Laman

Senin, 25 Agustus 2014

Ketaatan Abu Yazid kepada ibunya


Kisah teladan..
Ketaatan Abu Yazid kepada ibunya

Seorang waliAllah yang Istimewa sejak kecil.
Ibunya berkata padanya, “Setiap kali ibu memasukkan makanan yang syubhat ke mulut ibu, engkau meronta ronta dalam kandungan dan tak mau diam sampai ibu mengeluarkan makanan itu dari mulut ibu.

”Pernyataan ini dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri.

Waktu lbunya menyekolahkannya. Di sekolah, Abu yazid mempelajari Al-Quran.

Suatu hari, gurunya
menjelaskan makna salah satu ayat di surah Luqman: “Bersyukurlah kepada Ku dan kepada
kedua orang tuamu.”

Ayat ini menggetarkan hati
Abu Yazid.”Guru,” katanya seraya meletakkan buku catatannya, “izinkanlah aku untuk pulang
dan mengatakan sesuatu kepada ibuku.”Gurunya mengizinkannya, dan Abu Yazid pun bergegas
pulang.

”Ada apa, Thaifur,” pekik ibunya,
“mengapa engkau pulang? Apa mereka memberimu hadiah, atau ada acara khusus.”
”Tidak,” Jawab Abu Yazid. “Pelajaranku telah sampai kepada ayat di mana Allah memerintahkan aku untuk mengabdi kepada Nya
dan kepada Ibu. Aku tidak akan sanggup melaksanakan keduanya sekaligus. Ayat ini menggetarkan hatiku.
Hanya ada dua pilihan: lbu
memintaku dari Allah agar aku dapat menjadi milik lbu sepenuhnya, atau lbu menyerahkanku
kepada Allah agar aku dapat sepenuhnya bersama-Nya.”

Suatu malam, ibuku memintaku
untuk mengambilkannya air minum. Aku bergegas mengambilkan air minum untuknya,namun tak ada air di teko. Aku pun mengambil
kendi, namun kendi ini juga kosong. maka aku pun pergi ke sungai dan mengisi kendi dengan air. Ketika aku kembali ke rumah, ibuku telah
tertidur.
Malam itu udara begitu dingin. Aku
memegang teko dengan tanganku. Ketika ibuku terbangun, ia pun minum dan mendoakanku. Lalu
ia melihat bahwa teko itu membuat tanganku membeku kedinginan.

Mengapa tak engkau
letakkan saja teko itu?’ tanya ibuku.”Aku takut tatkala lbu terbangun, aku tidak ada di sisi Ibu,’
jawabku.

Setelah ibunya menyerahkannya kepada Allah,
Abu Yazid meninggalkan Bistham dan selama
tiga puluh tahun berkelana dari satu daerah ke
daerah lain, mendisiplinkan dirinya dengan
ibadah dan rasa lapar yang sinambung.

Setlah 30 tahun berkelana,
Pada tengah malam, ia
memasuki kota Bistham dan menuju ke rumah
ibunya. Di sana, ia berdiri dan mendengar suara
ibunya berwudlu dan berdoa.”Ya Allah, jagalah
orang buangan kita (maksudnya Abu Yazid).
Buatlah hati para syekh (guru spiritual)
cenderung padanya, dan berikanlah ia petunjuk
agar dapat melakukan segalanya dengan
baik.”

Abu Yazid menangis ketika ia mendengar
kata-kata ini. Kemudian ia mengetuk pintu.”Siapa
itu?” pekik ibunya.”Orang buanganmu,” jawab
Abu Yazid.

Sambil menangis, sang ibu membuka
pintu. Pandangan matanya tampak
suram.”Thaifur,” kata sang ibu pada anaknya,
“tahukah engkau apa yang telah menyuramkan
pandangan mataku? Tangisan. Aku kerap
menangis selama terpisah darimu, dan punggung
ibu bungkuk dua kali lipat karena menanggung
beban kesedihan.”

Saudaraku..marilah instropeksi diri.. sudah sejauh manakah ketaatan kita kepada orang tua kita terutama ibu kita??

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar