Laman

Selasa, 10 Maret 2015

Kisah Menarik Asy-Syibli


Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Aku pernah mendengar Abu Abdillah bin Jabar berkata: Aku pernah mendatangi asy-Syibli di musim krisis pangan. Aku mengucapkansalam padanya. tatkala aku akan keluar dari rumahnya, ia mengantarku dan juga orang-orang yang bersamaku sembari mengataka, “Berangkatlah, aku akan selalu bersama kalian di manapun kalian berada, kalian berada dalam pemeliharaan dan tanggunganku.”
Aku katakan, bahwa dengan ucapan itu ia bermaksud, bahwa Allah Swt akan selalu bersama kalian di manapun kalian berada. Dia akan menanggung dan memelihara kalian. Kalian berada dalam pemeliharaan dan tanggungan-Nya.
Makna ucapan itu adalah, bahwa saat Ia mengatakan, ia melihat dirinya telah terhapus dengan tauhid murni dan hakikat penauhidan (tafrid) yang teIah menguasai hatinya. Seseorang yang sedang wajd maka tatkaIa ia mengatakan, “Aku” itu berusaha mengungkapkan wajd yang sedang ia alami dan menerjemahkan tentang kondisi spiritual yang sedang menguasai rahasia hatinya. Apabila Ia mengatakan, “Aku” maka Ia memberi isyarat pada hakikat sifat musyahadah-nya dan kedekatan dengan Tuannya yang sedang menguasai hatinya.
Aku juga pernah mendengar al-Hushri —rahimahullah— yang mengisahkan tentang asy-Syibli — rahimahullah— dimana ia pernah berkata, “Jika kehinaan diriku dibandingkan dengan kehinaan kaum Yahudi dan Nasrani maka kehinaanku akan Iebih hina daripada kehinaan mereka.”
Jika ada orang bcrtanya. “Kisah yang mana dari kisah-kisah tersebut yang tepat? Maka jawablah. “Kedua kisah itu benar. Hanya saja kondisi waktulah yang berbeda. Satunya berada dalam kejernihan musyahadah, sehingga ia mengungkapkan tentang wajd dan hakikatnya secara ikhlas yang benar-benar bersih dan kemurnian tauhid. Sedangkan yang satu berada dalam waktu yang dikembalikan pada sifatnya sendiri, ketidakmampuan manusia dan kerendahan anak cucu Adam, sehingga Ia berbicara sesuai dengan apa yang ditemukan dalam dirinya.
Sebagamana yang pernah dikatakan oleh Yahya bin Muadz ar-Razi: “Seorang arif jika mengingat Tuhannya maka akan berbangga. Tapi ketika ia mengingat dirinya maka ia akan merasa butuh dan hina.” Makna dari apa yang dikatakan ar-Razi ini terdapat dalam ilmu syariat.
Nabi bersabda: “Aku memiliki waktu bersama Allah yang tak ada sesuatu pun cukup bagiku selain Allah Azza wa Jalla. Dan aku adalah tuan anak cucu Adam. Ini bukanlah, kesombongan.”
Juga diwahyukan: “Janganlah kalian mengutamakan aku lebih dari Yunus bin Mata. Aku hanyalah anak seorang perempuan yang makan dendeng.” (H.r. Bukhari-MusIim dari Abu Hurairah dan Abu Dawud dari Ibnu Abbas).
Coba Anda perhatikan! Banyak antara dua Hadis yang bersebrangan dalam waktu dan kondisi yang berbeda! Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
Dan kisah yang serupa dengan ini adalah apa yang dikisahkan dari asy-Syibli —rahimahullah— dimana ia pernah mengambil potongan roti dari tangan seseorang lalu ia makan. Kemudian ia berkata, “Sesungguhnya diri (nafsu)ku ini menuntut dariku sepotong roti, dan andaikata rahasia hatiku mau memperhatikan pada ‘Arasy dan Kursi pasti ia akan terbakar.” Ketika ia menuturkan rahasia hatinya memperhatikan ‘Arasy dan Kursi. Ia bermaksud bahwa dalam rahasia hatinya ia temukan pengaruh al-Wahdaniyyah dan al-Qidam. Sebab ‘Arasy dan Kursi adalah makhluk yang sebelumnya tidak ada kemudian diciptakan dan menjadi ada.
Dikisahkan dari asy-Syibli —rahimahullah— bahwa ia pernah ditanya tentang Abu Yazid al-Bisthami dan cerita yang dikisahkan dari Abu Yazid — sebagaimana yang telah kami sebutkan di muka — ditunjukkan kepadanya. Maka asy-Syibli berkata, “Andaikata Abu Yazid —rahimahullah— berada di sini, ia akan menyerah di tangan sebagian anak-anak kecil kami.” Kemudian ia berkata, “Andaikata ada orang yang paham dengan apa yang aku katakan, maka akan aku kencangkan ikat pinggangku.”
Aku katakana, bahwa ia telah mengisyaratkan apa yang pernah dikatakan al-Junaid, “Bahwa Abu Yazid —rahimahullah— dengan segala keagungan kondisi spiritual dan tinggi isyaratnya ia belum bisa keluar dari kondisi spiritual tingkat pemula. Aku juga tidak pernah mendengar satu kali ini pun yang menunjukkan bahwa ia sudaah sampai pada puncak kesempurnaan.”
Maknanya, bahwa orang-orang khusus yang bergelut dalam bidang ilmu ini, mereka seakan melihat bahwa masing-masing pendakian ruhani yang mereka capai adalah yang tertiniggi. Dan ini adalah kecemburuan al-Haq terhadap mereka, sehingga tak ada lagi di antara mereka cenderung kepada yang lain.
Tidaklah Anda perhatikan, bahwa Abu Yazid berbicara dengan bahasa dan ungkapan yang tidak mampu ditangkap oleh orang-orang sezaman dengannya.
Kemudian al-Junaid mengatakan. “Bahwa ia belum bisa keluar dari kondisi spiritual tingkat pemula. Dan aku juga tidak pernah mendengar satu kalimat pun yang menujukkan bahwa ia teelah sampai pada puncak kesempurnaan.”
Kemudian asy-Syibli mengatakan, “Andaikata Abu Yazid —rahimahullah— berada di sini, ia akan menyerah di tangan sehagian anak-anak kecil kami.” Yakni, ia akan mengambil pelajaran dari murid-murid yang ada pada zaman kami.
Dikisahkan dari sebagian Syekh yang pernah mengatakan, “Aku pernah tinggal bersama asy-Syibli selama dua puluh tahun. Dan aku tak pernah mendengarnya berbicara tentang tauhid. Ia selalu berbicara mengenai ahwal dan maqamat.”
Semua ini hanya sebagian kecil dari keagungan isyarat mereka dalam hakikat. Sebab hakikat tauhid tidak punya batas dan ujung. Dan masing-masing dari mereka telah tenggelam dalam lautan yang tak mungkin bisa dijelaskan batas dan tepinya dan tidak mungkin diketahui ujungnya. Sebagaimana difirmankan Allah: “Inilah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah memiliki karunia yang besar.” (Qs. al-Hadid: 21).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar