Laman

Minggu, 26 Januari 2014

KEAGUNGAN ALLAH SWT DALAM CINTA KASIH PADA AKHIR HAYAT MANUSIA

Alhamdulillah………dalam Rahmat, Nikmat dan Barokah-NYA kepada kita semua maka mengalirlah dalam kehidupan ini Cinta Kasih-NYA yg sungguh…sungguh tiada batas, baik kita menyadarinya maupun tak menyadarinya. Tentunya…..dalam Rahmat Allah Swt itu tanpa terkecuali siapapun dirinya itu dan Agama apapun yg dianutnya dan dimana pun berada kesemuanya dalam liputan Rahmat Allah Swt, Tuhan Seru Sekalian Alam. Karena itulah…..Insan/Manusia adalah Makhluk yg Paling termulia dari pada Makhluk2 Allah Ta’ala yg lain. Maka benarlah jika Allah Ta’ala menyuarakan hanya kepada Insan….sebagai Sirrulah/Rahasia Allah, yang mana Sir/Rahasia itu awalnya di tujukan kepada Langit, langit tak sanggup tuk menjunjungnya, Bumi tak sanggup tuk memikulnya, Lautan, Gunung2 dsb kesemuanya tak sanggup tuk menampungnya. Hanya Insan/Manusia saja lah yg sanggup tuk memikulnya dan sesungguhnya Manusia itu sangatlah BODOH.
BODOH adalah Sifat Dasar Manusia namun Justru dengan ke-BODOH-annya itulah sebagai suatu sarana untuk dapat menampung akan Sirullah tsb, tetapi……malah banyak yg tiada menyadari akan ke-BODOH-an dirinya. Hanyut dalam ke-Angkuh-an dan kesombongan merasa Ia Pintar dan Cerdas yg akhirnya dirinya sendiri yg menjadi dinding/hijab/tabir akan Sirullah tsb dan ke-INSAN-annya telah ternodai oleh Sifat2 ke-BINATANG-an. Sehingga Fitrah yg sudah di tetapkan dan dinyatakan bahwa Manusia itu tercipta dalam rupa bentuk yg sebaik2nya dan sesempurna2 kejadian telah ternodai oleh kesombongannya sehingga dari segi Martabat Ia telah Jatuh dari ke-INSAN-annya yg tercipta dalam rupa bentuk yg sebaik2nya dan sesempurna2 kejadian menjadi INSAN yg bersifat “……………..”, Na’udzubillah……..

Adapun Manusia itu dalam Akhir Masanya (MAUT) terbagi menjadi 4 Ciri yg tiada terlepas dari pada ILMU, DZIKIR/INGAT dan RASA yg ada pada dirinya. ILMU melahirkan SEMANGAT HIDUP, DZIKIR/INGAT melahirkan GAIRAH HIDUP dan RASA melahirkan RASA HIDUP. Jika SEMANGAT HIDUP, GAIRAH HIDUP dan RASA HIDUP telah “HAMBAR”, maka itu adalah TANDA bahwa HIDUPnya dalam Alam Dunia ini akan ber-AKHIR.

1.
Jika semasa Hidupnya di Alam Dunia ini, ILMU dan DZIKIR/INGAT serta RASAnya hanya sebatas Lahiriyyah(Syari’at) semata maka mereka itu di sebut dng AHLUSSYARI’AT. Yaitu siapa saja yg dalam ILMU, DZIKIR/INGAT dan RASAnya memaknai SYARI’AT itu adalah yg termasuk dalam Rukun Islam yg 5 Perkara itu saja dan kemudian Ia semata2 hanya menjalankan ke-5 Rukun tsb saja tanpa menggali lebih dalam akan makna yg mendasari ke-5 Rukun tsb maka tanpa di sadarinya Ia telah membatasi akan SYARI’ATULLAH. Dan tentunya……jika diri hanya berjalan dalam Syari’at yg 5 Rukun tsb saja tanpa menggali ttng Makna yg mendasarinya yaitu ttng ke-IMAN-an, ke-TAUHID-an, ke-YAKIN-an dll…dll maka Ibadah yg dilakukan tidak lain hanyalah sebatas menggugurkan kewajiban semata. Jika hanya sebatas menggugurkan kewajiban semata tanpa Dasar IMAN, TAUHID, YAKIN maka janganlah heran jika Sifat2 HEWAN masih Dominan melekat pada dirinya berupa 9 Hawa pd Diri yaitu : Sombong, Takabbur, Tamak, Serakah, Iri, Dengki, Hasut, Benci dan Dendam yg membias pada Lahiriahnya berupa Sumpah serapah, Caci Cela, Hina menghinakan, Fitnah memfitnah, Kutuk mengutuk, Buruk Sangka dll….dll….dll. Lalu dimanakah Manis Lezatnya Amal Ibadah yg di lakukan…apabila ke 9 Hawa pd Diri masih bertengger pada dirinya…??? Bukaankah Allah pun menyatakan dalam Firman-NYA : “Sesungguhnya Sholat itu dapat mencegah dari perbuatan Keji dan Mungkar” dan Baginda Nabi Muhammad Saw pernah bersabda : Jika Sholat itu tidak dapat mencegah dari perbuatan Keji dan Mungkar, bukan menjadikan dirinya semakin dekat dengan Tuhannya tetapi malah semakin Jauh dari Tuhannya. 9 Hawa pd Diri adalah AKAR/DASAR terbentuknya perbuatan KEJI dan MUNGKAR pada diri.
Maka Jika…..seseorang berjalan sampai Akhir Hayatnya hanya di Syari’at semata yaitu hanya berpegang pada ke-5 Rukun tsb tanpa menggali Dasar IMAN, TAUHID, YAQIN maka tentunya tidak akan di dapatkan pada Jiwanya berupa KETENANGAN, karena 9 Hawa pada diri masih bertengger di dirinya. Jika Jiwanya tidak tersentuh atau tidak tenggelam atau tidak karam dalam “KETENANGAN JIWA” yg “HAQIQI” maka tiadalah Ia di panggil dengan seruan : “Yaa….Ayyatuhannafsul Muth’ma innah………………..dst” (wahai JIWA yg TENANG, datang lah engkau kepada Tuhanmu dengan Ridho serta di Ridhoi……..dst) Tetapi Ia akan bersesuain dengan Firman Allah : “Kullu Nafsin Zaa’ikatul Maut………..” (Setiap JIWA akan merasakan MATI).
Jika Akhir masanya……di panggil oleh Allah Swt dengan Firman tsb diatas, maka tatkala ia mati sesungguhnya ia tidak lah MATI melainkan Ia tetaplah HIDUP di “sisi” Tuhannya dan beroleh Nikmat dari Karunia dari Tuhannya.
Jika Akhir masanya…..di-CABUT NYAWA/JIWAnya(Tidak di panggil) maka……Ia akan merasakan MATI. Apabila Ia MATI maka Jasad akan Hancur, Membusuk dan jadi Bangkai. Jika telah dinyatakan bahwa Manusia itu dicipta Allah lebih sempurna di bandingkan Makhluk-makhluk yang lain maka tentunya pasti ada yang membedakan antara dirinya dengan makhluk-makhluk yang lain, baik ciri sewaktu hidup maupun ciri sewaktu ia mati. Adapun ciri dikala ia mati tentunya matinya tidak akan sama dengan Makhluk Allah Ta’ala yang lain. Jika Binatang mati maka tentunya ia akan menjadi Bangkai karena membusuk dan mengeluarkan bau yang tidak sedap serta dihinggapi oleh belatung-belatung. Dan begitulah….jika manusia Jiwanya tidak tersentuh atau tidak tenggelam atau tidak karam dalam “KETENANGAN JIWA” yg “HAQIQI” beserta Tuhannnya maka ketika ia mati jasadnya akan membusuk dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap serta dihinggapi belatung-belatung. Jika demikian keadaan dirinya pada saat kematian maka berarti ia mati menjadi bangkai dan jika ia mati menjadi bangkai maka matinya seperti binatang dan berarti keinsanannya tak ubahnya bagaikan binatang. Naudzubillah……..Semoga kita semua dipelihara Allah Swt dlm Pemeliharaan-NYA yg penuh Rahmat & Kasih Sayang. Aaamiiin.

2.
Jika semasa Hidup di Alam Dunia ini, ILMU dan DZIKIR/INGAT serta RASAnya tidak hanya sebatas Lahiriyyah(Syari’at) tetapi seolah2 ada dorongan dalam Hatinya untuk menggali ttng ke-IMAN-an, ke-TAUHID-an, ke-YAKIN-an dan kemudian Ia bawa hatinya untuk tenggelam dalam Lautan Wirid dan Dzikir dan TAKHOLLI(membuang Sifat2 Tercela) serta TAHALLI(menghias Hatinya dengan Sifat2 terpuji), maka mereka itu disebut dengan AHLUTTHORIQOT. Alhamdulillah……..tentunya ada satu peningkatan dari segi ke-DEWASA-an Bathin yg tadinya hanya sebatas AHLUSSYARI’AT dan selanjutnya menuju AHLUTTHORIQOT. Namun….hendaknya tetaplah dalam ke-SADAR-an bahwa perjalanan dalam pengembaraan AL-HAQ belum lah berakhir sebelum Ia sampai ke perbatasan “MUARA TELAGA ROSUL/AL-KAUTSAR”. Dalam Thoriqot, Hatinya Wajib untuk selalu tenggelam dalam Wirid dan Dzikir dan Lahiriyyah nya senantiasa berbuat Hal2 yg baik, menjauh dari perbuatan tercela dan menghias diri dari perbuatan yg Terpuji agar Hatinya menjadi terpelihara ke-SUCI-annya. Namun…..sepandai2nya seseorang itu memelihara Hatinya dari kekotoran2 Hati dan sekuat2nya menjaga Hatinya agar selalu tetap dalam keadaan SUCI tetapi dalam kenyataannya Menjaga dan memelihara Hati agar tetap SUCI tidak semudah membalik TELAPAK TANGAN. Selalu saja ibarat pepatah “Menggali Lubang Tutup Lubang” dan HAL itu di rasakan oleh siapa saja yang berjalan di Jalan ini. Belum lagi…….dalam Hal pe-RASA-an yg selalu saja terliputi oleh jeritan2 dan Tangisan2 Hati karena “ke-RINDU-an” dan bahkan ada juga yg seolah2 seperti hanyut dalam “Penyesalan2 akan segala Dosa2 yg lalu” yg demikian itu bahkan ada yg hampir di setiap harinya Hatinya selalu menangis……menangis…..menangis…..menjerit…..menjerit….menjerit…..hanyut dalam “tangisan kesedihan”, baik “tangisan kesedihan” karena ke-RINDU-annya maupun “tangisan kesedihan” karena Dosa2 ataupun juga “tangisan kesedihan” karena selalu GAGAL dalam mensucikan Hatinya. Salahkah…..HAL yg demikian itu…..???. TIDAK….!!! TIDAK SALAH. Alhamdulillah……itu adalah suatu kebaikan2 yg datang dari pada Allah Swt untuk menempa dirinya agar semakin mengerti akan dirinya Laa Hawla wa Laa Quwwata. Namun……….tidak sedikit bagi para pengembara2 yg berada di jalan itu HANYUT dan LARUT dalam ke-MABUK-annya sehingga melupakan satu HAL, bahwa ALLAH SWT Amat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan Penerima Tobat serta Sungguh2 Amat Maha DEKAT tiada ber-JARAK. Sehingga apakah ALLAH SWT tidak akan mengampuni orang2 yg bersungguh2 dalam Tobatnya….??? Dan apakah ALLAH SWT akan JAUH dari dirinya…???. Jika demikian……, mengapa diri tak menyadarinya dan selalu saja menaaaaaangis dan bersedih…???. Maka tanpa tersadari oleh dirinya sendiri sesungguhnya ia telah masuk dalam ke-RAGU-RAGUan ttng ke-PASTI-an bahwa ALLAH Swt Amat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan Penerima Tobat serta Sungguh2 Amat Maha DEKAT tiada ber-JARAK. Dengan tiadanya ke-SADAR-an akan HAL itu….membuat Bathinnya semakin tertekan dan tertekan dan semakin tertekan sehingga menjadi “BEBAN BATHIN” yg Halus tak tersadari. Lalu…dimanakah “KETENANGAN JIWA” yang “HAQIQI” itu….???.
Jika….HAL ini terus berlanjut pada dirinya sampai Akhir Hayatnya maka BATHINnya semakin terpuruk dalam “BEBAN BATHIN” yg Halus tak tersadari itu dan tiadalah ia dapatkan “KETENANGAN JIWA” yang “HAQIQI”. Maka…….tatkala MAUT itu datang pada dirinya, tentunya IZRAIL pun akan datang untuk men-CABUT Nyawa/Jiwanya (Kullu Nafsin Zaaikatul MAUT), Namun…..ke-BIJAKSANA-an ALLAH SWT dalam Rahmat Kasih Sayang-NYA tetap akan berlaku bagi mereka2 para pengembara2 di jalan ini sehingga Insya Allah akan di mudahkan dalam urusan Sakaratul MAUT nya. Dan jika ia telah Inna Lillah…..maka para AHLUTTHORIQOH, Jasadnya akan di pelihara Allah Swt dari kehancuran, dari kebusukan dan tidak akan menjadi Bangkai namun….seberapa lamanya Jasad di tanam, 10 tahun atau 100 tahun atau mungkin 1000 tahun, Jasadnya akan tetap UTUH tidak akan hancur namun ke-ada-an Jasadnya Kurus kering bagaikan Tulang di bungkus oleh kulit. Perlu di ingat bahwa ini bukanlah…..Hukuman Allah Swt atas dirinya melainkan dikarenakan “BEBAN BATHIN”nya sewaktu Hidup di Dunia itulah yg akan menyebabkan Jasadnya menjadi demikian ke-ada-annya (kurus kering bagaikan Tulang di bungkus Kulit). Ini adalah Kondisi AHLUTTHORIQOT dalam ke-MATI-annya.
Wallahu A’lam…………..
Semoga kita semua dipelihara Allah Swt dlm Pemeliharaan-NYA yg penuh Rahmat & Kasih Sayang. Aaamiiin.

3.
Jika semasa Hidup di Alam Dunia ini, ILMU dan DZIKIR/INGAT serta RASAnya tidak hanya sebatas Lahiriyyah(Syari’at), juga tidak hanya tenggelam dalam Lautan Wirid dan Dzikir dan TAKHOLLI(membuang Sifat2 Tercela) serta TAHALLI(menghias Hatinya dengan Sifat2 terpuji) saja namun selain itu Ia memulai dengan pe-MAKNA-an yg sesungguhnya dan sebenarnya dalam “HAKIKAT” di balik ILMU, DZIKIR/INGAT dan RASA yg tiada terlepas dari pada IMAN, TAUHID dan YAKIN yang di DASARI dengan Pandang SYUHUD(Penyaksian akan Al-HAQ). Dengan kesungguhan dalam Tafakkur Ia ber-MUSYAHADAH akan AF’ALULLAH, ASMA’ULLAH, SIFATULLAH dan ZATULLAH yg meliputi sekalian Alam berpusat pada “HAYAT/HIDUP/URIP” yg ada pada dirinya. Senantiasa Ia tiada terlepas dari pandangan SYUHUD akan yg ADA(HAYAT/HIDUP/URIP) dibalik sesuatu yg disimpulkan dalam kesimpulan Tasawwuf “SYUHUDUL WAHDAH FIL KATSROH, SYUHUDUL KATSROH FIL WAHDAH”(Menyaksikan dalam Pandangan Bathinnya akan yg SATU ada pada yg BANYAK dan yang BANYAK ada pada yg SATU) maka mereka itu disebut dengan AHLUL-HAKIKAT. Para AHLUL-HAKIKAT ini menyaksikan dalam Penyaksian-NYA atas DIRI yg sebenar2nya DIRI yg TAJALLI pada HAYAT/HIDUP/URIP yg ada pada dirinya dan pada kondisi ini 2 Kalimah Syahadat yaitu Syahadat TAUHID dan Syahadat ROSUL terhimpun menjadi SATU pada “SYAHADAT AL-HAQ”. Dan disinilah……..Ia tertarik dengan sendirinya ke dalam “KETENANGAN JIWA” yg “HAQIQI”. Dalam “KETENANGAN JIWA” yg “HAQIQI” ini, bukan Ia lagi yang berusaha untuk men-SUCI-kan Hati dan Jiwanya namun…….ALLAH SWT sendirilah yg men-SUCI-kan Hati dan Jiwanya yg membias kepada AKAL-FIKIR dan AKAL-BUDInya menjadi Jernih dan Bening. Ia masuk dalam Pemeliharaan dan Perlindungan ALLAH SWT tanpa dirinya yg berusaha sekuat “tenaga” untuk masuk dalam Pemeliharaan dan Perlindungan-NYA. Tentunya….jika diri yg berusaha sekuat “tenaga” untuk men-SUCI-kan Hati dan Jiwa akan sangat susah sekali, namun….jika ALLAH SWT sendiri yg men-SUCI-kannya maka sungguh sangat mudah bagi ALLAH SWT. Bukan Ia lagi yang berusaha untuk mencegah dirinya dari perbuatan Keji dan Mungkar tetapi ALLAH lah yg memeliharanya dari perbuatan Keji dan Mungkar. Dan…………akhirnya ALLAH pun akan memelihara “KETENANGAN JIWA” yg “HAQIQI” yg ada pada dirinya karena Ia telah Lebur dalam Pandang SYUHUD. Maka pada saat itu….penglihatannya menjadi Dzikir, pendengarannya menjadi Dzikir, penciumannya menjadi Dzikir, Kata2nya menjadi Dzikir, Gerak dan Diamnya menjadi Dzikir, Darah mengalir di Jasadnya menjadi Dzikir, Jantung berdetak menjadi Dzikir, Hembusan Keluar Masuk Nafas pun menjadi Dzikir. Bagaimana mungkin tiada KETENANGAN JIWA yg Ia rasakan…..???.
Maka……ketika telah sampai masanya untuk Inna Lillah……………..di panggilah Ia dengan Seruan-NYA : “Yaa….Ayyatuhannafsul Muthma’innah, Irji’ii Ila Robbiki Roodhiyatammardhiyyah, Fadkhulii fii ‘Ibaadii” (Wahai….JIWA yg TENANG/LAPANG/DAMAI/TENTRAM (datanglah engkau kepada Penguasamu dengan Ridho serta di Ridho-i, dan masuklah engkau ke dalam Golongan Hamba-KU). Inilah……. perbatasan “MUARA TELAGA ROSUL/AL-KAUTSAR”.
Maka ketika JASADnya di kubur, lalu 10 tahun kemudian atau 100 tahun kemudian atau 1000 tahun kemudian jika kuburannya di bongkar maka akan terlihat JASADnya masih tetap “UTUH” seperti BARU di-MASUK-an tiada perubahan dan seperti orang yg sedang tidur walau Nafas tiada keluar masuk lagi. Adapun HAL ini karena Rahmat Kasih Sayang Allah semata. Ini adalah Kondisi AHLUL-HAKIKAT dalam ke-MATI-annya.
Wallahu A’lam…………..
Semoga kita semua dipelihara Allah Swt dlm Pemeliharaan-NYA yg penuh Rahmat & Kasih Sayang. Aaamiiin.

4.
Jika semasa Hidup di Alam Dunia ini, ILMU dan DZIKIR/INGAT serta RASAnya tidak hanya sebatas Lahiriyyah(Syari’at), juga tidak hanya tenggelam dalam Lautan Wirid dan Dzikir dan TAKHOLLI(membuang Sifat2 Tercela) serta TAHALLI(menghias Hatinya dengan Sifat2 terpuji) saja dan selain itu Ia juga sudah memulai dengan pe-MAKNA-an yg sesungguhnya dan sebenarnya dalam “HAKIKAT” di balik ILMU, DZIKIR/INGAT dan pe-RASA-an yg tiada terlepas dari pada IMAN, TAUHID dan YAKIN yang di DASARI dengan Pandang SYUHUD(Penyaksian akan Al-HAQ) maka dengan kesungguhan dalam IKHLAS, SABAR, TAWAKKAL dan RIDHO membawa dirinya kepada Pengenalan akan ALLAH SWT melalui Anugrah ALLAH SWT semata. Sehingga bagi dirinya FANA’ dan KARAM dalam Ma’rifat kepada ALLAH SWT yg membuat dirinya tenggelam dalam “TELAGA AL-KAUTSAR”-NYA sebagaimana yg di Sabdakan Nabi Muhammad Saw bahwa “TELAGA AL-KAUTSAR” itu warnanya lebih Putih dari pada Susu, lebih Manis dari pada Madu dan Lebih Harum dari pada Kasturi. Maka pada saat itu…..Ia SATU dalam Kalimah :
LAA…ILAAHA ILLALLAH, LAA FA’ILA ILLALLAH
LAA…ILAAHA ILLALLAH, LAA HAYYA ILLALLAH
LAA…ILAAHA ILLALLAH, LAA MAUJUDA ILLALLAH
…………….dan, Ia telah SATU dalam SIRRULLAH serta te-RASA-kan olehnya KESADARAN ZATULLAH. Maka……ketika Ia Inna Lillaah……… di panggilah Ia dengan Seruan-NYA : “Yaa….Ayyatuhannafsul Muthma’innah, Irji’ii Ila Robbiki Roodhiyatammardhiyyah, Fadkhulii fii ‘Ibaadii Wad’khullii Jannatii…..” (Wahai….JIWA yg TENANG/LAPANG/DAMAI/TENTRAM (datanglah engkau kepada Penguasamu dengan Ridho serta di Ridho-i, dan masuklah engkau ke dalam Golongan Hamba-KU serta masuklah engkau dalam Syurga-KU). Dan mereka yg di sini adalah para AHLUL-MA’RIFAT yang :
Ia tidak sekedar ber-Syari’at akan tetapi dirinya telah diliputi SYARI’ATULLAH
Ia tidak sekedar ber-Thoriqot akan tetapi dirinya telah diliputi THORIQOTULLAH
Ia tidak sekedar ber-Hakikat akan tetapi dirinya telah diliputi HAKIKATULLAH
Ia tidak sekedar ber-Ma’rifat akan tetapi dirinya telah diliputi MA”RIFATULLAH
…………dan JASADnya akan HILANG/LENYAP menyertai ROH nya kembali kepada Penguasa dirinya yaitu ALLAH SWT.
Dan ini adalah Kondisi bagi para AHLUL-MA’RIFAT dalam ke-MATI-annya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar