Laman

Selasa, 10 Maret 2015

Syekh Maulana Malik Ibrahim


Jauh sebelum Maulana Ibrahim datang ke Pulau Jawa, sebenarnya sudah ada masyarakat islam di daerah-daerah pantai utara. Termasuk di Desa Leran. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya makam seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun yang meninggal pada tahun 475 Hijriah atau pada tahun 1082 M. Jadi, sebelum jaman Wali Songo, islam sudah ada di Pulau Jawa yaitu daerah Jepara dan Leran. Tetapi islam pada masa itu belum berkembang secara besar-besaran.
Maulana Malik Ibrahim yang lebih dikenal penduduk setempat sebagai kakek Bantal itu diperkirakan datang ke Gresik pada tahun 1404 M. Beliau berdakwah di Gresik hingga akhir wafatnya yaitu pada tahun 1419 M.
Pada masa itu kerajaan yang berkuasa di Jawa Timur adalah Majapahit. Raja dan rakyatnya kebanyakan masih beragama Hindu atau Budha. Sebagai rakyat Gresik sudah ada yang beragama islam akan tetapi masih banyak yang beragama Hindu. Bahkan ada yang tidak beragama sama-sekali.
Dalam dakwah Kakek Bantal menggunakan cara yang bijaksana dan strategi yang tepat berdasarkan ajaran Al Qur'an yaitu:
"Hendaknya engkau ajak kejalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan petunjuk-petunjuk yang baik serta ajaklah mereka berdialog (bertukar pikiran) dengan cara yang sebaik-baiknya. (QS An Nahl 125)
Ada yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari Turki dan pernah mengembara di Gujarat sehingga beliau cukup berpengalaman menghadapi orang-orang Hindu di Pulau Jawa. Gujarat adalah wilayah negeri Hindia yang kebanyakan penduduk nya beragama Hindu.
Di Jawa, Kakek Bantal bukan hanya berhadapan dengan masyarakat Hindu, melainkan juga harus bersabar terhadap mereka yang tak beragama maupun mereka yang terlanjur mengikuti aliran sesat, juga meluruskan iman orang-orang islam bercampur dengan kegiatan musyrik. Caranya, beliau tidak langsung menentang kepercayaan mereka yang salah itu melainkan mendekati mereka dengan penuh hikmah, beliau tunjukkan keindahan dan ketinggian akhlak islami sebagaimana ajaran Nabi Muhammad Saw.
Dari huruf-huruf Arab yang terdapat di batu nisannya dapat diketahui bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah si kakek Bantal, penolong fakir miskin yang dihormati para pangeran dan para sultan ahli tata negara yang ulung, hal itu menunjukkan betapa hebat perjuangan beliau terhadap masyarakat, bukan hanya pada kalangan atas melainkan juga pada golongan rakyat bawah yaitu kaum fakir miskin.
Keterangan yang tertulis di makamnya ialah sebagai berikut kuburan itu. "Inilah makam Almarhum Almaghfur, yang berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para pangeran, sendi para sultan, dan menteri, penolong fakir dan miskin, yang berbahagia lagi syahid, cemerlangnya simbol negara dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kakek Bantal. Allah meliputinya dengan Rahmat-Nya dengan keridhaan-Nya, dan dimasukkan ke dalam surga.
Telah wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awal tahun 822 H."
Menurut literatur yang ada, belau juga ahli pertanian dan ahli pengobatan. Sejak beliau berada di Gresik hasil pertanian rakyat Gresik meningkat tajam. Dan orang-orang sakit banyak yang disembuhkannya dengan daun-daunan tertentu.
Sifat lemah lembut, welas asih dan ramah tamah kepada semua orang,baik sesama muslim atau dengan nonmuslim membuatnya terkenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani dan dihormati. Kepriabadiannya yang baik itulah yang menarik hati penduduk setempat sehingga mereka berbondong-bondong masuk agama islam dengan suka rela dan menjadi pengikut beliau yang setia.
Sebagai misal, bila beliau menghadapi rakyat jelata yang pengetahuannya masih awam sekali, beliau tidak menerangkan islam secara ruwet. Kaum bawah tersebut dibimbing untuk bisa mengolah tanah agar sawah dan ladang mereka dapat dipanen lebih banyak lagi, sesudah itu mereka dianjurkan bersyukur kepada Yang Memberi Rezeki, yaitu Allah Swt.
Di kalangan rakyat jelata Syekh Maulana Malik Ibrahim sangat terkenal, terutama dari kalangan kasta rendah. Sebagaimana diketahui agama Hindu membagi masyarakat menjadi empat kasta: kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Dari keempat kasta tersebut kasta Sudra adalah yang paling rendah dan sering ditindas oleh kasta-kasta yang jauh lebih tinggi. Maka ketika Syekh Maulana Malik Ibrahim menerangkan kedudukan seseorang di dalam islam, orang-orang Sudra dan Waisya banyak yang tertarik, Syekh Maulana Malik Ibbrahim menjelaskan bahwa dalam agama Islam semua manusia memiliki derajat yang sama. Orang sudra boleh saja bergaul dengan kalangan yang lebih atas, tidak dibeda-bedakan. Di hadapan Allah semua manusia adalah sama, yang paling mulia di antara mereka hanyalah yang paling taqwa kepadaNya.
Taqwa itu letaknya di hati, hati yang mengendalikan segala gerakan hidup manusia untuk berusaha sekuat-kuatnya mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya.
Dengan taqwa itulah manusia akan hidup berbahagia di dunia hingga di akhirat kelak, orang yang bertaqwa, sekalipun dia kasta Sudra bisa jadi lebih mulia dari pada mereka yang berkasta Ksatria dan Brahmana.
Mendengar keterangan itu, mereka yang bersalal dari kasta Sudra dan Waisy merasa lega, mereka merasa dibela dan dikembalikan hak nya sebagai manusia utuh sehingga wajarlah bila mereka berbondong-bondong masuk agama Islam dengan suka cita.
Setelah pengikutnya semakin banyak, beliau kemudian mendirikan masjid untuk beribadah bersama-sama dan mengaji. Dalam membangun masjid ini beliau mendapat bantuan yang tidak sedikit dari Raja Carmain.
Dan untuk mempersiapkan kader umat yang nantinya dapat meneruskan perjuangan menyebarkan islam ke seluruh Tanah Jawa dan seluruh Nusantara. Maka, beliau kemudian mendirikan pesantren yang merupakan perguruan islam, tempat mendidik dan mengembleng para santri sebagai calon mubaligh.
Pendirian pesantren yang pertama kali di Nusantara itu diilhami oleh kebiasaan masyarakat hindu yaitu para Bikhu dan pendeta Brahmana yang mendidik cantrik dan calon pemimpin agama di mandala-mandala mereka.
Ini salah satu strategi para Wali yang cukup jitu: orang Budha dan Hindu yang mendirikan mandala-mandala untuk mendidik kader tidak dimusuhi secara frontal, melainkan beliau-beliau itu mendirikan bentuk pesantren yang mirip mandala-mandala milik kelompok Hindu dan Budha tersebut untuk menjaring umat. Dan ternyata hasilnya sungguh memuaskan dari Pesantren Gresik, kemudian muncul para mubaligh yang menyebar ke seluruh Nusantara.
Tradisi pesantren tersebut berlangsung hingga jaman sekarang. Di mana para Ulama menggodog calon mubaligh di pesantren yang diasuhnya.
Bila orang bertanya sesuatu masalah agama kepada beliau, maka beliau tidak menjawab dengan berbelit-belit melainkan dijawabnya dengan mudah dan gamblang sesuai dengan pesan Nabi yang menganjurkan agama disiarkan dengan mudah, tidak dipersulit, umat harus dibuat gembira, tidak ditakut-takuti.
Seperti tersebut dalam buku History of Java karangan Sir Stamford Raffles, pada suatu hari Syekh Maulana Malik Ibrahim ditanya; "Apakah yang dinamakan Allah itu?"
Beliau tidak menjawab Allah itu adalah Tuhan yang memberi pahala surga hambaNya yang berbakti dan menyiksa sepedih-pedihnya bagi hamba yang membangkang kepadaNya. Jawabannya cukup singkat dan jelas yaitu, "Allah adalah Zat yang diperlukan adaNya."
Dua tahun sudah Syekh Maulana Malik Ibrahim berdakwah di Gresik, beliau tidak hanya membimbing umat untuk mengenal dan mendalami agama islam, melainkan juga memberikan pengarahan, agar tingkat kehidupan rakyat Gresik menjadi lebih baik. Beliau pula mempunyai gagasan mengalirkan air dari gunung untuk mengaliri lahan pertanian penduduk. Dengan adanya sistem pengairan yang baik ini lahan pertanian menjadi subur dan hasil panen bertambah banyak, para petani menjadi makmur dan mereka dapat mengerjakan ibadah dengan tenang.
Andai kata Syekh Maulana Malik Ibrahim tidak ikut membenahi dan meningkatkan taraf hidup rakyat Gresik tentulah mereka sukar diajak beribadah dengan baik dan tenang. Sebagaimana sabda Nabi bahwa kefakiran menjurus pada kekafiran. Bagaimana mungkin bisa beribadah dengan tenang jika sehari-hari disibukkan dengan urusan sesuap nasi. inilah resep yang harus ditiru.
.
Tamu Dari Negeri Carmain
Ada ganjalan di hati Syekh Maulana Malik Ibrahim, dia telah berhasil mengislamkan sebagian besar rakyat Gresik. Gresik adalah sebagian dari wilayah Majapahit. kalau seluruh rakyat sudah memeluk islam sementara Raja Brawijaya penguasa Majapahit masih beragama Hindu apakah di belakang hari tidak timbul ketegangan antara rakyat dengan rajanya.
Untuk menghindari hal itu maka Syekh Maulana Malik Ibrahim mempunyai rencana mengajak Raja Brawijaya untuk masuk agama islam.
Hal itu diutarakan kepada sahabatnya yaitu Raja Cermain. Ternyata Raja Cermain juga mempunyai maksud serupa. Sudah lama Raja Cermain ingin mengajak prabu Brawijaya masuk agama islam. Pada tahun 1321 M Raja Cermain datang ke Gresik disertai putrinya yang cantik rupawan. Putri raja Cermain itu bernama Dewi Sari, tujuannya dalam misi tersebut adalah untuk memberikan bimbingan kepada para putri istana Majapahit mengenal agama islam.
Bersama Syekh Maulana Malik Ibrahim rombongan negeri Carmain itu menghadap Prabu Brawijaya. Usaha mereka ternyata gagal. Prabu Brawijaya bersikeras mempertahankan agama lama dengan ucapan diplomatis. Bahwa dia bersedia masuk islam bila Dewi Sari bersedia dipersuntingnya sebagai istri. Dewi Sari menolak karena tidak ada gunanya masuk islam bila ditunggangi dengan kepentingan duniawi. Beragama seperti itu hanya akan merusak keagungan agama islam.
Rombongan dari Negeri Carmain lalu kembali ke Gresik. Mereka beristirahat di Leran sembari menunggu perbaikan kapal untuk berlayar pulang.
Sungguh sayang sekali, selama beristirahat di Leran banyak anggota rombongan dari Negeri Carmain yang diserang wabah penyakit. Banyak di antara mereka yang tewas, termasuk Dewi Sari.
Kabar kematian Dewi Sari terdengar ke telinga Prabu Brawijaya. Raja yang memang tertarik dan merasa jatuh cinta kepada Dewi sari kemudian menyempatkan diri beserta ponggawa kerajaan ke desa Leran. Brawijaya sang raja Majapahit itu memerintahkan kepada para punggawa kerajaan untuk mengali kubur dan memakamkan Dewi sari dengan upacara kebesaran. Di desa Leran itu Dewi Sri dikuburkan.
Setelah rombongan dari Negeri Carmain meniggalkan pantai Laren maka Prabu Brawijaya menyerahkan seluruh daerah Gresik kepada Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk diperintah sendiri di bawah kedaulatan Majapahit.
Penyerahan daerah itu adalah siasat dari sang Raja agar rakyat Gresik yang beragama islam itu tidak memberontak kepada rajanya yang masih beragama Hindu.
Amanat raja Majapahit itu diterima Syekh Maulana Malik Ibrahim dengan suka rela. Sesuai dengan ajaran islam yang meganjurkan perdamaian walaupun dengan kafir zimmi yaitu orang-orang bukan muslim yang mau hidup berdampingan dengan aman dalam satu negara.
Demikian sekilas tenang Syekah Maulana Malik Ibrahim, seorang Wali yang dianggap sebagai ayah dari Wali Songo. Beliau wafat di Gresik pada tahun 882 H atau 1419 M.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar