Laman

Selasa, 10 Maret 2015

Mengutamakan Kepentingan Orang Lain Daripada Dirinya


Asy-Sya’rani
Di antara adab seorang murid hendaknya selalu mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri dalam hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan nafsu. Para guru sufi telah sepakat, bahwa seorang murid apabila ia lebih suka mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri dan sanggup menerima kenyataan pahit akibat disakiti orang lain atau apa saja, tentu tingkatan spiritualnya akan lebih cepat naik daripada saudara-saudaranya, baik di dunia maupun di akhirat maupun kedua-duanya.
Tuan Guru Ali bin Wafa berkata: “Seseorang tidak akan bisa mulia di atas saudara-saudaranya kecuali bila ia sanggup mengutamakan mereka daripada dirinya sendiri, dan tidak mengikuti mereka dalam hal-hal yang mereka menganggapnya baik.” Ia juga pernah mengatakan: “Seorang murid juga tidak boleh terpengaruh dengan sesuatu (dunia) yang tidak didapatkan atau yang telah hilang. Dan bila ia masih terpengaruh sekalipun hanya serambut ketika ada pencuri masuk ke dalam rumah misalnya, kemudian menguras seluruh isi rumah, maka ia bohong masuk dalam tarekat. Sebab orang yang benar di dalam tarekat akan tetap lega dan lapang dada ketika ada sesuatu yang hilang atau tidak mendapatkan dunia, apalagi sampai terpengaruh.” — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
Dan diantara adab seorang murid hendaknya menghindari semua orang yang ia lihat tidak melakukan amalan yang sama dengan amalannya dan tidak sesuai dengan ilmunya, agar watak dasarnya tidak mencuri dari apa yang biasa dilakukan orang tersebut. Sebab teman jelek akan lebih berbahaya daripada iblis, karena iblis ketika akan menggoda orang mukmin, maka si mukmin tahu, bahwa ia adalah musuh yang menyesatkan.
Apabila ia akan menuruti apa yang menjadi bisikan iblis, ia sadar dan tahu bahwa ia telah bermaksiat kepada Tuhannya Azza wa Jalla. Akhirnya ia segera bertobat dan dosa yang ia lakukan dan memperbanyak istighfar.
Sementara teman jelek tidak demikian, sebab ia akan mengelabui kebenaran dengan kebatilan kepada orang yang menuruti tujuan dan kesenangannya, dan hampir ia tidak akan pernah merasa bersalah atas dosa yang ia lakukan. Barangkali teman jahat akan berargumentasi dengan qadha’ dan qadar (ketentuan dari Allah) dan akan berdebat dengan argumentasi yang tidak benar. Maka barangsiapa berteman dengan orang seperti ini, ia akan sesat usahanya. Kaum sufi mengatakan, “Enam puluh kali tipu daya setan tidak akan sedahsyat apa yang dirusak oleh teman jahat dalam sekejap.”
Wahai saudaraku, maka jadilah anda orang yang cerdik dan paham, jangan berteman kecuali dengan orang yang anda lihat ia telah berbuat dan mengamalkan ilmunya. Hati-hatilah terhadap tipu daya kaum fakir sufi yang tidak bisa menjaga hal itu.
Tuan Guru Ibrahim al-Matbuli, apabila ada seorang murid hendak keluar dari pemondokan menuju ke jami’ al-Azhar untuk mencari ilmu maka ia akan berpesan kepada Si murid tersebut, “Apabila anda mau masuk ke al-Azhar maka tanyakan siapa ulamanya. Ulama yang semua orang memujinya sebagai orang yang wara’, zuhud, dan tidak banyak mondar-mandir ke para pembesar (penguasa) maka silakan anda belajar kepadanya. Jauhilah untuk belajar kepada orang yang tidak bisa menjaga hal-hal yang syubhat terutama yang haram dalam makanan maupun pakaiannya, sesungguhnya anda akan terus jadi seperti dia. Apabila anda belajar ilmu maka carilah jalan untuk mengamalkannya di tangan kaum sufi, sebab merekalah yang bisa memberikan jalan yang paling efektif. Dan apabila setelah itu ada orang ahli fikih bertanya kepada anda, ‘Apa yang anda dapatkan setelah anda bersahabat dengan kaum sufi?’ Maka jawablah, ‘Saya mendapatkan dan mereka bisa mengamalkan ilmu yang aku pelajari dari anda dengan lebih baik’.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar