidak dapat dianggap sedikit,
dan amal yang berasal dari hati penuh ketamakan
tidak dapat dianggap banyak.
Jika engkau tahu bahawa syaitan
tidak pernah lupa kepadamu,
maka janganlah lupa
kepada Allah yang menguasaimu.
Usahamu mengetahui
beberapa kekurangan yang tersembunyi dalam dirimu
lebih baik daripada usahamu menyingkap
perkara ghaib yang tersembunyi darimu."
Bantuan secara lahiriah hadir dengan persiapan lahiriah,
sedang pencerahan nurani hadir sesuai dengan
pemurnian wadah Cahaya Ilahi, yakni hati.
"Datangnya pertolongan Allah
adalah sesuai dengan persiapan,
sedangkan turunnya cahaya Allah
adalah sesuai dengan kejernihan relung batin."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar