Laman

Selasa, 01 September 2015

MABUK CINTA


Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali rahimahullah bahwa pada suatu hari Nabi Isa alaihis salam berjalan di adapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Dan pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa alaihis salam berada di hadapannya maka dia pun berkata, “Wahai Nabi Isa, mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Zarrah [semut paling kecil] cintaku kepada-Nya.” Berkata Nabi Isa alaihis salam, “ Wahai saudaraku, kamu tidak akan kuat untuk seberat semut Zarrah itu.”
Berkata pemuda itu lagi, “Wahai Nabi Isa, kalau aku tidak kuat untuk satu semut Zarrah, maka mintakan untukku setengah berat semut Zarrah.” Karena keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa alaihis salam pun berdoa, “Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat semut Zarrah cintanya Kepada-Mu.” Setelah Nabi Isa alaihis salam berdoa maka beliau pun berlalu dari situ. Selang beberapa lama Nabi Isa alaihis salam datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa alaihis salam tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa alaihis salam pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahwa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.
Setelah Nabi Isa alaihis salam mendengar penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah SWT, “Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku dimana pemuda itu.” Selesai saja Nabi Isa alaihis salam berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-gunung dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.
Nabi Isa alaihis salam pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa alaihis salam, lalu Nabi Isa berkata, “Aku ini Isa.”Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu yang berbunyi, “Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Zarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar