Laman

Senin, 22 Februari 2016

Kisah Wanita Yang Menasihati Ulama Besar


Di dalam kitab Al-Muwattha’ dijelaskan, bahwa Imam Malik meriwayatkan dari Al-Qasim bin Muhammad bahwa dia berkata, “Istriku wafat, maka Muhammad bin Kaab Al-Qurazhi mendatangiku untuk bertakziah”. Muhammad bin Kaab berkata, “Di kalangan Bani Israil terdapat seorang faqih, ‘alim, ahli ibadah dan ahli berijtihad. Dia sangat mengagumi dan mencintai istrinya. Ketika istrinya wafat, dia sangat bersedih dan sangat menyesalinya, hingga dia menyendiri di rumah, menutup diri dan menghindari orang-orang. Tidak ada seorang pun yang berani menemuinya karena menghormati sang ‘alim.
Ada seorang wanita yang mendengar berita tersebut. Lalu dia memberanikan diri untuk mendatangi rumah sang ‘alim. Setelah sampai di rumah sang ‘alim, wanita itu ditemui oleh murid sang ‘alim, lalu wanita itu berkata, “Aku ada perlu dengan sang ‘alim, aku ingin meminta fatwa dan tidak bisa diwakilkan”. Orang-orang yang saat itu berada di rumah sang ‘alim sudah pulang, namun wanita itu masih menunggu di pintu. Wanita itu berkata kepada murid sang ‘alim, “Aku harus bertemu dengannya.”
Akhirnya, si murid menyampaikan kepada sang ‘alim, “Ada seorang wanita di depan pintu yang ingin meminta fatwamu. Wanita itu berkata bahwa ia hanya ingin bertemu denganmu”. Orang-orang sudah bubar sementara dia tetap menunggu di depan pintu. Sang ‘alim itu pun berkata, “Suruh dia masuk”. Wanita itu pun masuk dan berkata, “Aku datang untuk meminta fatwamu dalam suatu perkara”. Sang ‘alim bertanya, “Apa itu?”.
Wanita itu berkata, “Aku meminjam perhiasan dari tetanggaku. Aku memakainya dan meminjamkannya beberapa waktu, kemudian mereka memintaku untuk mengembalikannya. Apakah aku harus mengembalikannya?”. Sang ‘alim menjawab, “Ya, demi Allah”. Wanita itu berkata, “Perhiasan itu telah berada padaku selama beberapa waktu”. Sang ‘alim menjawab, “Hal itu lebih wajib atasmu untuk mengembalikannya kepada mereka ketika mereka meminjamkannya beberapa waktu”. Wanita itu pun berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Apakah kamu menyesali apa yang Allah pinjamkan kepadamu (maksudnya; istrinya) kemudian Dia mengambilnya darimu sementara Dia lebih berhak daripada dirimu?”. Sang ‘alim pun tersadar dari kekeliruannya selama ini dengan mengurung diri di rumah dan menyesali kepergian istrinya. Ternyata, kedatangan dan pertanyaan-pertanyaan wanita itu mengandung nasihat berharga bagi dirinya sehingga menggugah hatinya yang tadinya susah dan sedih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar