Laman

Jumat, 29 Agustus 2014

MUNAJAH MAHABAH IBU ATHAILLAH.


Illahi,
dalam kekayaan-Mu aku adalah faqir
sedangkan di dalam kefaqiran aku tetap faqir
karena aku adalah si faqir
Illahi,
akulah orang jahil dalam ilmu
betapa hal ini lama berlalu
tiada lebih bodoh dari kebodohanku
Illahi,
sungguh perubahan ketetapan-Mu
cepat sampainya takdir-Mu
itu semua telah menahan orang-orang arifin
merasa puas atas pemberian
berputus asa dalam ujian
Illahi,
diriku adalah kehinaan yang tak layak
mendapat kemuliaan-Mu yang marak
namun dalam hatiku yang kusam retak
beriman akan asma-Mu yang lembut
pemberian-Mu santun merajut
hidupku dengan welas asih
kerena Engkau Maha Mengetahui aku adalah lemah
tengadah tanganku dalam munajah
Engkau tak menolak
menjawab dengan kata kasih
karena Engkau telah tahu diriku yang lemah
Illahi,
bila ada padaku secuil kebaikan
karena kasih dan karunia-Mu
Engkau berhak menuntutku
jika datang kejahatanku
semua itu karena keadilan-Mu
Illahi,
bagaimana aku bisa jadi wakil-Mu
untuk mengurus diriku
padahal Engkau menjamin bagiku
betapa aku akan terhina
padahal Engkau Sang Penolong
bagaimana aku kecewa
padahal Engkau Maha Pengasih
Illahi,
aku datang kepada-Mu dengan tanganku yang fakir
bagaimana aku berperantara
padahal aku tak sampai kepada-Mu
aku adukan diriku kepada-Mu
karena tiada yang tersembunyi di sisi-Mu
betapa ku mesti memberi penjelasan
semua datang dari-Mu jua
mengapa aku harus kecewa
padahal di hadapan-Mu aku selalu berdoa
mengapa aku tidak menjadi baik
sedangkan semuanya datang dan pergi karena kodrat-Mu
Illahi,
ketika diriku mendapat elus kehalusan-Mu yang Maha Lembut
padahal aku sangat dungu dalam kejahilanku
begitu besar nian rahmat-Mu
namun begitu buruk kelakuanku
begitu dekatnya Engkau dariku
begitu jaunya aku dari-Mu
sangat besar kasih-Mu
anugerah dari waktu ke waktu
ada apa gerangan padaku
telah menuju antara aku dengan-Mu
tolonglah Engkau beri cahaya pintu hatiku
Illahi,
dosa telah menutup pandanganku
mataku rabun meraba dalam gulita jiwaku
kemurahan-Mu membisikkan padaku
ketika putus asa gerogoti jiwaku
aku menemukan rahmat-Mu
karena aku insan di bawah peduli kaki-Mu
adalah karena karunia-Mu jua membuka haranku
Illahi,
di antara kesalahan dan kebaikan insan
betapa kesalahan itu bukan suatu dosa
ketika ilmu jadi pengakuan belaka
betapa pengakuan itu bukan kepalsuan juga?
Illahi,
hukum-Mu memang selalu pasti
kehendak-Mu juga harus terjadi
tiada kesempatan bagi yang pandai
tiada satu angka pun dapat terbagi
ketika "kun fa yakun" menjadi saksi
siapapun itu tiada lagi berarti
Illahi,
berapa pun jumlah ketaatanku
berapa besar juga ibadahku
kubaguskan dan kupelihara jumlah tejangkau
namun keadilan-Mu jua yang berlaku
karena keadilan-Mu jua
Illahi,
Engkau lebih mengetahui hal diriku
dalam gerakan setiap amalku
tiada kulakukan berkesinambungan
namun tiada letih tanganku memohon pengasihan
menempatkan niat dan cintaku pada Sang Junjungan
karena secuil amalku adalah bukanlah jaminan
betapa aku mesti berniat dan berjalan
padahal Engkau adalah penentu perjalanan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar