Laman

Selasa, 01 September 2015

Terserah Pada-Mu ya Allah…


Suatu hari Guru berkata, “Sebagian besar manusia berdoa agar diberi kekayaan duniawi, sebagian kecil orang-orang yang fokus kepada ibadah berdoa agar diberikan kekayaan akhirat, sedangkan aku tidak berdoa apa-apa tentang itu, aku terserah apa kehendak Allah”.
Di lain kesempatan Beliau berkata, “Orang awam mohon kepada Allah agar dijauhkan dari Bala, sedangkan bagi sebagian Wali/Nabi justru meminta bala atau cobaan dari Allah karena bagi mereka cobaan adalah bentuk dari perhatian dan kasih sayang Allah, sedangkan aku.. terserah kehendak Allah semata, diberi nikmat aku syukuri, diberi cobaan aku syukuri, bagi ku keduanya sama-sama berasal dari Allah Yang Maha Baik”.
Guru sedang berbicara tentang hakikat pasrah, hakikat dari La Haula Wala Quwwata Illa Billah, tiada daya upaya melainkan kekuatan Allah semata. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita, manusia hasil ciptaan-Nya dibandingkan siapapun, bahkan dibandingkan manusia paling cerdas siapapun. Manusia hanya diberi kemampuan oleh Allah untuk menggali hal-hal bersifat lahiriah, maka lahirlah berbagai cabang ilmu dengan tujuan agar manusia menjadi lebih baik, dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Pasrah dengan putus asa adalah dua hal yang berbeda, pasrah lahir dari keyakinan penuh kepada Allah karena dia sangat mengenal Allah, sangat yakin akan kebaikan Allah kepadanya maka dia serahkan semua kepada Allah sedangkan putus asa lahir dari bisikan setan dalam dada manusia, wujud protes dari keadaan yang tidak dikehendakinya. Seorang pecinta atau hamba yang baik akan selalu memanjatkan syukur terhadap apa yang diberikan bahkan terhadap apa yang tidak dimilikinya. Dalam hal ini Guru Sufi Junaidi al-Bahgdadi berkata, “Orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada, dan orang yang sangat bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang tidak ada”. Beliau juga berkata, “Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang layak menerima nikmat”.
Hal ini yang selalu diingatkan oleh Guru kepada saya, bahwa karunia apapun diberikan Allah bukan karena derajat kita tapi karena kasih sayang Allah semata. Ketika Guru menaikkan derajat murid, menjadi petugas atau khalifahnya maka berulang kali Guru mengingatkan, sebenarnya kalian belum layak duduk di posisi itu, ibarat pepatah tak ada rotan akar pun jadi, tak ada akar tali pisang pun jadi, “Hai tali pisang, sadarlah selalu!”.
Kembali kepada meminta, ketika anda bermohon kepada Allah meminta sesuatu, kemudian berulang kali meminta, menunggu dengan sabar maka akhirnya lahirlah sikap putus asa, anda kemudian menyebutnya “aku pasrah saja”, padahal itu adalah wujud dari putus asa. Bagaimana anda bisa menyebut itu sebagai kepasrahan kalau anda sebelumnya meminta kepada Sang Maha Raja. Hamba yang baik tidak pernah meminta apapun, lapar dan kenyang diserahkan kepada Tuannya, senang dan susah sesuai kehendak Tuannya, kalau kesusahan membuat Sang Maha Raja Senang, maka dia pun senang dengan kondisinya. Pasrah ibarat bayi dalam gendongan Ibunya, tidak berkehendak sama sekali.
Pasrah lahir dari rasa cinta yang mendalam dan bergelora kepada kekasih, tidak pernah meminta apa-apa dari Sang Kekasih karena perjumpaan adalah pencerahan, perpisahan merupakan rindu tanpa atas. Bertemu dan berpisah tidak mempengaruhi kondisi rohaninya, keduanya mempunyai nilai sama. Ketika terpisah secara ragawi maka rohani terbang menuju kekasih, ketika berjumpa secara ragawi maka rohani tetap berjumpa, jauh dan dekat tidak mempengaruhi bagi para pecinta.
Para pecinta yang sedang mabuk tidak akan pernah bertanya tentang benar salah, susah senang, jauh dekat bahkan kematian pun tidak menjadi bahan perhatiannya, tidak mengalihkan pandangannya dari Sang Kekasih.
Cinta kepada Sang Kekasih ini telah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam bentuk doa Nabi Daud as. Beliau bersabda: “Di antara doa Nabi Daud ’alihis-salaam ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengingat Nabi Daud ’alihis-salaam beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi )
Pasrah yang merupakan buah dari cinta dan rindu kepada Allah melahirkan sikap kehati-hatian dalam bertindak, dunia sufi menyebutnya sebagai Wara’ melakukan apapun hanya atas izin Allah semata. Selalu ada rasa takut kehilangan dalam dirinya, takut kalau ucapan dan tindakannya tidak di ridhai oleh Allah, Sang Kakasih.
Suatu hari Guru berkata, “Sebagian besar manusia berdoa agar diberi kekayaan duniawi, sebagian kecil orang-orang yang fokus kepada ibadah berdoa agar diberikan kekayaan akhirat, sedangkan aku tidak berdoa apa-apa tentang itu, aku terserah apa kehendak Allah”.i mohon ampun dan mengharap bimbingan, setan menyusup kedalam hati, maka walaupun firman Allah dibacakan dengan merdu, pada hakikatnya tidak ada Allah disana, yang ada hanya setan yang menyusup dalam hati orang-orang yang mendengar, ini yang di khawatirkan oleh para Wali Allah. Seperti halnya sikap hati-hati dari Rabi’ah al-Adawiyah dalam doanya, “Aku mohon ampun kepada Allah oleh perkataanku yang kurang benar, aku mohon ampun, ya Allah”. Rasulullah SAW yang merupakan teladan kita selalu mohon ampun kepada Allah setiap saat, ”Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar