Laman

Selasa, 10 Maret 2015

Bertemu Tuhan


Dan kami menembus kembali jalan sawah-sawah melalui jalur tengah. Bayangan kampung halaman terus memburu deru mobil kami. Wajah mamaku, adik dan kakakku, keponakan, tetangga dan para pasien, saudara-saudara dan paman serta bibik, terus membayang sepanjang jalan.
Tiba-tiba rasaku tergugah di tengah lamunan. Ya, seorang wanita suci yang selama ini menjadi pelabuhan hatiku terbayang, yang biasa selalu kupanggil Ummi, serasa menahan desah nafasku. Wajahnya yang sejuk seperti telaga, serasa membiarkan diriku untuk mengarungi kedalaman jiwanya.
Setiap tahun, sejak kami hijrah ke Jakarta, kami sekeluarga selalu menyempatkan sillaturrahim ke beberapa Kyai di Probolinggo. Pada guru-guruku dulu, terutama ke tempat Ummi. Seorang Syarifah, yang tinggal di Klaseman Probolinggo, yang terus membangkitkan jiwa-jiwa kami yang terkadang terbelenggu keletihan dunia. Ummi selalu menjadi inspirasi sepanjang perjuangan kami, mengingatkan, memberi obor ketika rasa mulai padam, dan kadang menjewer telinga hati kami. Demi cintanya pada keluarga kami.
“Beberapa hari lalu seminggu sebelum lebaran ini, saya bertemu Tuhan….” Katanya, dengan ekspresi serius yang sangat mengejutkan kami.
“Saya memang berdoa, Ya Tuhanku, Wahai Rabbku… Aku ingin bertemu denganMu… Bagaimana caranya aku menemuiMu…?” Katanya menirukan munajatnya semalam suntuk di sepuluh hari terakhir.
“Allah berbisik padaku, agar esok aku pergi naik becak. Nanti aku akan bisa menemuiNya…”
Esok hari akhirnya aku naik becak, kisah Ummi, berputar kesana kemari. Dengan nafas terengah-engah tukang becak itu terus mengayuhkan kakinya.
“Pak, sampean puasa?”
“Ya Bu…”
“Sehari dapat berapa, sampean ini?”
“Dua puluh ribu, Bu…”
“Kenapa masih mengayuh becak? Kan ini bulan puasa…?”
“Kalau tidak narik becak, keluarga tidak bisa lebaran Bu…”
Tesss, air mataku menetes deras, Ya Allah masih ada hambamu seperti ini. Berjuang dengan deras keringat dibakar matahari. Orang ini sungguh mulia, Tuhan…
“Bagaimana kalau Bapak berhenti narik becak sampai lebaran…”
“Ndak bisa Bu…Saya harus narik…”
“Mau ndak Bapak berhenti narik becak, nanti saya ganti hasil nariknya selama seminggu?”
“Wah sangat mau, maturnuwun sekali.”
Saya sodorkan uang tujuh ratus ribu rupiah. Dan tukang becak itu bersujud, bersyukur sembari menangis, atas kebahagiaannya.
“Ya Allah, terimakasih Tuhan… Engkau mau menemuiku. Aku sudah bertemu Engkau Tuhan… Aku menemuiMu dibalik desah nafas tukang becak itu… Terimakasih Tuhan….”
Ummi terdiam seketika, pandangannnya jauh menembus jantungku. Bibirnya tersenyum, seperti senyum ibundaku.
Aku jadi teringat pasien-pasienku. Rintihan dan keluhnya, telah memanggilku untuk menghampirinya. Ya, aku menemui mereka, karena ada Tuhan di sana, ada Allah dibalik deritanya. “Ya Allah, aku menemuiMu melalui jarum-jarum ini… Terimalah aku Tuhan…”
Tuhan pun tersenyum padaku. Aku membalas senyuman itu dengan airmata bahagia. Rasanya aku masih ingin terus menemuiNya dibalik jarum-jarum ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar