Laman

Jumat, 25 April 2014

TENTANG KESADARAN (Terbang ke Langit)

TENTANG KESADARAN (Terbang ke Langit)

QS Ar Rahman 33
"Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan."

Orang-orang pada jaman dahulu mengira letak langit ada di atas bumi yang berwarna biru di angkasa raya. Berkat kemajuan teknologi, orang-orang pada jaman sekarang sudah mengerti bahwa warna biru di langit atas bumi adalah fatamorgana dan ilusi belaka. Lalu orang-orang di jaman modern sekarang ini terus mencoba menggali dan mencari tahu tentang langit. Kita tinggal di planet bumi satu diantara milyaran planet-planet di seluruh alam semesta. Bumi mengelilingi matahari. Matahari dikelilingi beberapa planet. Matahari sama dengan bintang. Jumlah bintang sangat banyak dan tak terhingga. Planet bumi ini seperti setitik debu di tengah padang pasir bila dibandingkan dengan keadaan seluruh alam semesta. Padahal jarak antara bintang satu dengan bintang lainnya itu milyaran kilometer dan hitungan kecepatan sampainya memakai sekian tahun dengan kecepatan cahaya. Dengan hakekat pengetahuan yang ada sekarang ini manusia menjadi kebingungan dalam menentukan letak langit, karena batasan terakhir alam semesta ini sungguh tak terhingga.

Inilah salah satu kelemahan orang-orang di jaman modern. Mereka memandang segala sesuatunya secara lahiriyah saja. Mereka lupa bahwa segala sesuatu benda riil dan materiil tidak bisa berbuat apa-apa, hilang, bahkan musnah bila tidak ditopang oleh kekuatan gaib. Seperti contohnya tubuh manusia dan hewan akan menjadi seonggok tulang dan daging yang tidak bisa berbuat apa-apa, yang pada akhirnya akan menjadi unsur tanah bila sudah ditinggalkan oleh kekuatan gaib (roh).

Secara umum pengetahuan tentang langit berasal dari sumber-sumber kitab suci dalam agama. Oleh karena itu, untuk mengetahui tentang langit maka harus memakai kaca mata ilmu agama (spiritual), bukan memakai kaca mata ilmu pengetahuan, karena dasar dari ilmu pengetahuan adalah pikiran. Kemampuan pikiran itu terbatas. Apa mungkin pikiran bisa membayangkan dan merealisasikan batasan terakhir dari seluruh alam semesta. Memang pikiran manusia masih terus berevolusi, tapi yang jelas untuk saat ini pikiran manusia belum mampu membayangkan tentang langit.

Untuk mengetahui tentang langit memakai ilmu agama. Agama adalah spiritual. Dalam agama islam lewat pengetahuan spiritual hakekat makrifat diajarkan tata cara menembus ke Langit. Sebenarnya pengertian tentang langit dalam agama berbeda dengan ilmu pengetahuan. Yang dimaksud langit dalam ilmu agama adalah pembatas antara dimensi satu dengan dimensi lainnya. Tiap dimensi mempunyai beberapa alam. Jumlah alam sangat banyak yang terbagi menjadi 7 dimensi. Jumlah langit ada 7 tingkatan. Langit pertama sampai langit ke 7 itu bersinggungan tapi tidak bersentuhan. Jadi langit pertama sampai langit ke 7 itu juga ada di bumi. Cuma kita tidak bisa merasakannya karena letak gaib.

Saya gambarkan begini. Kita tentu pernah menonton film tentang kematian. Dalam film, orang yang mati akan menjadi mahluk astral. Mahluk astral dapat melihat manusia tapi manusia tidak dapat melihat mahluk astral. Dalam film, mahluk astral berusaha menyentuh manusia. Tapi mahluk astral tidak dapat merasakan sentuhan manusia. Begitupun manusia tidak dapat merasakan sentuhan mahluk astral. Inilah yang saya maksud dengan istilah bersinggungan tapi tidak bersentuhan.

Untuk memahami tiap langit maka harus memahami tiap kesadaran. Langit bertingkat 7, kesadaran pun juga mempunyai 7 tingkatan. Hakekat kesadaran ada 7 tingkatan yang termaktub dalam ilmu martabat 7. Sayangnya dikalangan para ulama sendiri mempunyai persepsi yang berbeda-beda tentang ilmu martabat 7. Intinya dari guru mursyid yang saya pelajari bahwa tiap kesadaran mempunyai langit dan alamnya sendiri-sendiri.

Yang terpenting dalam hidup adalah memahami tentang kesadaran. Dasar dari kesadaran adalah rasa. Dari merasakan inilah kemudian disebut hidup bukan mati. Dasar perbedaan hidup dengan mati ada pada kesadaran rasa. Untuk membedakan tingkat kesadaran akan saya gambarkan peristiwa-peristiwa yang saya pahami.

Saat ini kita sebagai manusia hidup dengan kesadaran pikiran berada di alam materi di langit yang pertama atau langit terendah. Begitu pun dengan bangsa jin yang berada di alam non materi di langit yang pertama atau langit terendah. Sama langitnya dengan manusia tapi berbeda alam. Berbeda dengan malaikat yang berada di langit yang lebih tinggi daripada langit manusia dan jin.

Dasar dari perbuatan manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan fisik seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan sex. Dasar inilah yang melahirkan pemikiran dan perbuatan-perbuatan yang kompleks. Jadi perbuatan manusia itu untuk memenuhi kesadaran fisik bukan untuk memenuhi kesadaran yang lebih tinggi seperti kesadaran arwah dan kesadaran roh.

Contoh keadaan yang bisa membedakan tingkat kesadaran adalah pada waktu tidur kemudian bermimpi. Saya pernah bermimpi dari kota semarang hendak pergi ke kota jambi. Dalam kesadaran mimpi saya merasa naik bis. Hanya dalam beberapa saat saja, saya merasa sudah di kota jambi. Setelah melakukan kegiatan di jambi, saya ingin pergi ke kota temanggung untuk bertemu dengan teman lama. Dalam waktu sekejap saja saya merasa sudah di temanggung dan bertemu dengan teman lama saya.

Dalam kesadaran pikiran realistis tentu akan menganggap itu adalah ilusi belaka. Tapi dalam kesadaran pikiran mimpi tentu akan menganggap itu adalah nyata dan realistis. Mengapa hal itu bisa terjadi? Ya karena kesadaran pikiran realistis hilang kemudian kesadaran pikiran berubah menjadi kesadaran pikiran mimpi atau sering disebut pikiran bawah sadar timbul menggantikan pikiran sadar yang hilang karena perlu istirahat. Lalu ada pertanyaan, apakah orang yang bermimpi itu dapat dikatakan telah menembus ke langit? Tentu akan saya jawab bisa iya bisa juga tidak, karena tingkat bermimpi itu bisa berbeda-beda. Seperti orang yang pingsan dan orang yang mati suri itu masih tergolong tidur dan bermimpi karena roh belum benar-benar meninggalkan raga.

Contoh yang lain. Saya pernah kenal dengan orang yang sudah berusia lanjut bernama mbah A. Kini beliau sudah meninggal karena penyakit stroke (semoga arwah beliau diterima di sisiNya). Sejak terkena penyakit stroke mbah A tidak bisa berpikiran (berkesadaran) normal lagi. Kembali lagi seperti anak kecil. Pada waktu malam hari sering terdengar rintihan beliau menahan rasa sakit, bahkan karena berat rasa sakitnya sampai-sampai beliau menangis dan menjerit-jerit seperti anak kecil. Berdasarkan informasi orang-orang yang ada di sekitarnya, saya ketahui bahwa beliau dahulu pada waktu mudanya sering melakukan perbuatan maksiat. Suatu ketika saya pernah bertemu dan ngobrol dengan beliau. Saya bertanya kepada beliau, kenapa sering menangis dan menjerit kesakitan di malam hari. Beliau mengaku sering didatangi orang yang tidak dikenalnya. Kemudian mereka memukuli dan menyiksa beliau. Beliau menceritakan hal itu sambil menangis dan ingin segera mengakhiri penderitaan itu. Bila saya cek tubuh fisiknya tidak terjadi masalah apa-apa. Bahkan beliau sering dikontrol ke dokter dan paranormal oleh keluarganya. Tapi hasil pengecekan tetap sama yaitu tidak terjadi apa-apa pada tubuh fisik beliau dan menganggap itu adalah ilusi beliau saja. Tentu saja beliau tidak bisa banyak protes dengan hasil pengecekan tersebut karena kesadaran beliau sudah seperti anak kecil yang tidak bisa nyambung dengan pemikiran orang normal.

Pada awalnya saya ingin mengajarkan kepada beliau tentang tata cara sholat, surat-surat pendek dalam al quran, dan doa-doa pendek. Tapi bagaimana bisa saya mengajarkannya, menyebut nama Tuhan Allah saja beliau terasa asing, lucu, dan wagu dikarenakan kesadaran pikiran warasnya sudah banyak yang error.

Dari peristiwa itu kemudian saya menyimpulkan bahwa mbah A mendapat siksaan pada kesadaran yang lain yang bukan pada kesadaran fisik. Kita semua tahu bahwa orang yang terkena penyakit stroke pada saraf otaknya sudah banyak yang rusak, sehingga kesadaran pikirannya pun juga rusak. Orang yang kesadaran pikirannya rusak akan cenderung masuk ke dalam kesadaran pikiran yang lain (mimpi). Kesadaran pikiran yang lain (mimpi) ini akan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa siksaan-siksaan itu adalah nyata dan realistis walaupun kesadaran pikiran realistis akan mengatakan bahwa itu adalah ilusi belaka. Tapi sayangnya kesadaran pikiran realistis mbah A sudah tidak normal sehingga akan menganggap ilusi-ilusi itu menjadi nyata. Jadi inilah gambaran dari siksa neraka yang ada di alam gaib.

Banyak manusia tidak menyadari tentang kesadaran bertingkat. Mereka mengira kesadaran hidup yang sesungguhnya adalah kesadaran hidup yang kita punya saat ini. Bahkan banyak master dan ahli spiritual mengartikan kesadaran adalah kesadaran hidup ini saja. Padahal nabi muhammad saw telah memperingatkan kepada seluruh manusia bahwa kehidupan dunia ini adalah permainan dan sendau gurau belaka. Artinya manusia mempunyai kesadaran bertingkat dan kesadaran hidup saat ini merupakan kesadaran terendah atau kesadaran semu belaka. Disebut kesadaran semu karena kesadaran hidup saat ini bukanlah kesadaran yang sesungguhnya atau bukan kesadaran abadi. Jati diri yang sesungguhnya itu terletak di hati yang paling dalam dan sangat sulit untuk mencapainya. Hati merupakan pintu gerbang menuju kesadaran berikutnya atau kesadaran yang lebih tinggi.

Kelak bila ajal sudah menjemput, kita akan merasakan kesadaran bertingkat ini. Pada waktu mati nanti, kita sudah tidak punya lagi kesadaran realistis (kesadaran pikiran), sehingga yang kita anggap ilusi-ilusi pada kesadaran ini menjadi kenyataan pada kesadaran berikutnya. Inilah hakekat surga dan neraka yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata tapi hanya bisa dirasakan.

QS Al A'raf 172
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka (para roh) menjawab : "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan : "Sesungguhnya kami (anak cucu Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)."

Maksud dari ayat ini adalah para roh sebelum diturunkan dan dilahirkan ke dunia menjadi manusia, Tuhan bertanya kepada para roh : "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" para roh menjawab : "Betul, Engkau Tuhan kami dan kami menjadi saksi."

Jujur kita sebagai manusia tentu tidak ada yang ingat dialog ini sebelum kita dilahirkan ke dunia. Hal ini bisa terjadi karena Tuhan bertanya kepada kita pada waktu kita menjadi diri berkesadaran roh. Sedangkan saat ini kita hidup dalam diri berkesadaran fisik atau kesadaran pikiran (kesadaran realistis). Berita di ayat ini menjadi petunjuk bahwa sesungguhnya manusia mempunyai kesadaran bertingkat.

Saya cukup memahami tentang kesadaran bertingkat. Dengan begitu saya bisa menjelaskan kerancuan-kerancuan tentang fenomena di masyarakat yang berhubungan dengan masalah kesadaran. Kerancuan-kerancuan itu sebagai berikut ;

1. Tentang Kekosongan
Dalam dunia spiritual sering terdengar istilah Tuhan adalah kekosongan. Biasanya orang-orang syariat yang mendengar istilah ini akan menjadi marah dan emosi, karena telah menganggap Tuhan seperti tidak ada. Padahal maksud dari orang-orang spiritual bukan seperti itu.

Kita hidup sebagai manusia diberi Tuhan indera-indera fisik yang dapat digunakan untuk berinteraksi dengan lingkungan. Lewat ilmu pengetahuan manusia berusaha mencari tahu tentang Tuhan. Manusia mempelajari unsur penyusunan terkecil dari suatu benda. Di jaman modern sekarang ini diketahui unsur penyusunan terkecil dari suatu benda adalah inti atom. Inti atom dikelilingi oleh proton dan neutron. Manusia mencoba menggali lagi unsur penyusunan dari inti atom. Setelah inti atom dibelah yang didapatkan hanyalah ruang kosong.

Dalam agama menyatakan bahwa semua benda di seluruh alam semesta merupakan bagian dari wajah Tuhan. Dinyatakan pula bahwa Tuhan lebih dekat dari urat nadi mahluk Nya. Menurut rumusan seluruh ulama-ulama bahwa Tuhan itu mempunyai sifat berbeda dengan mahluk Nya. Jadi Dzat (unsur penyusun) Tuhan berbeda dengan unsur penyusun mahluk Nya. Indera kesadaran pikiran manusia tidak akan mungkin mampu melihat Dzat Tuhan. Karena tidak mampu melihat Tuhan, maka kesadaran kita mengatakan bahwa itu adalah kekosongan. Hakekat kekosongan itulah Dzat Tuhan. Hakekat kekosongan itu bukan kosong bukan pula tidak ada, tapi berisi Dzat Tuhan.

2. Tentang Manunggaling Kawulo Gusti.
Dalam agama islam ada istilah, semua mahluk berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tapi dalam penjabarannya, banyak orang yang salah kaprah dalam mengartikannya. Banyak ahli spiritual abangan yang mengartikan bahwa manusia adalah Tuhan dan utusan Tuhan. Bahkan yang lebih ekstrim ada ahli spiritual yang mengatakan, "Gusti Allah aku injak-injak." Anehnya ahli spiritual ini justru mempunyai banyak pengikut karena dianggap berani, hebat, dan sakti. Dengan berbagai dalih, ahli spiritual ini mengatakan bahwa itu bagian dari ajaran tasawuf dan ajaran manunggaling kawulo gusti.

Itulah fitnah yang sangat keji. Dalam ajaran tasawuf dan ajaran manunggaling kawulo gusti tidak ada ajaran yang menyimpang sampai sejauh itu. Itu adalah kesalahan penjabaran oleh oknum tertentu yang disebabkan oleh banyak faktor. Biasanya faktor kepentingan seperti untuk kepentingan bisnis atau kekuasaan. Bisa juga karena oknum tersebut tidak paham tentang ajaran tasawuf dan ajaran manunggaling kawulo gusti. Tidak paham itu sendiri juga bisa disebabkan oleh banyak faktor.

Ilmu tasawuf adalah ilmu ketuhanan yang mempelajari keadaan sesungguhnya tentang seluruh dimensi alam semesta (hakekat makrifat). Ilmu manunggaling kawulo gusti adalah ilmu ketuhanan yang mempelajari tentang cara kembali kepada Tuhan (sangkan paraning dumadi). Kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.

Saya gambarkan begini. Tubuh manusia berasal dari tanah. Lalu apakah sama antara tubuh manusia dengan tanah? Tubuh ya tubuh, tanah ya tanah, keduanya jelas berbeda walaupun ada sedikit kesamaan. Kalo dijelaskan tentu akan sangat panjang. Sungguh keliru bila ada manusia yang mengaku dirinya adalah tanah.

Begitupun dengan roh. Roh manusia berasal dari Tuhan. Lalu apakah sama antara roh manusia dengan Tuhan? Roh tetap roh, Tuhan tetap Tuhan, keduanya jelas berbeda walaupun ada sedikit kesamaan. Sungguh suatu perbuatan ingkar dan keji jika ada manusia yang mengaku dirinya adalah Tuhan.

Hakekat semua mahluk adalah utusan Tuhan. Seperti manusia, hewan, dan tumbuhan diciptakan oleh Tuhan dengan fungsi dan perannya masing-masing. Mempunyai fungsi dan perannya masing-masing itulah yang disebut sebagai utusan Tuhan. Tapi meskipun begitu, kita sebagai manusia biasa dilarang mengaku-aku sebagai utusan Tuhan. Karena yang dimaksud utusan Tuhan dalam kitab suci mempunyai fungsi dan peran sebagai seorang nabi. Sedangkan kita sebagai manusia biasa, bisa jadi diutus Tuhan dengan fungsi dan peran sebagai teman setan dan iblis.

Kita sebagai manusia berada pada kesadaran pikiran yang merupakan kesadaran terendah. Untuk bisa masuk ke dalam kesadaran roh diperlukan usaha-usaha yang sangat berat atau butuh usaha ekstrim untuk mewujudkannya. Hanya segelintir orang saja di dunia ini yang bisa masuk ke dalam kesadaran roh. Orang yang bisa masuk ke dalam kesadaran roh akan bisa menjelaskan tentang keadaan roh sebelum diturunkan dan dilahirkan ke dunia sebagai manusia seperti yang tertulis dalam al quran. Kalau kita sudah mengerti dan menyadari hal ini, maka kita akan merasa lemah dan hina dihadapan Tuhan penguasa seluruh alam semesta. Apakah mungkin, orang yang berpengetahuan seperti ini berani mengaku-aku sebagai Tuhan?

3. Tentang Isro Mikroj.

QS Al Isro' 1
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."

Peristiwa isro mikroj merupakan salah satu mukjizat nabi muhammad saw. Secara umum pemahaman tentang isro mikroj terbagi menjadi 2 pendapat para ulama.

a. Menurut para ulama syariat.
Nabi muhammad melakukan isro mikroj pada malam hari dengan menaiki buroq terbang ke langit. Nabi muhammad terbang ke langit bersama tubuh fisiknya. Para ulama syariat pada jaman dahulu mengira letak langit adalah yang berada di angkasa raya yang berwarna biru. Buroq adalah mahluk dari langit yang diturunkan ke bumi yang gerakannya memiliki kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Di langit, nabi muhammad bersama malaikat jibril bertemu dengan para nabi terdahulu dan melihat keadaan surga dan neraka. Kemudian nabi muhammad naik lagi ke langit ke 7 tanpa ditemani oleh malaikat jibril yang disebabkan malaikat jibril tidak punya kekuatan untuk menembus ke langit ke 7. Di langit ke 7, nabi muhammad menghadap Tuhan penguasa seluruh alam semesta untuk menerima perintah melaksanakan sholat 5 waktu.

Orang pada jaman sekarang sering ragu akan peristiwa ini. Mereka mempertanyakan, bagaimana mungkin nabi muhammad terbang ke langit (batasan terluar dari seluruh alam semesta), dengan pergerakan melebihi kecepatan cahaya? Apakah tubuh nabi muhammad tidak hancur lebur? Biasanya para ulama syariat akan menjawab bahwa Allah Maha Berkehendak. Apa yang tidak mungkin bagi Allah. Tentu jawaban ini adalah jawaban final yang tidak mungkin bisa terbantahkan.

b. Menurut para ulama hakekat makrifat.
Nabi muhammad melakukan isro mikroj pada malam hari yang diawali dengan tafakur yang sangat khusyuk. Karena sangat khusyuk, buroq datang menemui nabi muhammad. Nabi muhammad menembus ke langit tidak bersama dengan tubuh fisiknya. Para ulama hakekat makrifat menganggap letak langit itu juga ada di bumi, yaitu letak langit bersinggungan tapi tidak bersentuhan. Buroq adalah nafsu yang terkendali. Nafsu adalah rasa yang tertipu oleh pikiran. Di langit, nabi muhammad bersama malaikat jibril bertemu dengan para nabi terdahulu dan melihat keadaan surga dan neraka. Kemudian nabi muhammad masuk lagi ke langit ke 7 tanpa ditemani oleh malaikat jibril yang disebabkan malaikat jibril tidak kuat lakunya untuk menembus ke langit ke 7. Di langit ke 7, nabi muhammad menghadap Tuhan penguasa seluruh alam semesta untuk menerima perintah melaksanakan sholat 5 waktu.

Yang dimaksud terbang ke langit adalah masuk ke dalam kesadaran berikutnya. Kesadaran ada 7 tingkatan dan langit juga ada 7 tingkatan. Nabi muhammad merupakan contoh bagi seluruh umat islam. Apa yang boleh dilakukan oleh nabi muhammad, tentu boleh dan dianjurkan untuk dilakukan oleh seluruh umat islam. Sayangnya umat islam sering salah tafsir tentang apa yang dilakukan oleh nabi muhammad (hadist) dan salah tafsir terhadap kitab suci al quran. Memang kecenderungan manusia selalu korup terhadap peraturan. Berusaha memilih yang enak dikerjakan dan membuang yang sulit (tidak enak) untuk dikerjakan.

HATI MERUPAKAN PINTU GERBANG MENUJU KESADARAN BERIKUTNYA. HAKEKAT MANUSIA MEMPUNYAI 7 TINGKAT KESADARAN DAN 7 TINGKAT LANGIT. KELAK BILA AJAL SUDAH MENJEMPUT, KESADARAN-KESADARAN INILAH YANG AKAN MENERIMA BALASANNYA, BAIK KENIKMATAN SURGA MAUPUN SIKSA NERAKA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar