Laman

Senin, 22 Februari 2016

RAHASIA - RAHASIA ALLAH SWT


Di dalam Kitab al-Isti'dad lil Mauti Wasualil Qabri juz 1 hlm. 20 dijelaskan, bahwa Allah swt. menyembunyikan 3 perkara di dalam tiga perkara. Yang pertama, Allah menyembunyikan Ridha-Nya di dalam perbuatan taat (takwa) seseorang kepada Allah, maka jangan sekali-kali meremehkan atau menghina perbuatan taat seseorang, karena banyak sekali ketaatan seseorang yang diremehken justru itu yang diridhai Allah, (sesungguhnya kita semua tidak tahu taat siapa/perbuatan taat kita yang bagaimana / yang seperti apa yang di terima Allah).
Yang kedua, Allah menyembunyikan murka-Nya di dalam kemaksiatan menusia kepada Allah, maka jangan sekali-kali meremehkan kemaksiatan sekecil apapun, karena seringkali kemaksiatan yang diremehkan justru yang di murkai Allah.
Yang ketiga, Allah menyembunyikan kekasih-Nya di antara makhluk-makhluk-Nya, maka jangan pernah menghina seseorang dari makhluk-Nya walaupun menurut kita remeh/hina, karena banyak manusia yang tidak di perdulikan manusia lain ternyata justru yang dikasihi Allah swt.
Ikhlas, Rahasia Allah dengan Hamba-Nya
Seorang sahabat dengan mimik serius mengajukan sebuah pertanyaan kepada Rasulullah swt. ,“Duhai kekasih Allah, bantulah aku mengetahui perihal kebodohanku ini. Kiranya engkau dapat menjelaskan kepadaku, apa yang dimaksud ikhlas itu?“
Rasulullah, kekasih Allah yang paling mulia bersabda, “Berkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril as. apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata,“Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya? “
Allah swt. yang Mahaluas Pengetahuan-Nya menjawab, “Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.“(HR. al-Qazwini).
Dari hadits diatas nampaklah bahwa rahasia ikhlas itu diketahui oleh hamba-hamba Allah yang dicintai-Nya. Untuk mengetahui rahasia ikhlas, kita harus menggali hikmah dari kaum arif, salafus shalih dan para ulama kekasih Allah. Antara lain Imam Qusyairy dalam kitabnya Risalatul Qusyairiyah menyebutkan bahwa ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan/pengabdian. Keikhlasan berarti menyucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk. Dikatakan juga, keikhlasan berarti melindungi diri sendiri dari urusan individu manusia.
Hamba Allah yang ikhlas mampu beribadah secara istiqamah dan terus menerus/kontinu. Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas amalnya dalam kondisi ada atau tidak adanya orang yang memperhatikan adalah sama. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru lebih bagus ketika ada orang lain memperhatikannya.
Seorang pembicara yang tulus tidak harus merekayasa aneka kata-kata agar penuh pesona, tetapi dia usahakan agar setiap kata-kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata-kata yang disukai Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenaran dan maknanya, selebihnya terserah Allah, kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang Maha Kuasa menghunjamkannya ke dalam setiap kalbu/hati.
Oleh karena itu, tidak perlu terjebak oleh rekayasa-rekayasa, Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa, karena Dia Maha Tahu segala lintasan hati, Maha Tahu segalanya. Semakin jernih, semakin bening, dan semakin bersih segala apa yang kita lakukan atau semakin seluruh aktifitas ditujukan semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah-lah yang akan menolong segalanya.
Tanda-Tanda Ikhlas Seorang Hamba
1. Tidak mencari populartias dan tidak menonjolkan diri
2. Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian. Pujian hanyalah sangkaan orang kepada kita, padahal kita sendiri yang tahu keadaan kita yang sebenarnya. Pujian adalah ujian Allah, hampir tidak pernah ada pujian yang sama persis dengan kondisi dan keadaan diri kita yang sebenarnya. 3. Tidak silau dan cinta jabatan
4. Tidak diperbudak imbalan dan balas budi
5. Tidak mudah kecewa.
Seorang hamba Allah yang ikhlas yakin benar bahwa apa yang diniatkan dengan baik lalu terjadi atau tidak yang dia niatkan semuanya pasti telah dilihat dan dinilai oleh Allah swt. Misalnya, ketika kita hendak menjenguk teman sakit di luar kota, ternyata ketika kita sampai yang bersangkutan telah sembuh dan pulang. Tentu saja kita tidak harus kecewa karena niat dan perjalanan kita termasuk ongkos dan keletihannya sudah mutlak tercatat dan tidak akan disia-siakan Allah swt.
Seorang hamba yang ikhlas sadar bahwa manusia hanya memiliki kewajiban menyempurnakan niat dan menyempurnakan ikhtiar. Perkara yang terbaik terjadi itu adalah urusan Allah.
6. Tidak membedakan amal yang besar dan amal yang kecil
7. Tidak fanatik golongan
8. Ridha dan marahnya bukan karena perasaan pribadi
9. Ringan, lahap dan nikmat dalam beramal
10. Tidak egois karena selalu mementingkan kepentingan bersama.
11. Tidak membeda-bedakan pergaulan.
Tingkatan Ikhlas
Dalam kitab al-Hikam, karya Syeikh Ibnu Atho’ilah tentang kedudukan seorang hamba dalam amal perbuatannya, terdapat dua tingkatan kemuliaan seorang hamba ahli ikhlas, yakni hamba Allah yang abrar dan yang muqarrabin.
Keikhlasan seorang abrar adalah apabila amal perbuatannya telah bersih dari riya baik yang jelas maupun samar/tersembunyi. Sedangkan tujuan amal perbuatannya selalu hanya pahala yang dijanjikan Allah swt.
Adapun keikhlasan seorang hamba yang muqarrabin adalah ia merasa bahwa semua amal kebaikannya semata-mata karunia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayah dan taufik.
Dengan kata lain, amalan seorang hamba yang abrar dinamakan amalan lillah, yaitu beramal karena Allah. Sedangkan amalan seorang hamba yang muqarrabin dinamakan amalan billah, yaitu beramal dengan bantuan karunia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum zahir/yang jelas, sedang amal billah menembus ke dalam perasaan kalbu/hati.
Pantaslah seorang ulama ahli hikmah menasihatkan, “Perbaikilah amal perbuatanmu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan bahwa tidak ada kekuatan sendiri, bahwa semua kejadian itu hanya semata-mata karena bantuan dan pertolongan Allah saja.“

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar