Laman

Jumat, 13 Mei 2016

Rasulullah, Malaikat dan Peristiwa Thaif


Pada tahun ke sepuluh kerasulan di bulan Syawal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk mencari wilayah baru sebagai tempat dakwah kepada Allah dan Islam. Rasulullah bersama pelayannya yang bernama Zaid bin Haritsah, lantas pergi menuju Thaif yang berjarak sekita 60 mil dari Makkah. Beliau berangkat dan kembali dengan berjalan kaki. Setiap kali beliau bertemu dengan kabilah di sepanjang perjalanan, beliau selalu mengajak mereka untuk memeluk Islam. Namun tidak satu pun kabilah yang menuruti ajakan Rasulullah.
Rasulullah tinggal di Thaif selama 10 hari menyampaikan dakwah kepada penduduk Thaif. Di kota Thaif ini Rasulullah menemui tokoh-tokoh dari suku Tsaqif yang berpengaruh di kota tersebut. Namun tidak seorang pun yang mengikuti ajakan Rasulullah, para pemimpin dari suku itu menolak seruan Rasulullah dengan cara yang kasar, mereka berkata kepada Rasulullah, "Keluar dari kampung kami!" Penduduk Thaif, termasuk anak-anak dan para budak, mengusr Rasulullah dengan kasar. Ketika Rasulullah berjalan keluar, beliau diikuti oleh penduduk Thaif sambil diledek dan diteriaki. Mereka juga melampari batu kepada Rasulullah hingga sandal beliau berlumuran darah. Mereka terus melempari Rasulullah dengan batu sammpai beliau berlindung di sebuah kebun milik Atabah dan Syaibah, dua putra Rabiah, yang berjarak 3 mil dari Thaif. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersembunyi di kebun itu, mereka baru berhenti dan kembali ke kampung mereka. Rasulullah bersama Zaid bin Haritsah, istirahat dan berusaha menggobati luka yang beliau alami.
Dalam kondisi sulit dan sedih, baik secara jasmani maupun rohani, Rasulullah menghadap Tuhannya dengan menyampaikan doa yang menambahkan keimanan, keyakinan dan keridhaan atas apa yang beliau alami karena berjuang di jalan Allah. Doa kenabian itu adalah;
"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadu akan kelemahan dan ketidak berdayaanku dalam berhadapan dengan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa Engkau serahkan aku? Apakah ke jarak yang jauh Engkau arahkan aku? Apakah kepada musuh Engkau serahkan urusanku? Jika Engkau tidak murka, maka aku tidak perduli. Akan tetapi pengampunan-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan, urusan dunia dan akhirat menjadi baik berkat cahaya-Mu, dari murka-Mu dan kemarahan-Mu. Engkau berhak untuk mencela sampai Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah."
Dari langit ketujuh, pertolongan Allah datang kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengutus Jibril yang datang bersama malaikat gunung-gunung. Ia (Jibril) berkata, "Wahai Rasulullah, maukah engkau jika aku jatuhkan dua gunung kepada mereka? (Jika engkau mau, maka akan aku lakukan)."
Namun jawaban Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menunjukkan sikap yang luar biasa. Sikap yang menunjukkan akhlak yang luhur, kasih sayang dan kelembutan. Bahkan beliau tetap mengharapkan keislaman mereka, entah dalam waktu dekat atau dalam waktu yang lama. Beliau berkata, "Aku justru berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang rusuk mereka generasi yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun."
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kembali ke Makkah setelah menginap di kebun Al-Muth'im bin Adi. Beliau kembali setelah menyempurnakan perjalanan menuju Allah dan agama-Nya. Beliau sangat yakin untuk terus melanjutkan perjalanan menuju Allah tanpa perduli dengan apa yang beliau alami di jalan Allah. Beliau tidak pernah goyah oleh apapun dalam mewujudkan cita-citanya.
Kedatangan malaikat pada peristiwa ini diabadikan dalam hadits berikut ini:
Hadits riwayat Aisyah, Istri Nabi, ia berkata: Bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah; "Wahai Rasulullah, apakah engkau pernah mengalami suatu hari yang lebih pedih dari hari Perang Uhud?" Rasulullah menjawab; "Aku sering mendapatkan (sesuatu yang menyakitkan) dari kaummu. Dan yang paling menyakitkan adalah peristiwa hari Aqabah, ketika aku sedang mengajak Ibnu Abdi Yalil bin Abdu Kulal masuk Islam namun ia tidak menyambut ajakan yang aku inginkan. Aku pun segera beranjak pergi dengan hati sedih dan tidak sadar diri kecuali setelah tiba di daerah Qarnu Tsa'alib. Aku lalu menengadahkan kepalaku ke arah langit, tiba-tiba tampaklah segumpal awan menaungiku. Aku pun menatapnya, ternyata Jibril berada di sana dan berseru kepadaku kemudian berkata; "Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan jawaban mereka terhadapmu. Dan Allah telah mengutus malaikat gunung kepadamu agar kamu dapat memerintahkan kepadanya apa yang kamu inginkan atas mereka. Lalu malaikat gunung berseru kepadaku serta mengucapkan salam dan berkata; "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan aku adalah malaikat gunung yang telah diutus Tuhanmu kepadamu agar kamu dapat memerintahkan kepadaku sesuai dengan perintahmu dan dengan apa yang kamu inginkan. Jika kamu menginginkan, aku dapat menimpakan mereka dengan dua gunung itu." Rasulullah lalu menjawab; "Tidak, bahkan aku berharap semoga Allah melahirkan dari keturunan mereka, orang-orang yang akan menyembah Allah semata serta tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun." (H.R Muslim)
Betapa agung dan mulianya Rasulullah. Para nabi dan utusan Allah yang lain berdoa agar Allah menghukum mereka yang sesat dan dzalim, tetapi Rasulullah tidak pernah melakukan itu. Meskipun kedzaliman mereka bahkan telah melukai dirinya secara langsung. Fasilitas berupa pertolongan malaikat Allah yang dengan sekejap mata mampu menghancurkan masyarakat kota Thaif itu beliau tolak. Beliau bahkan mendoakan masyarakat yang ingkar itu agar diberi oleh Allah keturunan yang baik dan beriman kepada Allah.
Dan malaikat yang tahu penderitaan yang dialami Rasulullah, namun tanpa perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala, para malaikat tersebut tidak bisa melakukan apa pun terhadap orang-orang yang menyakiti Rasulullah. Ketika mereka menghampiri Rasulullah, mereka hanya menawarkan jasa, apa yang harus mereka lakukan terhadap orang-orang yang ingkar itu.
Jika Rasulullah menghendaki menghukum kaum tersebut, maka Allah akan mengabulkan keinginan Rasulullah dan datanglah kepada para malaikat tersebut mandat untuk bertindak. Inilah karakter malaikat yang hanya tunduk dan patuh kepada Allah, meski mereka tidak rela Muhammad makhluk yang paling dikasihi Allah dianiaya orang-orang ingkar.
Begitulah peristiwa yang dialami oleh Rasulullah dan para malaikat di kota Thaif. Peristiwa ini sekaligus mementahkan pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa malaikat memiliki nafsu. Karena ada sebagian dari kita yang mengambil kesimpulan yang nyeleneh dari peristiwa Thaif ini bahwa malaikat memiliki nafsu dan berbuat sekendak hati mereka (malaikat) dalam bertindak, padahal malaikat tidak akan melakukan suatu perbuatan tanpa seizin Allah Subhanahu Wa Ta'ala.(pen)
Sumber :
1. Buku Ensiklopedi Sejarah Islam I. pengarang: Tim Riset & Studi Islam Mesir dan Dr. Raghib As-Sirjani. penerbit: Pustaka Al-Kautsar. hal: 17-18
2. Buku Jejak Malaikat di Bumi. pengarang: M. Hilal Tri Anwari. penerbit: Pustaka Al-Kautsar. hal: 262-263

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar