Laman

Senin, 21 September 2015

Islam Berlapis

Kalau hanya mengandalkan asfek zahir Agama, maka kita hanya bisa mengajarkan agama kepada akal fikiran manusia dan manusia yang melaksanakan asfek zahir (syariat) agama maka manusia tersebut menjadi Islam secara zahir, baik akhlaknya dan sesuai perbuatannya dengan perbuatan Nabi. Namun untuk meng-Islam-kan rohani manusia, tentu tidak cukup dengan pengajaran zahir, diperlukan metode yang berbeda, zahir mengajarkan zahir sedangkan rohani harus diajarkan oleh rohani pula.

Muhammad bin Abdullah sebagai Nabi secara zahir mengajarkan agama lewat lisan beliau, sedangkan rohani ummat Zaman itu diajarkan oleh rohani Rasulullah atau dikenal dengan Arwahul Muqadasah Rasulullah atau dikenal dengan Nur Muhammad yang terbit dari Nur Allah Para Ta’ala. Maka seperti yang dijelaskan dalam surat An-Nur, cahaya di atas cahaya  diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Para Nabi dan Wali berada dalam cahaya-Nya dan mereka yang mulia rohaninya tidak lain adalah cahaya di atas cahaya yang bisa menerangi hati segenap manusia.
Matahari tidak akan mampu kita lihat tanpa cahaya matahari dan sudah pasti cahaya matahari itu terbit dari mata hari itu sendiri. Dengan cahaya matahari yang sudah ada jutaan tahun, merambat dalam jarak yang jauh kemudian bisa dilihat dengan mata manusia yang berada dibumi. Maka Allah Ta’ala tidak akan bisa dilihat oleh siapapun, tidak bisa dipandang oleh siapapun di muka bumi ini bahkan di akhirat kelak tanpa ada cahaya-Nya. Dengan tujuan itu Allah menurunkan cahaya-Nya, para Nabi dan Rasul, Para Auliya-Nya, agar manusia bisa terbimbing menyaksikan keagungan wajah-Nya.
Untuk melihat matahari yang zahir saja harus memenuhi syarat yang diperlukan, salah satu syarat utama disamping cahaya adalah ada indera penglihatan sehingga dengan indera penglihatan yaitu mata, manusia bisa memandang matahari. Apa yang terjadi bagi orang buta, sejak lahir tidak diberi karunia penglihatan oleh Allah? Maka dia cukup meyakini bahwa matahari memang ada lewat cerita dan lewat rasa, hangatnya sinar matahari yang menyentuh kulitnya. Orang buta menyakini bahwa matahari tidak bisa terlihat. Andai sebuah bangsa seluruhnya terlahir buta, maka seluruh bangsa itu mempunyai keyakinan bahwa matahari itu ada tapi tidak bisa dilihat dan ketika ada orang normal matanya, bisa melihat matahari menceritakan kepada mereka tentang matahari bisa dilihat, sudah pasti orang normal tadi tuduh sesat menyesatkan dan mengada-ada. Mereka menuduh orang normal tadi sudah menyimpang dari ajaran suci mereka tentang matahari yang tidak bisa terlihat.
Begitu juga dengan manusia, belajar agama dari orang yang masih buta mata hatinya sehinga belum tersikap hijab yang membatasi dan menghalangi antara dia dengan Allah maka pelajaran yang diterima adalah pelajaran tentang buta pula. Pelajaran itu diajarkan kembali kepada orang lain dan semakin banyak pula orang buta di dunia ini dengan keyakinan bahwa Allah Ta’ala tidak bisa dilihat. Dalil apapun akan ditolak karena sudah terlanjur jatuh cinta dengan pemahaman dari orang-orang buta.
Maka benar seperti yang disebutkan oleh Nabi bahwa semakin banyak ilmu yang dipelajari manusia tanpa makrifat kepada Allah maka tidak ada yang bertambah dari ilmunya terebut kecuali bertambah jauh dari Allah. Kenap bertambah jauh, karena dia lalai dan sibuk dengan dalil sehingga lupa mencari hakikat Allah, lupa akan tujuan sejati agama yaitu beserta dengan Allah dari dunia sampai akhirat kelak.
Tidak perlu harus menghapal seluruh isi al-Qur’an, tidak perlua mengkoleksi ribuan hadist, cukup dengan satu ayat apabila disertai oleh Allah maka itu akan menyelamatkan diri kita jasmani dan rohani dari dunia sampai ke akhirat. Perkerjaan yang paling sulit adalah menyebut nama Allah disertai oleh Allah. Karena perkerjaan yang paling sulit, maka ilmu menyebut nama Allah ini bukan pekerjaan semalam, bukan hapalan dalam semenit, tapi memerlukan waktu bertahun-tahun, Nabi mengajarkan ini kepada ummat zaman itu memerlukan waktu 13 tahun sampai para sahabat Beliau menjadi matang, tertanam dalam Qalbu mereka cahaya Allah yang dengan cahaya Allah itu pula mereka bisa menerangi dirinya, keluarga, lingkungan dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Kita pun sebagai ummat Beliau, harus mengikuti apa yang Beliau ajarkan, secara zahir dan bathin sehingga hasil yang diperoleh akan sama dengan apa yang diperoleh oleh ummat zaman itu. Kenapa asfek bathin atau rohaniah dari agama ini jarang di kupas? Karena memang Guru nya langka, tidak semua Ulama mempunyai kepasitas bisa mengajarkan manusia sampai kepada rohaninya kecuali ulama tersebut mempunyai kedudukan sebagai Wali Allah atau mendapat ijazah langsung dari Rasulullah lewat Guru-guru sebelumnya sambung menyambung sebagai ulama pewaris Nabi yang mewariskan ajaran Nabi secara zahir dan bathin.
Karena langka maka kita harus bersungguh-sungguh mencari seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Maidah-35 dan surat An-Nur 35. Imam al-Ghazali sang Hujjatul Islam dengan kerendahan hati mengakui akan sulitnya mencari Pembimbing Sejati, seperti dalam ungkapan Beliau, “Mencari Guru Mursyid itu akan lebih mudah mencari sebatang jarum yang disembunyikan dalam pandang pasir yang gelap gulita.
Bersyukur kehadirat Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim bagi orang yang telah menemukan pembimbing zahir dan bathin, sebagai rasa syukur maka kita harus mengamalkan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Orang yang telah menemukan Guru Sejati hendaknya bersungguh-sungguh dalam mujahadah sehingga akan memperoleh hasil yang amat langkah yaitu disertai Allah dari dunia sampai akhirat.
Tulisan Islam berlapis ini mudah-mudahan menyadarkan kita semua, bahwa merupakan kewajiban bagi seluruh manusia untuk mempelajari agama secara zahir dan bathin sehingga kita tidak seperti bangkai yang berjalan, hidup tapi mati. Begitulah Rasulullah SAW bersabda, bahwa orang yang mengingat Allah (dengan metode) dengan orang yang tidak mengingat Allah ibarat orang hidup dengan orang mati. Jasad kita hidup dan bergerak seperti layaknya makhluk hidup, sedangkan mata hati kita mati sehingga tidak bisa menyaksikan kebesaran-Nya dan kita dimasukkan oleh Allah kedalam orang-orang yang mati. Na’uzubillah!
Semoga Tulisan ini bermanfaat hendaknya, Amin ya Rabbal ‘Alamin!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar